Surat Terbuka untuk Para Suami #4
12. Cemburu yang Terpuji

Saudaraku…
Kecemburuan adalah masalah sensitif. Karena itu cemburu harus diukur dengan timbangan syari’at agar tidak terjadi pelanggaran. Suami-istri akan selalu merasakan hangatnya kasih sayang dan jalinan cinta, apabila dapat meletakkan perasaan cemburu pada tempatnya secara proposional.
Seorang pria yang jantan harus memiliki sifat cemburu. Kecemburuan ini terpuji selama diletakkan pada tempat yang semestinya. Suatu kali Sa’ad bin Ubadah berkata,
“Kalau ketahuan ada seorang lelaki bersama istri saya akan saya potong lehernya dengan pedang sebagai sanksinya.” Said bin Ubadah
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
أتعجبون من غَيْرة سعد، فوالله لأنا أغير منه، واللهُ أغير مني، من أجل غَيْرة الله حَرَّم الفواحش، ما ظهر منها، وما بطن
“Herankah kalian melihat cemburu Sa’ad itu? Ketahuilah, saya lebih cemburu daripadanya. Dan Allah lebih cemburu daripada saya, Dan karena kecemburuan itu Allah mengharamkan perbuatan keji, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi.” (Hadits riwayat Al-Bukhari).
Bahkan Islam membenci laki-laki dayuts yang tidak memiliki rasa cemburu. Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَـلاَثَـةٌ لَا يَدْخُـلُـوْنَ الْـجَـنَّةَ الْـعَـاقُّ لِـوَالِـدَيـْهِ وَ الْـدَيُـْوثُ وَرَ جُـلَـةُ الـنِّـسَـاء.
“Tiga golongan orang yang tidak akan masuk surga: Anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dayuts (laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu), dan perempuan yang menyerupakan diri dengan lelaki.” (Hadits riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Ibnu Umar dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ (3063).
Dalam hadits lain disebutkan:
ثَـلاَثَـةٌ قَــدْ حَـرَّمَ اللهٌ عـَـلَـيْـهِـمٌ الْـجَـنَّةَ مٌـدْمِنٌ الْـخَـمْرِ وَالْـعَـاقُّ لِـوَالِـدَيـْهِ و الْـدَيٌـْوثُ الْـذِيْ يُـقِـرُّالْـخُبْثُ فِـيْ أَهْـلِهِ.
“Tiga orang yang Allah haramkan surga atas mereka, pecandu khamer, durhaka terhadap orang tua dan suami dayyuts yang membiarkan keburukan di tengah keluarganya.” (Hadits riwayat Ahmad dari Ibnu Umar dan dishahihkan oleh Al bani dalam Shahih al-Jami’ (3052).
Cemburu yang terpuji adalah apabila sebab-sebabnya jelas dan memiliki bukti-bukti yang nyata. Seperti mendapati seseorang mencandai istri atau istri mencandai lelaki lain. Yang mana canda itu disertai dengan bumbu-bumbu kata dan gaya bicara yang dibuat-buat, sehingga dapat memabukkan dan menimbulkan kenikmatanan bagi pendengarnya. Tentu saja ini sangat tercela bila istri melakukannya dengan lelaki lain.
Adapun cemburu yang tercela adalah kecemburuan yang dibangun dengan persangkaan dan kira-kira belaka. Seperti berlebih-lebihan dalam menafsirkan ucapan, gerakan, sikap dan lain sebagainya.
Sedangkan lelaki dayuts adalah suami yang tidak dapat menjaga kehormatan istrinya. Ia acuh tak acuh saja tanpa tersinggung meskipun mendapati istrinya bersolek dan memakai parfum ketika akan pergi ke tempat umum, memamerkan rambutnya, memperlihatkan tubuhnya, bercampur aduk di majelis dengan lelaki, berjabat tangan dengan lawan jenis, berbicara dengan gerakan-gerakan yang dibuat buat untuk menarik perhatian, dan seterusnya.
Ini adalah perbuatan tercela yang akan menjadi racun bagi masyarakat dan kehidupan pada umumnya. Sementara tanpa menyadari, mereka berdua sebenarnya tengah menanti adzab Allah yang pedih di hari akhirat. Na’udzubillah.
Menjaga Kecemburuan Isteri
Saudaraku, para suami yang bijak…
Sebagaimana engkau memiliki rasa cemburu, maka istrimu juga memiliki perasaan yang sama. Ini wajar! Bersikap bijaklah dalam menghadapinya.
Sengaja menyulut kecemburuan istri baik dengan kata-kata ataupun perbuatan adalah perilaku yang tidak bijak. Sebab dengan sedikit rangsangan, perasaan cemburu itu akan mudah bangkit. Dan kerap kali kecemburuan mendorongnya berbuat kesalahan. Akan tetapi, selama perbuatan itu tidak mengotori kehormatan Allah dan orang lain, hendaklah suami lapang dada dan memaafkannya.
Apalagi jika suami memiliki lebih dari satu istri, ambilah Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam hal ini.
Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu mengisahkan: Salah satu istri Nabi ﷺ menghadiahkan kepada beliau roti di atas sebuah piring besar. Ketika itu, Rasulullah berada di rumah istrinya yang lain (‘Aisyah). Maka dipukullah tangan pelayan itu Oleh ‘Aisyah radhiyallahu’anha hingga piring itu jatuh dan pecah.
Kemudian Rasulullah ﷺ mengambil roti yang berantakan itu dan meletakkannya di atas pecahan piring, seraya berkata, “Makanlah ini, ibumu itu sedang cemburu.”
Lalu pelayan itu pergi dan datang kembali dengan membawa piring baru dari rumah ‘Aisyah. Digantilah piring yang pecah itu dengan piringnya.”
Demikianlah, kadang-kadang terjadi sedikit ketegangan —akibat kecemburuan di antara istri-istri Nabi ﷺ. Dalam keadaan seperti itu, tampillah Rasulullah ﷺ menengahi dan mengobati hati-hati yang terluka, dengan cara mencela pihak yang menyakitinya. Itu semua dilakukan dengan wibawa seorang pemimpin dan kelembutan hati seorang suami. Dengan begitu, selamatlah bahtera rumah tangga dari guncangan dan musibah yang mungkin menimpanya.
Para suami yang mulia…
Ada satu hal yang ingin aku ingatkan?! Banyak di antara para suami yang menjadikan masalah ta’addud (beristri lebih dari satu) sebagai senjata untuk menamas-manasi istrinya, membangkitkan cemburunya atau memojokkannya hingga kadang istri merasa dirinya tidak berharga di mata suami, atau mereka menjadikan masalah ini sebagai bahan pembicaraan hangat dalam majelis-majelis mereka. Bertakwalah kepada Allah wahai saudaraku!? Sesungguhnya syari’at Allah itu tidak layak dijadikan bahan permainan.
