Akidah dan Manhaj

Urgensi Tauhid

Kunci Tauhid
  • Urgensi Tauhid
  • Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia
  • Tujuan Allah Mengutus Rasul
  • Hal yang Diseru oleh Para Nabi
  • Syarat Diterimanya Amal

Sesungguhnya orang-orang yang menang dan dimenangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Dan di antara inti hal yang terpenting dari ketakwaan kepada Allah adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menyembah kepada selain-Nya. Oleh karena itu pada tulisan kali ini saya ingin menyampaikan tentang Urgensi Tauhid dalam kehidupan seorang mukmin. Karena tauhid adalah ruh seorang mukmin, tauhid juga merupakan darah dan daging seorang mukmin. Di antara urgensi dari tauhid adalah:

Tauhid Merupakan Tujuan Diciptakannya Jin dan Manusia

Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di antara keutamaan dan urgensi dari tauhid adalah Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allah berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ‏

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. QS. Adz-Dzariyat:56

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa hikmah utama dan pertama dari menciptakan jin dan manusia adalah hanya untuk beribadah menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beribadah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam semua amal-amal ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba.

Tanpa Tauhid Amalmu akan Hilang! Urgensi Tauhid

Tauhid adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ketika menciptakan hamba-hambanya untuk bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka inilah hak yang pertama dan utama yang harus dilakukan oleh seorang hamba kepada Allah Azza wa jalla. Maka dari itu seorang yang bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus dengan ilmu. Allah Azza wa jalla berfirman,

فَاعۡلَمۡ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah” QS. Muhammad:19

Allah perintahkan kepada manusia untuk berilmu dalam menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dari itu, tidak sedikit di antara manusia yang menyembah kepada selain Allah, menyekutukan Allah dengan sesuatu. Sebab utamanya adalah karena mereka tidak berilmu tentang tauhid. Bahkan mereka menerima dari ayah-ayah mereka dari nenek moyang mereka penyembahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka turun-temurun mereka menyembah kepada selain Allah.

Kemudian Allah mengutus para rasul dan para nabi untuk menyeru manusia agar mereka menyembah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang terakhir Allah mengutus nabi kita Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyeru manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setiap nabi menyeru pada umatnya agar mereka menyembah Allah, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim. Nabi Nuh, Syu’aib, demikian pula Hud dan yang lainnya mereka mengatakan,

مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

“Kalian tidak memiliki sesembahan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala” (Qs. Hud: 84)

Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu pernah dibonceng oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi waa sallam di atas seekor keledai, kemudian Rasulullalh shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Muadz,

يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ؛ قَالَ : حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Wahai Mu’âdz! Tahukah engkau apa hak Allâh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allâh?’ Aku menjawab, ‘Allâh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Hak Allâh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allâh ialah sesungguhnya Allâh tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Ketika seseorang bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala artinya dia melaksanakan kewajibannya kepada Allah, dia memberikan hak Allah yang semestinya dia lakukan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang bertauhid, dia akan tenang, tidak akan ragu karena Allah telah menjanjikan keselamatan baginya di dunia dan di akhirat.

Tauhid adalah Salah Satu Sebab Allah Mengutus Para Rasul

Di antara urgensi dari tauhid adalah bahwa dengan tauhid Allah mengutus para rasul, karenanya Allah menurunkan kitab-kitabnya, sehingga semua misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid, menyeru umat-umat mereka kepada tauhid. Maka sudah seyogyanya bagi umat Islam agar benar-benar mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan malah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, atau seakan-akan mengakui bahwa Allah memiliki anak padahal Allah tidak mempunyai anak.

Isa bin Maryam adalah Rasul utusan Allah, oleh karena itu ketika pertama kali Isa bin Maryam ditanya oleh kaumnya ketika Maryam membawa putranya kepada kaumnya, maka mereka mengatakan “Wahai Maryam! Engkau telah melakukan perbuatan yang keji (berzina), padahal ayahmu bukan orang yang melakukan perzinaan, demikian pula ibumu”. Maka Maryam binti Imran menunjukkan kepada anaknya bahwa beliau tidak berbicara, kemudian Nabi Isa berbicara di saat berada di buaiannya. Dan ucapan pertama yang dikatakan oleh Isa bin Maryam adalah:

