Tazkiyatun Nufus

13 Kiat Menggapai Kesucian Jiwa dari Madrasah Ramadhan

Madrasah Keenam: Berhias Akhlak Mulia

Puasa tidak hanya menahan  makan dan  minum semata. Akan tetapi, lebih  dari  itu, menahan anggota badan dari bermaksiat  kepada Allah Azza wa Jalla: menahan mata dari  melihat yang  haram, menjauhkan telinga dari  mendengar yang haram, menahan lisan dari mencaci dan  menggunjing (berghibah), serta menjaga kaki  untuk tidak  melangkah ke  tempat  maksiat. Rasulullah ﷺ  bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

 الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan berbuat  bodoh. Apabila ada yang memerangimu atau mencelamu, maka katakanlah aku sedang puasa”. (HR.Bukhari 4/103, Muslim 1151).

Dalam hadits yang lain rasulullah bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya serta kebodohan, maka Alloh tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya. (HR.Bukhari: 1903)

Hal  ini  menunjukkan bahwa tiga  hal  di  atas mempengaruhi  pahala  puasa  dan menguranginya, namun apakah sampai membatalkan puasa? Mayoritas ulama mengatakan  tidak batal, sampai  Imam Ahmad  Rahimahullah mengatakan: “Seandainya ghibah membatalkan puasa,  maka tidak  ada yang sah  puasa kita.”

Dari sinilah kita  mengetahui hikmah yang mendalam dari  disyari’atkannya puasa.  Andaikan kita  terlatih dengan tarbiyah yang  agung semacam ini, sungguh Ramadhan akan  berlalu sedangkan  manusia berada dalam akhlak yang  agung, berpegang dengan akhlak dan  adab,  karena itu adalah tarbiyah yang  nyata. (Asy-Syarh al-Mumthi’ 6/431).

Akhlak kepada sesama manusia sangat penting sekali  untuk kita  perhatikan. Oleh karenanya, banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an dan  hadits Nabi yang  menunjukkan keutamaan akhlak mulia.  Diantaranya:

1.  Sebab masuk surga

Jalan  menuju  surga sangat  banyak, diantaranya  adalah dengan berakhlak mulia.  Akhlak  mulia merupakan amalan yang  bisa  menghantarkan pelakunya ke dalam surga.  Berdasarkan hadits:

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

2. Orang yang paling dekat dengan Nabi pada hari kiamat

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling cinta kepadaku dan orang yang paling dekat  kedudukannya dariku pada hari kiamat  kelak adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR.Tirmidzi 2018, dihasankan oleh  Al-Albani dalam  As-Shahi- hah 791).

3. Memberatkan timbangan

Akhlak mulia  merupakan amalan yang  terpuji, oleh karena itu ia dapat memberatkan timbangan seseorang pada hari kiamat. Berdasarkan hadits:

Dari Abu Darda’ Radhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi ﷺ bersabda,

مَا مِنْ شَيءٍ في الِميزانِ أَثْقَلُ مِن حُسْنَ الخُلُقِ

“Tidak ada yang lebih berat  pada timbangan seorang  hamba  pada  hari  kiamat  dibandingkan Akhlak yang mulia”.  (HR. Abu Dawud 4799, Tirmidzi 2002, Ahmad 6/446, Ibnu Hiban 481, Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 876, Shahih Adab Mufrod 204).

******

Madrasah Ketujuh: Bersyukur Atas Nikmat Allah Azza wa Jalla

Termasuk hikmah puasa adalah mengingatkan kepada  seluruh  hamba  akan besarnya nikmat Allah Azza wa Jalla. Karena seorang hamba akan  menyadari betapa besarnya  nikmat kenyang  dan  merasakan  nikmatnya dalam makan dan  minum saat dia  merasa lapar dan  haus.  Ketika  dia  kenyang setelah  sebelumnya  merasa  lapar, atau  hilang dahaganya  ketika  sebelumnya  kehausan  maka hal ini akan  mendorong untuk bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Sadarilah hal  ini wahai saudaraku, jadikanlah puasamu sebagai media untuk lebih  meningkatkan rasa  syukur kepada Allah Azza wa Jalla. (As-Shiyam Fil Islam hal. 28, DR.Sa’id bin Ali al-Qohtoni)