13. Suami Idaman Penebar Kebahagiaan

Hubungan Cinta Kasih Sepasang Suami Isteri
Saudaraku para suami yang mulia…
Cinta kasih sepasang suami istri adalah sesuatu yang sangat bernilai. Sebab ia ibarat ruh dalam kehidupan berumah tangga. Yaitu perasaan cinta dan kasih sayang yang dipendam oleh kedua belah pihak terhadap pasangannya. Cinta ibarat lokomotif penggerak bagi gerbong-gerbong kebahagiaan dan kedamaian. Bahkan cinta ibarat cahaya yang menerangi bahtera mereka berdua. Cinta adalah magnet yang bisa merekatkan sepasang suami istri hingga keduanya merasa seolah jiwa dan raga mereka satu. Bahkan hati mereka seolah satu dan begitu padu. Cinta adalah perasaan jiwa yang penuh kerelaan terhadap pasangannya, ridha kepada pasangannya dan keterpesonaan kepada sifat, perbuatan serta perilakunya.
Oleh karena itu…
Pandai-pandailah engkau menyemai benih-benih cinta dalam hati istrimu. Sehingga seiring bertambahnya usia pernikahan, semakin bertambah pula cintanya kepadamu.
Rawat dan siramilah pohon-pohon cinta dan kasih sayang itu hingga ia terus bersemi, berkembang dan tidak layu ataupun mengering.
Aku Muliakan Keluarganya Sebagaimana Aku Suka Ia Memuliakan Keluargaku
Islam berisi ajaran yang menganjurkan kebajikan, kasih sayang, dan persaudaraan. Suami idaman selalu memenuhi seruan agama ini. Dia memuliakan istrinya, kedua orang tua, serta kerabat dan sahabat-sahabatnya, sebagaimana ia suka istrinya melakukan hal itu untuknya. Dengan perilaku itu terciptalah dalam keluarga besarnya iklim persaudaraan yang hangat, yang dapat menumbuhkan kebahagiaan rumah tangga akhirnya.
Rasulullah ﷺ memberi bimbingan kepada kita dalam memuliakan istri-istrinya, beliau memuliakan keluarga serta sahabat-sahabatnya, baik ketika mereka masih hidup maupun sudah meninggal. Di samping itu, beliau juga menghimbau kita agar selalu menyambung talu silaturrahmi. Beliau bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hubungkanlah silaturrahmi.” (Muttafaq alaihi).
Anjuran Nabi ﷺ ini ditujukan kepada semua orang, laki-laki maupun perempuan. Maka suami idaman selalu berusaha menegakkan kebaikan ini dalam keluarga istrinya. la mengunjungi keluarga istri bersamanya atau seorang diri. Berbakti kepada kedua orang tuanya dan arahkan istri untuk berbuat serupa. Membantu istri mengirimkan hadiah-hadiah di momen-momen penting mereka. Menghubungi mereka dengan telepon atau surat dan menanyakan kabar mereka. Serta memberikan perhatian dan bantuan apabila mereka memerlukan.
Allah ﷻ berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maa’idah: 2)
Aku Suka Berhias untuk Istriku Sebagaimana Aku Suka Ia Berhias Untukku
Suami idaman, tidak sekedar menuntut istrinya untuk selalu berpenampilan cantik di hadapannya. Selalu dalam keadaan bersih, rapi dan aroma yang wangi dan seterusnya. Tetapi ia juga suka melakukan hal yang sama, yaitu berhias demi kebahagiaan istrinya. Ia selalu memperhatikan dandananya, penampilannya, dan aroma tubuhnya. Serta menjauhi hal-hal yang tidak sedap dipandang mata.
Dia bukanlah sosok yang egois yang mementingkan diri sendiri. Tertanam benar dalam hatinya firman Allah ﷻ :
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf” (QS. Al-Baqarah: 228)
Sebab, sebagaimana suami tidak suka melihat dan berdekatan dengan istrinya yang kusut, kotor dan awut-awutan, demikian juga istri pasti tidak suka melihat dan berdekatan dengan suami yang seperti itu keadaannya.
Berdandan dan berhias diri merupakan sesuatu yang dicintai Allah ﷻ dan Rasul-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits:
إن الله جميلٌ يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس
“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR Muslim).
Berdandan dan berhias juga termasuk fitrah!
Islam menghimbau setiap muslim agar selalu dalam eadaan rapi, bersih, indah, serta berbadan harum. Itu emua termasuk tradisi fitrah dan petunjuk para rasul.
Rasulullah ﷺ melarang seseorang menolak wewangian, karena wewangian itu menambah keindahan dan kecantikan dandanan. Beliau bersabda:
مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ طِيبٌ فَلاَ يَرُدَّهُ فَإِنَّهُ خَفِيفُ الْمَحْمَلِ طَيِّبُ الرَّائِحَةِ
“Barangsiapa ditawarkan kepadanya minyak raihan, maka janganlah menolaknya, karena ia harum baunya dan mudah dibawanya“. (HR Muslim).
Rasulullah ﷺ adalah sosok suami yang sangat memperhatikan kebersihan saat menemui istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, bahwasanya hal pertama yang beliau lakukan sebelum menemui istrinya adalah bersiwak. (HR Muslim dari Aisyah Radhiyallahu’anha).
Berdandannya suami untuk istrinya tak pelak menambah rasa cinta, sehingga menjadikannya betah untuk selalu memandang dan berada di sampingnya. Dengan demikian, semakin kokohlah jalinan cinta dan kasih sayang, serta bertaburlah bunga-bunga kebahagiaan dalam rumah tangga.
Sebaliknya, keengganan suami untuk berdandan, dapat menyebabkan istri menjauhinya dan enggan berada di sisinya, atau bahkan menyebabkan ia menuntut cerai.
Suatu saat, masuklah seseorang yang bertampang semrawut dan acak-acakan kepada Amirul Mu’minin ‘Umar Radhiyallahu’anhu. Orang itu datang bersama istrinya. Berkatalah sang istri, “Saya tidak dapat berkumpul dengan orang ini, wahai Amirul Mu’minin.” Ia melihat perempuan itu begitu benci kepada suaminya. Lalu disuruhlah laki-laki itu untuk mandi, berdandan, dan memotong kukunya. Ketika kembali, Amirul Mu’minin menyuruhnya untuk menemui istrinya. Ketika menemuinya, kagetlah sang istri lalu menjauh dari padanya. Namun, akhirnya ia tahu siapa yang ada di hadapannya itu, lalu dengan senang hati ia pun menyambutnya. Setelah itu ia mencabut tuntutannya. Berkatalah ‘Umar Radhiyallahu’anhu, “Demikian ini, lakukanlah untuk mereka (para istri), karena demi Allah, mereka suka kalian berdandan untuk mereka, sebagaimana kalian suka bila mereka berdandan untuk kalian.”
Pertemuan yang Menyenangkan
Suami idaman selalu berupaya menciptakan pertemuan yang menyenangkan dengan istrinya, saat ia pulang ke rumah. Baik pulang dari tempat kerja maupun pulang dari berpergian karena kepentingan lain.