اِنِّىۡ عَبۡدُ اللّٰهِ ؕ اٰتٰٮنِىَ الۡكِتٰبَ وَجَعَلَنِىۡ نَبِيًّا

“Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi” (Qs. Maryam: 30)

Isa bin Maryam berlepas diri dari mengatakan bahwa dia adalah anak Allah tapi dia mengatakan “Inni Abdullah” itu ucapan pertama yang diucapkan oleh Isa bin Maryam ketika dalam buaian ibunya. Ketika masih kecil ditanya oleh orang-orang Bani Israil kepada beliau. Maka jangan sampai kita ikut-ikutan di dalam merayakan atau memberikan selamat kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu, kepada orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak, padahal Allah Maha Suci dari memiliki anak. Allah berfirman,

قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ​ ۚ‏ ١ اَللّٰهُ الصَّمَدُ​ ۚ‏ ٢ لَمۡ يَلِدۡ ۙ وَلَمۡ يُوۡلَدۡ ۙ‏ ٣ وَلَمۡ يَكُنۡ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (Qs. Al-Ikhlas: 1-4)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang misi semua rasul yang Allah mengutus pada umat-umat mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِكَ مِنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا نُوۡحِىۡۤ اِلَيۡهِ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَا فَاعۡبُدُوۡنِ‏

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, “bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku!” (Qs. Al-Anbiya: 25)

Tauhid adalah Pertama Kali yang Diseru oleh Para Nabi

Di antara urgensi dari tauhid adalah bahwa tauhid awwalu ma yud’a ilaih yaitu pertama kali yang diseru oleh para Nabi adalah kepada tauhid sebelum salat, sebelum zakat, dan yang lainnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari dan imam muslim ketika Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu ke negeri Yaman. Maka Beliau berpesan kepada Muadz bin Jabal dengan mengatakan,

إِنَّكَ سَتَأْتِيْ قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَىْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ– وَفِيْ رِوَايَةٍ – : إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ – فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَـمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْـمَظْلُوْمِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ.

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat Lâ Ilâha Illallâh wa anna Muhammadar Rasûlullâh -dalam riwayat lain disebutkan, ‘Sampai mereka mentauhidkan Allâh.’- Jika mereka telah mentaatimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allâh Azza wa Jalla mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mentaati hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allâh mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Dan jika mereka telah mentaati hal itu, maka jauhkanlah dirimu (jangan mengambil) dari harta terbaik mereka, dan lindungilah dirimu dari do’a orang yang teraniaya karena sesungguhnya tidak satu penghalang pun antara do’anya dan Allâh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dakwah tauhid adalah dakwah yang sepanjang masa harus diserukan, sepanjang umur didakwahkan kepada manusia, apalagi kepada umat Islam agar jangan sampai mereka menyekutukan Allah dengan suatu apapun, jangan sampai mereka meminta kepada selain Allah, jangan sampai memohon kepada selain Allah, jangan sampai mereka bernazar untuk selain Allah dan seterusnya dari perbuatan-perbuatan Syirik yang sering terjadi pada sebagian dari umat ini. Semoga Allah memberikan hidayah, memberikan taufik kepada umat ini untuk bertauhid pada Allah Azza wa Jalla dan mengikuti sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam.

Tauhid awwalu ma yud’a ilaih yaitu pertama kali yang diseru oleh para Nabi adalah kepada tauhid sebelum salat, sebelum zakat, dan yang lainnya. Urgensi Tauhid

Tauhid adalah Syarat Diterimanya Amal

Tauhid merupakan syarat diterimanya amal-amal ibadah seorang hamba bersamaan dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tauhid adalah syarat diterimanya amal seorang hamba. Ketika seorang hamba beramal, beribadah pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tatkala dia menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka amalnya tertolak, amalnya tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di hari kiamat kelak apabila dia tidak bertobat di dunia maka amalnya akan dijadikan seperti debu yang berterbangan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَـقَدۡ اُوۡحِىَ اِلَيۡكَ وَاِلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِكَ​ۚ لَٮِٕنۡ اَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِيۡنَ‏

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (Qs. Az-Zumar: 65)

Kalau saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para rasul sebelumnya Allah mengancam mereka apabila mereka menyekutukan Allah dengan suesuatu, maka amal-amal mereka gugur tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka akan menjadi rugi di dunia dan di akhirat, apalagi manusia biasa. Meskipun kita mengetahui tentu bahwa para rasul tidak mungkin menyekutukan Allah dengan sesuatu, karena merekalah manusia-manusia terbaik yang menyeru umat-umat mereka kepada tauhid.

