13 Kiat Menggapai Kesucian Jiwa dari Madrasah Ramadhan

Madrasah Keenam: Berhias Akhlak Mulia
Puasa tidak hanya menahan makan dan minum semata. Akan tetapi, lebih dari itu, menahan anggota badan dari bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla: menahan mata dari melihat yang haram, menjauhkan telinga dari mendengar yang haram, menahan lisan dari mencaci dan menggunjing (berghibah), serta menjaga kaki untuk tidak melangkah ke tempat maksiat. Rasulullah ﷺ bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan berbuat bodoh. Apabila ada yang memerangimu atau mencelamu, maka katakanlah aku sedang puasa”. (HR.Bukhari 4/103, Muslim 1151).
Dalam hadits yang lain rasulullah bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya serta kebodohan, maka Alloh tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya. (HR.Bukhari: 1903)

Hal ini menunjukkan bahwa tiga hal di atas mempengaruhi pahala puasa dan menguranginya, namun apakah sampai membatalkan puasa? Mayoritas ulama mengatakan tidak batal, sampai Imam Ahmad Rahimahullah mengatakan: “Seandainya ghibah membatalkan puasa, maka tidak ada yang sah puasa kita.”
Dari sinilah kita mengetahui hikmah yang mendalam dari disyari’atkannya puasa. Andaikan kita terlatih dengan tarbiyah yang agung semacam ini, sungguh Ramadhan akan berlalu sedangkan manusia berada dalam akhlak yang agung, berpegang dengan akhlak dan adab, karena itu adalah tarbiyah yang nyata. (Asy-Syarh al-Mumthi’ 6/431).
Akhlak kepada sesama manusia sangat penting sekali untuk kita perhatikan. Oleh karenanya, banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Nabi yang menunjukkan keutamaan akhlak mulia. Diantaranya:
1. Sebab masuk surga
Jalan menuju surga sangat banyak, diantaranya adalah dengan berakhlak mulia. Akhlak mulia merupakan amalan yang bisa menghantarkan pelakunya ke dalam surga. Berdasarkan hadits:
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
2. Orang yang paling dekat dengan Nabi pada hari kiamat
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang yang paling cinta kepadaku dan orang yang paling dekat kedudukannya dariku pada hari kiamat kelak adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR.Tirmidzi 2018, dihasankan oleh Al-Albani dalam As-Shahi- hah 791).
3. Memberatkan timbangan
Akhlak mulia merupakan amalan yang terpuji, oleh karena itu ia dapat memberatkan timbangan seseorang pada hari kiamat. Berdasarkan hadits:
Dari Abu Darda’ Radhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi ﷺ bersabda,
مَا مِنْ شَيءٍ في الِميزانِ أَثْقَلُ مِن حُسْنَ الخُلُقِ
“Tidak ada yang lebih berat pada timbangan seorang hamba pada hari kiamat dibandingkan Akhlak yang mulia”. (HR. Abu Dawud 4799, Tirmidzi 2002, Ahmad 6/446, Ibnu Hiban 481, Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 876, Shahih Adab Mufrod 204).
******
Madrasah Ketujuh: Bersyukur Atas Nikmat Allah Azza wa Jalla
Termasuk hikmah puasa adalah mengingatkan kepada seluruh hamba akan besarnya nikmat Allah Azza wa Jalla. Karena seorang hamba akan menyadari betapa besarnya nikmat kenyang dan merasakan nikmatnya dalam makan dan minum saat dia merasa lapar dan haus. Ketika dia kenyang setelah sebelumnya merasa lapar, atau hilang dahaganya ketika sebelumnya kehausan maka hal ini akan mendorong untuk bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Sadarilah hal ini wahai saudaraku, jadikanlah puasamu sebagai media untuk lebih meningkatkan rasa syukur kepada Allah Azza wa Jalla. (As-Shiyam Fil Islam hal. 28, DR.Sa’id bin Ali al-Qohtoni)
Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk bersyukur, karena orang yang bersyukur itu manfaatnya sejatinya kembali kepada dirinya, seperti yang difirmankan oleh Allah Azza wa Jalla dalam surat Ibrahim ayat ke-7, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)
Jadi, kalau kita bersyukur hakikatnya manfaatnya kembali kepada diri kita sendiri, karena dengan kita bersyukur nikmat-nikmat yang telah Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita ini akan dijaga, tidak di- cabut oleh Allah Azza wa Jalla. Makanya, syukur itu disebut oleh para ulama dengan ‘al-hafizh’ yaitu ‘penjaga’. Kenapa syukur itu disebut penjaga, karena syukur itu bisa menjaga dan mengikat nikmat Allah Azza wa Jalla, supaya tidak dicabut oleh Allah Azza wa Jalla. Umar bin Abdul Aziz (W.101 H) Rahimahullah berkata, “Ikatlah nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla itu dengan syukur.” (Asy Syukru oleh Ibnu Abi Dunya hlm. 13).
