Wanita dan Keluarga

Surat Terbuka untuk Para Suami #3

9. Kewajiban Mempergauli Istri Secara Ma’ruf

Kewajiban Mempergauli Istri Secara Ma’ruf

Wahai saudaraku. Perlu engkau ketahui bahwa kebahagiaan istri tidak hanya terletak pada limpahan nafkah lahir atau terpenuhinya kebutuhan materi. Ada faktor lain yang berperan sangat penting dalam menciptakan kebahagiaan istri, yaitu sikap dan perlakuan yang baik terhadapnya.

Suami Shalih, yang memiliki perilaku baik, kepribadian elok, karakter menawan lagi dermawan akan memberikan kebahagiaan kepada istri dan keluarganya, walau apa pun yang terjadi di antara mereka. Sekalipun mereka hidup serba pas-pasan atau bahkan kekurangan, namun hati mereka merasakan kebahagiaan, dan bibir mereka menyunggingkan senyuman.

Sebaliknya, betapa banyak wanita menangis dan merintih sepanjang hidupnya disebabkan buruknya sifat dan perlakuan suami terhadap dirinya padahal mereka hidup dalam kemewahan dan kemegahan.

Istri bukan seperti hewan piaraan yang cukup diberi kandang dan makan kenyang. Ia adalah makhluk lemah yang memiliki hati dan perasaan. Kedamaian dan kepuasan hatilah kunci kebahagiaan. Dan Itu sangat ia harapkan darimu sebagai suaminya.

Karena itulah manusia yang paling baik adalah yang paling baik perilakunya terhadap keluarga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan orang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya.” [Hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 1162). Dishahihkan oleh al-Albani dalam kitabnya, Silsilah ash-Shahihah (no. 284).]

Kata-kata yang baik dan sikap Penuh perhatian

Suami yang shalih terkumpul pada dirinya berbagai macam akhlak yang Mulia. Tidak keluar dari lisannya kecuali kata-kata yang baik dan enak didengar. Ia jauh dari sifat suka mencela, suka melaknat, suka berbuat keji dan jahat. Pepatah mengatakan: ‘Lidah tak bertulang tapi bisa lebih tajam daripada pedang’. Terkadang seorang suami jarang menyakiti istri dengan tangannya, namun kerap kali ia menyakiti istri dengan lisannya. Ingatlah, menjaga lisan adalah jalan pintas untuk meraih akhlak mulia.

Di dunia, perkataan yang baik akan membuahkan rasa suka dan jalinan Cinta yang lebih erat. Sedangkan di akhirat, perkataan yang baik akan menghindarkan seseorang dari api neraka menuju surga Allah subhanahu wata’ala. Istrilah orang yang paling banyak berinteraksi denganmu. Maka itu, saat berbicara dengannya, gunakan kata-kata yang baik dan ungkapan yang menarik. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

 كُلٌّ كَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ صَدَقَةٌ.

“Setiap kata-kata yang baik Itu adalah sedekah.” [Hadits riwayat al-Bukhari dalam Adabul Mufrad. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 576).]

Di samping Itu, pandai-pandailah menumbuhkan kesan bahwa engkau begitu perhatian terhadap istrimu. Hadapkan wajahmu kepadanya, pandang dengan pandangan tulus, berbicara dengan nada yang enak di dengar, serta hiasi bibirmu dengan senyuman.

Panggillah istrimu Dengan panggilan kesayangan. Termasuk berkata kasar pada istri adalah memanggilnya dengan sebutan-sebutan yang menyakitkan hati atau sebutan yang bernada ejekan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kepada umatnya teladan yang baik. Beliau selalu memanggil istri dengan panggilan kesayangan, beliau memanggil Aisyah dengan nama kesayangan. Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan: “Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata kepadanya:  “Wahai Aisy (panggilan kesayangan Aisyah), Malaikat Jibril alaihissalam tadi menyampaikan salam buatmu.” [ Muttafaq ‘alaih]

Beliau juga memanggil Aisyah dengan sebutan Humaira’. Beliau berkata kepadanya:

“Ya Huamira’,[Humaira’ artinya gadis Kecil yang putih kemerah-merahan kulitnya] sukakah engkau melihat permainan mereka?” Yakni permainan dan pertunjukan yang dilakukan oleh Kaum Habasyah di masjid. Aisyah menjawab: “Ya!” [Dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 3277).]