Al-Qur’an Al-Karim mulai dari surah Al-Fatihah sampai surah An-Nas semuanya penuh dengan Tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala mulai dengan Namanya, Bismillahirrahmanirrahim pada permulaan dari surah Al-Fatihah, “Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Alhamdulillahirabbil ‘alamin, “Segala puji hanya milik Allah Rabbul ‘alamin”. Arrahmanirrahim, “Dia yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Maliki yaumiddin, “Dia Penguasa di hari kiamat kelak di Hari pembalasan. Kemudian kita mengucapkan dalam salat-salat kita, Iyyaka na’budu wa iyyaka nastain, “Hanya kepada Engkau Ya Allah kami menyembah hanya kepada engkau ya Allah kami beribadah dan hanya kepada Engkau Ya Allah kami mohon pertolongan”.

Demikian pula sampai pada surat An-Nas Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan

قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ‏ ١

“Katakanlah wahai Muhammad! Aku berlindung kepada Rabbunas”.

Maka berlindung hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabbunnas Tuhannya manusia, Tuhannya para dukun, Tuhan nya para tukang sihir yang ditakuti oleh manusia, berlindunglah pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

مَلِكِ النَّاسِۙ‏ ٢

“Dia adalah Raja seluruh manusia”.

اِلٰهِ النَّاسِۙ‏ ٣

“Sembahan seluruh manusia”.

مِنۡ شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ الۡخَـنَّاسِ ٤

“Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi”.

Al-Khonnas adalah setan yang selalu mengganggu seeorang apabila seorang mengucapkan nama Allah maka dia akan mundur.

الَّذِىۡ يُوَسۡوِسُ فِىۡ صُدُوۡرِ النَّاسِۙ‏ ٥

“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,”

مِنَ الۡجِنَّةِ وَالنَّاسِ‏ ٦

“Yaitu dari golongan jin dan dari golongan manusia”,

Karena di antara manusia-manusia ada yang menyeru kepada syirik pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ada yang menyeru pada untuk menyembah berhala, kuburan, meminta kepada orang-orang mati yang semestinya mereka harus didoakan.

Orang-orang yang telah mati siapapun dia, hendaknya didoakan karena mereka membutuhkan doa dari orang-orang yang hidup. Bukan malah mereka yang dimintai agar mereka memberikan pada orang yang hidup, tapi mintalah kepada Allah Azza wa jalla, Dzat Yang Maha Esa, Dzat Yang Maha Mendengar, Dzat Yang Maha Memberi, Dzat Yang Maha Mengetahui semua apa yang dibutuhkan oleh hamba-hambanya. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mintalah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jangan meminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan dalam diri kita tauhid sampai akhir dari kehidupan kita meninggalkan dunia ini dengan mengucapkan Lailahaillallah “Tiada sesembahan yang hak kecuali Allah, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, manana akiru kalami lailahaillallahal Jannah Barang siapa akhir ucapannya dia mengatakan,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘laa ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud)

Semoga Allah menjadikan kita di antara hamba-hamba-Nya yang senantiasa beriman sampai akhir kehidupan. Kita mengisi hidup ini dengan beramal saleh hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun yang terus berjalan, sementara kita semakin dekat kepada kematian. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan waktu dan umur dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan beriman dan beramal saleh.

Jagalah iman kita dan lakukanlah amal kebaikan yang bermanfaat untuk diri sendiri serta amal yang membawa manfaat bagi sesama. Selain itu, hendaknya kita saling menasihati dalam kebenaran, yaitu mengajak manusia kepada Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman para Salafus Shalih—para sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kita juga harus saling menasihati agar dalam berdakwah bersikap sabar, karena kesabaran merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allah memerintahkan Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk bersabar, demikian pula bagi para da’i dan seluruh umat Islam yang mengharapkan ampunan serta rida Allah. Hendaknya mereka bersabar dalam menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.

Source
[Artikel: aliman.id]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button