Surat Terbuka untuk Para Istri #1

Muqaddimah
Sesungguhnya segala pujian hanyalah milik Allah semata. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan kejelekan amal-amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, niscaya tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah niscaya tiada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya.
Amma ba’du,
Sungguh, kebahagiaan rumah tangga adalah idaman setiap insan. Kesuksesan sepasang suami istri dalam membina rumah tangga merupakan penopang terciptanya kedamaian di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah kehidupan rumah tangga. Islam meletakkan kaidah-kaidah dan asas-asas bagi suami istri, yang mana di atas kaidah dan asas itulah, nantinya akan dibangun mahligai perkawinan yang kuat. Dan di atas pilar-pilar itu juga terdapat jaminan kebaikan bagi setiap keluarga muslim. Dan dampak selanjutnya adalah jaminan kebaikan bagi masyarakat Islam secara keseluruhan.
Saudariku, para muslimah…
Rumah tangga adalah perkara yang sangat pokok bagi kehidupan manusia. Bahkan Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa seorang yang telah membina kehidupan rumah tangga berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Dalam sebuah hadits, beliau Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي
“Apabila seorang hamba telah menikah berarti ia telah menyempurnakan setengah dari agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam menjaga setengahnya lagi.” (Hadits shahih riwayat Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, nomor 625).
Iblis -la’natullah juga mengetahui urgensi rumah tangga bahagia ini. Mereka memiliki ambisi yang sangat besar untuk mengganggu dan merusaknya. Sebab, tidak ada jurus yang lebih jitu untuk menghancurkan kehidupan anak Adam dan merampas kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat selain memporak-porandakan rumah tangga. Junjungan kita, Rasulullah ﷺ, telah memperingatkannya jauh-jauh hari. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas laut, kemudian ia mengirim balatentaranya. Orang yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah orang yang paling besar godaannya terhadap bani Adam. Salah seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu. Iblis mengatakan, “Engkau belum melakukan apa-apa!” Kemudian datang lagi yang lain dan berkata, “Tiada aku tinggalkan mereka itu (bani Adam) sehingga aku berhasil memisahkan suami dari istrinya. Maka Iblis menyuruhnya supaya mendekat dan berkata, “Sungguh hebat engkau! Maka iapun terus mendekatinya.” (Hadits shahih riwayat Muslim dan lainnya).
Saudariku, para muslimah…
Sadarilah sepenuhnya bahwa iblis, musuh sejati kita, dan bala tentaranya akan terus berusaha merongrong keutuhan rumah tangga kita. Mereka akan terus mengintai segala celah dan kesempatan yang mungkin bisa mereka manfaatkan untuk mengobrak-abrik kebahagiaan kita. Mereka akan menggunakan segala cara guna mencapai tujuan itu. Dan mereka akan bersorak sorai menuai kemenangan manakala berhasil meretakkan hubungan cinta kasih sepasang suami istri yang merupakan lentera penerang bagi bahtera rumah tangga mereka.
Saudariku, para istri yang mulia…
Kita adalah insan yang lemah dan sangat membutuhkan nasehat. Dan sungguh, tidak ada yang dapat membentengi sepasang suami istri dan menyelamatkan mahligai perkawinan mereka kecuali ilmu yang shahih.
Maka dengan memohon pertolongan Allah ﷻ saya mencoba menorehkan pena dan mempersembahkan risalah ini. Pertama untuk diriku sendiri. Dan kedua, untuk saudari-saudariku para muslimah yang akan melangkah menuju jenjang pernikahan. Dan ketiga, untuk segenap istri yang ingin meraih ridha Ar-Rahman. Mudah-mudahan risalah singkat ini dapat menjadi nasehat yang berguna dan menjadi bekal yang berharga dalam mengarungi samudera kehidupan rumah tangga. Sehingga kita dapat menuai kesuksesan dan meraih buah kebahagiaan nan abadi.
Akhir kata, saya memanjatkan rasa syukur kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa yang telah memberikan kekuatan dan pertolongan kepadaku untuk menyelesaikan tulisan ini. Segala puji hanyalah milik-Nya di awal dan di akhir, lahir maupun bathin.
Selanjutnya saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan tulisan ini, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan pahala.
Ya Allah, jadikanlah amal ini ikhlas semata-mata mengharap wajah-Mu, berguna bagi hamba-hamba-Mu serta menjadi buah ketaatan dan tabungan pahala bagi kami, Yaa Hayyu Yaa qayyum, Yaa Dzal Jalaali Wal Ikram.
