Wanita dan Keluarga

Surat Terbuka untuk Para Suami #1

Muqaddimah

Sesungguhnya segala pujian hanyalah milik Allah semata. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan kejelekan amal-amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, niscaya tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah niscaya tiada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma ba’du,

Setiap orang tentu mengidamkan rumah tangga yang bahagia. Kita sepenuhnya menyadari bahwa terciptanya rumah tangga Islami merupakan tonggak berdirinya masyarakat rabbani. Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah ini. Islam telah meletakkan pedoman rumah tangga bagi suami maupun istri. Dengan mengamalkan pedoman itu kedua belah pihak dapat membangun mahligai pernikahan yang kokoh. Keberhasilan rumah tangga islami ini menjadi jaminan kebaikan bagi setiap individu masyarakat. Dan dari situ pula akan lahir generasi-generasi shalih dan shalihah yang kelak akan menjadi unsur pembentuk masyarakat Islami secara keseluruhan.

Saudaraku…

Berumah tangga adalah perkara sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa seorang muslim yang telah membina kehidupan rumah tangga berarti telah menyempurnakan separuh agamanya. Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفُ الدِّيْنِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي

“Apabila seorang hamba telah menikah berarti ia telah menyempurnakan setengah dari agamanya, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam menjaga setengahnya lagi.” (Hadits shahih riwayat Ath-Thabraani dalam Mu’jamul Aushat, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah nomor 625).

Abu Hatim menjelaskan maksud hadits ini, ia berkata, “Pada umumnya, perkara yang menegakkan agama seseorang adalah kemaluan dan perutnya. Dengan menikah ia bisa menegakkan salah satu dari keduanya.” (lihat Faidhul Qadir (VI/103).

Iblis dan bala tentaranya juga mengetahui urgensi rumah tangga bahagia ini. Mereka memiliki ambisi yang sangat besar untuk mengganggu dan merusaknya. Sebab, tidak ada jurus yang lebih jitu untuk menghancurkan kehidupan manusia dan merampas kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat selain memporakporandakan rumah tangga. Rasulullah ﷺ telah memperingatkannya jauh-jauh hari. Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu’anhu telah meriwayatkan dari Nabiy bahwa beliau bersabda:

عن جابر رضي الله عنه ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إنَّ إبليسَ يضعُ عرْشَه على الماء، ثم يَبْعَث سَراياه، فأدْناهم منه منزِلةً أعظمُهم فتنةً، يجيء أحدهم فيقول: فعلتُ كذا وكذا، فيقول: ما صنعتَ شيئًا. قال: ثم يجيء أحدهم فيقول: ما تركتُه حتى فَرَّقتُ بينه وبين امرأتِه، قال: فيُدْنِيه منه ويقول: نعم أنت». قال الأعمش: أراه قال: «فيَلْتَزِمُه»

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas lautan kemudian ia mengirim bala tentaranya. Orang yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah orang yang paling besar godaannya terhadap bani Adam. Salah seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu. Iblis mengatakan, ‘Engkau belum melakukan apa-apa!’ Kemudian datang lagi yang lain dan berkata, ‘Tiada aku tinggalkan mereka (bani Adam) hingga aku berhasil memisahkan suami dari istrinya’ Maka Iblis menyuruhnya supaya mendekat dan berkata, ‘Sungguh hebat engkau!’ Maka iapun terus mendekatinya. (Hadits shahih riwayat Muslim dan lainnya).

Saudaraku …

Kita sebagai pemimpin rumah tangga, harus sadar bahwa iblis beserta bala tentaranya terus merongrong keutuhan rumah tangga kita. Mereka akan terus mengintai setiap celah dan kesempatan yang mungkin bisa mereka manfaatkan untuk mengobrak-abrik kebahagiaan kita. Mereka menggunakan segala cara untuk mencapainya. Dan mereka akan bersuka cita apabila berhasil meretakkan hubungan cinta kasih sepasang suami istri, yang merupakan lentera penerang bagi bahtera rumah tangga mereka.

Saudaraku, para suami yang mulia …

Sebagai insan yang lemah, kita sangat membutuhkan nasihat. Dan sungguh, tak ada yang dapat menyelamatkan mahligai perkawinan kita kecuali taqwa kepada Allah dan ilmu yang benar.

Maka dengan memohon pertolongan Allah ﷻ, saya mencoba menorehkan pena dan mempersembahkan risalah ini. Pertama untuk diriku sendiri. Dan kedua, untuk para pemuda yang akan melangkah menuju jenjang pernikahan. Dan ketiga, untuk segenap suami yang ingin meraih ridha ilahi. Mudah-mudahan buku yang sederhana ini dapat menjadi nasihat yang berguna dan bekal yang berharga dalam mengarungi samudera kehidupan rumah tangga. Sehingga kita dapat menuai kesuksesan di dunia dan meraih kebahagiaan nan abadi di akhirat.

Akhir kalam, saya memanjatkan rasa syukur kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa yang telah memberikan kekuatan dan pertolongan kepada saya untuk menyelesaikan tulisan ini. Segala puji hanyalah milik-Nya di awal dan di akhir, lahir maupun bathin.

Selanjutnya saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan tulisan ini, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan pahala.

Ya Allah, jadikaniah amal ini ikhlas semata-mata mengharap wajah-Mu, berguna bagi hamba-hamba-Mu serta menjadi buah ketaatan dan tabungan pahala bagi kami, Yaa Hayyu Yaa Qayyum Yaa Dzal Jalaali wal Ikram.