Pertama, menebarkan salam. Inilah petunjuk Islam dan bimbingan nabawi. Allah ﷻ berfirman:
فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةً ۗ
“Apabila kalian memasuki rumah, hendaklah memberi salam (kepada penghuninya), yang berarti memberi salam kepada dirimu sendiri, dengan salam dari sisi Allah, yang mengandung berkah lagi kebijakan.” (QS. An: Nuur: 61)
Dengan ucapan salam itu, ia menebar berkah, menabur kedamaian dan menguatkan ikatan cinta. Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk Surga hingga beriman, kalian tidak beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim).
Kedua, jabat tangan.
Yaitu jabat tangan yang dibarengi kehangatan sikap dan perasaan suka cita karena pertemuan itu. Pertemuan seperti ini sungguh menyenangkan hati, sekaligus membangun kebahagiaan. Maka semakin kokohlah ikatan perasaan, semakin abadi jalinan cinta, dan berlipat ganda pahala Allah ﷻ bagi mereka berdua. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu keduanya berjabat tangan melainkan Allah akan mengampuni dosa keduanya hingga mereka berpisah.”
Ketiga, menunjukkan sikap manis dan wajah berseri. Memang, bahasa mimik muka bisa lebih tajam dari pada bahasa lisan. Pengaruhnya bagi hati juga sangat besar Wajah berseri dapat menciptakan kebahagiaan dan menghilangkan keruhnya perasaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ.
“Janganlah kamu mengabaikan kebaikan sekecil apapun, meskipun sekedar wajah berseri yang kau tunjukan kepada saudaramu ketika bertemu.”
Dan suami yang shalih menyadari bahwa orang pertama yang layak ia suguhi muka manis dan wajah berseri adalah istrinya tercinta.
Mesra di Tengah Kesibukan
Yakni kesibukan dalam menunaikan segenap tugas dan tanggung jawab tidak menghalanginya untuk bersikap hangat dan mesra terhadap istrinya. Rasulullah ﷺ adalah teladan utama dalam hal ini. Di tengah kesibukan mengemban tugas dan tanggung jawab yang begitu berat, beliau selalu menciptakan kebahagiaan bagi istri, memberikan suasana segar dan suka cita dengan lemah lembut dan penuh kemesraan. Dalam berbagai kondisi, beliau adalah sebaik-baik suami. Yang selalu menciptakan suasana mesra baik ketika bepergian, di rumah, menjelang tidur, saat menyantap hidangan dan bahkan ketika mandi. “Aisyah Radhiyallahu’anha mengisahkan:
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَرَأْسُهُ فِى حَجْرِى وَأَنَا حَائِضٌ
“Rasulullah ﷺ pada suatu ketika, pernah membaca Al-Ouran, sementara kepala beliau ada di pangkuanku dan pada saat itu aku sedang haidh.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7549) dan Muslim (halaman 246).
Suasana di meja makan juga bisa digunakan untuk menunjukkan rasa kasih sayang. Demikian juga Rasulullah ﷺ saat menyantap hidangan dengan istrinya. la mengambilkan makanan, menyuapkannya dan demikian sebaliknya. la meminumkan air dengan gelas di tempat mana istrinya minum. Demikian pula sang istri, ia berbuat yang sama.
“Aisyah Radhiyallahu’anha berkata:
“Suatu saat, ketika saya haidh, saya minum dengan gelas Rasulullah ﷺ, kemudian beliau minum pada (bagian gelas) tempat saya meletakkan mulut. Ketika saya haidh dan tubuh saya berkeringat, saya memberikan gelas kepada Rasulullah dan beliau meminum dari tempat mana saya meminum.” (Hadits riwayat Muslim).
Rasulullah ﷺ juga kadang mandi dalam satu bak mandi dengan istri, mendahului mengambil air dan istri pun terkadang mendahuluinya. Beliau menyiramkan air ke tubuh istrinya demikian pula sang istri secara bergantian, saling menggosok badan dengan tangannya, dan demikian seterusnya dalam rangka mewujudkan kebahagiaan rumah tangganya. “Aisyah berkata: Saya mandi dengan Rasulullah ﷺ dalam satu bak mandi. Kami saling menggosokkan badan dengan tangan. Ia mendahului saya, hingga saya katakan, “Tinggalkan untukku, tinggalkan untukku.”
Selanjutnya ia berkata, “Keduanya dalam keadaan junub”. (Muttafaq alaihi).
Demikianlah, beliau adalah sosok panutan bagi setiap suami idaman.
Memanggil dengan Manja
la memanggil istrinya dengan panggilan kesukaannya, sebagai ungkapan kasih sayang dan penguat jalinan cinta. la memanggil istrinya dengan panggilan manja, sehingga hal itu menumbuhkan pohon cinta dan hormat lebih subur, membangkitkan kebahagiaan, melapangkan dada, dan mendendangkan irama merdu pada pendengarannya. Dengan rangsangan serupa itu lahirlah berbagai kebajikan dari pihak istri sebagai reaksinya.
Ingatlah!
Sikap memanjakan adalah bagian dari hiburan yang menyenangkan hati dan dibenarkan dalam Islam, sebagaimana perilaku Rasulullah ﷺ dalam memanjakan istri-istrinya. Beliau selalu memanggil “Aisyah dengan suara lembut untuk memanjakannya. “Aisyah Radhiyallahu’anha menuturkan: Suatu hari Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai Aisy (yang hidup), Jibril menyampaikan salam untukmu.” Saya menjawab, “Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh, engkau melihat apa-apa yang tidak bisa aku lihat.” Maksudnya adalah Rasulullah ﷺ. (HR Bukhari)
Sungguh,…
Dengan mengindahkan bimbingan nabawi ini, niscaya tembok pembatas hubungan menjadi runtuh, sikap saling terbuka pun terjalin, dan benang keruwetan pun terurai. Selanjutnya, ia menjadikan hubungan suami-istri penuh dengan kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang. Dengan menapaki jalan ini, seorang suami idaman mampu menebarkan perasaan cinta dan memekarkan bunga-bunga kebahagiaan dalam rumah tangga untuk bekal mengarungi samudera kehidupan.
Memahami Kondisi Kejiwaan Istri
Seorang suami idaman akan selalu berusaha memahami kondisi kejiwaan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sehingga hal itu dapat membantunya dalam memilih sikap yang paling tepat dalam bermu’amalah dengan mereka. Dan dapat menghindari sikap-sikap yang menyusahkan mereka dan perbuatan yang membuat mereka kesal.
Dan orang pertama yang harus kamu pahami kondisi kejiwaannya adalah istrimu. Karena ia hidup bersamamu dan berbagi kehidupan denganmu… Kerahkanlah segala kemampuanmu untuk mengetahui kondisi kejiwaannya, apakah ia sedang gembira, bersedih, bingung, atau sedang panyak masalah dan seterusnya. Sebab, apabila hal ini tidak engkau perhatikan, niscaya akan berakibat buruk bagi dirimu dan juga istrimu.
Termasuk dalam hal ini adalah memahami perasaan bila ketika istri sedang haidh. Allah ﷻ berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran.” (OS. Al-Baqarah : 222)
Memang benar bahwa haidh mengandung kotoran dan penyakit. Termasuk di antaranya adalah perubahan-perubahan emosi yang berpengaruh besar pada tingkah laku dan akhlak. Antara lain, mudah pusing, mudah capai, tulang linu, syaraf tegang, pencernaan tidak lancar, rasa sakit di sekitar dada, sulit berkonsentrasi, rasa malas, dan lain sebagainya. Suami yang shalih hendaknya memahami dan memperhatikan dampak ini. Tahanlah emosi saat menghadapi munculnya sikap yang boleh jadi menyakitkan hati pada saat seperti ini.
Kunjungan yang Mendatangkan Kebahagian
Yaitu mengadakan kunjungan bersama istri. Mengunjungi sahabat, sanak kerabat, handai taulan dan orang-orang shalih. Selain hal ini akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri, juga mendatangkan pahala yang agung dan faedah-faedah kebajikan yang banyak. Mengunjugi saudara karena Allah termasuk perkara yang dianjurkan dalam Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda: Pernah ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di suatu kampung dekat tempat tinggalnya. Lalu Allah ﷻ mengirimkan seorang Malaikat untuk menjaga perjalanannya. Ketika sampai kepadanya, Malaikat bertanya, “Mau kemana kamu?” Ia berkata, “Saya mau menemui saudaraku di kampung ini.” Malaikat bertanya lagi, “Apakah ada nikmat yang kau harapkan darinya?” Ia menjawab, “Tidak ada, kecuali semata-mata karena saya mencintainya karena Allah.” Kemudian Malaikat itu berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.” (HR Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, berserulah seorang penyeru, ‘Kebaikan semoga tetap atasmu dan menyertai perjalananmu dan engkau telah mendapatkan Surga sebagai tempat tinggal.”
Hadits riwayat At-Tirmidzi (2008) dan Ibnu Majah (1443). DiHasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Shahih Sunan ibnu Majah.
Sesungguhnya kunjungan seperti ini akan membuahkan dampak yang positif, antara lain, pemenuhan kebutuhan dasar hidup bermasyarakat dan menghilangkan rasa jenuh bagi sang istri serta mengusir rasa kesepian lantaran tugas-tugas harian yang monoton. Kunjungan juga membangkitkan semangat baru dan menumbuhkan berbagai kreasi amal kebajikan.
Agar kunjungan ini benar-benar membuahkan hasil serta menjadikannya faktor kebahagiaan, hendaklah seorang suami menyertai istrinya atau mengizinkan ia pergi sendiri selama masih dalam batas-batas syar’i.
Jadikan acara kunjungan sesuatu yang dibutuhkan oleh suami istri, dan mengantarkan keduanya untuk meraih kebahagiaan, mengurai benang kusut perasaan serta mengokohkan hubungan mereka dengan Sang Pencipta. Hal itu bisa di lakukan dengan saling bercerita yang menarik, saling menukar informasi, serta nasehat menasehati karena Allah, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Suami juga harus pandai dalam memilih orang yang akan dikunjungi. Sebab perumpamaan kawan yang baik dan yang buruk adalah seperti yang gambarkan oleh Rasulullah ﷺ :
“Sesungguhnya perumpamaan kawan yang shalih dan kawan yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka engkau akan mendapatkannya secara cuma-cuma atau engkau akan membelinya atau paling tidak engkau akan mencium aroma wanginya. Sedangkan pandai besi, maka kalau apinya tidak membakar bajumu, maka paling tidak engkau akan mencium baunya yang tidak sedap”. (Muttafaq alaihi).
Dengan demikian, pertemuan dan kunjungan akan menjadi acara yang mendatangkan kebajikan, berkah, jalinan ukhuwah, serta manfaat-manfaat lainnya.
Adab Bepergian
Kadang, karena suatu keperluan suami harus pergi untuk sementara waktu meninggalkan orang-orang yang dicintai. Istri, anak dan karib kerabat harus berpisah dengannya. Suami yang shalih selalu memperhatikan perkara-perkara yang dapat meringankan perasaan mereka dan mendatangkan kebahagiaan. Sehingga kepergiannya semakin memupuk rasa rindu dan cinta yang mendalam.
Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri duduk-duduk bersama istri. Berbincang dalam suasana hangat dan penuh kasih sayang. Bisikkanlah nasehat dan wasiat kepadanya agar selalu menjaga diri dan menjaga amanah Allah ﷻ. Sebaliknya meminta didoakan istri semoga Allah senantiasa menjaganya dan memudahkan segala urusannya.
Untuk menambah kehangatan, berikan di tengah perbincangan itu sekedar ciuman dan pelukan hangat sembari berjanji untuk selalu setia padanya dan cepat kembali, seraya mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ :
اسْتَودِعْتُكَ اللَّهُ الَّذِي لَا بُضَِيِّعُ وَدَائِبَهُ
“Saya titipkan kalian kepada Allah yang titipan-Nya tidak akan disia-siakan.” Hadits riwayat Ahmad (9230) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam m3 Silsilah ash-Shahihah (2547).
Di antara adab yang harus diperhatikan suami apabila hendak bepergian adalah menitipkan keluarganya kepada sahabat yang terpercaya dan bertaqwa, serta membekali istri dengan nafkah secukupnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama kepergiannya. Di samping hal itu merupakan bentuk perhatian kepada mereka.
Demikianlah yang biasa dilakukan oleh Rasulullah ﷺ apabila hendak mengadakan perjalanan, baik untuk berjihad maupun untuk keperluan lainnya. Beliau memerintahkan dan mewasiatkan kepada sahabat dekat beliau untuk mengurus urusan kaum wanita dan anak-anak.
Disebutkan bahwa pada perang Tabuk, beliau meninggalkan “Ali bin Abi Thalib di Madinah. Maka Ali berkata, “Wahai Rasulullah, engkau tinggalkan aku untuk menjaga Para perempuan dan anak-anak?”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidakkah engkau rela bila engkau di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja tidak ada Nabi setelahku.” (Muttafaqun ‘alaihi.)
Selama berjauhan, tetaplah jalin hubungan dengannya meski hanya sekedar menanyakan kabar dan berbincang ringan. Bukankah hal itu mudah saja! Apalagi dengan alat telekomuikasi berupa HP atau yang lainnya.
Apabila telah selesai urusan, segeralah kembali dan jangan mengulur-ulur waktu. Sebab istrimu tentu sangat merindukanmu. Rasulullah ﷺ telah bersabda:
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ
“Safar adalah sepotong adzab. Seseorang dihalangi dari makan, minum, dan tidur. Maka apabila telah selesai urusan, cepatlah kembali kepada keluarganya.” ( Muttafaqun ‘alaihi)
Bawalah oleh-oleh yang disenangi istri. Hadiah yang diberikan saat berjumpa setelah lama berpisah tentu akan memberikan kesan mendalam, mendatangkan kebahagiaan serta menambah rasa cinta dan kasih sayang.