Ditulis oleh: Ummu Ihsan Choiriyah & Abu Ihsan al-Atsari
Medan, 10 Oktober 2008
1. Rumah Tangga adalah Nikmat

Saudariku…
Pernikahan adalah anugerah dan nikmat yang sangat besar bagi umat mamusia. Dan Allah ﷻ menyifatkan hubungan cinta kasih sepasang suami istri sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi siapa saja yang mau berfikir. Allah ﷻ berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS Ar Rum ayat 21).
Coba renungi, bagaimana terjalinnya cinta kasih antara sepasang insan laki-laki dan wanita yang belum pernah saling mengenal, belum pernah berhubungan ataupun saling bertatap muka. Bahkan sosok pria itu belum pernah terlintas di relung hatinya. Lalu atas kuasa Allah ﷻ mereka berdua bertemu dan dipersatukan dalam satu ikatan yang sangat kuat yaitu tali pernikahan. Kemudian Allah ﷻ menumbuhkan perasaan cinta dan kasih sayang dalam hati mereka. Keduanya saling mengasihi dan menyayangi. Istri merasakan ketenangan dan kedamaian bila berada di sisi sang suami, demikian pula sebaliknya. Dan tak ada sesuatu yang lebih disukai selain selalu bersama.
Suami istri ibarat pakaian bagi pasangannya, yang saling memberi kehangatan, menutupi, merekatkan, melindungi dan senantiasa saling membutuhkan. Sungguh sebuah ikatan hati yang sangat erat, sampai-Sampai Rasulullah mengatakan:
“Kami belum pernah menyaksikan dua insan yang saling berkasih sayang melebihi cinta kasih suami istri dalam ikatan pernikahan.” (Hadits shahih riwayat Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (1847).
Saudariku, para istri yang mulia…
Sadarilah, rumah tangga yang Allah karuniakan kepadamu itu adalah sebuah anugerah yang sangat besar…
Namun, sebagai manusia kita acap kali lalai. Kadang kala baru dapat merasakan besarnya sebuah nikmat, baru bisa menyadari agungnya sebuah anugerah, justru setelah nikmat dan anugerah itu terangkat darinya. Banyak orang yang baru merasakan besarnya nikmat sehat justru setelah ia sudah jatuh sakit. Seseorang baru merasakan besarnya nikmat penglihatan dan pendengaran, justru setelah penglihatan dan pendengarannya telah diambil oleh Allah ﷻ. Seseorang baru merasakan nikmat kaya justru setelah ia jatuh miskin, dan seterusnya…
Maha benar Allah ﷻ dalam firman-Nya:
وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’:13)
Wahai para istri…
Suami yang Allah anugerahkan kepadamu adalah sebuah nikmat.
Lihatlah sekitarmu!
Berapa banyak wanita-wanita yang sudah begitu lama mendambakan kehadiran seorang suami. Mereka sudah sangat berkeinginan untuk dapat mencicipi sebuah pernikahan, namun takdir Allah, jodoh yang dinanti-nantikan tak kunjung datang. Berapa banyak wanita-wanita yang harus kehilangan suaminya, mereka harus terpisah dari orang yang sangat dicintainya?
Jadi, apabila sekarang Allah ﷻ telah memberikan kepadamu seorang suami, bukankah itu merupakan nikmat yang sangat besar. Apalagi bila suami yang Allah anugerahkan itu adalah seorang suami yang shalih dan taat beragama.
Namun, mengapa masih banyak diantara kita yang menghadapi suami hanya dengan keluh kesah dan rasa tidak puas?
Para istri yang mulia…
Anak-anak yang Allah anugerahkan kepadamu adalah sebuah nikmat.
Perhatikanlah sekelilingmu!
Berapa banyak pasangan yang sudah begitu lama mengharapkan kehadiran anak namun Allah belum berkehendak memenuhi keinginan mereka. Berapa banyak wanita yang berkeinginan menjadi seorang ibu. Namun kehendak Allah berbicara lain, ia tak mampu mengandung dan melahirkan…
Jadi, mengapa masih banyak dari kita yang menyikapi anak-anak hanya dengan keluhan dan gerutu?
Anak rewel mengeluh, anak nakal mengeluh, anak sakit mengeluh, anak tidak cerdas mengeluh, dan letih mengasuh anakpun kita mengeluh.