Betapa banyak orang yang Allah Azza wa Jalla berikan nikmat kepadanya, tetapi karena dia tidak bersyukur, maka Allah Azza wa Jalla cabut nikmat darinya. Lihatlah Qarun. Allah Azza wa Jalla telah memberikan harta yang melimpah kepadanya, tapi akhirnya, Allah Azza wa Jalla tenggelamkan dia karena dia tidak bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Lihat juga penduduk Saba`, salah satu tempat di Yaman. Suatu tempat yang ma syaa Allah Azza wa Jalla indah, hijau, mengalir di dalamnya sungai-sungai, bagai surga dunia, tapi tatkala penduduknya tidak bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah Azza wa Jalla ubah kota tersebut menjadi tandus, kering. Inilah aki- bat orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Akan dicabut nikmat tersebut dari kita. Maka rawatlah nikmat yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita dengan cara kita bersyukur. Dikatakan oleh seorang penyair,
إِذَا كُنتُ فِيْ نِعْمَةٍ فَارْعَهَا … فَإِنَّ الْمَعَاصِيَ تُزِيْلُ النَّعَمَ
وَدَاوِمْ عَلَيْهَا بِشُكْرِ الإِلُهِ … فَشُكْرُ الإِلُهِ يُزِيلُ النَّقَمَ
Jika kau berada dalam nikmat, maka rawatlah, ….. karena sesungguhnya kemaksiatan itu bisa menghilangkan nikmat
Dan peliharalah nikmat itu dengan mensyukuri Ilah, ….. karena syukur Ilah itu menghilangkan petaka
Maka wajib bagi kita untuk bersyukur atas nikmat tersebut. Dan syukur harus diwujudkan dengan tiga hal yaitu:
1. Dengan hati yaitu meyakini bahwa nikmat itu hanya berasal dari Allah Azza wa Jalla semata, bukan menyandarkan kepada dirinya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)
Bukan karena kehebatan kita, bukan karena kejeniusan kita, bukan karena tim kita, tetapi karena Allah Azza wa Jalla. Ini perlu diperhatikan baik-baik, karena seringkali kita kalau sukses lupa daratan.
‘Ini berkat kerja keras kita, oh ini berkat kekompakan kita…’ Dia lupa bahwa yang memudahkan dia untuk sukses adalah Allah Azza wa Jalla.
2. Dengan lisan yaitu senantiasa memuji Allah Azza wa Jalla dengan berucap Alhamdulillah.
Syukur dengan lisan, yaitu dengan memuji Allah Azza wa Jalla, menyanjung Allah Azza wa Jalla dengan mengucapkan ‘alham- dulillah’, karena Allah Azza wa Jalla berhak untuk mendapatkan pujian. Allah Azza wa Jalla berhak mendapatkan pujian, karena banyak memberikan nikmat kepada kita. Karenanya, Rasulullah ﷺ sering mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan ‘alhamdulillah’ dalam beberapa momen. Contohnya setelah makan kita dianjurkan mengucapkan ‘alhamdulillah’, bangun tidur ‘alhamdulillah’, setelah bersin ‘alhamdulillah’ dan seterusnya, banyak keadaan Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk mengucapkan ‘alhamdulillah’.
3. Dengan anggota badan yaitu menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.
(Ad Durratul Al Fakhirah fi Ta’liq ‘ala Mandzumah Sairi Ila Allah Azza wa Jallaa Daar Akhirat hlm. 21 karya Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As Sa’di).
Kalau kita diberi harta harta, kita kita gunakan untuk ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Kita pakai untuk sedekah, untuk membangun masjid, untuk mendukung dakwah, dan lain sebagainya. Kalau kita diberi kesehatan, kita kita pakai untuk ibadah. Kalau kita diberi pangkat, kita jadikan untuk hal-hal yang bermanfaat, untuk menolong agama Allah Azza wa Jalla, dan untuk menolong manusia.
Tetapi jika kita diberi nikmat, kemudian setelah mendapatkan nikmat tersebut justru menjadikan kita semakin jauh dari Allah Azza wa Jalla, berarti itu namanya tidak bersyukur. Sejatinya itu bukan nikmat, tapi itu adalah petaka yang menghampiri kita. Dahulu, seorang ulama Abu Hazim (W.133 H) Rahimahullah pernah mengatakan:
“Setiap nikmat yang tidak menjadikan dirimu semakin dekat kepada Allah Azza wa Jalla, maka itu adalah petaka.”( Tahdzibul Kamal 11/277).
Hati-hati. Setiap nikmat yang tidak menjadikan diri kita semakin dekat sama Allah Azza wa Jalla, maka itu adalah bencana. Sebaliknya kata para Syaikhul Islam Rahimahullah:
“Musibah yang menjadikan dirimu semakin dekat dengan Allah Azza wa Jalla maka itu adalah anugerah”. (Jami’ul Masail 9/387).
*****
Madrasah Kedelapan: Sabar
Puasa adalah jihad melawan hawa nafsu dan melatih kesabaran. Dalam puasa terdapat tiga macam kesabaran:
- Sabar dalam ketaatan
- Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan
- Sabar menerima takdir.
Alangkah bagusnya yang diucapkan oleh imam Ibnu Rajab Rahimahullah tatkala berkata; “Sabar itu ada tiga macam; sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sabar dalam meninggalkan larangan Allah Azza wa Jalla dan sabar dalam menerima takdir Allah Azza wa Jalla yang menyakitkan. Semua jenis sabar ini terkumpul dalam ibadah puasa. Karena dalam puasa terdapat sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sabar dalam meninggalkan apa yang Allah Azza wa Jalla haramkan dari kelezatan syahwat, dan sabar untuk menerima apa yang dia dapat berupa rasa sakit dengan kelaparan dan haus, lemasnya badan dan jiwa”. (Lathoiful Ma’arif hal.284, Ibnu Rojab).
Oleh karenanya, dalam perjalanan hidup di dunia ini kita butuh untuk bersabar. Dalam perjalanan dunia saja, biasanya kita capek, panas, macet, mobilnya rusak, mungkin kecopetan dan lain sebagainya, kita butuh kepada kesabaran. Kalau untuk perjalanan dunia saja kita harus bersabar, apalagi untuk perjalanan menuju kampung akhirat, tentulah dibutuhkan kesabaran. Dunia ini memang tempatnya ujian dan cobaan. Seseorang tidak mungkin menggapai surga Allah Azza wa Jalla, kecuali dengan kesabaran. Sabar dalam menghadapi kelelahan dan keletihan ujian serta cobaan yang merintanginya. Pernah dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal (W.241 H) Rahimahullah, ‘Kapan orang itu istirahat, wahai Imam, wahai Abu Abdillah?’ Kapan orang itu istirahat, tidak capek lagi dan tidak lelah? Apa kata beliau, “Ketika dia menginjakkan pertama kali kakinya di surga.” (Thabaqatul Hanabilah 1/293).
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: “Manusia semenjak mereka diciptakan senantiasa menjadi musafir, tidak ada terminal akhir untuk mereka kecuali surga atau neraka. Orang yang cerdas menyadari bahwa safar itu pasti melelahkan dan menantang bahaya, dan biasanya mustahil seorang musafir merasakan kenikmatan dan kelezatan serta istirahat melainkan usai selesai safarnya”. (Al Fawaid hlm. 229).
Dunia ini memang tempatnya untuk berlelah-lelah. Surga tidak didapatkan dengan santai-santai, tapi surga didapatkan dengan keletihan dan kesabaran. Makanya, di dalam Al-Qur’an, ketika Allah Azza wa Jalla menjelaskan tentang kenikmatan surga:
وَٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ وَيَدْرَءُونَ بِٱلْحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى ٱلدَّارِ ٢٢ جَنَّـٰتُ عَدْنٍۢ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَٰجِهِمْ وَذُرِّيَّـٰتِهِمْ ۖ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍۢ ٢٣ سَلَـٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى ٱلدَّارِ ٢٤
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salam bagi kalian atas kesabaran kalian”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’du: 22-24)
Demikian juga di dalam surat Al-Furqon ayat ke-75, ketika Allah Azza wa Jalla menjelaskan tentang ‘Ibadur- rahman (hamba-hamba Yang Maha Pemurah), Allah Azza wa Jalla berfirman:
أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا
“Mereka itulah orang yang dibalas dengan tempat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (QS. Al-Furqon: 75)
Jadi, kalau kita ingin mendapatkan surga, kunci utamanya adalah dengan sabar. Dan sabar itu keutamaannya sangat banyak sekali. Kata Imam Ahmad Rahimahullah, “Allah Azza wa Jalla Ta’ala menyebutkan kata sabar di dalam Al-Qur’an di sekitar 90 tempat”.