Kabarkanlah kepulanganmu dan jangan mengagetkan: Janganlah datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan, apalagi di malam hari. Hal itu perlu diperhatikan untuk menghindari kecurigaan dan hal-hal yang tidak diinginkan. Di samping itu istri dapat mempersiapkan diri menyambut kedangan suami tercinta, seperti merapikan dandanan, mempercantik solekan dan mencukur bulu kemaluan, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila engkau datang dari bepergian pada malam hari, janganlah langsung menemui istrimu, supaya ia dapat mencukur rambut kemaluannya dan merapikan dandanannya. Rasulullah ﷺ berkata, “Jangan lupa lakukanlah jima’, lakukanah jima” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dan apabila memungkinkan, ada bagusnya sesekali mengajak istri bepergian bersama. Ini adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Karena itu Nabi ﷺ, apabila hendak bepergian biasanya beliau mengundi para istrinya. Siapa yang keluar namanya maka dialah yang akan menyertai beliau dalam perjalanan.
Selain mendatangkan kebagiaan, hal itu juga dapat menghilangkan rasa jenuh dan bosan dengan suasana keseharian. Keduanya dapat lebih mengenal satu sama lain, saling mendekatkan hubungan, menjernihkan pikiran dan semakin menambah rasa syukur kepada Allah ﷻ.
14. Ketika Kehidupan Suami Istri Dilanda Kejenuhan dan Kebosanan

Dunia memang bukan surga. Maka hal wajar jika kadang kehidupan suami istri dilanda kejenuhan dan kebosanan. Namun bagaimana mengatasi kejenuhan ini? Bagaimana caranya mengembalikan gairah kehidupan rumah tangga?
Wahai saudaraku, para suami yang mulia, apabila perjalanan kehidupan suami istri mengalami kebuntuan dan kehilangan daya tariknya, maka kalian berdua harus berhenti sejenak dan saling bertanya: Mengapa terjadi kelesuan dalam kehidupan rumah tangga kita? Mengapa sampai menjadi kaku, kehilangan gairah dan kasih sayang? Bagaimana kita mengatasi kondisi yang buruk ini? Yang bisa memadamkan lentera cinta dan perasaan yang meluap-luap?
Kadang-kadang kehidupan kehilangan kemilaunya disebabkan adanya musuh yang senantisa menghembuskan kejahatan dan mengambil keuntungan di dalamnya. Dan bisa jadi disebabkan adanya problematika kehidupan, dan bisa jadi disebabkan kesibukan mencari sesuap nasi atau ketidak-tahuan kita terhadap perkara yang urgen, yaitu penyegaran yang bisa mengatasi musuh yang tersembunyi ini, musuh yang selalu membidik sasarannya.
Kehidupan rumah tangga butuh penyegaran dan peremajaan. Butuh perawatan. Mengapa tidak!? Mesin yang bekerja siang malam saja butuh waktu perawatan dan start up kembali, agar kinerjanya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Sesungguhnya seorang insan yang biasa menyantap makanan yang lezat setiap hari, walaupun makanan itu tergolong mewah, maka suatu hari kelak ia akan merasa bosan terhadap makanan tersebut dan menghendaki perubahan.
Peremajaan dalam kehidupan rumah tangga adalah perkara yang sangat penting sekali. Di sini kita bertanya, bagaimana caranya meremajakan kembali kehidupan rumah tangga kita?
Ada penyegaran ruangan dan tata letak perabotan rumah. Penyegaran suasana romantis yang lebih baru yang tak biasa menyegarkan perasaan. Penyegaran ini juga dapat dilakukan dengan memilih ungkapan-ungkapan baru yang lembut dan sentuhan cinta yang tak bisa dirasakan oleh istrimu.
✅ Kejutkanlah ia dengan hadiah, hadiah akan menyemikan cinta. Rasulullah ﷺ telah bersabda:
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Salinglah memberi hadiah niscaya kalian akan saling mencintai” (HR Bukhari).
✅ Buanglah rasa bosan dalam kehidupan rumah tanggamu dengan memperbaharui tujuan kalian berdua dan perealisasiannya. Dan buatlah bacaan-bacaan dari Kitabullah setiap harinya untuk kalian baca berdua, karena itu akan menghilangkan kegundahan dan kesedihan.
✅ Buatlah perjalanan-perjalanan walaupun tak jauh ke salah satu taman. Karena perjalanan seperti ini akan membuka kesempatan untuk menyegarkan jiwa dan merubah suasana. Siapa yang tidak bisa istirahat dengan baik niscaya ia tidak akan bisa bekerja dengan baik.
✅ Buatlah jadwal khusus untuk berdialog guna mempererat hubungan antara kalian berdua. Hendaklah dialog ini dilakukan secara langsung dan terbuka dengan menyingkirkan sejenak segala perkara yang dapat menyibukkan perhatian masing-masing, misalnya televisi atau koran atau telepon.
Hendaklah kedua belah pihak menyimak dengan serius apa yang diucapkan oleh pasangannya, mendengarnya dengan penuh perhatian.
Bertukar pikiranlah tentang fase-fase kehidupan yang telah kalian lalui, serta hal-hal baru apakah yang sedang kalian hadapi. Ungkapan-ungkapan, kisah-kisah, tawa canda dan gurauan silih berganti dari kedua belah pihak yang akan memberikan nafas bagi kehidupan rumah tangga sehingga umurnya menjadi lebih panjang dan menjadi lebih dekat satu sama lainnya.
✅ Perbanyaklah menggunakan kata-kata mesra dan lembut, kata-kata romantis dan perbanyaklah sikap-sikap yang menunjukkan kasih sayang dan cinta. Sederhana saja, umpamanya salah satu dari keduanya membentangkan selimut untuk pasangannya bila ia melihatnya sedang tidur tanpa selimut atau menyuapkan makanan ke mulutnya ketika ia sedang makan, atau memeluk bahunya ketika melihatnya melakukan pekerjaan yang baik dan lain sebagainya.
✅ Senantiasa ulangi ungkapan, “Semoga Allah menyatukan kita di dunia dan di akhirat” atau “Kalaulah masa lalu bisa kembali niscaya aku tidak akan menerima siapapun selain dirimu.” Ungkapan-ungkapan seperti ini akan merehabilitasi hubungan antara suami istri dan menguatkan rasa cinta antara kalian berdua.
Ketika Prahara Menghantam Bahtera Rumah Tangga
Saudaraku, para suami yang mulia…
Kalaulah ada di dunia ini rumah tangga yang tak pernah mengalami masalah tentu yang paling patut untuk itu adalah rumah tangga Nabi ﷺ. Sebab beliau adalah manusia yang paling sempurna, paling bertaqwa dan paling elok akhlaknya. Namun kita tahu rumah tangga beliau juga tidak bersih dari pemasalahan.
