Kesantrian

Mengatasi Bully pada Santri di Pondok Pesantren

Mengatasi perundungan (bullying) di pondok pesantren memerlukan pendekatan menyeluruh yang melibatkan santri, pengurus, hingga orang tua guna memutus rantai senioritas yang negatif.

1. Langkah bagi Pengurus dan Pengasuh

Stop Bullying
Stop Bullying

Pihak pesantren memegang peran sentral dalam menciptakan lingkungan yang aman:

  • Sistem Pelaporan Aman: Menyediakan mekanisme pengaduan yang melindungi identitas pelapor agar korban tidak takut akan ancaman susulan.
  • Pengawasan Ketat: Meningkatkan patroli di titik-titik rawan, terutama di area asrama yang sering luput dari pantauan ustadz.
  • Sanksi Tegas & Edukasi: Memberikan hukuman (ta’zir) sesuai aturan pesantren bagi pelaku, sembari memberikan edukasi tentang dampak psikologis perundungan.
  • Pendampingan Psikologis: Bekerja sama dengan konselor atau guru BK untuk membantu pemulihan trauma korban.

2. Langkah bagi Santri

Budaya saling menjaga antar teman harus ditanamkan:
  • Melapor ke Otoritas: Segera lapor ke pengasuh atau pengurus kamar jika melihat atau mengalami tindakan tidak menyenangkan.
  • Membangun Solidaritas: Jangan ikut-ikutan mem-bully hanya demi pengakuan kelompok. Rangkul teman yang dikucilkan untuk mencegah isolasi sosial.
  • Komunikasi Positif: Membiasakan budaya saling menghargai dan menghindari julukan yang merendahkan fisik atau latar belakang keluarga.

3. Langkah bagi Orang Tua

Orang tua tetap memiliki peran penting meski anak berada di asrama:
  • Pendengar yang Baik: Saat anak mengeluh tidak betah atau bercerita tentang temannya, dengarkan tanpa langsung menghakimi atau menganggapnya manja.
  • Komunikasi Terbuka: Rutin berkomunikasi dengan pihak pengasuh untuk memantau perkembangan sosial anak di pesantren.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button