Ketahuilah, ini adalah tanda-tanda orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah.
Camkanlah baik-baik!
Jangan sampai Allah ﷻ mencabut nikmat itu dari kita karena kita lalai menunaikan kewajiban mensyukurinya. Allah ﷻ telah berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu menyatakan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Dan sadari juga, salah satu hikmah Allah menimpakan suatu bala kepada anak Adam adalah agar hamba yang sedang lalai dapat kembali mengingat Allah dan merasa butuh kepada-Nya.
2. Rumah Tangga adalah Ladang Kebaikan

Perlu engkau tahu, wahai saudariku…
Suamimu adalah ladang yang subur untuk meraih Surga Allah. Gunakan ladang itu sebaik-baiknya untuk bercocok tanam, sehingga engkau dapat memetik hasilnya kelak di akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.
“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).
Subhanallah, siapa yang tak menginginkan martabat seperti ini wahai muslimah?
Bukankah kita hidup di dunia dalam rangka mengumpulkan bekal, untuk suatu hari yang mana Allah ﷻ akan memberikan balasan atas tiap-tiap insan sesuai dengan amal perbuatannya? Dan saat itu hanya ada dua pilihan, Surga atau Neraka.
Nabi ﷺ mengatakan bahwa apabila seorang istri telah menjaga shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan dan menaati suaminya niscaya akan dikatakan kepadanya kelak di akhirat, “Masuklah kamu ke dalam Surga melalui pintu mana saja yang engkau kehendaki!”
Bukankah keutamaan ini tidak bisa diraih oleh wanita yang tidak memiliki suami? Sadarilah itu!
Para istri yang mulia…
Kedudukan suamimu di sisimu adalah perkara yang harus engkau perhatikan sebaik-baiknya. Mengapa?..
Karena suamimu bisa menjadi Surgamu dan ia juga bisa menjadi Neraka bagimu.
Dikisahkan bahwa seorang wanita datang kepada Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Setelah selesai, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apakah engkau memiliki suami?”. “Ya” jawabnya. “Bagaimana sikapmu padanya?” sambung beliau. “Aku selalu melayaninya kecuali dalam hal yang tidak kumampui” jawabnya. Beliau bersabda,
“انْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ؛ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ”.
“Perhatikan baik-baik bagaimana kedudukanmu di sisinya. Karena ia adalah surgamu atau nerakamu!”. HR. Ahmad dari Hushain bin Mihshan dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albany.
Saudariku…
Ingatlah selalu, anak-anakmu juga ladang amal yang sangat istimewa. Keberhasilanmu mengasuh, mengurus dan mendidik mereka hingga menjadi anak-anak yang shalih akan menjadi tabungan yang terus mengalirkan pahala. Bahkan pahala itu akan terus mengalir hingga engkau menghuni liang kubur. Bersabarlah menghadapi mereka, dan yakinlah bahwa jerih payahmu itu tidak akan sia-sia. Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
“إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ؛ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.
“Jika seorang manusia mati, maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang selalu mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Selanjutnya, berdoalah kepada Allah agar memberi kan kekuatan dan kemudahan bagimu dalam mengasuh dan mendidik mereka, semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak shalih yang senantiasa menyejukkan pandangan dan mendatangkan kebahagiaan bagi kedua orang tuanya di dunia dan di akhirat.
3. Rumah Tangga adalah Amanah

Para istri yang mulia….
Di satu sisi rumah tangga Adalah nikmat. Namun di sisi lain rumah tangga merupakah-amanah dan tanggung jawab yang harus kita pikul sebaik-baiknya. Sebuah amanah yang tak boleh dilakukan serampangan dan sesuka hati. Kita harus selalu ingat bahwa tanggungjawab ini pasti akan ditanyakan oleh Allah kelak di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits:
“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Amir yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya. Dan ia akan ditanyai tentangnya. Seorang budak adalah pemimpin pada harta tuannya, dan ia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah, setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dalam Shahihnya (893) dan Muslim (4828).
Marilah kita jaga amanah ini baik-baik.
Sungguh, Allah telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang senantiasa memelihara amanah yang dipikulnya. Merekalah orang-orang yang berhak mewarisi Surga Firdaus dan mereka akan kekal di dalamnya.
Allah ﷻ berfirman:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ.َٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمْ يُحَافِظُونَ. أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْوَٰرِثُونَ. ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni yang akan mewarisi Jannah Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minuun: 8-11)
Saudariku…
Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Dan melaksanakan tanggung jawab ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Dan setan pasti akan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita.
Apalagi tabiat dasar manusia adalah suka berkeluh kesah. Allah ﷻ berfirman:
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir” (QS. Al-Ma’aarij: 19)
Namun, jauhilah sifat seperti ini sebisa mungkin. Ingatlah, keluh kesah hanya membawa kerugian. Sebab, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila kita sikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, niscaya tugas yang ringan akan berubah menjadi beban yang berat. Dan kerugian yang lebih besar lagi adalah hati yang tidak ikhlas, yang menyebabkan kita terluput dari pahala. Inilah kerugian di atas kerugian. Sebab di dunia kita selalu merasa terbebani dan di akhirat ternyata tidak ada catatan pahalanya di sisi Allah.
Sebaliknya….
Jika kita laksanakan segenap tugas dan tanggung jawab itu dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila kita lakukan dengan penuh kerelaan, kegembiraan dan harapan, serta menyambutnya dengan senyuman niscaya tugas yang berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, dengan keikhlasan hati tadi, maka semua jerih payah dan setiap tetesan keringat akan bernilai pahala di sisi Allah. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Sebab, jika kita laksanakan tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya niscaya suami juga akan merasa senang dan semakin cinta kepadamu. Demikian juga anak-anak akan semakin menyayangimu. Tentu semua itu akan menghadirkan kebahagiaan bagi kita di dunia. Dan di akhirat kita akan mendapat keberuntungan yang jauh lebih besar, yang mana Allah ﷻ akan membalas segala usahamu itu dengan balasan yang terbaik yaitu Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
Ya Allah, anugerahkanlah kekuatan dan kemudahan kepada kami untuk memelihara dan melaksanakan amanahMu ini. Dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, Allahumma amiin.
4. Kita Semua Harus Terus Belajar

KITA HARUS BELAJAR DAN TERUS BELAJAR
Saudariku….
Ilmu laksana cahaya. Orang-yang tak punya ilmu akan hidup dalam kegelapan. Tidak tahu jalan mana yang harus ia tempuh dan apa yang harus ia lakukan saat menghadapi masalah. Sungguh, kebutuhan kita terhadap ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap makan dan minung. Sebab, makan dan minum hanya berfungsi menjaga kehidupan jasmani, yang mana itu juga merupakan kebutukan hewan. Sedangkan ilmu yang bermanfaat kita butuhkan untuk menjaga kehidupan hati dan rohani. Sementara, hatilah yang menentukan baik buruknya perilaku dan jasmani, sebagaimana yang sebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sebua hadits:
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah ﷻ. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetehuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (OS. Al -Mujadalah: 11)
Saudariku…
Ilmu adalah sesuatu yang harus kita miliki sebelum kita berbicara dan berbuat. Kebaikan hidup dunia dan akhirat hanya dapat diraih dengan ilmu. Rasulullah ﷺ telah bersabda dalam sebuah hadits:
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki atasnya kebaikan niscaya Allah akan beri ia pemahaman dalam agama.” (Muttafaqun ‘Alaihi).
Dan dalam hadits yang lain beliau bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
Demikian pula halnya kesuksesan dalam rumah tangga, tidak akan bisa diraih tanpa ilmu. Kerena itu, jangan pernah berangan-angan bisa menjadi istri yang sukses apabila kita tidak mau belajar.
Masih banyak yang harus kita pelajari wahai saudariku, berapapun usia pernikahan kita. Kita harus mempelajari bagaimana tuntunah syari’at berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, apa saja kewajiban-kewajiban yang harus kita laksanakan dan apa-apa saja yang harus kita tinggalkan. Kita belajar bagaimana cara bermuamalah yang benar dengan suami, anak-anak dan semua orang yang hidup bersama kita. Kita harus belajar tentang perkara-perkara yang dapat memperkokoh kebahagiaan suami istri dan bagaimana cara meraih ridha Allah dengan pernikahan ini.
Di samping itu mungkin masih banyak kekeliruan-kekeliruan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga, yang mana hal itu dapat menghalangi terciptanya kebahagiaan hidup rumah tangga kita. Dan kita juga harus belajar bagaimana cara menghadapi berbagai macam persoalan rumah tangga dan menyelesaikannya menurut rambu-rambu syariat.
Intinya…
Apabila kita ingin menjadi seorang istri yang sukses, ibu yang sukses, atau seorang pendidik yang sukses, maka kita tidak bisa berpangku tangan. Kita harus belajar. Maka selama hayat dikandung badan tetaplah bergairah menjadi seorang penuntut ilmu, yang senantiasa haus ilmu dan terus mencarinya.
Saudariku, para istri yang mulia…
Ingatlah, pengabdianmu dalam kehidupan rumah tangga merupakan bentuk ibadah kepada Allah. Dan semangat untuk menunaikan ibadah sangat bergantung kepada naik turunnya keimanan yang ada dalam hatimu.
Demikian juga gairah dan motivast untuk menjadi seorang istri yang shalihah, kadang kita rasakan naik dan kadang juga turun. Oleh karena itu kita mesti berusaha keras menjaga keistiqamahan hati.
Alhamdulillah, sekarang sudah banyak sarana-sarana yang tersedia. Sudah banyak beredar buku-buku bimbingan hidup rumah tangga, majalah-majalah, kaset-kaset atau cd-cd ceramah dan lain sebagainya. Manfaatkan itu sebaik-baiknya. Sebab, amat banyak bimbingan dan ilmu yang bisa digali, yang mungkin belum kita ketahui, padahal itu sangat kita butuhkan.
Jangan malas menghadiri majelis-majelis ilmu guna mendengarkan nasehat-nasehat yang berharga.
Bukalah wawasan berfikir dengan bergaul bersama teman-teman yang shalihah. Sebab, perintah Allah ﷻ: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.” (OS. Al-Ahzab : 33)
Bukanlah alasan bagi kita untuk tidak bergaul, sehingga kita menjadi seperti katak dalam tempurung. Menjadi seorang wanita yang sempit wawasannya lagi sempit pikirannya.
Pilihlah teman-teman yang dapat membantumu dalam mentaati Allah dan menjalankan agama ini. Karena dari kawan-kawan yang shalihah itu kita dapat mengaca. Dan dari mereka juga kita dapat banyak belajar dan memperoleh masehat-nasehat yang berguna. Ingat kita tak boleh “kuper” (kurang pergaulan) tapi kita juga tak boleh jadi “koper” (korban pergaulan).
Allah ﷻ telah berfirman:
وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلً. يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا. لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan sungguh syaithan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 27-29)
5. Sebelum Melangkah Lebih Jauh

SEBELUM KITA MELANGKAH LEBIH JAUH
Sebelum kita melangkah lebih jauh, mungkin sempat terlintas dalam hatimu, mengapa pembicaraan ini hanya ditujukan kepada kami -kaum wanita-? Dan tidak ditujukan kepada kaum pria? Mungkin di sini perlu kita luruskan.
Saudariku, para istri yang mulia….
Bagaimana mungkin kita menuntat suami agar menjadi suami yang ideal. Kita menuntut ini dan itu. Sementara kita tak mau memperbaiki diri. Kerap kali seorang wanita hanya pandai menuntut dan merasa tak puas tanpa mau memandang permasalahan secara bijak. Untuk memperjelas hal ini, perlu kita paparkan beberapa contoh kasus:
Seorang istri mengeluhkan suaminya karena tidak perah kerasan di rurmah. Ada saja alasan yang ia kemukakan untuk dapat segera meninggalkan rumah. Ia pergi pagi-pagi buta dan baru kembali bila hari telah merangkak malam. Maka si istri terus-menerus mengajukan protes dan menuntut suaminya agar kerasan di rumah. Namun sayang, si istri tidak memandang secara bijak mengapa gerangan suaminya tak pernah kerasan di rumah? Ternyata semua itu berpangkal dari kelalaian si istri. Ia ternyata seorang istri yang awut-awutan. Sama sekali tidak pandai menciptakan suasana rumah yang nyaman. Semua sudut rumah berantakan, ditambah lagi dengan kondisi anak-anaknya yang sungguh tak sedap di pandang. Ia tak pandai menjaga penampilan di hadapan suami, tak terampil mengurus rumah tangga dan selalu menyuguhi suaminya dengan berbagai masalah dan keluhan. Lantas, benarkah tuntutannya terhadap suami untuk betah di rumah jikalau kondisinya seperti itu?
Seorang istri mengeluhkan suaminya yang tak suka makan di rumah dan lebih senang jajan di luar. Si istri segera melontari suami dengan kata-kata pedas, seperti tidak menghargai jerih payah istri dan lain sebagainya. Ia menuntut suaminya untuk enak makan di rumah tanpa mau melihat apa sebenarnya yang menyebabkan suaminya lebih suka jajan di luar. Ternyata ia seorang istri yang tidak terampil memasa dan tidak juga mau belajar. Lalu bagaimana ia menuntut suaminya bisa merasa puas makan di rumah?
Seorang istri mengeluhkan suaminya yang lemah dan sering sakit-sakitan. lapun merasa kesal mengapa suami tidak bisa bugar sebagaimana suami-suami yang lain. sama sekali tidak menyadari ternyata ia adalah seorang isteri yang tak pandai merawat dan menjaga suami. Tepatkah sikap seperti ini?
Saudariku….
Itu hanyalah beberapa contoh kasus yang bisa kita jadikan pelajaran. Sebab, bagaimana mungkin menuntut hak apabila kewajiban dilalaikan. Bagaimana mungkin menuntut suami menjadi suami yang shalih sementara kita tidak bersaha meniadi seorang istri vang shalihah. Dan mungkinkah kita mengimpikan suami kita menjadi suami idaman sementara kita bukanlah tipe istri idaman.
Ada kaidah yang sudah dimaklumi bersama, bahwa di alam ini selalu ada aksi dan reaksi. Dan reaksi akan sangat tergantung pada aksi. Apabila aksi baik biasanya reaksinya juga akan baik, dan apabila aksi tidak baik maka reaksinya tak akan baik pula. Benarlah firman Allah ﷻ :
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”. (QS. Ar-Rahman: 60)
Oleh karena itu…
Janganlah tergesa-gesa mengatakan hal yang tidak-tidak tentang suami sebelum kita melihat bagaimana sebenarnya diri kita ini. Sebab bisa jadi sikap suami yang tidak mengenakkan hati itu hanyalah sebuah reaksi dari sikap dan perilaku kita sendiri.
HAKIKAT KEBAHAGIAAN
Rumah tangga yang bahagia adalah idaman setiap orang. Namun bila ditanyakan, “Apa itu bahagia?” Mungkin pertanyaan ini sulit kita jawab. Sebab, kebahagiaan itu adalah sesuatu yang bisa dirasakan, namun sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bahagia adalah sebuah perasaan.
Bahagia adalah sesuatu yang maknawi, sebuah perasaan yang lahir dalam hati, membawa berjuta makna. Dan orang yang merasakan kepuasan dan kecukupan, itulah orang yang bahagia.
Kebahagiaan itu dapat dirasakan oleh siapa saja. Kebahagiaan bukanlah monopoli orang yang berharta saja.
Bukankah rumah sederhana yang membuat seorang wanita selalu tersenyum lebih baik daripada istana megah yang selalu membuatnya menangis dan merintih, nasibnya ibarat burung dalam sangkar emas?
Berapa banyak pasangan suami istri yang siang malam diperbudak oleh hartanya, sehingga hubungan cinta kasih diantara mereka terasa sangat gersang. Bahagiakah kehidupan seperti itu?
Bahagia juga bukan monopoli wanita cantik rupawan yang memiliki suami tampan.
Berapa banyak wanita cantik rupawan yang kecantikannya justru menjadi bumerang bagi dirinya?
Dan bukankah seorang pria bersahaja yang mampu merengkuhnya dalam kebahagiaan lebih baik daripada pria tampan lagi rupawan yang selalu melukai hati dan persaaan,
Kesimpulannya…
Bahagia tak dapat dikejar sernata-mata dengan harta berjibun ataupun tampilan fisik semata.
Lalu bagaimanakah rumah tangga yang bahagia dan siapa sebenarnya wanita yang bahagia?
Ketahuilah, kebahagiaan itu hanya dapat diraih dan dirasakan oleh sepasang suami istri yang senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan merasa berkecukupan.
Mereka saling bahu-membahu dalam urusan dunia maupun akhirat. Mereka memahami tugas dan hak masing-masing. Mereka hidup penuh keharmonisan. Dan masing-masing pihak dapat memberikan kebahagian, kehangatan, dan ketentraman bagi pasangannya.
Selanjutnya, kebahagiaan rumah tangga akan membawa mereka kepada kebahagiaan yang kekal abadi dalam Surga yang penuh kenikmatan. Mereka jadikan rumah tangga mereka itu sebagai jalan meraih ridha Allah. Maka kebahagiaan rumah tanggapun menjadi salah satu anak tangga dalam meraih kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat.