Bahtera rumah tangga adalah ibarat sebuah perahu yang berlayar mengarungi lautan. Kadang perahu itu berjalan pelan dan tenang, angin bertiup sepoi-sepoi, cuaca yang cerahpun menambah indahnya panorama alam. Maka ketika itu para penumpang perahu benar-benar merasakan kenikmatan dan kenyamanan. Namun, bisa jadi tiba-tiba datang ombak menghadang, badai dan topan menghantam, ditambah lagi hujan turun diserta kilat dan guntur. Maka kapal yang Semula tenang menjadi bergoncang sedemikian hebat. Bahkan hampir saja kapal itu berobah haluannya.
Namun karena kemahiran sang nakoda dan kerja keras segenap penumpang bahtera, akhirnya laju kapal itu bisa dikendalikan dan dikembalikan ke arah yang semula sehingga perjalanan dapat dilanjutkan, selamat sampai ke tujuan.
Demikianlah keadaan bahtera rumah tangga kita. Dalam mengarungi samudera kehidupan rumah tangga, kadang kita merasakan kenikmatan, kedamaian dan kebahagiaan. Tetapi bisa saja tiba-tiba kita dipaksa menghadapi berbagai macam problematika yang mengacaukan kehidupan rumah tangga kita dan menghancurkan kebahagiaan yang selama ini kita rasakan. Menghadapi semua seperti ini sangat diperlukan seorang nahkoda yang bijaksana dan kerjasama segenap penumpang bahtera agar dapat mengendalikan masalah dan menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.
Bahkan karena kemahirannya ia mampu merubah permasalahan itu menjadi pilar-pilar yang mendatangkan kebahagiaannya. Engkau dan suamimulah penumpang bahtera itu.
Perselisihan antara suami istri adalah perkara yang biasa dan tidak mungkin dapat dihindari. Sebab dari sekian banyak manusia yang ada di atas muka bumi ini, tentu tidak ada seorang manusia yang cocok seratus persen dengan orang lain. Walau bagaimanapun kemiripan dan kedekatan serta kesepahaman tetap saja ada perbedaan antara keduanya.
Maka kedua belah pihak hendaklah menyadari bahwa seiring dengan perjalanan waktu akan bertambah kesepahaman antara keduanya. Mereka semakin mengenali tabiat dan kebiasaan pasangannya masing-masing. Semoga sejalan dengan itu semakin banyak masalah yang dapat diselesaikan.
Ibarat masakan, itulah bumbu-bumbu yang akan nenyedapkan dan menambah lezat makanan itu.
Dan apabila terjadi perselisihan di antara kalian berdua, maka jangan biarkan perselisihan itu berlarut-larut sampai esok hari. Karena itu akan membuka kesempatan bagi setan untuk menghembuskan kebencian dan permusuhan dalam hati kalian berdua dan permasalahanpun menjadi semakin besar.
Ketahuilah bahwa mendiamkan perselisihan secara mutlak bukanlah sikap yang tepat. Apalagi jika keduanya mengambil langkah membisu dan enggan berbicara. Sebab sikap membisu ini merupakan salah satu kesalahan dan kekeliruan fatal yang menghalangi kebahagiaan rumah tangga. la dapat mengacaukan perjalanan kita sampai ke tujuan dan membuyarkan kemesraan hubungan antara sepasang suami istri. Dan menghalanginya dari kenikmatan hidup yang sejahtera bahkan dapat berujung kepada perpisahan.
Karena itu, dalam menghadapi perselisihan dan problematika dalam rumah tangga, seorang suami dituntut cerdas dan luwes dalam menyikapinya. Boleh diam sejenak Untuk mencari solusi penyelesaian. Bisa jadi dengan kepiawaianmu sebagai suami, semua masalah dapat engkau selesaikan, bahkan karena kecerdikanmu, engkau mampu mengolahnya hingga berbalik menjadi pilar-pilar yang mendatangkan kebahagian.
Dan hendaklah engkau menyadari bahwa sebagian masalah itu timbul akibat perbedaan watak dan tabiat pada masing-masing pihak. Dan untuk menyelesaikan pertikaian semacam ini hendaknya engkau memiliki kesabaran, kelembutan dan kesantunan. Karena watak dan tabiat tidak mungkin dapat berobah dalam hitungan hari atapun bulan.
Allah ﷻ berfirman:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. (QS. An-Nisaa’: 19)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَر. أَوْ قَالَ: غَيْرَهُ
“Janganlah seorang mu’min membenci seorang mu’ minah. Bila ia benci satu bagian, (pasti) ada bagian lain yang menyenangkannya”. (HR Muslim).
15. Hikmah-hikmah Di Balik Problematika Rumah Tangga

Para suami yang mulia…
Sesungguhnya Allah ﷻ tidak menghendaki kesempurnaan dalam kehidupan dunia ini. Sehingga wajar jika tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Dunia adalah negeri yang penuh dengan ujian dan kesulitan. Semua orang tentu menghendaki kesuksesan dan kebahagiaan hidup rumah tangga. Tetapi kenyataannya tidak semua dari kita berhasil meraihnya. Kadang seorang suami harus menerima kenyataan bahwa ia telah menikah dengan seorang Wanita yang jauh dari harapan. Sangat berbeda dengan sosok Istri yang dulu ia harapkan. Ataupun sebaliknya. Sedangkan untuk menempuh jalan perceraian tentu banyak pula hal yang perlu dipertimbangkan.
Sebagian dari kita harus menerima kenyataan pahit berupa berbagai macam problemetika yang merobek-robek kebahagiaan rumah tangganya.
Namun, sebagai seorang mu’min kita harus meyakini bahwa segala apa terjadi atas diri kita adalah ketetapan takdir dari Allah. Di balik semua itu pasti terkandung hikmah-hikmah, baik yang bisa kita baca maupun yang tidak mampu kita baca. Dan apapun yang ditetapkan oleh Allah ﷻ atas seorang mu’min pasti membawa kebaikan baginya. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mu’min, semua urusannya baik baginya dan kebaikan ini tidak dimiliki oleh selain mereka. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” (Haadits shahih riwayat Muslim dalam Shahih nya).
Hikmah di Balik Problematika Rumah Tangga
Di antara hikmah di balik problematika rumah tangga adalah:
- Adakalanya hal itu menjadi kesempatan untuk menambah timbangan kebaikan kita di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
من يرد الله به خيرا يصب منه
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya niscaya Allah akan menimpakan musibah (sebagai ujian) kepadanya” (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari dalam shahihnya dari hadits Abu Hurairah)
Adakalanya hal itu merupakan pemberitahuan dari Allah ﷻ atas maksiat yang kita lakukan.