Ditulis oleh:
Abu Ihsan al-Atsari & Ummu Ihsan Choiriyah Medan, 4 April 2009


1. Mensyukuri Nikmat Rumah Tangga

Saudaraku…

Pernikahan adalah anugerah dan nikmat yang sangat besar bagi umat manusia. Hubungan cinta kasih sepasang suami istri adalah salah satu tanda-tanda Kemahabesaran Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS Ar Rum ayat 21).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut “Kemudian, di antara kesempurnaan rahmat Allah kepada umat manusia adalah Dia menjadikan pasangan-pasangan mereka dari jenis-jenis mereka sendiri serta menjadikan di antara mereka mawaddah yaitu perasaan cinta dan rahmah yaitu kasih sayang. Yang mana seorang laki-laki mengikat (menikahi) seorang wanita disebabkan rasa cinta atau sayang kepadanya dengan lahirnya seorang anak, disebabkan rasa saling membutuhkan nafkah dan kasih sayang di antara keduanya dan lain sebagainya.”

Cinta dan kasih sayang yang terjalin antara sepasang insan laki-laki dan wanita yang belum pernah saling mengenal sungguh merupakan anugerah yang tiada terkira. Sang suami mencintai istrinya padahal sebelumnya tidak pernah terlintas di relung hatinya. Lalu atas kuasa Allah ﷻ mereka berdua bertemu dan dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Kemudian Allah ﷻ menumbuhkan perasaan cinta dan kasih sayang dalam hati mereka. Keduanya saling mengasihi dan menyayangi. Suami merasakan ketenangan dan kedamaian bila berada di sisi sang istri, demikian pula sebaliknya. Dimana dan kapanpun, keduanya ingin selalu bersama.

Suami istri ibarat pakaian bagi pasangannya, yang saling memberi kehangatan, menutupi, merekatkan, melindungi dan senantiasa saling membutuhkan.

Allah ﷻ berfirman:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

“Mereka itu ibarat pakaian bagimu, dan kamupun ibarat pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ibnu Katsir ats berkata dalam tafsimya, Firman Allah ﷻ, “Mereka itu adalah pakaian bagi kamu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Al-Hasan, Qatadah, As-Suddi dan Muqaatil bin Hayyan mengatakan, “Artinya, mereka itu adalah pemberi ketenangan bagi kalian, dan kalian juga pemberi ketenangan bagi mereka.’ (Ibnu Abi Hatim (1/370).

Ar-Rabi’ bin Anas mengatakan, “Mereka bagaikan selimut bagi kalian dan kalian bagaikan selimut bagi mereka.” (Ibnu Abi Hatim (1/381).

Sungguh sebuah ikatan hati yang sangat erat, sampai-sampai Rasulullah ﷺ, mengatakan:

« لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ »⁣⁣

“Belum kami saksikan solusi bagi sepasang insan yang saling jatuh cinta selain menikah.” (Hadits shahih riwayat Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan ibnu Majah (1847).

Maksudnya, obat yang paling manjur untuk mengobati penyakit ‘isyq (jatuh cinta) adalah menikah. Itulah solusi yang paling tepat yang tidak perlu mencari solusi-solusi lain selama jalan menuju pernikahan bisa ditempuh. (At-Taisiir Syarah Jamil’ ash-Shaghiir (11/584).

Atau makna hadits ini adalah, belum pernah kami saksikan hubungan cinta kasih yang melebihi cinta kasih sepasang insan dalam ikatan pernikahan. Karena dengan ikatan pernikahan itu cinta kasih di antara mereka semakin hari semakin dalam dan semakin kuat. (Silakan lihat Hasyiyah as-Sindi atas kitab Sunan Ibnu Majah (IV/104).

Saudaraku, para suami yang mulia…

Sadarilah, rumah tangga yang Allah karuniakan ke padamu itu adalah anugerah yang sangat besar…

Terlebih lagi manakala Allah ﷻ menganugerahkar kepadamu seorang istri yang shalihah, sebaik-baik perhiasan dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما مرفوعاً: «الدنيا متاع، وخير متاعها المرأة الصالحة»

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah.” (Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahih nya).

Saudaraku…

Ingatlah, tidak semua laki-laki mendapat anugerah seperti ini. Bukankah engkau saksikan banyak pemuda yang sudah ingin menikah namun Allah ﷻ belum memberikan kemampuan kepadanya. Dan berapa banyak pula suami yang mendapatkan istri yang buruk perangai dan akhlaqnya, sehingga rumahnya ibarat Neraka baginya…?

Namun sebagai manusia kita sering lupa. Kadang kala kita baru dapat merasakan besarnya sebuah nikmat justru setelah nikmat itu tercabut dari kita. Banyak orang yang baru merasakan besarnya nikmat sehat setelah ia sudah jatuh sakit. Seorang baru merasakan besarnya nikmat kehidupan, justru setelah ia berada di ambang kematian. Seorang baru merasakan nikmat kaya justru setelah ia jatuh miskin…

Memang, sangat sedikit manusia yang mau bersyukur. Maha benar Allah ﷻ dalam firman-Nya:

وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Saudaraku…

Pandai-pandailah mensyukuri nikmat ini dan jangan sekali-kali kufur. Sebab Allah Ta’aala telah menyatakan:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)


2. Rumah Tangga adalah Amanah

Para suami yang mulia….

Sadarilah bahwa engkau adalah pemimpin rumah tangga. Pemimpin bagi istri dan anak-anakmu. Bersiaplah mengemban amanat sebagai pemimpin. Seorang suami harus menyiapkan dirinya sebagai pemimpin. Ia harus melatih dirinya menjadi pemimpin yang baik, memikul tanggung jawab dengan amanah dan menanamkan jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Buanglah sifat kekanak-kanakan dan sikap tak mengerti tanggung jawab. Sadarilah engkau sekarang telah menjadi lokomotif yang di belakangmu telah menunggu gerbong-gerbong yang siap untuk dibawa. Ingatlah, rumah tangga adalah amanah dan tanggung jawab besar yang harus kita pikul sebaik-baiknya. Sebuah amanah yang tak boleh dilakukan serampangan dan sesuka hati. Kita harus selalu ingat bahwa tanggung jawab ini pasti akan ditanyakan oleh Allah kelak di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Rumah Tangga adalah Amanah

Jagalah amanah ini baik-baik. Jadilah engkau seorang pemimpin yang betanggung jawab lagi berakhlak mulia. Seorang suami yang penuh wibawa dan kasih sayang: Yang mampu memimpin dan mendidik istri serta anak-anakmu demi meraih keridhaan Allah ﷻ. Menuntun mereka menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita:

لاَ إِيْـمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَـةَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanah.” (Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (7179).

Ya Allah, anugerahkanlah kekuatan dan kemudahan kepada kami untuk memelihara dan melaksanakan amanahMu ini. Dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, Allahumma amiin.


3. Jadilah Kepala Keluarga yang Berilmu dan Beramal Shalih

Saudaraku….

Ilmu laksana cahaya. Orang yang tak punya ilmu akan hidup dalam kegelapan. Tidak tahu jalan mana yang harus ia tempuh dan apa yang harus ia lakukan saat menghadapi masalah. Sungguh, kebutuhan kita terhadap ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap makan dan minum. Sebab, makan dan minum hanya berfungsi menjaga kehidupan jasmani, yang mana itu juga merupakan kebutuhan hewan. Sedangkan ilmu yang bermanfaat kita butuhkan untuk menjaga kehidupan hati dan rohani. Sementara, hatilah yang menentukan baik buruknya perilaku dan jasmani, sebagaimana yang sebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sebuah hadits:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, dalam jasad terdapat sekerat daging, apabila baik maka baik pulalah seluruh anggota tubuh dan apabila rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa yang dimaksud itu adalah hati.”

Orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah ﷻ, Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (OS. Al-Mujaadilah: 11)

Saudaraku….

Ilmu adalah sesuatu yang harus kita miliki sebelum kita berbicara dan berbuat. Kebaikan hidup dunia dan akhirat hanya dapat diraih dengan ilmu. Rasulullah ﷺ telah bersabda dalam sebuah hadits:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki atasnya kebaikan niscaya Allah akan beri ia pemahaman dalam agama.”

Dan dalam hadits yang lain beliau bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi (2646).

Demikian pula halnya kesuksesan dalam rumah tangga, tidak akan bisa diraih tanpa ilmu. Kerena itu, jangan pernah berangan-angan bisa menjadi suami yang sukses apabila kita tidak mau belajar.

Apalagi sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin dalam rumah tangga, kita tertuntut untuk terus menuntut ilmu. Sebab, dalam mengarungi bahtera rumah tangga tentu banyak problematika yang harus kita selesaikan dan rintangan yang harus kita lewati. Tidak mungkin kita bisa melewati semua itu tanpa ilmu.

Saudaraku, masih banyak yang harus kita pelajari, berapapun usia pernikahan kita. Kita harus mempelajari bagaimana tuntunan syari’at berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, apa saja kewajiban-kewajiban yang harus kita laksanakan dan apa-apa saja yang harus kita tinggalkan. Kita belajar bagaimana cara bermu’amalah yang benar dengan istri, anak-anak dan semua orang yang hidup bersama kita. Kita harus belajar tentang perkara-perkara yang dapat memperkokoh kebahagiaan suami istri dan bagaimana cara meraih ridha Allah dengan pernikahan ini.

Di samping itu mungkin masih banyak kekeliruan-kekeliruan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga, yang mana hal itu dapat menghalangi terciptanya kebahagiaan hidup rumah tangga kita. Dan kita juga harus belajar bagaimana cara menghadapi berbagai macam persoalan rumah tangga dan menyelesaikannya menurut rambu-rambu syariat.

Intinya…

Jadilah Kepala Keluarga yang Berilmu dan Beramal Shalih

Apabila kita ingin menjadi seorang suami yang sukses, ayah yang sukses, atau seorang pendidik yang sukses maka kita tidak bisa berpangku tangan. Kita harus belajar. Maka, selama hayat dikandung badan tetaplah bergairah menjadi seorang penuntut ilmu, yang senantiasa haus ilmu dan terus mencarinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

“Dunia itu terlaknat dan terlaknat apa yang ada di dalamnya kecuali dzikrullah, amal ketaatan kepada Allah dan seorang alim atau penuntut ilmu.”

Hadits riwayat At-Tirmidzi (2322) dari Abu Hurairah dan dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (2797).

Tidak ada kekayaan yang lebih berharga bagi kita selain ilmu dan tidak ada kedudukan yang lebih mulia bag kita selain menjadi penuntut ilmu.


4. Hakikat Kebahagiaan

Rumah tangga yang bahagia adalah idaman setiap orang. Namun bila ditanyakan “Apa hakikat bahagia?” Mungkin pertanyaan ini sulit dijawab. Sebab, kebahagiaan itu adalah sesuatu yang bisa dirasakan, namun sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bahagia adalah sebuah perasaan.

Bahagia adalah sesuatu yang maknawi, sebuah perasaan yang lahir dalam hati, membawa berjuta makna. Dan orang yang merasakan kepuasan dan kecukupan, itulah orang yang bahagia.

Kebahagiaan itu dapat dirasakan oleh siapa saja. Kebahagiaan bukanlah monopoli orang yang berharta saja.

Bukankah rumah sederhana yang membuat seorang selalu tersenyum lebih baik daripada istana megah yang selalu membuatnya menangis, ibarat seekor burung dalam sangkar emas?

Berapa banyak pasangan suami istri yang siang malam diperbudak oleh hartanya, sehingga hubungan cinta kasih di antara mereka terasa sangat gersang. Bahagiakah kehidupan seperti itu?

Bahagia juga bukan monopoli pria tampan yang memiliki isteri cantik jelita.

Berapa banyak pria rupawan yang ketampanannya justru menjadi bumerang bagi dirinya?

Dan bukankah seorang wanita bersahaja yang mampu mendatangkan kebahagiaan lebih baik daripada wanita rupawan yang membawa kesengsaraan?

Kesimpulannya…

Bahagia tak dapat dikejar semata-mata dengan harta yang melimpah ataupun tampilan fisik semata.

Lalu bagaimanakah rumah tangga yang bahagia itu?

Ketahuilah, kebahagiaan itu hanya dapat diraih dan dirasakan oleh sepasang suami istri yang berpegang teguh dengan ajaran agama dalam segenap urusan kehidupan. Mereka senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan bersikap qana’ah.

Mereka ridha menerima sedikit yang diberi, tidak terlalu berharap terhadap apa yang ada di tangan manusia. Sungguh qana’ah adalah kekayaan yang tak kunjung habis: Beruntunglah orang yang qana’ah dan menerima apa yang Allah beri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kamu yang merasa aman dirinya, sehat tubuhnya dan cukup persediaan makanan pokoknya untuk hari itu, seakan-akan ia telah diberi semua kenikmatan dunia.” (Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan diHasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (2318).

Kaya bukanlah dengan banyaknya materi akan tetapi hakikat kaya itu adalah kaya hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya itu bukanlah diukur dengan banyaknya materi, akan tetapi kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati.” (Muttafaqun ‘alaihi, Al-Bukhari (6446) dan Muslim (2467) dari Abu Hurairah).

Orang yang kaya hati akan qana’ah menerima apa yang Allah beri. Tidak berambisi mengejar lebih tanpa kebutuhan. Dan tidak rakus mengejar dunia dan tidak suka meminta-minta. Seolah-olah ia selalu berkecukupan.

Ada seorang lelaki yang mengeluhkan anaknya yang banyak kepada seorang Ahli Hikmah. Maka ia berkata kepadanya, “Coba periksa dari anak-anakmu yang tidak ditanggung rezekinya oleh Allah, lalu pindahkanlah ia ke rumahku.”

Sebenarnya kekayaan yang hakiki adalah merasa cukup bukan selalu merasa kurang. Sebagaimana yang dikata oleh Imam Asy-Syafi’i ketika ia menceritakan dirinya:

Meski tanpa harta tapi merasa cukup… Tidak meminta-minta kepada manusia… Sesunguhnya orang yang kaya adalah yang merasa Cukup bukan orang yang selalu merasa kurang… Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah

 

Tidakkah engkau dengar kisah seorang lelaki faqir yang hidup bahagia. Lalu setelah menjadi orang kaya karena tinggal di samping rumah seorang yang kaya raya. Mulailah istrinya merengek menuntutnya bekerja agar kaya raya seperti tetangganya. Maka berubahlah kebahagiannya menjadi kemalangan, kesengsaraan, pertengkaran dan kesusahan. Sehingga mereka berharap menjadi faqir kembali.

Seorang Ahli Hikmah berkata, “Bukti bahwa harta yang ada di tanganmu bukanlah milikmu adalah pengetahuanmu bahwa harta itu sebelumnya adalah milik orang lain.”

Ahli Hikmah lainnya berkata, “Hidup aman tapi faqir lebih baik daripada hidup kaya tapi dihantui rasa takut. Pengejar dunia selalu mengejar kekayaan bagaimanapun caranya.”

“Siapa yang tujuannya hanyalah apa yang akan masuk ke dalam perutnya maka nilainya tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya.” Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ, ورُزِقَ كَفَافًا, وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ”

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan diberikan oleh Allah sikap qana’ah (rasa cukup) terhadap pemberian-Nya” (HR. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Untuk lebih mensyukuri nikmat yang telah Allah ﷻ lilmpahkan kepada kita, lihatlah orang yang di bawah kita. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka dari itu, jangan suka membanding-bandingkan nikmat yang Allah beri kepadamu dengan yang Allah beri kepada orang lain. Agar kita tak terlalu bersedih atas apa yang terlewat sehingga kita lupa memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Ini dalam urusan duniawi, adapun untuk amal-amal shalih maka yang dituntut adalah melihat orang yang kedudukannya lebih tinggi, dengan harapan bisa menyusulnya.

Suami dan istri harus bahu membahu saling membantu dalam urusan dunia maupun akhirat. Mereka memahami tugas dan hak masing-masing. Mereka hidup penuh kedamaian dan keharmonisan. Dan masing-masing pihak dapat memberikan kebahagian, kehangatan, dan ketentraman bagi pasangannya.

Selanjutnya, kebahagiaan rumah tangga akan membawa mereka kepada kebahagiaan yang kekal abadi dalam surga yang penuh kenikmatan. Mereka jadikan rumah tangga sebagai jalan meraih ridha Allah. Maka kebahagiaan ruma tanggapun menjadi salah satu anak tangga dalam meraih kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat.

Saudaraku….

Kebahagiaan pasti diimpikan oleh setiap orang yang berakal sehat. Bergegaslah meraihnya dan carilah kebahagiaan itu bersama istrimu, bersama anak-anakmu, bersama keluargamu dan bersama siapa saja yang bergaul denganmu. Dengan cara membantu mereka, mencintai mereka dan menuntun tangan mereka kepada perkara yang dicintai Allah ﷻ.

Tuntunlah anak dan istrimu menempuh jalan kebahagiaan dengan tenang, thuma’ninah dan kasih sayang. Dengan mendidik istri dan anak-anak serta saling bahu membahu dalam mengerjakan ketaatan. Ciptakanlah suasana rumah tangga yang tenang yang mendorong kita untuk berbuat ketaatan, suasana rumah tangga yang nyaman, tidak membuat penat dan tidak membuat bosan dalam melaksanakan tanggung jawab.

Sekarang, mari kita simak pandangan Nabi ﷺ tentang kebahagiaan. Nabi ﷺ bersabda:

🏷️ “Empat perkara yang mendatangkan kebahagiaan:
1. Istri yang shalihah.
2. Rumah yang luas.
3. Tetangga yang shalih.
4. Kendaraan yang cepat.

🏷️ Empat perkara yang mendatangkan kesengsaraan:
1. Istri yang buruk.
2. Tetangga yang jahat.
3. Kendaraan yang buruk.
4. Rumah yang sempit.”

Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (282) dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash.

Nabi ﷺ juga bersabda:

🏷️ “Tiga perkara yang membawa kebahagiaan dan tiga perkara yang mendatangkan kesengsaraan. Adapun tiga perkara yang membawa kebahagiaan adalah:

1. Istri yang shalihah, yang membuatmu kagum setiap kali melihatnya, engkau merasa aman atas kesucian dirinya dan hartamu apabila engkau tak berada di sisinya.
2. Kendaraan yang cepat, yang membuatmu dapat menyusul rekan-rekanmu.
3. Rumah yang lapang dan lengkap perabotannya.

🏷️ Adapun tiga perkara yang mendatangkan kesengsaraan:

1. Istri yang membuatmu jengkel setiap kali melihatnya, yang menggunakan lisannya untuk menyerangmu dengan kata-kata keji, dan engkau merasa tidak aman atas kesucian dirinya dan hartamu apabila engkau tak berada di sisinya.
2. Kendaraan yang lambat. Kalaupun engkau halau niscaya hanya membuatmu letih. Dan jika tak dihalau maka tidak akan membawamu untuk menyusul rekan-rekanmu.
3. Rumah yang sempit lagi minim perabotannya”

Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (1047) dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1).

(1) Maksudnya: Saya memulai membaca Al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut ‘Asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama Dzat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkanNya. Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): Salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar-Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

Tentu, istri yang shalihah adalah istri yang paham dan taat beragama. Rumah yang luas adalah hati yang lapang dan luas yang senantiasa terisi dengan sifat qana’ah. Tetangga yang shalih adalah lingkungan dan pergaulan yang baik lagi shalih. Kendaraan yang cepat adalah setiap sarana dan harta yang kita miliki yang mendorong kita untuk segera dan berlomba-lomba dalam beramal shalih. Dan perabotan yang lengkap adalah ilmu yang bermanfaat yang mengisi hati kita.

Dan tentunya, istri yang buruk adalah istri yang tak paham dan tak taat beragama. Rumah yang sempit adalah hati yang sempit dan kosong dari sifat qana’ah. Tetangga yang jahat adalah lingkungan dan pergaulan yang jahat. Kendaraan yang lambat adalah sarana dan harta yang menahan kita berbuat ketaatan. Dan perabotan yang minim adalah ilmu yang dangkal lagi sedikit yang tak bisa mengisi hati.


5. Merancang Kebahagiaan sebelum Pernikahan

Saudaraku….

Sebenarnya kebahagiaan rumah tangga itu perlu dirancang dan dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum pernikahan. Bagi saudaraku para pemuda yang belum menikah, engkau punya kesempatan lebih lapang. Engkau memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak. Pelajarilah tanggung jawab apa saja yang harus engkau tunaikan sebagai suami. Ketahuilah, pernikahan ibarat kendaraan besar, yang mengemban tanggung jawab dalam menciptakan kehidupan bahagia. Mungkin saja engkau akan menghadapi berbagai macam masalah. Itu adalah perkara yang wajar.

Merancang Kebahagiaan sebelum Pernikahan

Baca dan pahamilah hingga engkau dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan kesiapan yang matang dalam menghadapi segala suka dukanya. Selagi kesempatan masih ada, kerahkan segala daya dan upayamu untuk mempersiapkannya.

Diantara bentuk persiapan itu adalah:

Perbaikilah Dirimu dan Berhiaslah Dengan Pakaian Taqwa

Inilah persiapan pertama yang harus engkau lakukan. Sebab laki-laki yang baik itu untuk wanita yang baik dan wanita yang baik itu untuk laki-laki yang baik pula.

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (OS. An-Nuur: 26)

Suatu hal yang lucu apabila engkau berangan-angan mendapat pasangan yang shalihah sedang engkau tidak berusaha menjadi pria yang shalih.

Ketahuilah saudaraku, Allah ﷻ telah menjanjikan bagi orang-orang yang bertakwa jalan keluar atas setiap masalah dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙوَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq: 2-3)

Istri yang shalihah adalah rezeki. Mudah-mudahan karena ketaqwaanmu, Allah ﷻ berkenan memberikan jalan keluar bagi setiap urusanmu dan memberikan kepadamu rezeki yang baik.

Allah ﷻ juga berfirman:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq : 4)

Sadarilah wahai saudaraku, tidak ada satupun urusan yang mudah apabila Allah menghendakinya susah. Demikian juga, tidak ada satupun urusan yang yang susah apabila Allah ﷻ menghendakinya mudah.

Termasuk urusan jodoh dan pernikahan. Maka bertaqwalah kepada Allah, mudah-mudahhan Allah berkenan memberikan kemudahan bagi semua urusanmu.

Dan satu hal penting yang tak boleh engkau lupakan, jodoh ada di tangan Allah. Bukan kita yang mengatur, tetapi Dialah yang mengaturnya. Oleh karena itu, panjatkanlah doamu kepada Allah dengan segenap ketulusan dan keikhlasan. Sebab doa adalah senjata orang yang beriman. Rasulullah ﷺ bersabda: “Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan doamu dikabulkan olehnya.” (Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (594).

Berdoalah kepada Allah, semoga Dia berkenan memberimu pasangan hidup yang dapat membawamu kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Setelah engkau berusaha dan berdoa, serahkanlah semuanya kepada Allah ﷻ dan bertawakkallah kepada-Nya. Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS Ath-Thalaq : 3)

Luruskan Niatmu

Hendaklah yang menjadi tujuanmu menikah adala semata-mata mencari ridha Allah ﷻ. Untuk merealisasikan fitrah yang telah Allah gariskan atas umat manusia, memelihara dirimu dari gejolak syahwat yang diharamkan, membangun rumah tangga muslim yang menjadi sumber sakinah serta kedamaian, dan merupakan sunnah Nabi mu. Ikhlaskanlah niatmu dalam membina hidup berumah tangga.

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam” (QS. Al-An’am : 162)

Pilihlah Calon Istri Yang Shalihah Dan Taat Beragama

Istri yang shalihah adalah anugerah nikmat yang sangat besar. Maka bersungguh-sungguhlah mendapatkannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia ini penuh dengan kesenangan dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah”. (Hadits riwayat Muslim (3716) dari ‘Abdullah bin ‘Amru).

Istri yang shalihah adalah anugerah yang tiada ternilai harganya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang selalu berdzikir dan istri shalihah yang selalu membantumu dalam melaksanakan urusan dunia dan agamamu adalah sebaik-baik anugerah yang didapat oleh manusia”. (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ (4409) dari Abu Umamah Radhiyallahu’anhu).

Jangan sampai salah memilih pasangan. Sebab, jika salah bisa fatal akibatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

 نِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ الوَدُوْدُ الوَلُوْدُ العَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعُ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا , وَ تَقُوْلُ لَا أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى.

“Seseorang berada di atas agama sahabat karibnya, hendaklah salah seorang dari kamu memperhatikan siapakah yang menjadi sahabat karibnya.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh -Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (927).

Kedudukan istri tentu lebih daripada sekedar kawan karib. Ia adalah pasangan hidup, pendamping, sahabat dan tempat berbagi dalam kehidupan, berupa makanan, minuman, perasaan dan kesedihan.

la merupakan pasangan dalam kehidupan bukan hanya sehari atau setahun, akan tetapi sepanjang hidup. Dan tidak diragukan lagi bahwa masing-masing pihak akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pasangan hidupnya.

Istri shalihah akan membantumu untuk mentaati Allah, tolong-menolong denganmu untuk mencari ridha Allah ﷻ dan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Ia akan melaksanakan segala tugas dan tanggung-jawabnya dengan baik.

Maka sudah selayaknya bagi siapa saja yang punya kehormatan diri dan akal yang bijak agar memilih pasangan hidup yang taat beragama sebagai target utamanya dan puncak pengharapannya. Sebab, kelurusan agama dan keelokan akhlak lebih permanen sifatnya daripada kecantikan fisik semata. Kekayaan hati lebih berharga daripada kekayaan harta benda. Sebab yang menjadi parameter adalah isi dalam bukan tampilan luar. Ukurannya adalah perilaku bukan materi semata. Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

“Wanita dinikahi karena empat perkara: Karena harta, kecantikan, kedudukan dan agama. Pilihlah yang taat agamanya (kalau tidak) niscaya engkau akan merugi.” (Muttafaq alaihi).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Radhiyallahu’anhu berkata, “Kalimat ini bermakna doa, akan tetapi maksud sebenarnya bukan itu. Agama merupakan unsur utama dalam memilih istri. Karena istri fungsinya adalah memberikan ketenangan bagi suaminya dan tempat ia bercocok tanam. Istri adalah sandaran hati, perhiasan rumah dan ibu bagi anak-anaknya. Anak-anak akan meniru sifat dan tabiat ibunya. Jika ibu tidak memiliki kadar agama dan akhlak yang baik niscaya suami akan gagal dalam membangun rumah tangga. Namun jika istri adalah wanita yang baik akhlaknya dan agamanya, bisa memegang amanat suaminya, menjaga harta, kehormatan dan kemuliaannya, pandai memelihara kesucian diri dan lisannya, elok dalam bersikap terhadap suaminya, menjadi jaminan bagi kebahagiaan suami, menjadi jaminan bagi pendidikan yang utama untuk anak-anaknya, dan menjadi jaminan bagi kehormatan dan wibawa di hadapan keluarganya.

Sudah selayaknya bagi orang yang punya kehormatan dan akal yang bijak agar menjadikan wanita yang taat beragama sebagai target utamanya dan puncak pengharapannya karena keelokan akhlak lebih permanen daripada kecantikan fisik. Kekayaan hati lebih utama daripada kekayaan harta. Parameternya adalah isi dalam bukan tampilan luar, ukurannya adalah perilaku bukan harta. Maha benar Allah ﷻ yang telah mengatakan:

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertagwa di antara kamu.” (OS. Al-Hujurat: 13)

Termasuk perkara yang perlu diperhatikan dalam memilih pasangan adalah kesetaraan antara suami istri. Kesetaraan ini meliputi semua aspek baik agama, tingkat pendidikan, maupun kedudukan sosial. Tercakup di dalamnya kesamaan pemikiran dan adat kebiasaan. Meskipun kesetaraan selain dalam hal agama bukan termasuk syarat sah pernikahan, namun ini akan lebih memudahkan keduanya dalam meraih keharmonisan rumah tangga. Berbeda dengan sepasang suami istri yang memiliki kesenjangan tingkat pendidikan dan kedudukan sosial terlalu jauh antara keduanya.

Pilihlah Wanita Yang Subur Lagi Penyayang

Salah satu tujuan pernikahan adalah untuk menghasilkan keturunan dan meraih ketenteraman bathin. Oleh karena itu Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk menikahi wanita yang subur lagi penyayang. Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu’anhu berkata: Seorang lelaki datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintai seorang wanita yang terpandang kedudukannya lagi cantik, akan tetapi ia mandul, bolehkah aku menikahinya?” Nabi ﷺ berkata, “Tidak!” Kemudian ia datang lagi untuk kedua kali namun Nabi tetap melarangnya. Kemudian pada yang ketiga kalinya Nabi ﷺ berkata:

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan jumlah kalian yang banyak dihadapan umat-umat lain.” (Hadits riwayat Abu Dawud (2052) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).

Disamping subur, juga harus seorang wanita yang lembut dan penyayang. Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Wanita Quraisy adalah sebaik-baik wanita yang menunggang unta (wanita Arab), mereka yang paling sayang kepada anak-anak sewaktu kecil dan paling memelihara harta yang dimiliki oleh suaminya”. (Muttafaq alaihi dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu).

Rasulullah ﷺ menyifati mereka dengan sifat sayang kepada anak-anak, kasih dan penuh perasaan kepada anakanak dan selalu memperhatikan kondisi suami. Bersikap lembut kepada suami dan selalu berusaha meringankan bebannya. Ia menjaga harta suami dan memeliharanya dengan penuh amanah dan jauh dari sikap mubazir. Jika si suami fakir, ia akan menjadi pembantu dan penopang bagi suami, bukan malah menjadi musuh dan penentang.

نِسَاءِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى

“Wanita-wanita penghuni surga adalah wanita yang penyayang, subur dan berguna bagi suaminya, yang apabila suaminya marah ia datang dan meletakkan tangannya pada tangan suami lalu berkata, Aku tidak akan tidur hingga engkau ridha.”

  • Al-Waduud adalah wanita yang sayang kepada suaminya.
  • AI-“A’uud adalah wanita yang memberikan manfaat bagi suaminya.
  • Laa adzuuqu ghamdan artinya aku tidak akan mencicipi nikmatnya tidur hingga engkau ridha.

Hadits riwayat An-Nasaa’i (9139) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (287).

Lantas bagaimanakah cara mengetahui bahwa ia adalah wanita yang subur? Wanita subur dapat diketahu dengan melihat kesempurnaan fisiknya dan kesehatan badannya dari penyakit-penyakit yang mencegah kehamilan dan kelahiran. Dan dengan melihat keadaan ibunya dan membandingkannya dengan saudara-saudara perempuan dan bibi-bibinya dari pihak ayah maupun dari pihak ibu yang sudah menikah. Jika mereka termasuk wanita yang biasa hamil dan melahirkan maka biasanya ia juga sama seperi mereka.

Nazhar

Pelaksanaan nazhar atau melihat calon mempelai wanita akan lebih mendorong penerimaan dan lebih melanggengkan kasih sayang. Demikian juga dapat menghindarkan berbagai hal yang tidak diingini di kemudian hari. Berapa banyak rumah tangga yang tercerai berai ikatannya padahal masih melewati bulan-bulan awal pernikahannya. Disebabkan tidak adanya kecocokan hati antara suami dan istri. Pedoman hati, petunjuk dan utusannya adalah nazhar (menyaksikan calon istri). Oleh karena itu Rasulullah ﷺ berkata kepada Al-Mughirah Radhiyallahu’anhu yang telah meminang seorang wanita:

“Pergi dan lihatlah wanita itu, karena hal itu akan bisa lebih mengekalkan cinta kalian berdua.”

Al-Mughirah berkata, “Akupun melihatnya kemudian aku menikahinya. Tidak ada seorangpun perempuan yang menyamai kedudukannya di sisiku.” (Hadits shahih, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (96).

Al-A’masy berkata, “Setiap pernikahan yang terjadi tanpa nazhar maka ujungnya adalah kesedihan dan kepiluan.”

Kecantikan Itu Perlu Tapi Bukan Segalanya

Kecantikan walaupun bukan perkara yang prinsip akan tetapi perlu diperhitungkan. Oleh karena itulah syariat menganjurkan kepada sebab-sebab yang dapat menumbuhkan kasih sayang dengan membolehkan melihat calon istri.

Kecantikan bagi seorang wanita kalau tidak terpelihara dengan lingkungan yang beragama dan terdidik dengan pendidikan yang benar serta keturunan yang baik bisa menjadi malapetaka. Sebab, orang-orang fasik akan berambisi mendapatkan dirinya. Kehormatannyapun semakin mudah dilecehkan, sehingga bisa menyeretnya ke lembah nista dan keji, tanpa peduli bahwa hal itu bisa menyebabkan hancurnya rumah tangga dan bisa mengotori kesuciannya dengan cacat dan cela.

Sebagian ulama salaf dahulu lebih mengutamakan wanita yang jelek tapi taat beragama daripada wanita yang cantik, agar kecantikan itu tidak menyibukkannya dari mentaati Allah ﷻ.

Malik bin Dinar berkata, “Salah seorang dari kalian menghindari menikah dengan wanita yatim padahal ia bisa mendapat pahala apabila memberinya makan dan pakaian, nafkah hariannya juga ringan dan lebih bisa menerima yang sedikit. Lalu ia memilih menikahi puteri si Fulan dan si Fulan, yakni orang-orang pengagum dunia, lalu wanita tersebut menuntut banyak sekali tuntutan syahwat kepadanya, dan berkata, “Berilah aku pakaian ini dan ini.”

Abu Sulaiman ad-Daaraani berkata, “Zuhud itu ada pada segala sesuatu hingga dalam urusan wanita. Seseorang menikahi wanita tua karena lebih mengutamakan zuhud terhadap dunia. Sebagian salaf memilih wanita yang bijak dan berakal daripada wanita cantik, karena wanita yang bijak manfaatnya lebih banyak bagi mereka.”

Imam Ahmad bin Hanbal memilih wanita yang buta matanya sebelah daripada adiknya, padahal adik wanita itu lebih cantik lagi. Beliau bertanya, “Siapakah yang lebih pintar?” Dijawab, “Yang buta matanya sebelah.” Maka beliau berkata, “Nikahkanlah aku dengannya.”

Syaikh Ibnul Utsaimin berkata, “Seperti yang sudah dimaklumi bahwa kecantikan wanita ada dua, kecantikan lahir dan kecantikan bathin. Kecantikan lahir adalah kesempurnaan fisik, karena apabila seorang wanita itu cantik parasnya dan baik tutur katanya, maka matapun sedap memandanginya, telingapun nyaman mendengar tutur katanya, hati akan terbuka, dada akan terasa lapang dan jiwa akan merasa tenang. Sehingga ia dapat mewujudkan firman Allah ﷻ:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar. Ruum: 21)

Kecantikan bathin adalah kesempurnaan agama dan akhlak. Semakin taat seorang wanita dalam agama dan semakin sempurna akhlaknya maka semakin disukai oleh jiwa. Wanita yang taat beragama, melaksanakan perintah Allah dan menjaga hak-hak suami, hak ranjang, anak-anak dan hartanya, membantu suami dalam mentaati Allah ﷻ, jika suami lupa ia mengingatkannya, apabila suami malas ia memompa semangatnya dan apabila suami marah ia berusaha membuatnya ridha (tenang).

Apabila mungkin mendapatkan wanita yang terdapat padanya kecantikan lahir dan kecantikan bathin maka telah sempurnalah kebahagiaan seorang lelaki.

Jangan Lupa Istikharah

Untuk menjatuhkan pilihan, hendaklah engkau mempertimbangkannya dengan pikiran yang sehat dan bermusyawarah dengan orang yang engkau pandang layak serta beristikharahlah kepada Allah. Karena shalat istikharah adalah ibadah kepada Allah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى – قَالَ – وَيُسَمِّى حَاجَتَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa:

ᴀʟʟᴀʜᴜᴍᴍᴀ ɪɴɴɪ ᴀꜱᴛᴀᴋʜɪʀᴜᴋᴀ ʙɪ ‘ɪʟᴍɪᴋᴀ, ᴡᴀ ᴀꜱᴛᴀQᴅɪʀᴜᴋᴀ ʙɪ Qᴜᴅʀᴀᴛɪᴋᴀ, ᴡᴀ ᴀꜱ-ᴀʟᴜᴋᴀ ᴍɪɴ ꜰᴀᴅʜʟɪᴋᴀ, ꜰᴀ ɪɴɴᴀᴋᴀ ᴛᴀQᴅɪʀᴜ ᴡᴀ ʟᴀᴀ ᴀQᴅɪʀᴜ, ᴡᴀ ᴛᴀ’ʟᴀᴍᴜ ᴡᴀ ʟᴀᴀ ᴀ’ʟᴀᴍᴜ, ᴡᴀ ᴀɴᴛᴀ ‘ᴀʟʟᴀᴀᴍᴜʟ ɢʜᴜʏᴜʙ. ᴀʟʟᴀʜᴜᴍᴍᴀ ꜰᴀ-ɪɴ ᴋᴜɴᴛᴀ ᴛᴀ’ʟᴀᴍᴜ ʜᴀᴅᴢᴀʟ ᴀᴍʀᴏ (ꜱᴇʙᴜᴛ ɴᴀᴍᴀ ᴜʀᴜꜱᴀɴ ᴛᴇʀꜱᴇʙᴜᴛ) ᴋʜᴏɪʀᴏɴ ʟɪɪ ꜰɪɪ ‘ᴀᴀᴊɪʟɪ ᴀᴍʀɪɪ ᴡᴀ ᴀᴀᴊɪʟɪʜ (ᴀᴡ ꜰɪɪ ᴅɪɪɴɪɪ ᴡᴀ ᴍᴀ’ᴀᴀꜱʏɪ ᴡᴀ ‘ᴀQɪʙᴀᴛɪ ᴀᴍʀɪɪ) ꜰᴀQᴅᴜʀ ʟɪɪ, ᴡᴀ ʏᴀꜱꜱɪʀʜᴜ ʟɪɪ, ᴛꜱᴜᴍᴍᴀ ʙᴀᴀʀɪᴋ ʟɪɪ ꜰɪɪʜɪ. ᴀʟʟᴀʜᴜᴍᴍᴀ ɪɴ ᴋᴜɴᴛᴀ ᴛᴀ’ʟᴀᴍᴜ ᴀɴɴᴀʜᴜ ꜱʏᴀʀʀᴜɴ ʟɪɪ ꜰɪɪ ᴅɪɪɴɪ ᴡᴀ ᴍᴀ’ᴀᴀꜱʏɪ ᴡᴀ ‘ᴀQɪʙᴀᴛɪ ᴀᴍʀɪɪ (ꜰɪɪ ‘ᴀᴀᴊɪʟɪ ᴀᴍʀɪ ᴡᴀ ᴀᴀᴊɪʟɪʜ) ꜰᴀꜱʜ-ʀɪꜰɴɪɪ ‘ᴀɴʜᴜ, ᴡᴀQᴅᴜʀ ʟɪɪʟ ᴋʜᴏɪʀᴏ ʜᴀɪᴛꜱᴜ ᴋᴀᴀɴᴀ ᴛꜱᴜᴍᴍᴀ ʀᴏᴅʜ-ᴅʜɪɴɪɪ ʙɪʜ.

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau jelek bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

Sekalipun tidak ada hubungan antara istikharah dengan proses nazhar, menimbang dengan akal dan bermusyawarah, namun hendaknya engkau laksanakan semua proses itu dengan sempurna. Jika pernikahan itu terjadi maka itu semua terjadi dengan ilmu dan qudrat Allah. Dan jika pernikahan urung terjadi maka itulah yang terbaik menurut ilmu Allah dan qudrat-Nya.

Jauhilah Segala Perkara Yang Mengundang Kemurkaan Allah

Di antara perkara itu adalah:

  • Pacaran sebelum menikah

Inilah perkara dosa yang dianggap biasa oleh kebanyakan orang sekarang. Padahal ini adalah perbuatan yang melanggar rambu-rambu syari’at dan mengundang kemurkaan Allah. Sebab, perbuatan ini pasti akan berujung kepada khalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram), ikhtilath (percampur-bauran laki-laki dan perempuan), zina mata, zina tangan, zina hati bahkan kepada zina yang sebenarnya, Wa ‘iyadzubillah.

  • Pertunangan

Ritual pertunangan sebelum menikah adalah hal yang tidak dikenal dalam syari’at. Lebih parah lagi jika pertunangan yang hanya merupakan janji untuk sebuah pernikahan, dianggap telah menghalalkan perkara-perkara yang sebelumnya haram, seperi berdua-duaan, bersentuhan dan lain sebagainya.

  • Kemungkaran-kemungkaran dalam pesta pernikahan

Seperti klenik atau ramalan-ramalan berkaitan dengan pernikahan, memberat-beratkan diri dalam penyelenggaraan pesta, berlebih-lebihan dan mubadazir, musik dan lagu, mengundang biduwanita, percampur-bauran tamu laki-laki dan wanita dan lain sebagainya.


 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button