Oleh karenanya, wajib  bagi  kita  untuk bersyukur, karena orang yang bersyukur itu manfaatnya sejatinya kembali kepada dirinya,  seperti yang difirmankan oleh  Allah Azza wa Jalla  dalam surat Ibrahim ayat  ke-7, “Jika kamu  bersyukur,  niscaya  Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar  sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)

Jadi, kalau  kita bersyukur hakikatnya manfaatnya kembali kepada diri  kita  sendiri, karena dengan kita  bersyukur nikmat-nikmat yang  telah Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita ini akan  dijaga, tidak  di- cabut oleh  Allah Azza wa Jalla. Makanya, syukur itu  disebut oleh para ulama dengan ‘al-hafizh’  yaitu ‘penjaga’. Kenapa syukur itu  disebut penjaga, karena syukur itu  bisa  menjaga dan mengikat nikmat Allah Azza wa Jalla, supaya tidak  dicabut oleh  Allah Azza wa Jalla. Umar  bin Abdul  Aziz (W.101 H)  Rahimahullah berkata,  “Ikatlah nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla itu  dengan syukur.” (Asy Syukru oleh Ibnu Abi Dunya hlm. 13).

Betapa  banyak orang yang  Allah Azza wa Jalla berikan nikmat kepadanya, tetapi karena dia  tidak bersyukur,  maka Allah Azza wa Jalla  cabut  nikmat  darinya. Lihatlah Qarun.  Allah Azza wa Jalla  telah memberikan harta yang  melimpah kepadanya,  tapi akhirnya,  Allah Azza wa Jalla  tenggelamkan dia  karena dia  tidak bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Lihat juga  penduduk Saba`, salah  satu tempat di  Yaman. Suatu  tempat yang  ma  syaa Allah Azza wa Jalla indah,  hijau,  mengalir di dalamnya sungai-sungai, bagai  surga dunia,  tapi  tatkala penduduknya tidak  bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah Azza wa Jalla ubah kota  tersebut menjadi tandus, kering.  Inilah  aki- bat orang-orang  yang tidak bersyukur  kepada Allah Azza wa Jalla. Akan dicabut nikmat tersebut dari  kita. Maka rawatlah nikmat yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita  dengan cara  kita  bersyukur. Dikatakan oleh seorang penyair,

إِذَا كُنتُ فِيْ نِعْمَةٍ فَارْعَهَا … فَإِنَّ الْمَعَاصِيَ تُزِيْلُ النَّعَمَ

وَدَاوِمْ عَلَيْهَا بِشُكْرِ الإِلُهِ … فَشُكْرُ الإِلُهِ يُزِيلُ النَّقَمَ

Jika kau berada dalam nikmat,  maka rawatlah, ….. karena sesungguhnya kemaksiatan itu bisa menghilangkan nikmat

Dan peliharalah  nikmat itu  dengan  mensyukuri Ilah, …..  karena syukur Ilah itu menghilangkan petaka

Maka wajib bagi  kita untuk  bersyukur atas nikmat tersebut. Dan  syukur harus diwujudkan dengan tiga  hal yaitu:

1.  Dengan hati yaitu meyakini bahwa nikmat itu hanya berasal dari Allah Azza wa Jalla semata, bukan menyandarkan kepada dirinya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu  meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)

Bukan karena kehebatan kita,  bukan karena kejeniusan  kita, bukan  karena  tim kita, tetapi karena Allah Azza wa Jalla. Ini perlu diperhatikan baik-baik, karena seringkali kita  kalau  sukses lupa  daratan.

‘Ini berkat kerja  keras  kita,  oh  ini berkat kekompakan kita…’  Dia lupa  bahwa yang  memudahkan dia untuk sukses adalah Allah Azza wa Jalla.

2. Dengan lisan yaitu senantiasa memuji Allah Azza wa Jalla dengan berucap Alhamdulillah.

Syukur dengan lisan, yaitu dengan memuji Allah Azza wa Jalla, menyanjung Allah Azza wa Jalla dengan mengucapkan ‘alham- dulillah’, karena Allah Azza wa Jalla berhak untuk mendapatkan pujian. Allah Azza wa Jalla berhak mendapatkan pujian, karena banyak memberikan  nikmat  kepada kita.  Karenanya,  Rasulullah ﷺ  sering mengajarkan kepada kita untuk  mengucapkan ‘alhamdulillah’  dalam beberapa momen. Contohnya setelah makan kita dianjurkan mengucapkan ‘alhamdulillah’, bangun tidur ‘alhamdulillah’, setelah bersin ‘alhamdulillah’ dan  seterusnya, banyak keadaan Nabi ﷺ mengajarkan kita  untuk mengucapkan ‘alhamdulillah’.

3. Dengan anggota  badan yaitu  menggunakan nikmat  tersebut untuk  ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk bermaksiat  kepada Allah Azza wa Jalla.

(Ad Durratul Al Fakhirah fi Ta’liq ‘ala Mandzumah Sairi Ila Allah Azza wa Jallaa Daar Akhirat hlm. 21 karya Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As Sa’di).

Kalau  kita  diberi harta harta, kita  kita  gunakan  untuk  ibadah kepada Allah Azza wa Jalla.  Kita  pakai untuk sedekah, untuk  membangun masjid, untuk mendukung dakwah, dan  lain  sebagainya. Kalau kita  diberi  kesehatan, kita  kita  pakai  untuk ibadah. Kalau kita  diberi  pangkat, kita  jadikan untuk hal-hal yang bermanfaat, untuk menolong agama Allah Azza wa Jalla, dan  untuk menolong manusia.

Tetapi  jika  kita  diberi  nikmat, kemudian setelah mendapatkan nikmat tersebut justru menjadikan kita  semakin jauh  dari  Allah Azza wa Jalla, berarti itu namanya tidak  bersyukur. Sejatinya itu bukan nikmat, tapi  itu adalah petaka yang menghampiri kita.  Dahulu, seorang ulama Abu  Hazim (W.133 H) Rahimahullah pernah mengatakan:

“Setiap  nikmat yang tidak  menjadikan dirimu semakin dekat kepada Allah Azza wa Jalla, maka itu  adalah petaka.”( Tahdzibul Kamal 11/277).

Hati-hati. Setiap nikmat yang  tidak  menjadikan diri  kita  semakin dekat sama  Allah Azza wa Jalla, maka itu  adalah bencana. Sebaliknya kata  para  Syaikhul  Islam  Rahimahullah:

Musibah yang menjadikan dirimu semakin dekat dengan Allah Azza wa Jalla maka itu  adalah anugerah”. (Jami’ul Masail 9/387).

*****

Madrasah  Kedelapan: Sabar

Puasa  adalah jihad  melawan hawa nafsu  dan melatih kesabaran. Dalam  puasa terdapat tiga macam kesabaran:

  1. Sabar  dalam ketaatan
  2. Sabar  dalam meninggalkan kemaksiatan
  3. Sabar  menerima takdir.

Alangkah  bagusnya yang diucapkan oleh imam Ibnu Rajab Rahimahullah tatkala berkata; “Sabar itu ada tiga macam; sabar dalam mengerjakan ketaatan  kepada  Allah Azza wa Jalla, sabar  dalam meninggalkan larangan Allah Azza wa Jalla  dan sabar  dalam  menerima  takdir  Allah Azza wa Jalla yang menyakitkan. Semua  jenis sabar  ini terkumpul dalam ibadah puasa.  Karena  dalam puasa terdapat sabar  dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sabar  dalam meninggalkan apa  yang  Allah Azza wa Jalla haramkan dari  kelezatan syahwat, dan  sabar untuk menerima apa  yang  dia  dapat berupa rasa sakit  dengan kelaparan dan haus, lemasnya badan dan  jiwa”. (Lathoiful Ma’arif hal.284, Ibnu Rojab).

Oleh karenanya, dalam perjalanan hidup di dunia ini kita  butuh untuk bersabar. Dalam  perjalanan  dunia saja, biasanya kita capek,  panas,  macet, mobilnya rusak,  mungkin kecopetan dan  lain sebagainya, kita  butuh  kepada kesabaran. Kalau untuk perjalanan dunia saja  kita  harus bersabar, apalagi untuk perjalanan menuju kampung akhirat, tentulah  dibutuhkan  kesabaran. Dunia ini memang tempatnya ujian  dan  cobaan. Seseorang tidak  mungkin  menggapai  surga  Allah Azza wa Jalla,  kecuali  dengan kesabaran. Sabar  dalam menghadapi kelelahan dan  keletihan ujian  serta cobaan yang merintanginya. Pernah dikatakan  kepada Imam Ahmad  bin  Hanbal (W.241 H) Rahimahullah‘Kapan  orang itu  istirahat, wahai Imam,  wahai Abu Abdillah?’ Kapan  orang itu  istirahat, tidak capek lagi  dan tidak  lelah?  Apa kata  beliau,  “Ketika dia menginjakkan pertama kali kakinya di surga.”  (Thabaqatul Hanabilah 1/293).

Imam Ibnul  Qayyim  Rahimahullah berkata: “Manusia semenjak mereka diciptakan senantiasa menjadi musafir,  tidak ada  terminal akhir untuk mereka  kecuali surga atau  neraka. Orang yang  cerdas  menyadari bahwa safar  itu  pasti  melelahkan dan  menantang  bahaya, dan  biasanya mustahil seorang musafir merasakan kenikmatan dan kelezatan serta istirahat  melainkan usai  selesai safarnya”. (Al Fawaid hlm. 229).

Dunia  ini memang tempatnya untuk berlelah-lelah. Surga tidak  didapatkan  dengan  santai-santai, tapi surga didapatkan dengan keletihan dan  kesabaran. Makanya, di dalam Al-Qur’an, ketika Allah Azza wa Jalla menjelaskan tentang  kenikmatan surga:

وَٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ وَيَدْرَءُونَ بِٱلْحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى ٱلدَّارِ ٢٢ جَنَّـٰتُ عَدْنٍۢ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَٰجِهِمْ وَذُرِّيَّـٰتِهِمْ ۖ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍۢ ٢٣  سَلَـٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى ٱلدَّارِ ٢٤

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan  serta menolak  kejahatan  dengan kebaikan;  orang-orang  itulah  yang mendapat tempat kesudahan (yang  baik),  (yaitu)  surga  ‘Adn yang mereka  masuk  ke  dalamnya  bersama-sama dengan  orang-orang  yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya  dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk  ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salam bagi kalian atas kesabaran  kalian”. Maka alangkah  baiknya  tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’du: 22-24)

Demikian juga  di  dalam surat Al-Furqon  ayat ke-75, ketika Allah Azza wa Jalla  menjelaskan tentang  ‘Ibadur- rahman (hamba-hamba  Yang  Maha Pemurah), Allah Azza wa Jalla berfirman:

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا 

“Mereka itulah  orang yang dibalas dengan  tempat  yang tinggi (dalam  surga) karena  kesabaran mereka,  dan mereka  disambut dengan  penghormatan dan  ucapan  selamat di dalamnya.” (QS. Al-Furqon: 75)

Jadi, kalau  kita ingin  mendapatkan surga,  kunci utamanya adalah dengan sabar.  Dan  sabar  itu keutamaannya sangat banyak sekali.  Kata Imam Ahmad  Rahimahullah, “Allah Azza wa Jalla Ta’ala menyebutkan kata  sabar di dalam Al-Qur’an di sekitar 90 tempat”.

Kata  Umar  bin  Khathab Radhiyallahu’anhu: “Kami mendapati kebaikan hidup kami  dengan sabar”. (Diriwayatkan  Ibnu  Abi Dunya dalam  Ash Shabru wa Tsawabu Alaihi hlm. 48)

Kata sahabat  Ali bin  Abi Thalib  Radhiyallahu’anhu“Sabar  dari  iman itu bagaikan kepala bagi badan. Siapa yang tidak  me- miliki kesabaran, maka tidak  ada iman  baginya.” (Diriwayatkan Abu Nuaim dalam Al Hilyah 1/75 dan Ibnu Abi Dunya dalam Ash Shabru wa Tsawabu Alaihi hlm. 8).

Hal itu karena sabar  masuk dalam setiap masalah agama dan  lini kehidupan. (Lihat ‘Uddatu Shabirin hlm. 111).

Allah Azza wa Jalla  memerintahkan manusia untuk bersabar dalam  banyak  ayat-Nya sekitar  93  ayat, semuanya ini menunjukkan betapa pentingnya kesabaran. Dan sabar ada  tiga  macam:

1.  Sabar dalam menjalankan  ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla

Sabar dalam  menjalankan  perintah-perintah Allah Azza wa Jalla,  karena  untuk  melakukan shalat  kita butuh sabar, menuntut ilmu  butuh sabar, baik sabar  meluangkan waktu, sabar  duduk di majlis, sabar  mendengarkan, sabar mencatat, sabar memahami, sabar  menghafal, dan  sabar  mengamalkan.  Semuanya butuh  kesabaran. Demikian juga mendidik anak,  mendidik istri,  semua butuh kesabaran. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.  Kami tidak meminta rezeki  kepadamu,  Kamilah yang memberi rezeki  kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha:  132)

2. Sabar dalam meninggalkan larangan Allah Azza wa Jalla

Sabar  dalam meninggalkan larangan-larangan Allah Azza wa Jalla, karena larangan-larangan Allah Azza wa Jalla itu  biasanya menggoda, karena  sesuai dengan  selera hawa nafsu  kita.  Dan  hawa nafsu  itu  seringkali mengajak kepada maksiat dan  dosa, makanya disebutkan oleh  Nabi ﷺ:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu  dikelilingi  dengan  hal-hal  yang  tidak disukai  hawa  nafsu,  dan  neraka  itu  dikelilingi dengan  hal-hal  yang  disukai  hawa  nafsu.” (HR. Muslim)

Orang disuruh  pengajian,  mungkin  dikasih uang  belum tentu datang, tapi  kalau  untuk maksiat, walaupun harus membayar tiketnya berjuta- juta  pun  dia  akan  mau  karena selera hawa nafsunya.  Makanya, dibutuhkan kesabaran dalam meninggalkan larangan-larangan Allah Azza wa Jalla. Harus jihad  melawan hawa nafsu.  Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَࣖ 

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami,  Kami  akan  tunjukkan  kepada mereka jalan-jalan Kami.  Dan  sungguh, Allah beserta  orang-orang yang berbuat  baik.” (QS. Al-Ankabut:  69)

Lebih-lebih kalau sudah kecanduan, ini  perlu perjuangan ekstra. Orang  misalkan mau  meninggalkan narkoba,  dan  dia  sudah kecanduan, itu  perjuangannya berat. Tapi  itulah kesabaran. Sabar  dalam meninggalkan larangan Allah Azza wa Jalla.

3. Sabar dalam menghadapi cobaan Allah Azza wa Jalla.

Sabar dalam menghadapi ujian-ujian dari  Allah Azza wa Jalla, karena hidup ini  tidak selalu  membuat kita tersenyum. Terkadang kita tersenyum bahagia, bergembira, tapi  terkadang juga kita harus mene- teskan air  mata, kita  harus bersedih. Oleh  karenanya,  kita  harus pandai menghadapi kehidupan dunia ini.  Kalau kita  mendapatkan nikmat, bersyukurlah, dan  kalau  kita  mendapatkan ujian  dan musibah, bersabarlah. Itulah kunci kebahagiaan dalam  hidup,  ketika  kita memiliki syukur dan memiliki sabar.  Sebagaimana kata  Nabi ﷺ:

عَنْ صُهَيْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim, no. 5318)

Maka  bersabarlah ketika  kita  menghadapi ujian.  Kalau ini kita  terapkan, niscaya hidup kita akan bahagia. Seorang mukmin harus tegar,  harus kuat,  apapun yang  menimpa dirinya.  Percayalah, Allah Azza wa Jalla akan  bersama kita.  Jangan  cengeng. Jangan stress, galau, apalagi bunuh  diri,  karena ujian  dan  cobaan yang  Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita. Hanya  orang-orang yang  lemah imannya, ketika diuji oleh Allah Azza wa Jalla, dia stress, galau, apalagi bunuh diri.

Di  negara-negara kafir,  banyak orang bunuh diri, kenapa?  Karena tidak  beriman. Adapun orang-orang yang beriman, mereka adalah orang- orang yang  kuat. Terkadang,  orang-orang yang tidak  beriman itu  hanya karena cobaan yang  sepele  bunuh diri,  hanya gara-gara di-PHK, bunuh bunuh diri, hanya karena dibully netizen, bunuh diri. Banyak  kasus  seperti itu. Tetapi  orang-orang yang beriman, mereka menghadapi hidup ini santai. Kalau dia mendapatkan nikmat dari  Allah Azza wa Jalla, ia  bersyukur, dan  kalau dia  mendapatkan  ujian dia  bersabar, sehingga hidupnya tenang dan  bahagia.

*****

Bagaimana penilaian antum terhadap Ebook ini?

Perkenankanlah kami  pada kesempatan  kali  ini  untuk  menyampaikan beberapa pelajaran tazkiyah nufus dari  madrasah Ramadhan. Semoga  dapat kita  fahami dan  dapat kita  wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.

User Rating: 5 ( 1 votes)
Previous page 1 2 3Next page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button