Kata Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu: “Kami mendapati kebaikan hidup kami dengan sabar”. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Ash Shabru wa Tsawabu Alaihi hlm. 48)
Kata sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu, “Sabar dari iman itu bagaikan kepala bagi badan. Siapa yang tidak me- miliki kesabaran, maka tidak ada iman baginya.” (Diriwayatkan Abu Nuaim dalam Al Hilyah 1/75 dan Ibnu Abi Dunya dalam Ash Shabru wa Tsawabu Alaihi hlm. 8).
Hal itu karena sabar masuk dalam setiap masalah agama dan lini kehidupan. (Lihat ‘Uddatu Shabirin hlm. 111).
Allah Azza wa Jalla memerintahkan manusia untuk bersabar dalam banyak ayat-Nya sekitar 93 ayat, semuanya ini menunjukkan betapa pentingnya kesabaran. Dan sabar ada tiga macam:
1. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla
Sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah Azza wa Jalla, karena untuk melakukan shalat kita butuh sabar, menuntut ilmu butuh sabar, baik sabar meluangkan waktu, sabar duduk di majlis, sabar mendengarkan, sabar mencatat, sabar memahami, sabar menghafal, dan sabar mengamalkan. Semuanya butuh kesabaran. Demikian juga mendidik anak, mendidik istri, semua butuh kesabaran. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)
2. Sabar dalam meninggalkan larangan Allah Azza wa Jalla
Sabar dalam meninggalkan larangan-larangan Allah Azza wa Jalla, karena larangan-larangan Allah Azza wa Jalla itu biasanya menggoda, karena sesuai dengan selera hawa nafsu kita. Dan hawa nafsu itu seringkali mengajak kepada maksiat dan dosa, makanya disebutkan oleh Nabi ﷺ:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, dan neraka itu dikelilingi dengan hal-hal yang disukai hawa nafsu.” (HR. Muslim)
Orang disuruh pengajian, mungkin dikasih uang belum tentu datang, tapi kalau untuk maksiat, walaupun harus membayar tiketnya berjuta- juta pun dia akan mau karena selera hawa nafsunya. Makanya, dibutuhkan kesabaran dalam meninggalkan larangan-larangan Allah Azza wa Jalla. Harus jihad melawan hawa nafsu. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَࣖ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Lebih-lebih kalau sudah kecanduan, ini perlu perjuangan ekstra. Orang misalkan mau meninggalkan narkoba, dan dia sudah kecanduan, itu perjuangannya berat. Tapi itulah kesabaran. Sabar dalam meninggalkan larangan Allah Azza wa Jalla.
3. Sabar dalam menghadapi cobaan Allah Azza wa Jalla.
Sabar dalam menghadapi ujian-ujian dari Allah Azza wa Jalla, karena hidup ini tidak selalu membuat kita tersenyum. Terkadang kita tersenyum bahagia, bergembira, tapi terkadang juga kita harus mene- teskan air mata, kita harus bersedih. Oleh karenanya, kita harus pandai menghadapi kehidupan dunia ini. Kalau kita mendapatkan nikmat, bersyukurlah, dan kalau kita mendapatkan ujian dan musibah, bersabarlah. Itulah kunci kebahagiaan dalam hidup, ketika kita memiliki syukur dan memiliki sabar. Sebagaimana kata Nabi ﷺ:
عَنْ صُهَيْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim, no. 5318)
Maka bersabarlah ketika kita menghadapi ujian. Kalau ini kita terapkan, niscaya hidup kita akan bahagia. Seorang mukmin harus tegar, harus kuat, apapun yang menimpa dirinya. Percayalah, Allah Azza wa Jalla akan bersama kita. Jangan cengeng. Jangan stress, galau, apalagi bunuh diri, karena ujian dan cobaan yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita. Hanya orang-orang yang lemah imannya, ketika diuji oleh Allah Azza wa Jalla, dia stress, galau, apalagi bunuh diri.
Di negara-negara kafir, banyak orang bunuh diri, kenapa? Karena tidak beriman. Adapun orang-orang yang beriman, mereka adalah orang- orang yang kuat. Terkadang, orang-orang yang tidak beriman itu hanya karena cobaan yang sepele bunuh diri, hanya gara-gara di-PHK, bunuh bunuh diri, hanya karena dibully netizen, bunuh diri. Banyak kasus seperti itu. Tetapi orang-orang yang beriman, mereka menghadapi hidup ini santai. Kalau dia mendapatkan nikmat dari Allah Azza wa Jalla, ia bersyukur, dan kalau dia mendapatkan ujian dia bersabar, sehingga hidupnya tenang dan bahagia.
*****
Bagaimana penilaian antum terhadap Ebook ini?
Perkenankanlah kami pada kesempatan kali ini untuk menyampaikan beberapa pelajaran tazkiyah nufus dari madrasah Ramadhan. Semoga dapat kita fahami dan dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.