Sebagaimana dikatakan oleh seorang ulama salaf:
“Sungguh aku dapat mengetahui akibat perbuatan maksiat dari perilaku istri dan hewan tungganganku.” Fudhail bin Iyadh Rahimahullah
Demikianlah tabiat dasar manusia yaitu lalai. Ketika seorang diberikan kelapangan hidup oleh Allah, rezeki yang cukup, badan yang sehat, istri yang baik dan anak-anak yang menyenangkan, maka iapun lupa. Ia melalaikan hak-hak Allah, merasa aman berbuat maksiat, lalai dari berdzikir, membaca Al-Qur’an dan ibadah-ibadah yang lainnya. Segala kemudahan hidup itu menyebabkan ia seakan-akan tidak butuh kepada Allah. Maka ketika Itu Allah ﷻ menurunkan bala’ atapun musibah. Muncullah berbagai macam permasalahan. Istri yang biasa lembut berubah menjadi kasar, anak yang biasanya anteng tiba-tiba menjadi beringas, rezeki tiba-tiba seret dan lain sebagainya. Ini merupakan peringatan dari Allah ﷻ hingga hamba itu mau kembali dan merasa butuh kepadaNya. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ memberikan sebuah wasiat yang berharga kepada kita, beliau bersabda:
“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjaga dirimu. Jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati Allah berada di hadapanmu. Ingatlah Allah ketika kamu dalam keadaan senang, niscaya Dia akan mengingatmu ketika kamu dalam keadaan sempit. Ketahuilah! Sesungguhnya apa yang ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu dan apa yang telah ditakdirkan menimpamu pasti akan mengenai dirimu. Ketahuilah! Sesungguhnya dengan kesabaran akan datang pertolongan. Sesungguhnya dibalik kesengsaraan itu pasti ada kesenangan dan dibalik kesulitan pasti ada kemudahan” (Hadits riwayat Abu Hurairah dan dishahihkan oleh Al-Albani alam Shahih al-Jami’, nomor 2961).
Oleh karena itu, apabila terjadi masalah dalam rumah tangga, hendaklah kita memeriksa kembali hubungan kita kepada Allah dan bertaubat dari maksiat yang kita lakukan serta memohon ampun kepada-Nya.
- Kita dapat memandang dunia dengan pandangan yang hakiki.
Salah satu bukti kesempurnaan iman seorang muslim adalah ia meyakini bahwa tidak ada yang sempurna kecuali Allah ﷻ. Terlebih lagi dalam kehidupan dunia ini, tidak ada sesuatupun yang sempurna. Sebesar apapun kebahagiaan yang dirasakan oleh seorang Insan pasti tetap ada cacat dan kurangnya. Dan sebesar apapun musibah yang menimpa seorang insan, pasti tetap ada nikmat lain yang layak ia syukuri.
Dunia adalah tempat kesusahan dan kesulitan. Sebagaimana makna dunia Itu sendiri yaitu rendah. Rendah zamannya dan rendah pula sifatnya. Dikatakan rerdah zamannya karena dunia datang lebih dulu daripada akhirat. Jadi dunia di sini bermakna dekat. Adapun kerendahan dunia yang serba kurang, memang begitulah realitanya. Di dunia ini, hidup pasti diakhiri dengan kematian, masa muda pasti diringi dengan masa tua, sehat pasti diringi dengan datangnya sakit, kegembiraan selalu iringi dengan kesedihan, kebahagiaan pasti diselingi dengan kepedihan, kelapangan pasti diringi dengan kesusahan dan pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan.
Semua keadaan ini jelas sangat berbeda dengan akhirat. Di dalam surga seorang akan terus hidup dan tidak akan mati. Akan tetap muda dan tidak pernah tua, selalu sehat dan tidap akan pernah sakit, mereka senantiasa merasakan kebahagiaan tanpa pernah mengalami kesusahan, dan mereka senantiasa mendapat kenikmatan tanpa pernah merasakan penderitaan.
Oleh karena itu seorang yang memiliki pandangan bashirah, ketika ditimpa musibah dan berbagai macam problematika kehidupan rumah tangganya, ia dapat memandang dunia ini dengan pandangan yang hakiki dan ia semakin merasakan manisnya negeri akhirat yang tidak ada kesusahan, kepayahan dan pertikaian. Maka mereka, pun terus beramal demi meraih kebahagiaan di negeri akhirat.
- Dengan menghadapi berbagai macam problematika rumah tangga dan melakukan usaha untuk menyelesaikannya, maka seorang insan akan semakin terasah kedewasaannya, ia bisa belajar untuk bersabar, menahan amarah, saling memaafkan dan menahan diri. Sehingga ia menjadi lebih matang dan lebih siap untuk menjalani kehidupan di masa yang akan datang.
- Terjadinya permasalahan ataupun pertikaian antara suami istri merupakan peluang untuk mengenali karakter pasangannya, apa saja yang disukai dan dibencinya, bagaimana pola pikirnya, apa saja yang ia sukai dan apa saja yang tidak disukainya.
Dengan demikian akan semakin bertambah kesepahaman antara keduanya dan mereka lebih siap untuk menjalani kehidupan bersama, insya Allah.
16. Talak adalah Solusi, Bukan Cemeti!

Saudaraku,…
Allah ﷻ menetapkan talak sebagai solusi dan jalan keluar bagi sepasang suami istri yang telah sampai kepada perasaan benar-benar tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga bersama. Maka sebagai ganti daripada mereka terus hidup bersama sementara mereka menduga tidak bisa menegakkan hukum-hukum Allah lagi, Allah ﷻ memberikan kelonggaran kepada mereka untuk bercerai dan berpisah. Agar masing-masing pihak mencari hunian baru dan pengalaman yang baru pula. Boleh jadi mereka akan mendapatkan kasih sayang dan ketenangan yang telah hilang dari mereka.
Allah ﷻ berfirman, “Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 130)
Adapun bila talak menjadi cemeti siksaan di tangan seorang suami terhadap istrinya, maka ini merupakan hal yang tidak logis dan tidak bisa diterima. Ketika terjadi sebuah problema biasa atau timbul pertengkaran dalam rumah tangga, suami langsung mengancam akan menjatuhkan talak. Akibatnya si istri hidup dalam kekalutan, tidak bisa tidur, tegang, ketakutan, terguncang dan kebingungan.
Sikap ini tercela, tidak bisa diterima oleh tabiat alami manusia dan orang-orang yang memiliki perilaku baik pasti akan menjauhinya. Allah ﷻ telah menetapkan kebaikan dalam segala hal. Apabila kamu menyembelih, maka lakukanlah dengan cara yang baik! Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menuliskan kebaikan atas segala sesuatu. Apabila kamu membunuh maka perbaikilah cara membunuh. Apabila kamu menyembelih perbaikilah cara menyembelih. Hendaklah ia menajamkan mata pisaunya dan membuat nyaman hewan yang akan disembelihnya.” (Hadits riwayat Muslim (5167).
Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang laki-laki yang meletakkan kakinya di atas muka seekor kambing sambil mengasah parangnya. Sedangkan kambing itu melihat perbuatannya tersebut. Maka Nabi ﷺ menegurnya, “Apakah kamu tidak bisa mengasahnya sebelum ini? Apakah kamu ingin membunuhnya berkali-kali?”
Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir dan Al-Ausath, serta Hakim dalam Al-Mustadrak. Silakan lihat Shahiih at-Targhiib wa tarhiib (I/631) (1090) dan Ghaayat al-Maraam (I/41) (40)
Talak termasuk ayat Allah ﷻ yang agung, sekaligus merupakan hikmah dan hukum-Nya yang mulia. Maka ayat-ayat Allah tidak boleh dijadikan sebagai olokan, permainan, penyiksaan dan gangguan terhadap orang lain. Yang seharusnya dilakukan adalah merujuknya dengan cara yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik pula.
Allah ﷻ berfirman:
“Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula)! Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka! Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan! Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu yaitu Al-Kitab dan Al-Hikmah! Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Bagarah: 231)
Rasulullah ﷺ pernah diberitahu tentang seorang laki-laki yang menjatuhkan talak kepada istrinya tiga kali sekaligus. Maka beliau bangkit dari duduknya dalam keadaan marah kemudian berkata, “Apakah Kitabullah hendak dipermainkan sedangkan aku masih berada di tengah-tengah kalian?” Sampai-sampai seorang sahabat bangkit lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak aku bunuh saja dia?”
Diriwayatkan oleh An-Nasaa’i. Silahkan melihat Hidaayah Ar-Ruwaat (III/312) (3227), Ar-Raudhah an-Nadiyyah (II/47) dan Ghaayat al-Maraam (I/164) (261).
Seorang laki-laki datang menemui Ibnu “Abbas dan berkata, “Sesungguhnya aku telah menjatuhkan talak kepada istriku sebanyak seratus kali talak sekaligus. Bagaimana pendapatmu mengenai masalahku ini?” Ibnu “Abbas menjawab, “talak yang benar darimu sebanyak tiga kali. Sedangkan yang sembilan puluh tujuh lainnya, engkau telah menjadikannya sebagai olokan terhadap ayat-ayat Allah.” (Hidaayah ar-Ruwaat (III/313) (3228) dan Irwaa’ al-Ghaliil (2056).
Di antara perkara agama yang haram dijadikan gurauan dan bahan canda adalah talak. Karena bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, ia akan menjadi sungguh-sungguh. Dan kalipun dilakukan dengan main-main ia tetap menjadi sungguh-sungguh.
Rasulullah ﷺ telah bersabda:
“Ada tiga perkara bila dilakukan dengan sungguhsungguh, ia akan menjadi sungguh-sungguh. Dan apabila dilakukan dengan main-main, ia tetap menjadi sungguh-sungguh: Nikah, talak dan rujuk.“ (Shahiih Sunan at-Tirmidzi (I/348) (944) dan Shahiih Sunan Ibnu Majah (V/347)(1658).
Sering sekali seorang istri mengeluhkan suaminya yang senang – benar-benar senang menakut-nakutinya- akan ditalak dan mengancam akan meninggalkannya saat terjadi perselisihan dan pertengkaran. Hal itu mengakibatkan dadanya menjadi sempit.
Suami tercinta telah menganiaya hidupnya dengan pedang yang diacungkan ke atas kepala. Hingga seakan-akan dirinya berada di ngarai sebuah gunung yang sudah hampir tiba waktu baginya dilemparkan dari atas. Penderitaannya pun semakin bertambah ketika si istri tidak berasal dari daerah yang sama dengan suaminya, dan memiliki keturunan yang lemah. Apa yang harus ia lakukan?
Apakah ia harus mengeyam buah pahit bersama mereka, dan bersabar terhadap perkara yang ia tidak kuasa sabar menanggungnya. Atau kabur kembali ke negerinya dan meninggalkan anak-anak yang menjadi korban di belakangnya? Ini menjadi keputusan genting yang amat pahit dan menyakitkan. Dan kondisi seperti ini merupakan cita-cita tertinggi yang diharapkan oleh musuh nomor satu (iblis) pada rumah tangga muslim.
Oleh sebab itu, wahai para suami yang shalih,
Berlaku lemah-lembutlah terhadap istrimu! Karena sesungguhnya Allah ﷻ mensyari’atkan talak untuk rahmat, bukan siksa. Jangan lagi bermain api, dan menjadikan senjata di pinggang sebagai hiburan! Sungguh, itu semua bukan perbuatan orang-orang baik. Surat Terbuka untuk Para Suami
PENUTUP
Di akhir risalah ini, aku ingin mengingatkan diriku sendiri dan juga saudara-saudaraku sekalian,…
Sesungguhnya sebesar apapun keinginan kita untuk meraih kebahagiaan hidup rumah tangga dan sekeras apapun usaha yang kita lakukan untuk menggapainya, namun kita harus sadar bahwa tidak ada yang dapat memberikan itu semua kepada kita kecuali Allah ﷻ. Kita hanya mampu berusaha namun Dialah yang menentukan semuanya. Hendaklah kita sadar bahwa kita adalah insan yang lemah dan sangat butuh kepada-Nya. Dan Rasulullah ﷺ telah bersabda:
“Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan apabila kamu meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah.” (Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, nomor 2516).
Karena itu di saat waktu-waktu yang mustajab hendaknya kita tidak melupakan doa kepada Allah, karena doa itu adalah ibadah.
Nabi ﷺ bersabda: “Doa adalah ibadah.”
Kemudian Nabi ﷺ membaca: “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina.” (QS: Al-Mu’ min: 60) (Hadits Shahih riwayat At Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunah Abu Dawud, no. 1329).
Bahkan doa adalah seutama-utama ibadah.
Nabi ﷺ bersabda: “Ibadah yang paling utama adalah do’a?” (Dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah aSh-Shahihah, nomor 1579).
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
DAFTAR REFERENSI
- Al-Qur’anul Karim.
- Umdatut Tafsir ‘anil Hafizh Ibni Katsir, karya Syaikh Ahmad Syakir.
- Mausu’ah lil Adabil Islamiyah, karya’ Abdul ‘Aziz bin Fat-hi as-Sayyid Nada.
- Al-Insyirah fii Aadaabin Nikah, karya Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari.
- Ithaaful Milaah fi Maa Yahtaajuhu ‘Aqidun Nikah, karya Ahmad bin ‘Abdillah as-Sulami.
- Kaifa Tus’id Zaujatak, karya M. ‘Abdul Halim Hamid.
- Ziyaadatul Iman wa Nuqshanihi, karya ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr.
- Al-Usrah bi Laa Masyaakil, karya Mazin bin ‘Abdil Karim al-Fariih.
- Al-Unful Usari, karya Abu Hamzah “Abdul Lathif bin Hajis al-Ghamidi.
- Wanita Haidh tidak luput dari pahala, karya Abu Ihsan alAtsari.
- Kaifa Takhtaar Jauzatak wa Kaifa Takhtariina Jauzuka, karya Nida Abu Ahmad.
- Yaumun fi Baiti Rasulillah, karya Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim.
- Fat-hul Baari, karya Ibnu Hajar al-Asqalaani.
- Tafsir Al-Qur’an al-“Azhim, Ibnu Katsir.
Buku: Surat Terbuka untuk Para Suami
Penulis: Abu Ihsan al-Atsari & Ummu Ihsan Choiriyah Hafidzahumallah
Pustaka Darul Ilmi
Cetakan Kedua 2010
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم




