Wanita dan Keluarga

Surat Terbuka untuk Para Istri #2

6. Merancang Kebahagiaan sebelum Pernikahan

Merancang Kebahagiaan sebelum Pernikahan

Saudariku…

Sebenarnya kebahagiaan rumeh tangga itu perlu dirancang dan dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum pernikahan. Bagi saudariku para muslimah yang belum menikah, engkau masih punya kesempatan lebih lapang. Engkau memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak. Pelajarilah tanggung jawab apa saja yang harus engkau tunaikam sebagai istri. Ketahuilah, pernikahan ibarat kendaraan besar, yang mengemban tanggung jawab dalam menciptakan kehidupan bahagia. Mungkin saja engkau akan menghadapi berbagai macam masalah. Itu adalah perkara yang wajar.

Bacalah dan pahamilah hingga engkau dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan kesiapan yang matang dalam menghadapi segala suka dukanya. Selagi kesempatan masih ada, kerahkan segala daya dan upayamu untuk mempersiapkannya.

Diantara bentuk persiapan itu adalah:

1. Perbaikilah dirimu dan berhiaslah dengan pakaian taqwa

Inilah persiapan pertama yang harus engkau lakukan Sebab laki-laki yang baik itu untuk wanita yang baik dan wanita yang baik itu untuk laki-laki yang baik pula.

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-Jaki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik ( pula ) (QS. An-Nur: 26)

Suatu hal yang lucu apabila engkau berangan-angan mendapat pasangan yang shalih sedang engkau tidak berusaha menjadi wanita yang shalihah. Ketahuilah saudariku, Allah ﷻ telah menjanjikan bagi orang-orang yang bertakwa jalan keluar atas setiap masalah dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.(QS. Ath-Thalaq : 2-3).

Suami yang shalih adalah rezeki. Mudah-mudahan karena ketaqwaanmu, Allah ﷻ berkenan memberikan jalan keluar bagi setiap urusanmu dan memberikan kepadamu rezeki yang baik.

Allah ﷻ juga berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مِنْ أَمْرِهِۦ يُسْرًا

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS Ath-Thalaq ayat 4)

Sadarilah wahai saudariku, tidak ada satupun urusan yang mudah apabila Allah menghendakinya susah. Demikian juga, tidak ada satupun urusan yang susah apabila Allah ﷻ menghendakinya mudah.

Termasuk urusan jodoh dan pernikahan. Maka bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan Allah berkenan memberikan kemudahan bagi semua urusammu.

Dan satu-hal penting yang tak boleh engkau lupakan, jodoh itu ada di tangan Allah. Bukan kita yang mengatur, tetapi Dialah yang telah mengaturnya. Oleh karena itu, panjatkanlah doamu kepada Allah dengan segenap ketulusan dan keihklasan. Sebab doa adalah senjata orang yang beriman.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan doamu dikabulkan oleh-Nya.” Hadits Shahih riwayat At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (594).

Berdoalah kepada Allah, semoga Dia berkenan memberimu pasangan hidup yang dapat membawamu kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Setelah engkau berusaha dan berdoa, serahkan semuanya kepada Allah dan bertawakkallah kepada-Nya Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS Ath-Thalaq : 3).

2. Luruskan niatmu

Hendaklah yang menjadi tujuanmu menikah adalah semata-mata mencari ridha Allah ﷻ. Untuk merealisasikan fitrah yang telah Allah gariskan atas umat manusia, memelihara dirimu dari gejolak syahwat yang diharamkan, membangun rumah tangga muslim yang menjadi sumber sakinah serta kedamaian, dan merupakan sunnah Nabimu. Ikhlaskanlah niatmu dalam membina hidup berumah tangga.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam”. (QS. Al-An’am : 162).

3. Pilihlah calon suami yang shalih dan taat beragama

Ini merupakan perkara yang harus engkau perhatikan. Jangan sampai salah menentukan pasangan. Sebab, jika salah bisa fatal akibatnya. Mengapa? Coba fikirkan baik-baik…

Apabila seorang wanita menikah pada usia 20 tahun misalnya, maka semenjak ia lahir sampai usia 20 tahun, kedua orang tuanyalah orang yang paling dekat bergaul dengannya.

Dan semenjak ia mengikat tali pernikahan sampai maut datang menjemputnya, maka suamilah orang yang paling dekat dengannya. Sekiranya ia meninggal pada usia 63 tahun maka selama 43 tahun suamilah orang yang paling dekat dalam kehidupannya. Sedang Rasulullah ﷺ bersabda:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang berada di atas agama shahabat karibnya, kendaklah salah seorang dari kamu, memperhatikan siapakah yang menjadi sahabat karibnya.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (927).

Kedudukan suami tentu lebih daripada sekedar kawan karib. Ia adalah pasangan hidup, pendamping, sahabat dan tempat berbagi dalam kehidupan, berupa makanan, minuman, perasaan sedih maupun senang.

la merupakan pasangan dalam kehidupan bukan hanya sehari atau setahun, akan tetapi sepanjang hidup. Dan tidak diragukan lagi bahwa masing-masing pihak akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pasangan hidupnya.

Suami yang shalih akan memberikan peluang dan kemudahan bagimu untuk menjalankan agama, tolong-menolong denganmu untuk mencari ridha Allah ﷻ dan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ telah berpesan, dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al Albani berkata dalam Shahih At Tirmidzi bahwa hadis ini hasan lighairihi).

Al-Hasan a-Bashri berkata, “Nikahkanlah putrimu dengan lelaki yang bertaqwa kepada Allah. Karena bila ia mencintainya maka ia akan memuliakannya. Dan apabila ia membencinya maka ia tidak akan menzhaliminya.”

Termasuk perkara yang perlu diperhatikan dalam memilih pasangan adalah kesetaraan antara suami istri. Keseteraan ini meliputi semua aspek baik agama, tingkat pendidikan, maupun kedudukan sosial. Tercakup di dalamnya kesamaan pemikiran dan adat kebiasaan. Meskipun kesetaraan selain dalam hal agama bukan termasuk syarat sah pernikahan, namun ini akan lebih memudahkan keduanya dalam meraih keharmonisan rumah tangga. Berbeda dengan sepasang suami istri yang memiliki kesenjangan tingkat pendidikan dan kedudukan sosial terlalu jauh antara keduanya.

4. Meringankan mahar

Wanita yang paling mudah maharnya adalah wanita yang paling banyak berkahnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ: تَيْسِيرَ خِطْبَتِهَا ، وَتَيْسِيرَ صَدَاقِهَا

“Termasuk keberkahan seorang wanita ialah mudah urusan peminangannya dan mudah maharnya.” (Hadits hasan riwayat Ahmad dan Al-Hakim, dihasankan oleh Al-Albani dalam Jaami’ ash-Shaghir (3998).

5. Nazhar

Pelaksanaan nazhar atau melihat calon mempelai wanita, akan lebih mendorong penerimaan dan lebih melanggengkan kasih sayang. Demikian juga dapat menghindarkan berbagai hal yang tidak diingini di kemudian hari. Berapa banyak rumah tangga yang tercerai berai ikatannya padahal masih melewati bulan-bulan awal pernikahannya. Disebabkan tidak adanya kecocokan hati antara suami dan istri. Pedoman hati, petunjuk dan utusannya adalah nazhar (menyaksikan calon istri). Oleh karena itu Rasulullah ﷺ berkata kepada Al-Mughirah Radhiyallahu’anhu yang telah meminang seorang wanita:

اذهب فانظر إليها، فإنه أجدرُ أن يُؤدمَ بينكما

Pergi dan lihatlah wanita itu, karena hal itu akan bisa lebih mengekalkan cinta kalian berdua.”

Al-Mughirah berkata, “Akupun melihatnya kemudian aku menikahinya. Tidak ada seorangpun wanita yang menyamai kedudukannya di sisiku.” (Hadits shahih, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah (96).

6. Jangan lupa istikharah

Apabila telah datang seorang pria meminangmu, hendaklah engkau mempertimbangkannya dengan pikiran yang sehat dan bermusyawarah dengan orang yang engkau pandang layak serta beristikharahlah kepada Allah. Karena shalat istikharah adalah ibadah kepada Allah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ.

Dari Jabir Bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajari kami Istikharah dalam memutuskan segala sesuatu, (sebagaimana mengajari kami) surat dalam Alquran, beliau bersabda :

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

Apabila salah seorang diantara kalian hendak melakukan sesuatu (yang membingungkan), maka lakukanlah shalat (sunnah) dua roka’at -selain sholat wajib-, kemudian bacalah :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon kekuatan kepada-Mu (untuk memutuskan urusanku dan mengatasinya) dengan Kemahakuasaan-Mu. Aku memohon kepada-Mu kebaikan dari karunia-Mu yang agung, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui dan hanya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila (menurut pengetahuan-Mu) Engkau mengetahui bahwa urusan ini (hendaknya disebutkan urusannya) lebih baik bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku, dan akibatnya bagi akheratku atau -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: …..duniaku dan akhiratku-, maka takdirkanlah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah untukku. Akan tetapi apabila (menurut pengetahuan-Mu) Engkau mengetahui urusan ini berdampak buruk bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku, dan akibatnya bagi akheratku, atau -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:….duniaku atau akhiratku-, maka jauhkan urusan tersebut dariku, dan jauhkan aku darinya, takdirkan kebaikan untukku dimana saja kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku ridho dengan takdir tersebut.”

Ia (Jabir atau perowi selainnya) berkata:

وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

Dan orang tersebut menyebutkan urusannya.”

(HR. Al-Bukhari no.1162,6382 dan 7390)

Sekalipun tidak ada hubungan antara istikharah dengan proses nazhar, menimbang dengan akal dan bermusyawarah, namun hendaknya engkau laksanakan semua proses itu dengan sempurna. Jika pernikahan itu terjadi maka itu semua terjadi dengan ilmu dan qudrah Allah. Dan jika pernikahan itu urung terjadi maka itulah yang terbaik menurut ilmu Allah dan qudrah-Nya.

7. Jauhilah segala perkara yang mengundang kemurkaan Allah ﷻ

Diantara perkara itu adalah:

a. Pacaran sebelum menikah

Inilah perkara dosa yang dianggap biasa oleh kebanyakan orang sekarang. Padahal ini adalah perbuatan yang melanggar rambu-rambu syari’at dan mengundang kemurkaan Allah. Sebab, perbuatan ini pasti akan berujung kepada khalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram), ikhtilath (percampur bauran laki-laki dan perempuan), zina mata, zina tangan, zina hati bahkan kepada zina yang sebenarnya, Wa’iyadzubillah.

b. Pertunangan

Ritual pertunangan sebelum menikah adalah hal yang tidak dikenal dalam syari’at. Lebih parah lagi jika pertunangan yang hanya merupakan janji untuk sebuah pernikahan, dianggap telah menghalalkan perkara-perkara yang sebelumnya haram, seperi berdua-duaan, bersentuhan dan lain sebagainya.

c. Kemungkaran-kemungkaran dalam pesta pernikahan seperti klenik atau ramalan-ramalan berkaitan dengan pernikahan, memberat-beratkan diri dalam penyelenggaraan pesta, berlebih-lebihan dan mubadzir, musik dan lagu, mengundang biduwanita, percampur-bauran tamu laki-laki dan wanita dan lain sebagainya.


7. Kunci-kunci Sukses Membina Rumah Tangga

Kunci-kunci Sukses Membina Rumah Tangga

Kenalilah Karakter Pasanganmu

Diantara perkara yang harus diperhatikan setelah pernikahan yaitu berusahalah mengenali karakter pasanganmu semampumu. Apa saja yang disukainya dan apa saja yang dibencinya. Sebab, dengan mengenali sifat dan karakter suami, akan tergambar di hadapanmu langkah-langkah yang jelas yng harus engkau ambil dalam bermuamalah dengannya. Jadilah engkau seperti istri Syuraih al-Qadhi…

Syuraih al-Qadhi menceritakan pengalamannya:

Ketika aku menikahi Zainab binti Hudair aku berkata dalam hati: Aku telat menikah dengan seorang wanita Arab yang paling keras dan paling kaku tabiatnya. Aku teringat tabiat wanita-wanita bani Tamim dan kerasnya hati mereka. Aku berkeinginan untuk menceraikannya. Kemudian aku berkata (dalam hati), “Aku pergauli dulu (yaitu menikah dan berhubungan dengannya), jika aku dapati apa yang aku suka, aku tahan ia. Dan jika tidak, aku ceraikan ia.”

Kemudian datanglah wanita-wanita bani Tamim mengantarkannya. Dan setelah ditempatkan dalam rumah, aku berkata, “Wahai fulanah, sesungguhnya menurut Sunnah apabila seorang wanita masuk menemui suaminya hendak si suami shalat dua rakaat dan si istri juga shalat dua rakaat”.

Akupun bangkit mengerjakan shalat kemudian aku menoleh ke belakang ternyata ia ikut shalat di belakangku. Seusai shalat para budak-budak wanita pengiringnya datang dan mengambil pakaianku dan memakaikan padaku pakaian tidur yang telah dicelup dengan za’faran.

Dan tatkala rumah sudah kosong, aku mendekatinya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata, “Tahan dulu (sabar dulu).”

Aku berkata dalam hati, “Satu malapetaka telah menimpa diriku.” (yakni-musibah telah menimpa dirinya)

Lalu ia memuji Allah kemudian menlanjutkan shalawat atas Nabi ﷺ, lalu berkata, “Aku adalah seorang wanita Arab. Demi Allah, aku tidak pernah melangkah kecuali pada perkara yang diridhai Allah. Dan engkau adalah lelaki asing, aku tidak mengenali perilakumu (yakni aku belum mengenal tabiatmu). Beritahukan kepadaku apa saja yang engkau suka hingga aku akan melakukannya dan apa saja yang engkau benci hingga aku bisa menghindarinya.”

Aku berkata kepadanya, “Aku suka begini dan begin (Syuraih menyebutkan satu persatu perkataan, perbuatan, makanan dan segala sesuatu yang disukainya). Dan aku benci begini dan begini (Syuraih menyebutkan semua perkara yang ia benci).”

la berkata lagi, “Beritahukan kepadaku siapa saja anggota keluargaku yang engkau suka bila ia mengunjungimu?”

Aku (Syuraih) berkata, “Aku adalah seorang qadhi, aku tidak suka mereka (anggota keluargamu) membuatku bosan.”

Maka akupun melewati malam yang paling indah, dan aku tidur tiga malam bersamanya. Kemudian aku keluar menuju majelis para hakim, dan aku tidak melewati satu hari melainkan hari itu lebih baik daripada hari sebelumnya.

Tibalah waktu-kunjungan mertua. Yaitu genap satu tahun (setelah berumnah tangga).

Aku masuk ke dalam rumahku. Aku dapati seorang wanita tua sedang menyuruh dan melarang.

Aku bertanya, “Hai Zainab siapa wanita ini?” Istriku menjawab, “Ia adalah ibuku. Marhaban.” sahutku. la (ibu mertua) berkata, “Bagaimana keadaanmu hai Abu Umayyah?”

“Alhamdulillah, baik-baik saja,” jawabku.

“Bagaimana keadaan istrimu?” tanyanya.

Aku menjawab, “Istri yang paling baik dan teman yang paling serasi. la mendidik dengan baik dan membimbing adab dengan baik pula.”

la berkata, “Sesungguhnya seorang wanita akan terlihat dalam kondisi yang paling buruk tabiatnya kecuali pada dua keadaan: Apabila sudah punya kedudukan di sisi suaminya dan apabila telah melahirkan anak. Apabila engkau melihat sesuatu yang tak mengenakkan padanya — pukul saja. Karena, tidaklah kaum lelaki memperoleh sesuatu yang lebih buruk dalam rumahnya selain wanita warhaa’ (yaitu wanita yang tak punya kepandaian dalam melakukan tugasnya).”

Syuraih berkata, “Ibu mertuaku datang setiap tahun sekali kemudian ia pergi sesudah bertanya kepadaku tentang apa yang engkau sukai datang kunjungan keluarga istrimu ke rumahmu?”.

Aku menjawab-pertanyaannya, “Sekehendak mereka?” yaitu sesuka mereka saja.

Aku hidup bersamanya selama dua puluh tahun, aku tidak pernah sekalipun mencelanya dan aku tidak perah marah terhadapnya.

Demikianlah gambaran kesuksesan seorang istri yang mampu bergaul sebaik-baiknya dengan suami. Ia berusaha mengenali karakter suami sejak awal pernikahan. Sehingga dapat membantunya dalam menentukan sikap yang tepat dan tidak menyusahkan.

Jangan Lupakan Makna Kepemimpinan Dalam Tangga Rumah

Seperti kata pepatah, bahtera yang memiliki dua nahkoda pasti akan tenggelam. Demikian juga bahtera rumah tangga. Agar bahtera dan segenap orang yang menumpanginya selamat sampai tujuan maka tidak boleh ada dua orang nahkoda.

Dan ingatlah bahwa nahkoda bagi bahtera rumah tangga adalah suami. Dialah pemimpin dalam rumah tangga.

Allah ﷻ berfirman:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa’ : 34)

Makna kepemimpinan yang dimaksud di sini adalah kepemimpinan dalam tanggung jawab. Lelaki adalah pemimpin pertama dalam urusan rumah tangga, ia ibarat nakhoda kapal atau panglima dalam rumah tangga. Karena itu hendaknya suami dan istri memahami peran dan kedudukannya masing-masing. Istri harus memahami perannya dan suami juga harus memihami perannya. Suami bertanggung jawab mensukseskan mahligai rumah tangganya yang diibaratkan seperti sebuah perusahaan, yang mana kedua belah pihak telah menanamkan modal berharga yaitu hidup mati mereka berdua.

Keduanya sama-sama bercita-cita dapat meraup laba yang tertinggi. Sungguh sebuah laba yang mulia, itulah laba maknawi. Yaitu lahirnya generasi anak-anak yang shalih, yang diasuh oleh ayah dan ibu yang berbahagia dan taat kepada Allah. Keluarga muslim yang mampu membangun masyarakat, kemudian dari situ mereka dapat meraih kesuksesan besar yaitu Surga. Hendaknya mereka berdua melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Menunaikan amanah yang telah Allah titipkan kepadanya. Dan hal itu tidak akan terealisasi kecuali dengan melaksanakan apa yang telah kami sebutkan tadi.

Dalam membina kehidupan rumah tangga ini pemimpin harus bertindak sebagai pemimpin dan bawahan harus berlaku sebagai bawahan.

Rasulullah ﷺ telah bersabda:

إذا خرج ثلاثة في سفر فَلْيُؤَمِّرُوا أحدهم

“Jika kamu berjumlah tiga orang maka tunjuklah salah seorang menjadi amir (pemimpin)”. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu dan dihasankan oleh Al-Iraqi dalam Takhrij al-Ihyaa’.

Tetapi, bukan berarti seorang istri tidak memiliki peran sama sekali. Bahkan istri memiliki peran yang lebih besar dan lebih agung. Yaitu mendukung suami dalam setiap keputusan yang telah dibuatnya serta membantunya dan menuntun tangannya kepada kondisi yang aman.

Istrilah yang harus tetap berdiri di samping suami dalam menghadapi kondisi-kondisi yang sulit.

Istrilah yang harus mendidik anak-anaknya dan memperhatikan keadaan mereka. Bahkan istri memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Istrilah yang harus menjadi sumber kedamaian dan ketenangan bagi suaminya, bahkan istri harus bisa berperan sebagai pakaian bagi suaminya.

Istri harus selalu bermusyawarah dan membantu suami, melaksanakan pengarahan-pengarahan yang diberikan suami hingga kebaikan dapat dinikmati oleh semua anggota keluarga.

Waspadalah!

Jangan hiraukan bisikan dan propaganda orang-orang di luar Islam. Sebab musuh-musuh Islam mengetahui bahwa kehancuran rumah tangga muslim merupakan sebab kehancuran umat Islam. Apabila nilai-nilai Islami dalam rumah tangga sudah hilang maka keluarga akan hancur dan para pemuda akan menyimpang akibat keretakan dalam rumah tangga.

Tidak heran jika mereka sangat gencar menyerukan slogan-slogan yang bertujuan merancukan makna kepemimpinan dalam rumah tangga. Seperti slogan emansipasi wanita, isu gender dan lain sebagainya.

Mereka berusaha keras mengeluarkan para istri dari rumah. Sehingga tugas utamanya dalam rumah tangga terbengkalai dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah hilangnya sakinah, mawaddah dan kedamaian dalam rumah tangga.

Saudariku…

Kita adalah wanita muslimah. Dan sebagai seorang muslimah kita harus benar-benar yakin bahwa tidak ada solusi bagi setiap permasalahan kecuali Islam. Islam adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan dan kunci meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Siapa saja yang memilih jalan selain Islam niscaya ia akan menuai kegagalan dan menelan kekecewaan.

Rebut Hati Suamimu Dengan Bersegera Menaatinya.

Kata-kata hikmah menyebutkan, “Sebaik-baiknya istri adalah yang taat, mencintai, bijak, subur lagi penyayang, pendek lisan (tak cerewet) dan mudah diatur.”

Saudariku…

Ketaatanmu kepada suami dalam perkara yang ma’ruf dan kecintaanmu kepadanya akan mengangkat kedudukanmu di sisi Allah ﷻ. Ingatlah selalu sabda Nabi ﷺ :

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertutur,

“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

Ketaatanmu kepada suami akan mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan bagimu. Sebab, suamimu pasti akan sangat gembira tatkala melihatmu bersegera menaatinya, tidak bermalas-malasan dalam menunaikan apa yang dikehendakinya, sehingga iapun terdorong untuk menaatimu dan menuruti keinginanmu yang syar’i.

Bahkan terkadang sampai pada taraf kalian berdua senantiasa memahami apa yang diingini oleh pasangannya tanpa perlu saling mengutarakannya. Karena itu seorang ibu pernah memberikan nasehat kepada puterinya di saat pernikahan puterinya itu, “Jadilah engkau seperti budak wanita bagi suamimu, niscaya ia akan menjadi seperti budak bagi dirimu.”

Termasuk dalam makna menaati suami adalah engkau benar-benar mengharapkan ridhanya dan berusaha untuk meraihnya. Dan ketahui juga, apabila engkau bersungguh-sungguh melakukannya berarti engkau telah menempuh jalan menuju Surga.

Mungkin sekali setan akan menghembuskan ke dalam hatimu bisikan, “Aku juga punya kehormatan dan harga diri!” Apalagi ketika ada masalah diantara kalian berdua. Lalu kata-kata yang menipu ini mendorongmu untuk mencari pembenaran atas kesalahan-kesalahanmu.

Coba renungkan dalam-dalam..!

Kehormatan dan harga diri apakah yang harus dipertahankan antara sepasang suami istri? Sesungguhnya kehormatan mereka adalah satu. Permohonan maafmu kepada suami sama sekali tidak akan mengurangi harga dirimu. Bahkan akan menambah kehormatan dan harga dirimu di sisi suami. Bahkan permintaan maafmu -sekalipun sebenarnya engkau tidak bersalah akan membuatnya malu terhadap dirinya sendiri. Dan akan membuatnya insyaf, sadar dan mengoreksi diri.


8. Hubungan Cinta Kasih Sepasang Suami Istri

Hubungan Cinta Kasih Sepasang Suami Istri

Saudariku para istri yang mulia…

Cinta kasih sepasang suami istri adalah sesuatu yang sangat bernilai. Sebab ia ibarat ruh dalam kehidupan berumah tangga. Yaitu perasaan cinta dan kasih sayang yang dipendam oleh kedua belah pihak terhadap pasangannya. Cinta ibarat lokomotif penggerak bagi gerbong-gerbong kebahagiaan dan kedamaian. Bahkan cinta ibarat cahaya yang menerangi bahtera mereka berdua. Cinta adalah magnet yang bisa merekatkan sepasang suami istri hingga keduanya merasa seolah jiwa dan raga mereka satu. Bahkan hati mereka satu. Cinta adalah perasaan jiwa yang penuh kerelaan terhadap pasangannya, ridha kepada pasangannya dan keterpesonaan kepada sifat, perbuatan serta perilakunya.

Oleh karena itu…

Pandai-pandailah engkau menyemai benih-benih cinta di hati suamimu. Sehingga seiring bertambahnya usia pernikahan, semakin bertambah pula cintanya kepadamu.

Rawat dan siramilah pohon-pohon cinta dan kasih sayang itu hingga ia terus bersemi, berkembang dan tidak layu ataupun mengering.


9. Suamimu bukan Malaikat

Suamimu bukan Malaikat

Saudariku…

Sadarilah, suamimu bukanlah seorang malaikat.

Makhluk yang tidak memiliki gejolak nafsu dan syahwat, serta tidak pernah mengalami rasa bosan dan jemu.

Suamimu adalah manusia biasa. Dia adalah seorang laki-laki sebagaimana laki-laki yang lainnya.

Dan semua laki-laki itu difitrahkan untuk menyukai sosok wanita yang berparas cantik, berpenampilan rapi, dengan wajah berseri dan aroma yang wangi.

Allah ﷻ berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak.” (QS. Ali Imran: 14)

Demikian juga suamimu. Dia adalah laki-laki biasa yang pasti suka kepada wanita yang dapat menyejukkan pandangannya dan menyegarkan kembali jiwanya. Ini adalah sesuatu yang wajar yang bisa dimengerti.

Dan kita, para istri hendaknya sadar… Bahwa setan-setan berwujud manusia, yaitu wanita-wanita fasiq, di luar rumah, di jalan-jalan, di pasar-pasar atau di tempat kerja suamimu, mereka benar-benar berhias seelok dan secantik mungkin. Mereka mengenakan busana seindah mungkin dengan aroma parfumnya yang begitu menggoda. Bahkan Mereka tak segan-segan memamerkan aurat mereka. Untuk apa sebenarnya mereka melakukan semua itu?

Yang jelas, salah satu tujuan mereka adalah untuk menarik perhatian segenap laki-laki yang dijumpainya. Agar pandangan setiap pria tertuju kepadanya. Agar hati-hati yang lemah tergoda karenanya. Dan tidak terkecuali suamimu!

Jadi betapa malang nasibmu…

Jika disebabkan sikapmu yang kurang tanggap dan kurang peka, engkau tidak mau berhias, malas bersolek, malas menjaga kecantikan dan penampilan, akhirnya hal itu melemahkan dan mengurangi kecondongan suamimu terhadap dirimu dalam pergaulan.

Bukankah sikapnya itu bisa dimaklumi?!.

Karena ia tidak menemukan pada dirimu apa yang ia temukan pada diri wanita-wanita fasiq itu di luar rumah. Betapa serius dan betapa besar keinginan mereka untuk menarik perhatian suamimu dan pria-pria yang lain.

Para istri yang mulia, …

Sadarilah bahwa godaan bagi laki-laki di luar rumah itu sangat besar. Dan godaan yang paling berat baginya adalah fitnah wanita. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih besar atas kaum pria selain fitnah wanita.” (Muttafaqun “alaihi).

Untuk memperjelas gambaran ini, mungkin perlu bagimu menyimak penuturan seorang laki-laki yang menceritakan tentang pengalamannya sebagai berikut:

“Suatu hari aku naik lift sebuah gedung untuk turun dari lantai empat. Kami memasuki ruangan lift. Begitu aku berada di dalamnya tiba-tiba jiwaku merasa merinding hebat yang meringankan kepenatan kerja yang dirasakan oleh tubuhku sepanjang hari.

Apa yang aku temukan di dalam lift itu sehingga membuat jiwaku merinding?

Sebenarnya kami tidak menemukan apa-apa. Akan tetapi kami mencium aroma parfum wanita yang sangat kuat baunya. Besar kemungkinan sebelum kami masuk ada seorang wanita yang telah meninggalkan aroma parfumnya di dalam lift.

Maka akupun terus bergumam, Laa haula wa laa quwwata illa billah! Dan akupun teringat hadits Rasulullah ﷺ :

عَنْ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا

Siapa saja wanita yang mengenakan parfum lalu melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya maka ia adalah wanita pezina.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh An-Nasaa’i dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasaa’i (5126).

Dan hadits beliau:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلَا تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ»مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ»

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapapun wanita yang memakai asap wewangian, dia tidak boleh menghadiri sholat isya’ bersama kami”. (HR. Muslim, 143/444; Nasai, 5128, 5263; Abu Dawud, no. 4175; Ahmad, no. 8035)

Aku berkata dalam hati, “Alhamdulillah aku tidak berpapasan dengannya ketika ia keluar dari lift sehingga aku mengetahui siapa dia yang telah membawa aroma parfum tersebut.”

Ah, betapa agungnya agama Islam. Alangkah hebatnya Islam menjaga masyarakat dan melindungi kaum pria dan wanitanya dari ancaman kerusakan serta membentenginya dari penyebab-penyebabnya.

Akhirnya lift itu sampai ke bawah. Aku segera keluar dari ruangan lift agar dapat terlepas dari sengatan aroma parfum yang aku rasakan. Seolah-olah setan menyebarkan aromanya agar merasuk ke pembuluh darah dan urat syarafku.

Setibanya di rumah, aku memencet bel di depan pintu dua kali berturut-turut. Istriku tahu akulah yang memencet bel seperti itu. Terlebih lagi bunyi bel itu tepat dengan jadwal pulangku setiap hari ke rumah. Seiring dengan itu akupun membuka pintu rumah.

Begitu aku membuka pintu rumah menyeruaklah bau aneh yang menghilangkan aroma parfum yang baru tadi menyelimuti diriku.

Bau yang memenuhi ruangan rumah bercampur aduk antara bau bawang putih, bawang merah, minyak goreng dan benda-benda lainnya yang tidak bisa aku kenali secara pasti.

Aku tidak menemukan istriku, ia tidak begitu peduli dengan kepulanganku ke rumah. Kepulanganku bukanlah perkara yang perlu diperhatikan menurutnya.

Belum lagi aku duduk di ruang keluarga tiba-tiba keluarlah istriku dari dapur dengan membawa berbagai macam barang-barang dapur yang telah memenuhi rongga hidungku tatkala aku masuk ke rumah.

la cuma melihatku sekilas dan dengan cepat berlalu tanpa melemparkan salam kepadaku. Seolah-olah pandangannya itu berkata kepadaku, “Aku berhasil!”

Apakah aku harus mengutarakan apa yang bergejolak dalam hatiku?

Dahulu aku berharap dapat mencium aroma seperti yang aku dapatkan di lift tadi setiap kali aku pulang ke rumah. Bukan bau bawang putih dan bawang merah yang busuk seperti ini.

Aku sudah dapat menebak jawabannya terhadapku, “Apakah engkau mau masakan lezat tanpa mencium bau seperti ini? Apakah engkau mau aku membubuhkan parfum Val & Yasmin ke dalam masakan sebagai ganti bawang merah dan bawang putih? Apakah aku harus memasak makanan dengan parfum yang wangi?”

Tentu saja tidak, aku tidak bermaksud seperti itu wahai istriku sayang! Akan tetapi…

  • Bukankah engkau bisa menyiapkan masakanmu lebih dini dari waktu kepulanganku dari kerja yang mana engkau sudah tahu jadwalnya?
  • Bukankah engkau bisa menyiapkan masakanmu kemudian engkau mengganti pakaianmu untuk menyambut suamimu dengan pakaian yang bisa membuat senang suamimu bila ia melihatnya.
  • Bukankah engkau bisa membuka jendela agar bau masakanmu keluar sehingga tidak menyebar ke seluruh ruangan rumah?
  • Bukankah engkau bisa menggunakan pengharum ruangan ?

Tiba-tiba bisikan hatiku tadi tersentak dengan teriakannya, “Kita tidak punya roti!”

Aku nyaris gila… aku nyaris kehilangan akal sehatku… aku jawab teriakannya itu dengan suara yang lembut sementara aku menyembunyikan perasaan sempit dalam hatiku, “Mengapa engkau tidak menghubungiku sebelum aku keluar dari kantor?”

  • Ia tidak menjawab kata-kataku.
  • Ia mulai meletakkan piring-piring di atas meja.

la tidak makan roti bersama hidangan makan siang. Barangkali itulah sebabnya ia tidak memeriksa tempat roti sebelumnya.

Demikianlah gambaran bagaimana besarnya fitnah wanita terhadap seorang pria di luar rumah. Terlebih lagi pada zaman kita sekarang itu. Pemandangan-pemandangan tidak senonoh dapat dinikmati secara gratis hampir di segenap sudut kota, di media-media elektronik atapun Majalah-majalah , Wa na’udzu billahi min dzalik.

Seorang pria yang shalih, ketika secara tidak sengaja pandangannya tertuju kepada perkara yang begitu menggoda jiwanya dan menyulut syahwatnya, ia akan teringat kepada wasiat Rasulullah ﷺ yang mana beliau bersabda:

 إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ ».

“Sesungguhnya seorang wanita datang dalam bentuk setan. Barangsiapa mendapati hal semacam itu hendaklah ia segera mendatangi istrinya. Karena dengan demikian ia dapat menenangkan gejolak yang ada dalam dirinya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (1883).

Maka ia akan segera pulang menemui istrinya guna menenangkan gejolak hatinya. Namun setibanya di rumah, bisa jadi gairahnya akan padam seketika. Mengapa?

la dapati istrinya dalam keadaan yang sangat tak sedap dipandang. Penampilannya tak karuan, pakaiannya acak-acakan, rambutnya awut-awutan, tak ada sedikitpun solekan, aromapun tak jelas dan ia sedikitpun tak memberikan sambutan kepada suaminya.

Lalu bisakah istri yang modelnya seperti ini bisa menenangkan gejolak yang ada dalam diri suaminya? Seperti yang dikatakan oleh Nabi ﷺ.

Tentu suamimu akan prihatin bila keadaanmu seperti itu wahai saudariku!…

Dan kita perlu ingat, tidak semua suami memiliki nyali untuk mengungkapkan isi hatinya. Ada suami yang mau berterus terang ketika gerah melihat penampilan istrinya.

Namun ada juga yang memilih untuk bungkam seribu bahasa. Dan ini akan lebih parah akibatnya.

Sebab apabila seorang pria tidak lagi mendapatkan kepuasan di rumahnya, maka ia pasti mencarinya di luar rumah. Dan akhirnya engkau juga yang akan merana.

Saudariku, para istri yang mulia…. Jadilah engkau istri yang bijak!…

Ingatlah, di awal pernikahanmu dulu, engkau adalah lambang kecantikan bagi suamimu. Engkaulah bidadari jelita yang sanggup menggetarkan hatinya dan mampu meluluhkan kejantanannya. Ini tidak mengherankan, karena mungkin sebelum menikah dulu engkau begitu memperhatikan dan merawat kecantikanmu. Engkau selalu menjaga kebugaran tubuhmu. Maka jadilah engkau lambang kecantikan baginya.

Tetapi….

Setelah kalian menikah. Lahir anak yang pertama. Disusul kehadiran anak yang kedua, ketiga dan seterusnya. Engkau mulai malas merawat badan. Dengan seribu satu alasan, karena sibuk atau yang lainnya engkau betul-betul melupakan masalah itu.

Maka tak heran jika tubuhmu yang duhulu langsing kini tak jelas lagi bentuknya. Wajahmu yang dulu begitu ayu menjadi tua sebelum waktunya. Jika demikian keadaannya akankah engkau tetap menjadi lambang kecantikan di mata suamimu?!

Bukankah sebuah realita bahwa umumnya pria itu lebih awet muda daripada wanita?

Sehingga sering kita dapati pasangan, ketika suami menginjak usia 50 tahun kita lihat si istri seperti sudah berusia 65 tahun. Bahkan sepasang suami istri yang terpaut 15 tahun usianya, setelah 10 tahun mereka menikah akan tampak serasi saja.

Saudariku…

Seorang istri yang cerdik pasti akan terus berusaha agar ia tetap menjadi lambang kecantikan bagi suaminya, berapapun usia pernikahan mereka. Oleh karena itu, di tengah kesibukanmu mengemban berbagai tugas di dalam rumah tangga, janganlah engkau melupakan hak dirimu.

Sesungguhnya akhlak terpuji seorang wanita merupakan sebuah kecantikan yang bernilai. Dan bila itu ditambah dengan kecantikan fisik maka kecantikannya tentu akan bertambah lagi.

Ketika suami melihatmu memakai perhiasan yang menarik, pakaian yang indah, rambut yang tersisir rapi, ditambah dengan parfum yang harum aromanya niscaya hal itu akan membuat lapang dada suamimu dan membuat nyaman pandangan matanya.

Saudariku yang kucintai…

Berusahalah agar engkau menjadi seorang wanita yang mengikuti fitrah yang Allah ciptakan kaum Hawa di atasnya, yaitu suka kepada perhiasan, suka bersolek selama bukan maksiat.

Allah ﷻ berfirman:

أَوَمَن يُنَشَّؤُا۟ فِى ٱلْحِلْيَةِ وَهُوَ فِى ٱلْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ

“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan lagi tak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.” (QS. Az-Zukhruf: 18)

Yang dimaksud dalam ayat ini adalah kaum wanita, yaitu mereka dibesarkan dengan perhiasaan dan tak dapat memberi alasan dalam pertengkaran.

Sungguh-sungguhlah menjaga masalah ini, agar mata suamimu tidak tertuju kepada perkara yang tidak diridhainya dari dirimu.

Bukankah engkau sungguh-sungguh memperbaiki penampilanmu ketika engkau tahu bahwa teman-temanmu akan datang mengunjungimu? Sudah pasti, suamimu jauh lebih berhak engkau perlakukan seperti itu.

Sungguh aneh bila istri tak peduli dengan penampilan dirinya di hadapan suami. Terlebih lagi apabila mereka telah menikah lama. Dengan anggapan bahwa berhias diri hanyalah pada saat pengantin baru saja. Kita sangat terkejut mendengar hal ini. Atau beralasan bahwa mereka sibuk mengurus anak-anak dan kewajiban-kewajiban rumah dan tugas mengurus anak sehingga tidak memberi kesempatan baginya untuk bersolek. Sementara itu ia tampil habis-habisan kalau ingin pergi ke pesta atau untuk menghadiri suatu acara atau untuk menyambut kedatangan tamunya. Wallahul Musta’an.

Saudariku, jadilah engkau seorang istri yang bijak!

Istri yang bijak adalah istri yang senantiasa merawat kecantikannya, merawat kulitnya, ia mahir memakai perhiasan tepat pada waktunya. Perbanyaknya solekanmu di waktu waktu tertentu, misalnya waktu istirahat, sebelum fajar, saat tengah hari dan sesudah shalat Isya’ serta sepulangnya suamimu dari bepergian.

Karena istri yang bijak adalah istri yang pandai memancing perhatian suami kepada dirinya, dan ketahuilah bahwa perhiasan yang paling penting dan hakiki tersembunyi dalam kebersihan dan kerapian serta aroma yang wangi.

Pelajarilah bagaimana cara berhias yang benar. Tidak masalah engkau mempelajarinya, tetapi jangan berlebih-lebihan…

Hendaknya engkau senantiasa menjaga ke bersihan tubuhmmu. Jangan sampai suamimu mencium bau yang tak sedap dari tubuhmu. Seorang ibu memberikan pesan kepada puterinya, “Wahai puteriku, jangan abaikan kebersihan tubuhmu. Karena kebersihan tubuh akan mencerahkan wajahmu, membangkitkan cinta suamimu, menjauhkanmu dari penyakit-penyakit dan menguatkan tubuhmu dalam bekerja. Wanita yang jorok (tidak bersih) secara tabiat tidak disukai oleh manusia, mata tidak suka memandangnya dan telinga tidak suka mendengarnya. Apabila engkau menyambut suamimu sambutlah dengan kegembiraan dan keceriaan. Karena sesungguhnya kasih Sayang itu ibarat tubuh, ruhnya adalah keceriaan wajah.”

Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah kamu menganggap remeh apa saja dari kebaikan. Meski hanya engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR Muslim).

Dan tentu saja, orang pertama yang paling layak engkau suguhi wajah yang ceria adalah suamimu. Dan iringilah wajah ceria itu dengan kata-kata yang baik. Ketauhilah bahwa kata-kata yang baik itu adalah sedekah. Rasulullah ﷺ bersabda:

والكلِمةُ الطَّيِّبَةُ صدَقَةٌ

“Kata-kata yang baik itu sedekah” (Muttafaq alaihi).

Dan satu hal penting hendaknya engkau jaga pola makan. Jangan makan berlebihan dan hindari makanan-makanan yang memudharatkan sehingga tidak menyebabkan overweigth (kegemukan). Sebab kegemukan selain akan merusak penampilanmu juga akan mendatangkan banyak penyakit dalam tubuh. Allah ﷻ juga telah berfirman:

وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-Araf: 31)

Jangan malas melakukan olahraga yang bermanfaat, sebab kurang bergerak dan jarang berkeringat akan menghilangkan kebugaran tubuh serta mengakibatkan penuaan dini. Dan metabolisme tubuh yang tidak lancar akan mengakibatkan lemak tertimbun hingga menyebabkan kegemukan.

Suamimu Pasti Punya Rasa Bosan

Para istri yang mulia…

Suamimu bukanlah seorang malaikat. Ia manusia biasa yang kadang kala juga dilanda rasa bosan dan jemu. Sebesar apapun cintanya pada dirimu. Apalagi jika ia terus menghadapi kondisi yang statis dan monoton. Itu wajar-wajar saja, Sebab dunia ini bukanlah Surga yang tak mengenal rasa bosan dan jemu.

Oleh karena itu, sebagai seorang istri kita harus pandai membuat penyegaran di dalam rumah. Kita bisa membuat penyegaran ruangan dan tata letak perabotan rumah. Menghiasinya dengan sekuntum bunga dan lain sebagainya. Dengan sedikit kemahiran, engkau bisa membuat rumah yang sederhana menjadi tempat tinggal yang nyaman lagi menyenangkan. Hingga suami pun merasa tiada tempat yang lebih baik selain rumahnya.

Demikian juga kita harus pandai menciptakan hal baru yang dapat menyegarkan kembali hubungan cinta. Karena itu, seni dalam bercinta termasuk perkara yang perlu engkau pelajari, selama tidak membawa kepada perkara yang dilarang oleh syari’at.

  • Pandai-pandailah menumbuhkan kesan bahwa engkau begitu sayang dan perhatian kepadanya. Sebab hal itu akan membuat perasaannya menjadi lapang dan akan semakin cinta kepadamu.
  • Berilah ia sentuhan-sentuhan kasih sayang yaitu dengan memberikan kehangatan dan kepuasan batin kepadanya. Dengan memberikan belaian halus dan kata-kata yang lembut kepadanya serta semua perkara yang dapat memuaskan nafsu syahwat tanpa ada maksiat di dalamnya. Sebab diantara tujuan terpenting sebuah pernikahan adalah terciptanya hubungan biologis yang merupakan dasar eksistensi kehidupan umat manusia di dunia. Hubungan biologis merupakan kebutuhan terpenting bagi jiwa dan dorongan syahwat yang terkuat.

Di dalamnya terkumpul seluruh perasaan, sentimentalitas dan nafsu. Di dalamnya berpadu ruh dan badan serta seluruh urat syaraf. Hubungan biologis merupakan proses kehidupan yang memuliakan bangsa manusia atas segala makhluk hidup. Hubungan biologis penuh dengan kasih sayang, sentuhan jiwa dan rohani untuk mencapai puncak kenikmatan yang sempurna, untuk memulai kehidupan dan meneruskannya dalam kenikmatan dan ibadah.

Kesabaran lelaki atas hubungan biologis ini lebih lemah dibanding wanita. Dan pendorong kepada hal tersebut lebih sering muncul pada kaum pria karena pandangan matanya selalu digoda oleh setan-setan manusia sehingga gairahnya melakukan hubungan ini lebih sering muncul karena adanya faktor-faktor pendorong tersebut dan juga faktor-faktor lainnya. Dan hubungan biologis itu tidak bisa ia lakukan kecuali bersamamu sebagai istrinya agar ia tidak jatuh dalam larangan syariat dan menanggung beban jiwa yang berat.

Oleh karena itu syariat mewajibkan para istri agar sesegera mungkin menyambut ajakan suami berhubungan intim dan menyingkirkan seluruh alasan-alasan yang ada. Haram bagimu menolak ajakan suamimu tanpa alasan yang syar’i baik dengan ucapan ataupun tindak tandukmu, Rasulullah ﷺ bersabda:

 «إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عليها لَعَنَتْهَا الملائكة حتى تصبح»

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjangnya namun Si istri tidak memenuhi ajakannya lalu si suami tidur dalam keadaan marah terhadapnya, maka para malaikat akan melaknat si istri hingga pagi hari.” (Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya).

Tahukah kamu apa artinya laknat? Yaitu dijauhkan dari rahmat Allah ﷻ, wal ‘iyadzu billah.

  • Penolakan yang bisa memancing gairah (jinak-jinak merpati).

Keseimbangan dalam menerima dan menolak merupakan trik yang sangat penting bagi sepasang suami istri. Ia tidak menerima pasangannya secara berlebihan dan tidak juga menolak secara total, tidak boleh ada sikap yang longgar atau melewati batas di sini. Karena sikap yang berlebihan dalam kedua perkara ini (penerimaan dan penolakan) bisa menghilangkan kerinduan dan kecintaan. Penolakan di sini bukanlah penolakan yang sebenarnya, akan tetapi penolakan yang diiringi dengan rasa malu. Malu tapi mau. Maka seolah-olah setiap hari kalian adalah pasangan pengantin baru. Dan hal itu akan menambah rasa rindu dan rasa cinta dari suamimu.

  • Rebutlah hati suamimu dengan penuh rasa kehangatan dan kasih sayang. Islam sangat memperhatikan masalah keharmonisan kehidupan rumah tangga. Rasulullah ﷺ telah menuntut seorang istri agar menjadi istri yang peka dan peduli terhadap suaminya. Karena faktor inilah Nabi ﷺ lebih menganjurkan untuk menikahi gadis daripada janda. Beliau berkata kepada Jabir Radhiyallahu’anhu:

Mengapa engkau tidak menikahi gadis yang engkau bisa bermain-main dengannya dan ia bisa bermain-main denganmu.” (Muttafaq alaihi).

Atau beliau mengatakan, “Engkau bisa bercanda ria dengannya dan ia bisa bercanda ria dengan dirimu.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Engkau dapat mencumbuinya dan ia dapat mencumbui dirimu.”

Nabi ﷺ juga bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْأَبْكَارِ فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيرِ

“Hendaklah engkau menikahi para gadis perawan Karena mereka lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya dan lebih menerima pemberian yang sedikit”

Hadits riwayat Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash Shahihah (623).

Wahai saudariku tercinta, pintar-pintarlah memenuhi kepuasan biologis suamimu. Siapkanlah dirimu untuk itu. Ketahuilah, engkau akan memperoleh pahala di sisi Allah dan menerima balasan yang sangat besar.

Hendaklah engkau mengetahui kunci pembuka hati suamimu, karena dialah temanmu di kamar tidur.

Kamar tidur memiliki bahasa khusus yang dengannya sepasang suami istri dapat memahami satu sama lain.

Bahasa kamar tidur adalah bahasa yang menyatu dengan tubuh, membangkitkan perasaan dan cinta serta menyatukan jiwa raga.

Ketahuilah bahwa kunci kamar ini ada di tanganmu, yang dengannya engkau bisa membuka hati suamimu dan menguncinya, menumbuhkan rasa cintanya kepadamu dan ia merasa damai bersamamu. Ia merasa selalu betah berada di sisimu. Dan ia merasa bahwa kamar tidurnya adalah bagian terpenting dalam hidupnya yang tidak bisa ia tinggalkan. Bahkan ia semakin bertambah rasa rindunya.

  • Hendaklah engkau selalu menciptakan cara dan trik baru dalam berhias untuk suamimu. Usahakan jangan membiasakan diri dengan satu bentuk riasan atau satu cara berhias yang monoton.
  • Buatlah sudut yang dihiasi dengan bunga-bunga di dalam kamar tidurmu.
  • Perhatikan selalu busanamu dan jenis-jenisnya. Jangan monoton hanya mengenakan satu jenis warna saja. Dan pakailah aksesoris-aksesoris yang dibolehkan syariat untuk menambah kecantikanmu dan untuk melengkapi perhiasan dan busanamu.
  • Perhatikan selalu tutur katamu. Perdengarkanlah kepadanya kata-kata yang menyejukkan. Berikan kepadanya kesan sentuhan hangat dan gejolak perasaanmu.
  • Teruslah perbaharui penampilanmu. Ingatlah, semakin sungguh-sungguh dan serius engkau membuat senang dan bahagia suamimu maka semakin bertambah pula pahalamu di sisi Allah ﷻ. Suamimu akan meridhai dirimu dan Rabbmu juga akan meridhaimu.
  • Ingatlah wahai saudariku tercinta, betapa sungguh-sungguhnya para wanita fasik itu berkreasi dalam penampilannya untuk menggoda kaum pria dengan perkara yang haram. Maka sungguh pantas bagi kita untuk menjaga kesucian suami-suami kita dengan perkara yang halal. Sehingga mereka bisa berbahagia dengan kita dan kita juga bisa berbahagia hidup dengannya. Dan kita dapat menutup celah-celah setan untuk merusak hubungan kita dengannya.
  • Ketahuilah, cinta yang dipendam dalam hati yang tidak dinyatakan terus terang oleh seseorang kepada kekasihnya akan menjadikan kehidupan suami istri menjadi hambar tidak terasa hidup dan tidak bergairah. Sebagaimang engkau sangat menantikan pernyataan cinta suamimu kepada dirimu untuk dapat meringankan rasa penatmu setelah melaksanakan tugas rumah tangga dan mengurus anak-anak. Demikian pula suamimu, ia sangat butuh sesuatu yang membuatnya bahagia sehingga dapat menghilangkan kepenatan bekerja, kegundahan dan kesedihannya, walaupun hanya sekedar ungkapan cinta, ungkapan terima kasih atau doa-doa, semoga Allah membantunya dan menerima segala amal shalihnya, ataupun berupa sentuhan kasih sayang.

Ungkapan-ungkapan yang bisa menyemaikan kasih sayang dan cinta harus dinyatakan agar dapat masuk ke relung hati. Inilah ungkapan cinta yang tidak bijak bila disembunyikan. Karena ia bisa menjadi lokomotif penggerak gerbong kehidupan.

Mengapa engkau berat untuk mengungkapkannya secara terang-terangan kepada suamimu?

  • Berilah kejutan dengan hadiah, ketahuilah bahwa pemberian hadiah meski sepele dapat menyemaikan cinta diantara kalian berdua. Rasulullah ﷺ telah bersabda:

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Salinglah memberi hadiah niscaya kalian akan saling mencintai.”

Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Jaami’ ash-Shaghir (304 dan 5315).

  • Dikala kejenuhan mendera, buanglah rasa bosan dengan memperbaharui tujuan kalian membina hidup rumah tangga. Dan buatlah bacaan-bacaan dari Kitabullah setiap harinya untuk kalian baca berdua, karena itu akan menghilangkan kegundahan dan kesedihan.
  • Buatlah perjalanan-perjalanan walaupun tak jauh ke salah satu tempat yang indah. Karena perjalanan seperti ini akan membuka kesempatan untuk menyegarkan jiwa dan merobah suasana. Siapa yang tidak bisa istirahat dengan baik niscaya ia tidak akan bisa bekerja dengan baik.
  • Buatlah jadwal khusus untuk berdialog, guna mempererat hubungan antara kalian berdua. Hendaklah dialog ini dilakukan secara langsung dan terbuka dengan menyingkirkan sejenak segala perkara yang dapat menyibukkan perhatian masing-masing.
  • Hendaklah kedua belah pihak menyimak dengan serius apa yang diucapkan oleh pasangannya, mendengarnya dengan penuh perhatian.
  • Bertukar pikiranlah tentang fase-fase kehidupan yang telah kalian lalui, serta hal-hal baru apakah yang sedang kalian hadapi. Ungkapan-ungkapan, kisah-kisah, tawa canda dan gurauan silih berganti dari kedua belah pihak yang akan memberikan nafas bagi kehidupan rumah tangga sehingga umurnya menjadi lebih panjang dan menjadi lebih dekat satu sama lainnya.
  • Perbanyaklah menggunakan kata-kata mesra dan lembut, kata-kata romantis dan perbanyaklah sikap-sikap yang menunjukkan kasih sayang dan cinta, sederhana saja umpamanya engkau menyambutnya dengan segelas minuman segar ketika ia pulang. Atau salah satu dari keduanya membentangkan selimut untuk pasangannya bila ia melihatnya sedang tidur tanpa selimut atau memberikan sandaran bantal apabila ia hendak duduk, atau menyuapkan makanan ke mulutnya ketika ia sedang makan, atau memeluk bahunya ketika melihatnya melakukan pekerjaan yang baik, atau menghidangkan teh dan memotong kue lalu menghidangkannya kepada pasangannya.
  • Senantiasa ulangi ungkapan-ungkapan yang menyejukkan hati seperti, “Semoga Allah menyatukan kita di dunia dan di akhirat” atau “Sungguh beruntung aku mendapatkan seorang pria sepertimu” atau yang semisalnya.

Ungkapan-ungkapan seperti ini akan meremajakan hubungan antara suami istri dan menguatkan rasa cinta antara kalian berdua.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

Buku: Surat Terbuka untuk Para Istri
Penulis: Abu Ihsan al-Atsari & Ummu Ihsan Choiriyah Hafidzahumallah
Pustaka Darul Ilmi
Cetakan Ketiga 2011

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Source
Surat Terbuka untuk Para Istri #1Surat Terbuka untuk Para Suami #1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button