Lemah lembut dan menjaga perasaan

Wahai para suami. Janganlah engkau kehilangan kelemahlembutan dan kehalusan perasaanmu karena keseriusan, keegoisan dan kekerasan hatimu hingga membuat istrimu merana dan menderita. Rasulullah adalah sosok kesatria. Namun demikian, beliau begitu lembut dalam memperlakukan wanita.

Ada suami yang tak mau peduli dengan suaminya. Ketika berjalan bersama, ia tidak mau tahu apakah istrinya masih berjalan bersamanya atau sudah tertinggal jauh, atau bahkan mungkin terjatuh dan terseok-seok mengikutinya.

Coba lihat bagaimana perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap istri beliau. Ketika Rasulullah kembali dari peperangan Khaibar, beliau menikahi Shafiyyah binti Huhaiy radhiallahu ‘anha. Beliau mengulurkan tirai di dekat unta yang akan ditunggangi Shafiyyah untuk melindunginya dari pandangan orang. Kemudian beliau duduk bertumpu pada salah satu lututnya di sisi unta tersebut, beliau persilahkan Shafiyyah untuk naik ke atas unta dengan bertumpu pada lutut beliau yang lain.[Muttafaq ‘alaih.]

Pemandangan seperti ini memberikan kesan begitu mendalam yang menunjukkan ketawadhuan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan teladan kepada para suami bahwa bersikap tawadhu terhadap istri bukanlah suatu hal yang tabu dan tidak merendahkan martabat suami. Beliau merelakan lututnya dijadikan pijakan bagi istri tercinta, selain membantu menyelesaikan pekerjaan rumah dan membahagiakannya. Dan Itu semua sama sekali tidak mengurangi derajat dan kedudukan beliau.

Suami yang shalih harus memiliki hati yang lembut dan perasaan yang peka, serta dapat memahami perasaan istri. Ia senantiasa merasakan penderitaan istri dan berusaha meringankan bebannya tanpa diminta. Ia obati Luka derita Itu dengan kata-katanya yang indah, senyumnya yang tulus, serta hadiah-hadiah yang menarik. Akhlak ini Wajib dimiliki suami agar dapat menciptakan kebahagiaan di rumah tangganya.

Ciptakan suasana yang harmonis dengan senda gurau dan canda ria

Bermain-main dan bercanda ria dengan istri adalah salah satu bentuk permainan yang dianjurkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Segala sesuatu selain dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan belaka, kecuali empat hal: suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (dalam permainan memanah), dan seseorang yang berlatih Renang.” [Hadits riwayat an-Nasa-i, dishahihkan oleh al-Albani dalam kitabnya, Shahih al-Jâmi’ (no. 4534).]

Termasuk petunjuk nabawi dalam mempergauli istri yaitu menciptakan suasana santai, penuh kegurauan, canda, serta main-main sebagai perwujudan rasa kasih sayang dan penumbuh subur pohon kebahagiaan.

Kehidupan ini sarat dengan beban dan masalah, oleh karena itu dirimu dan juga istrimu membutuhkan sesuatu yang dapat memperbarui semangat, menghilangkan rasa jenuh dan bosan, menyirnakan rasa penat, dan menggantikan semua itu dengan suasana segar.

Demikianlah Islam pernah memperkenankan senda gurau untuk mewujudkan dan mengokohkan tali kasih sayang antara suami istri. Ini adalah aroma parfum nubuwah yang semerbak dalam membangun hubungan suami istri.

Manfaatkanlah setiap momen yang bisa digunakan untuk menciptakan kemesraan. Lihatlah bagiamana Rasulullah pernah menciptakan kemesraan di meja makan, Aisyah menuturkan:

“Pernah pada suatu ketika Aku minum saat sedang haidh, lalu aku memberikan gelasku kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliaupun meminumnya tepat dari bibir gelas tempat aku minum. Pada kesempatan lain pernah Aku makan daging dengan cara menggigitnya, lalu beliau menggigit dan memakannya tepat di tempat aku menggigitnya.” [Hadits riwayat Muslim.]

Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan sebuah pilar penting yang dapat menyangga bangunan kebahagiaan hidup rumah tangga; yaitu senda gurau, senyum dan Tawa, serta menciptakan suasana yang dapat menghibur. Bila pilar ini rapuh, maka dapat mempengaruhi suasana hati, akhirnya menggerogoti dan mengguncang bangunan rumah tangga.

Dusta yang diperbolehkan

Betapa besar perhatian Islam terhadap kebahagiaan hidup rumah tangga. Bahkan, seseorang dibolehkan berdusta jika tujuannya hanya untuk mendatangkan kebahagiaan istri, atau meredam perselisihan, bukan untuk berbuat aniaya. Seseuatu yang dapat melukai perasaan dan mengeruhkan pikiran seharusnya disembunyikan dan ditutupi. Tentunya dengan penuturan yang baik.Ummu Kultsum binti Uqbah radhiallahu ‘anhuma berkata: “Aku tidak sekalipun mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan dusta kecuali pada tiga kondisi: 1) ketika seseorang berdusta demi mendamaikan perselisihan, 2) atau seseorang berdusta sebagai taktik perang, 3) atau seorang suami yang berdusta kepada istrinya dan seorang istri berdusta kepada suaminya (demi membahagiakannya).”[Hadits riwayat Muslim.]

Kadang kala kita perlu berbasa-basi dan menjalankan siasat yang bijak

Khususnya terhadap istri, maksudnya adalah pura-pura tidak mengetahui kesalahan ringan yang dilakukan istri serta kekurangan yang ada pada dirinya. Apa jadinya Jika kita terlalu cerewet menegur setiap kesalahannya, walaupun hanya sebuah kesalahan ringat? Tentu kita akan dicap sebagai suami yang bawel. Dan apa jadinya Jika kita selalu berterus terang padanya tentang kekurangan yang ada pada dirinya?

Kita harus ingat bahwasanya manusia tidak ada yang sempurna, pasti ada kekurangan dan kesalahan yang dimilikinya. Dan diri kita juga tidak lepas dari hal itu. Karena itu, seorang suami harus penuh pengertian dan banyak menahan diri; jangan terlalu membesar-besarkan aib atau kekurangan yang kecil.

Selayaknya suami menyadari bahwa wanita tidak mungkin lurus dan sempurna sepenuhnya seperti yang diidam-idamkan kaum pria. Pasti ada kebengkokan pada dirinya. Karena Allah telah menciptakannya seperti itu, ia harus bersabar selama kekurangannya masih bisa ditolerir. Oleh karena Itu, pintar-pintarlah dlam menyiasati kaum wanita.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya wanita tercipta dari tulang rusuk (yang Bengkok). Jika engkau meluruskannya, ia akan patah. Oleh karena Itu, siasatilah ia secara bijak, niscaya engkau bisa hidup dengan harmonis dengannya.”[ Hadits riwayat Ahmad (V/8), Ibnu Hibban (VI/189) dan selainnya dari Samurah, lihat Shahihul Jami’ (no. 1944).]

Komunikasi yang lancar

Buruknya komunikasi antara suami istri dapat memicu munculnya banyak masalah. Suami enggan mengutarakan isi hatinya kepada istrinya, demikian pula sebaliknya. Maka itu, ciptakanlah komunikasi yang lancar sehingga istri dapat berbincang denganmu dalam suasana yang hangat tentang harapan-harapan, kendala-kendala, cerita-cerita manis yang membangkitkan kenangan dan menumbuhkan pohon-pohon cinta; bisa juga tentang pekerjaan sehari-hari serta berbagai masalah kehidupan lainnya.

Tanyakan pula tentang kondisi kesehatan, suasana hati, serta hal lain yang kiranya dapat menghubungkan tali keharmonisan di antara kalian berdua.

Komunikasi dua arah ini penting dilakukan untuk menjernihkan kekeruhan suasana dan mencairkan kebekuan sikap yang mungkin terjadi di antara keduanya.

Sifat santun dan sabar

Di antara perangan yang disukai Allah dan Rasul-Nya, serta dapat menjaga kebahagiaan dan melestarikan jalinan kasih sayang adalah sifat sabar, santun, pemaaf dan menahan diri.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yagn menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat Kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Asyaj Abdul Qais:

إِنَّ فِيكَ لَخَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ

“Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, yakni santun dan penyabar.” [Hadits riwayat Muslim (no. 127).]

Sebab, mustahil kehidupan rumah tangga berjalan tanpa bumbu perselisihan, masalah, kesahalan dan kekurangan. Itu adalah mimpi kosong yang bertentangan dengan realita. Suatu saat kegoncangan pasti terjadi, baik dipicu oleh faktor eksternal maupun internal. Pada dasarnya, perselisihan yang terjadi bukanlah suatu hal yang Tercela. Ia baru menjadi aib apabila persoalan yang dihadapi tak kunjung selesai, atau bahkan semakin berkembang hingga menyebabkan jalinan cinta kasih merenggang, lalu hilang kehangatan serta keharmonisan.

Suami harus sabar menghadapi sebagian watak sitrinya dengan tetap mengingat kebaikan dan kelebihannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukinah, apabila ia benci pada sebagian akhlaknya, tentu ia ridha pada sebagian lainnya.” [Hadits riwayat Muslim (no. 1469) dan Abi Hurairah.]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan terbaik bagi segenap suami. Beliau selalu berlapang dada, bersabar, menahan perasaan dan mudah memaafkan terhadap perlakuan kasar, yang hanya menyangkut urusan pribadi.

Aisyah berkata: “… Rasulullah tidak pernah membalas karena masalah sentimen pribadi, kecuali bila kehormatan Allah telah dilecehkan, beliau membalasnya karena Allah.” [Muttafaq alaih]

Suka memaafkan

Jadilah sosok suami yang suka memaafkan! Sesungguhnya memaafkan adalah budi pekerti yang Agung,

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nûr[24]: 22)

Ketahuilah, kedudukanmu sebagai suami tidaklah turun atau menjadi rendah dengan memberi maaf. Bahkan kewibawaanmu di matanya akan bertambah tinggi dan Mulia.

Jika istrimu berbuat salah kepadamu, ingatlah bahwa engkau juga pernah berbuat salah kepadanya. Tidak ada seorang manusia pun yang luput dari kesalahan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 كُلُّ ابْنِ اَدَمَ خَطَّا ءٌ فَخَيْرُ الْخَطَّا ئِيْنَ التَّوَّابُونَ

“Setiap Anak Adam pasti bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang selalu bertaubat.”  [Hadits riwayat Ahmad (no.13049). Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (no. 4515).]

Allah telah menyebutkan sifat-sifat Calon penghuni Surga, di antaranya: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran [3]: 134)

Menjaga kondisi kejiwaan istri saat sedang haidh, hamil, melahirkan dan nifas

Itulah kondisi-kondisi saat jiwa seorang wanita dalam keadaan labil dan emosinya mudah memuncak. Suami harus memaklumi kekurangan ini yang merupakan salah satu titik lemah wanita secara fisik dan mental.

Sehingga, kerap kali seorang wanita berbuat kesalahan dalam kondisi tertentu. Di antaranya adalah ketika ia sedang haidh dan hamil.

Oleh karena Itu, suami harus memakluminya dan banyak memberikan toleransi kepadanya.

Demikian pula di masa hamil, melahirkan dan nifas. Ini juga masa-masa kritis saat peran suami sangat dibutuhkan untuk memberikan motivasi kepada istri. Sebab, kondisi psikologisnya saat itu sangat tidak stabil.

Perubahan hormon yang terjadi pada diri istri mendorongnya untuk berkelakuan tidak seperti biasa. Apalagi pada saat-saat “ngidam” karena hamil; suami harus sabar melayaninya.

Demikian pula tatkala waktu persalinan tiba. Tentu tidak ada yang lebih diidamkan oleh sang istri kecuali keberadaan suami di sisinya, terutama saat ia melahirkan anaknya. Suami yang baik adalah suami yang memahami kondisi-kondisi ini. ia harus menyiapkan diri menghadapi kenyataan tersebut. Jangan menjadi lelaki pengecut yang menghindar dari tanggung jawab dan lari dari kenyataan.

Demikianlah beberapa bentuk mempergauli istri secara ma’ruf, dan masih banyak Lagi bentuk yang lainnya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala berkenan memberikan Taufik dan kemudahan kepada kita untuk melakukannya. Amin.


10. Etika Jima’ (Hubungan Suami Isteri)

Etika Jima’ (Hubungan Suami Isteri)

Demi meraih keberkahan dan kebahagiaan bersama istrimu, perhatikanlah sejumlah etika jima’ sebagaimana diatur oleh syari’at.

1. Persiapkan dirimu baik-baik

Yaitu dengan memperelok penampilan, dalam keadaan bersih, rapi dan berbau harum. Jangan sekali-kali mengajak istrimu berhubungan intim sementara keadaanmu kotor, awut-awutan dengan bau badan yang benar-benar merusak suasana.

Tanyakan pada dirimu,

Bukankah engkau suka istrimu mempersiapkan diri sungguh-sungguh untuk menyambutmu?

Bukankah engkau akan hilang selera dan enggan berhubungan jika mendapati istrimu dalam keadaan kotor dan bau?

Jika engkau jawab, “Ya.” Maka ketahuilah, istrimu juga punya perasaan yang sama.

2. Yakinkan tidak ada orang lain selain kalian berdua

Sebelum bermesraan dengan istri, yakinkan tidak ada seorangpun yang melihatnya, baik anak-anak apalagi selain mereka.

3. Mulailah dengan bisikan, sentuhan dan cumbu rayu

Engkau perlu tahu, karakter lelaki dan wanita dalam masalah ini sangat berbeda. Karakter lelaki adalah seperti api, mudah tersulut dan mudah pula mati (dingin kembali). Sedang wanita adalah seperti air, butuh waktu untuk memanaskan dan mendinginkannya. Karena itu sebelum melakukan hubungan, sebaiknya suami memulai dengan membisikkan kata-kata lembut di telinganya, disertai dengan sentuan dan cumbu rayu.

Rangsangan ini tidak pelak dapat menyenangkan hati istri, membangkitkan gairahnya, dan menjadikannya siap untuk meraih kenikmatan lebih sempurna.

Jangan sekali-kali melakukan hubungan, sementara istrimu dalam keadaan belum siap dan perasaannnya masih dingin. Berilah rangsangan seperti senda gurau, rabaan ciuman, dan dekapan, sehingga gairahnya bangkit dan jiwanya siap melakukan hubungan.

Hikmah dari perlakuan ini sangat jelas. Sebab apabila suami melakukan jima’, sementara istri tidak siap, sering berakhir dengan kondisi, dimana ia telah merasa puas sementara istrinya belum mendapat apa-apa.

4. Membaca basmalah dan ta’awwudz

Ketika hendak menjima’ istri, hendaknya memulai dengan basmallah dan meminta perlindungan Allah dari syaithan yang terkutuk, dengan mengucapkan doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ :

بِسْمِ اللَّهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀᴀʜ. ᴀʟʟᴀᴀʜᴜᴍᴍᴀ ᴊᴀɴɴɪʙɴᴀꜱʏ-ꜱʏᴀɪᴛʜᴏᴏɴᴀ ᴡᴀ ᴊᴀɴɴɪʙɪꜱʏ-ꜱʏᴀɪᴛʜᴏᴏɴᴀ ᴍᴀᴀ ʀᴏᴢᴀQᴛᴀɴᴀᴀ

“Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari (anak) yang Engkau rezekikan kepada kami.”

Apabila dari hubungan itu ditakdirkan lahirnya anak, niscaya syaithan tidak akan mencelakainya selamanya. (HR Bukhari).

5. Jima’ pada tempatnya yakni jima’ harus dilakukan pada kemaluan.

Allah ﷻ berfirman:

فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ

“Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Haram hukumnya menyetubuhi istri pada duburnya, Rasulullah ﷺ bersabda, “Menyetubuhi kaum wanita pada dubur mereka adalah haram.” (Hadits riwayat An-Nasaa’i dalam Isyratun Nisaa”. Silsilah ash-Shahiihah (873).

Boleh menyetubuhi istri dengan cara apapun selama masih pada farjinya. Boleh posisi atas, bawah atau miring, dari belakang, atau dari depan, dengan berdiri atau dengan duduk, dan lain-lain cara dengan syarat melalui kemaluan. Ambillah cara-cara yang disepakati bersama dan tidak menimbulkan kebosanan. Pandai-pandailah memberikan kepuasan kepada istrimu, karena ia pasti menginginkannya darimu sebagaimana engkau menginginkannya darinya.

Allah ﷻ berfirman:

نِسَاۤؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ

Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. (QS. Al-Baqarah : 223)

Demikian pula dilarang menyetubuhi istri ketika ia sedang haidh. Perilaku ini berbahaya dan dapat mendatangkan kerusakan bagi suami-istri, baik secara moral maupun medis.

Allah ﷻ berfirman:

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۗ قُلْ هُوَ اَذًىۙ فَاعْتَزِلُوا النِّسَاۤءَ فِى الْمَحِيْضِۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ

Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. (QS. Al-Baqarah: 222)

Namun diperbolehkan bercumbu rayu dan melakukan apa saja dengan istri yang sedang haidh selain berhubungan intim. Para istri Rasulullah ﷺ menuturkan, “Apabila Rasulullah ﷺ menghendaki tubuh istrinya ketika haidh, beliau menutup farjinya dengan kain penutup, lalu melakukan apa yang dikehendaki.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud (272) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).

6. Lakukanlah hingga puas

Ingatlah bahwa jima’ bukan aktivitas satu pihak. Tetapi melibatkan kedua pasangan, suami-istri, yang mana keduanya memiliki kebutuhan dan kepentingan yang sama.

Suami wajib menyadari hal ini, tidak boleh egois dengan menyudahi jima’ sebelum istrinya terpenuhi kebutuhannya. Yakinkanlah bahwa istrimu benar-benar telah meraih kepuasan. Apabila hajatmu telah terpenuhi dengan keluarnya mani, tahanlah hingga istrimu terpenuhi. Karena kadang ia terlambat meraihnya. Menyelesaikan hubungan ketika itu merupakan siksaan bagi istri.

7. Perbincangan ringan dan sentuhan-sentuhan halus setelahnya

Lakukanlah itu demi kesempurnaan kebahagiaan istrimu, dan untuk mengantisipasi munculnya ganjalan perasaan usai melakukan hubungan intim. Wanita, yang memiliki karakter seperti air, tentu tidak seperti laki-laki yang bisa padam seketika setelah terpancarnya mani. Maka hendaknya engkau kembali membisikkan kata-kata lembut dan memberikan sentuhan-sentuhan halus. Janganlah langsung berpaling dengan membiarkan istrimu merana.

8. Jangan menyakiti fisik dan melukai perasaannya

Jagalah perasan istrimu dan jangan melukainya. Jangan engkau memaksanya melakukan hal-hal yang tidak ia kehendaki demi kepuasan dirimu semata. Dan jangan pula memperkakukannya secara tidak hormat, hingga istrimu merasa dirinya hanyalah sebagai pemuas nafsunya belaka. Lakukanlah segala aktivitas jima’ itu dengan suka sama suka.

Hindarilah hal-hal yang bisa menyakitinya. Seperti menyumbat nafasnya atau menindihnya dengan serampangan. Ini bahaya, apalagi bila suami memiliki tubuh yang berat, sementara istrinya berbadan kecil dan lemah.

Perhatikanlah wahai para suami, janganlah melakukan hubungan intim dengan berbuat aniaya. Jadikanlah hubungan jima’ suatu yang membahagiakan istri, bukannya malah menakutkan.

Selain itu, tentu saja masih banyak hal-hal negatif yang tak layak diperbuat, dan itu telah dimaklumi oleh orang-orang yang memiliki pikiran.

9. Manfaatkanlah waktu yang tepat

Jadilah suami yang cerdas. Lakukanlah jima’ pada saat yang pas, sehingga semakin sempurna kenikmatan dan kebahagiaan kalian berdua. Di antara waktu tersebut adalah:

a. Saat pulang bepergian

Lakukanlah jima’ setelah pulang dari bepergian jauh, sebagai ganti dari perasaan sepi istrimu dan derita penantian yang menjemukan. Perasaan rindu dapat menjadi penghangat suasana hingga menjadikannya saat yang paling membahagiakan melebihi suasana malam pertama. Di antara bentuk bimbingan Rasulullah ﷺ beliau bersabda:

“Apabila engkau datang dari bepergian pada malam hari, janganlah langsung menemui istrimu, supaya ia dapat mencukur rambut kemaluannya dan merapikan dandanannya.” Rasulullah ﷺ berkata, “Jangan lupa lakukanlah jima’, lakukanah jima” (Muttafaqun ‘alaihi).

Al-Kais dalam hadits ini maksudnya adalah jima demikian dijelaskan oleh Ibnul A’rabi dan Ibnu Hajar. (lihat Fat-hul Baari (IX/254).

b. Malam-malam bahagia

Manfaatkanlah malam-malam bahagia, seperti malam walimah kerabat dan handai taulan. Karena malam-malam seperti ini biasanya membangkitkan kenangan indah dan membuncahkan rasa suka cita, sehingga siap untuk melakukan jima’ dalam rangka mendapatkan kebahagiaan.

C. Damai setelah bertikai

Kadang, perselisihan terjadi di antara kalian berdua hingga mengeruhkan dan mengotori segarnya suasana dan merenggangkan jalinan cinta. Dengan anugerah Allah ﷻ beberapa saat kemudian perselisihanpun reda. Suasana kembali segar dan pikiran kembali jernih. Maka hiasilah malamnya dengan senda gurau, canda dan lakukan jima’ untuk menyempurnakan keindahannya. Kikis habislah sisa-sisa luka yang masih ada, bukalah lembaran baru dengan hari-hari yang penuh suasana indah dan lupakan kenanga pahit saat-saat bertikai.

d. Saat-saat meraih kesuksesan

Ini termasuk waktu yang baik untuk melakukan jima’. Yaitu ketika kalian meraih kesuksesan, dalam pekerjaan misalnya. Sebab ketika itu kebahagiaan sedang meliputi jiwa pun terasa lapang, dan siap untuk meneguk madu kenikmatan dan kebahagiaan.

10. Berikan sentuhan-sentuhan mesra di luar jima’

Sebagian suami kurang memahami bahwa setiap wanita membutuhkan hal ini. Mereka hanya mau berlaku mesra dengan istrinya ketika ia menghendaki hubungan intim saja. Padahal bisa jadi seorang wanita lebih merasakan kebahagiaan dengan sentuhan-sentuhan hangat seperti ini daripada hubungan intim itu sendiri. Contohnya seperti, berbisik manja, membelai rambut, menggenggam tangan, mencium kening, merebahkan kepala di dada dan lain sebagainya. Ini perlu dijadikan ‘kamus’ agar hubungan suami istri makin intim dan mesra, makin berwarna dan berasa.


11. Menjaga Rahasia Suami-Isteri

Menjaga Rahasia Suami-Isteri

Sebagai wujud kedekatan perasaan dan jiwa di antara sepasang suami istri, kadang suami menceritakan rahasia pribadinya kepada istri dan sebaliknya, istri menceritakan rahasia pribadinya kepada suami. Sebab menyimpan rahasia seorang diri adalah beban jiwa yang sangat berat. Maka merekapun saling membuka diri guna meringankan beban jiwa ini. Namun, masing-masing mereka tentu tidak suka bila rahasia pribadi itu diketahaui orang lain, selain mereka berdua.

Karena itu, demi menjaga keharmonisan dan keutuhan rumah tangga, kalian harus saling menjaga rahasia.

Kadang terjadi persoalan dalam kehidupan rumah tangga yang berakhir dengan munculnya celaan, umpatan, bahkan perilaku buruk lain, yang tak terkendali. Semua ini adalah rahasia rumah tangga yang seharusnya tidak sampai keluar dinding rumah. Sebaliknya, harus di lokalisir untuk diselesaikan berdua dengan pikiran yang jernih, hati yang dingin, dan sikap arif bijaksana.

Termasuk dalam hal ini menutup aib rapat-rapat. Sebab setiap manusia pasti punya aib dan kekurangan. Orang yang paling tahu aib dan kekurangan suami adalah istri. Sebaliknya yang yang paling tau aib dan kekurangan istri adalah suami. Tutupilah serapat mungkin aib pasangann karena pada hekekatnya, itu juga aibmu. Kehormatan kalian adalah satu. Harga diri kalian adalah satu.

Termasuk rahasia yang harus di jaga rapat adalah urusan jima’. Menceritakan rahasia semacam itu mencerminkan miskinnya kehormatan diri dan minimnya rasa malu selain memang tak ada faedahnya. Oleh karena itu, Islam melarangnya dengan keras. Rasulullah ﷺ bersabda, “ketahuilah, mungkin ada di antara kamu yang berhubungan intim dengan istrinya, ia telah menutup pintu, ia telah menurunkan tirai dan menunaikan hajat biologisnya bersama istrinya. Kemudian apabila ia keluar, ia menceritakan hal itu kepada teman-temannya. Ketahuilah, barangkali ada di antara kalian para istri, yang telah menutup pintu rumahnya, menurunkan tirainya dan sesudah ia menunaikan hajat biologisnya ia menceritakannya kepada teman-temannya.” 

Salah seorang wanita yang montok pipinya berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya para suami dan para istri pasti akan melakukannya.” 

Rasulullah ﷺ berkata: “Jangan kalian lakukan, karena sesungguhnya perumpamaan mereka itu seperti setan laki-laki bertemu dengan setan perempuan di tengah jalan kemudian menunaikan hajat biologisnya di situ kemudian si setan laki-laki pergi meninggalkannya.” (Hadits Ini diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri dis . Syaikh A-Albani menyatakan dalam Shahih Targhib wat Tarhib (2023): Hasan Iighairihi)

Ya Allah tutupilah aurat kami di dunia dan di akhirat Saudaraku, para suami yang shalih… 

Perilaku menyebarkan rahasia itu sangat buruk akibatnya. la dapat menghilangkan kepercayaan, menambah keruhnya hati, bahkan dapat membuka pintu pengkhianatan lebar-lebar.

Ingatlah sabda Rasulullah ﷺ :

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim (di dunia), maka Allah akan menutupi (dosanya) pada hari Kiamat.” (Hadits riwayat Muslim).

Sungguh betapa besar dan agung keutamaan itsar (mementingkan orang lain) dan betapa agung makna penjagaan rahasia. Karena itulah yang akan menambah kepercayaan dan mengokohkan jalinan kasih sayang antara kalian berdua.


 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button