Saudariku yang kucintai….
Kebahagiaan pasti diimpikan oleh setiap orang yang berakal sehat. Bergegaslah meraihnya dan carilah kebahagiaan itu bersama suamimu, bersama anak-anakmu, bersama keluargamu dan bersama siapa saja yang bergaul denganmu. Dengan cara membantu mereka, mencintai mereka dan menuntun tangan mereka kepada perkara yang dicintai Allah ﷻ.
Berjalanlah bersama suamimu menempuh jalan kebahagiaan dengan tenang, thuma’ninah dan kasih sayang serta dengan mendidik anak-anak menjadi generasi yang shalih dan saling bahu membahu dalam mengerjakan ketaatan. Ciptakanlah suasana umah tangga yang tenang yang mendorong kita untuk berbuat ketaatan/ suasana rumah tangga yang nyaman, tidak membuat penat dan tidak membuatmu bosan dalam melaksanakan tanggung jawab. Suasana yang menambah kebahagiaan dari setiap pekerjaan yarig engkau lakukan, seiring bertambahnya semangatmu dalam meraih pahala di sisi Ar-Rahman. Agar engkau dapat meraih kebahagian rumah tangga yang merupakan anak tangga menuju Surga yang penuh kenikmatan.
Sekarang, mari kita simak pandangan Nabi ﷺ tentang kebahagiaan. Nabi ﷺ bersabda:
“Empat perkara yang mendatangkan kebahagiaan, Pertama, Istri yang shalihah. Kedua, Rumah yang luas Ketiga, Tetangga yang shalih. Keempat, Kendaran yang cepat. Empat perkara yang mendatangkan kesengsaraan, Pertama, Istri yang buruk. Kedua, Tetangga yang jahat. Ketiga, Kendaraan yang buruk. Keempat, Rumah yang sempit.”
Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (282) dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash.
Nabi ﷺ juga bersabda:
“Tiga perkara yang membawa kebahagiaan dan tiga perkara yang mendatangkan kesengsaraan. Adapun tiga perkara yang membawa kebahagiaan adalah:
1. Istri yang shalihah, yang membuatmu kagum setiap kali melihatnya, engkau merasa aman atas kesucian dirinya dan hartamu apabila engkau tak berada di sisinya.
2. Kendaraan yang cepat, yang membuatmu dapat menyusul rekan-rekanmu.
3. Rumah yang lapang dan lengkap perabotannya.
Adapun tiga perkara yang mendatangkan kesengsaraan:
1. Istri-istri yang membuatmu jengkel setiap kali melihatnya, yang menggunakan lisannya untuk menyerangmu dengan kata-kata Keji, dan engkau merasa tidak aman atas kesucian dirinya dan hartanya apabila engkau tak berada di sisinya.
2. Kendaraan yang lambat. Kalau engkau halau niscaya hanya membuatmu letih. Dan jika tak dihalau maka tidak akan membawamu untuk menyusul rekan-rekanmu.
3. Rumah yang sempit lagi minim perabotannya.
Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (1047) dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash.
Tentu, istri yang shalih adalah istri yang paham dan taat beragama. Rumah yang luas adalah hati yang lapang dan luas yang senantiasa terisi dengan sifat qana’ah. Tetangga yang shalih adalah Ilngkungan dan pergaulan yang baik lagi shalih. Kendaraan yang cepat adalah setiap sarana dan harta yang kita miliki yang mendorong kita untuk segera dan berlomba-lomba dalam beramal shalih. Dan perabotan yang lengkap adalah ilmu yang bermanfaat yang mengisi hati kita.
Dan tentunya, istri yang buruk adalah istri yang tak paham dan tak taat beragama. Rumah yang sempit adalah hati yang sempit dan kosong dari sifat qana’ah. Tetangga yang jahat adalah lingkungan dan pergaulan yang jahat. Kendaraan yang lambat adalah sarana dan harta yang menahan kita berbuat ketaatan. Dan perabotan yang minim adalah ilmu yang dangkal lagi sedikit yang tak bisa mengisi hati.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
Buku: Surat Terbuka untuk Para Istri
Penulis: Abu Ihsan al-Atsari & Ummu Ihsan Choiriyah Hafidzahumallah
Pustaka Darul Ilmi
Cetakan Ketiga 2011
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم