13 Kiat Menggapai Kesucian Jiwa dari Madrasah Ramadhan

Madrasah Kesembilan: Do’a
Salah satu amalan utama di bulan Ramadhan adalah berdo’a, karena do’a adalah kunci kebaikan di dunia dan akhirat. Oleh karenanya, di sela- sela ayat tentang puasa Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mempunyai orang-orang yang akan dibebaskan (dari neraka) setiap hari dan malam. Setiap hamba dari mereka punya do’a yang mustajab.” (HR. Ahmad 12/420. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ No. 2169).
Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Yaitu pada bulan Ramadhan.” (Athraf al-Musnad 7/203, sebagaimana dalam ash-Shiyam fil Is-lam hlm. 34 Sa’id bin Ali al-Qahthani. Hal senada dikatakan pula oleh Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir 2/614).
Ini merupakan keutamaan besar bagi bulan Ramadhan dan orang yang berpuasa, menunjukkan keutamaan do’a dan orang yang berdo’a. (Faidhul Qadir 2/614 al-Munawi).
Rasulullah ﷺ bersabda;
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
“Tiga do’a yang tidak tertolak; do’a orang tua, do’a orang yang puasa dan do’a orang musafir (bepergian).” (HR. Baihaqi 3/345 dan lain-lain. Dicantumkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah No. 1797).
Sehebat apapun kita, yakinlah bahwa kita adalah orang yang lemah. Yang Maha Kuat, yang Maha Kaya, yang menentukan dan yang memudahkan semua urusan kita adalah Allah Azza wa Jalla. Maka jangan pernah sombong dengan diri kita, jangan terlalu pede dengan kehebatan kita. Bergantunglah kepada Allah Azza wa Jalla. Merengeklah kepada Allah Azza wa Jalla.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَيْسَ شَىْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ
“Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah daripada doa“. [HR. Tirmidzi 3370, Ibnu Majah: 3829, Ahmad 8748 dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Targhib: 1629].
Ma syaa Allah, tidak ada amalan yang lebih mulia dan lebih dicintai oleh Allah Azza wa Jalla daripada do’a, karena ketika orang itu berdo’a, berarti dia mengakui bahwa dirinya lemah. Karenanya, orang ketika berdo’a disyariatkan untuk mengangkat tangan, layaknya seperti seorang pengemis ketika dia minta sesuatu mengangkat tangannya. Dan tahu sendiri, pengemis itu merasa bahwa dia betul-betul butuh. Kalau tampangnya seperti orang yang tidak butuh, tidak ada orang yang mau memberi. Begitulah seorang hamba ketika dia berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla, hendaknya kita betul-betul merengek.

Sebagian ulama mengatakan: “Hendaknya kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla itu seperti anak kecil yang merengek, supaya minta dibukakan pintu rumahnya.” Ada anak kecil yang diusir oleh orang tuanya, suruh minggat, misalkan, dan dia ingin masuk ke dalam rumah tetapi tidak dibukakan pintu untuknya. Dia terus mengetuk pintu rumahnya, maka lama-kelamaan orang tuanya pasti akan luluh. Begitu juga hendaknya bagi kita ketika kita berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian belum diijabahi oleh Allah Azza wa Jalla, ketuk terus dengan do’a, in syaa Allah, Allah Azza wa Jalla pasti akan mengabulkan do’a kita, karena Allah Azza wa Jalla sudah berjanji untuk mengabulkan. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin: 60)
Jadi do’a sangat penting, jangan pernah tinggalkan do’a, terutama di waktu-waktu yang mustajab, seperti antara adzan dan iqomat, ketika turun hujan, ketika sujud, ketika sepertiga malam terakhir, kita berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla, karena do’a adalah kunci semua kebaikan di dunia dan akhirat.
*****
Madrasah Kesepuluh: Berjuang Melawan Hawa Nafsu dan Mengerem Syahwat
Dalam puasa, seorang muslim dituntut untuk melawan hawa nafsunya, dia harus sabar menahan rasa lapar dan dahaga serta keinginan bersenggama yang sangat disenangi oleh nafsu manusia. Dia lawan kemauan hawa nafsu tersebut untuk mendapatkan ridha dan kecintaan Allah Azza wa Jalla.
Demikianlah hendaknya setiap kita wahai kaum muslimin harus lebih mengedepankan cinta Allah Azza wa Jalla daripada kemauan hawa nafsu yang mengajak kepada kemaksiatan.
إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)
Maka siapa di antara kita yang terjerumus dalam dosa maka hendaknya dia berjuang melawan hawa nafsunya agar ia meraih kecintaan Allah Azza wa Jalla.
Dan salah satu manfaaat dan hikmah dari puasa adalah mengerem syahwat kita yang bergejolak, karena tidak dipungkiri bahwa setiap insan punya insting untuk menyukai lawan jenis. Naluri yang tertanam pada diri setiap manusia ini harus tersalurkan pada jalur yang sah yaitu pernikahan. Bila belum mampu menikah, maka puasa adalah metode jitu untuk meredam syahwat, inilah obat mujarab yang telah ditunjukkan oleh nabi kita dalam sabdanya:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka segeralah menikah. Karena dengan menikah akan lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu menikah maka hendaklah dia berpuasa, karena hal itu adalah benteng baginya.” (HR.Bukhari: 1905, Muslim: 1400).
Maka ini pelajaran penting bagi agar kita berjuang untuk melawan hawa nafsu dan mengerem syahwat dari godaan-godaan syetan yang kerap-kali mengajak kepada kubang kemaksiatan.
*****
Madrasah Kesebelas: Mengingat Akhirat
Salah satu pelajaran berharga dari puasa adalah mengingatkan kita kepada akhirat dan kematian. Perhatikanlah hadits berikut: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين
“Apabila Ramadhan*) telah tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu- pintu neraka, dan dibelenggulah para setan.” (HR. Muslim No. 1079).
*) Hadits ini salah satu di antara banyak sekali dalil tentang bolehnya menyebut Ramadhan tanpa diringi dengan “bulan Ramadhan”. Inilah pendapat yang benar dalam masalah ini, karena melarangnya harus berdasarkan dalil, sedangkan hadits yang melarangnya: “Janganlah kalian mengatakan Ramadhan karena itu adalah salah satu nama Allah Azza wa Jalla, tetapi katakanlah bulan Ramadhan” adalah hadits yang tidak shahih. (Lihat al-Majmu’ 6/248, Tahdzibul Asma’ wa Lughat 3/127 an-Nawawi, al-Inshaf 3/369 al-Mardawih, Syarh Umdah 1/34 Ibnu Taimiyyah, al-I’lam bi Fawa’id Umdatil Ahkam 5/159 Ibnul Mulaqqin).
Di sini mengingatkan kita tentang surga dan neraka. Begitu juga dalam hadits yang lain Nabi ﷺ bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Bagi orang puasa ada dua kegembiraan: Kegembiraan saat sedang buka puasa dan kegembiraan saat bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Bukhari Muslim)
Saudaraku, sekekar apapun badan kita, sebanyak apapun harta kita dan setinggi apapun jabatan kita, namun jika Malaikat maut telah diperintah untuk menghentikan nafas kita maka tidak ada yang bisa menghambat rencananya.
Kematian adalah suatu kepastian yang menghampiri semua manusia baik pria maupun wanita, miskin ataupun kaya, tua maupun muda. Allah Azza wa Jalla berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)
Hendaknya kita mengingat bahwa kita di dunia ini hanya mampir sebentar saja. Nabi ﷺ bersabda:
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi dan meninggalkannya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah: 438).
Rasulullah ﷺ juga bersabda menasehati kita:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan (kematian).” (HR. Tirmidzi : 2307dan dishahihkan Al Albani).
Ketika hal ini tertanam dalam diri kita maka akan mendorong kita untuk bersemangat beribadah dan memperbanyak amal shalih. Seorang yang membayangkan bahwa Ramadhan ini sebagai Ramadhan terakhir baginya maka ia akan bersemangat dalam memanfaatkan kesempatan yang singkat tersebut dengan baik. Beginilah para ulama salaf mewasiatkan kepada kita.
Disebutkan bahwa dahulu Sulaiman At-Taimi ketika membangunkan istri dan anak-anaknya untuk beribadah di bulan Ramadhan beliau berkata: Wahai istriku, wahai anakku, Bangunlah! Karena bisa jadi kita tidak bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan lagi . (At Tahajjud, Ibnu Abi Dunya: 253).
Apabila kita sering mengingat kematian, maka kita akan mendapatkan banyak faedah, dianta- ranya:
- Semangat dalam ibadah dan membaguskannya, karena dia merasa bahwa amalnya masih sedikit dan banyak dosa, dia akan mengatakan dala hatinya: “Barangkali ini ibadah terakhir kali yang bisa kami sembahkan untuk-Mu ya Allah Azza wa Jalla” .
- Segera dalam taubat, dia tidak menunda-nunda, karena dia menyadari bahwa kematian bisa saja datang menghampirinya tiba-tiba.
- Qona’ah dengan rezeki dari Allah Azza wa Jalla. Karena dia menyadari bahwa setumpuk harta yang dia kumpulkan tiada berfaedah jika tidak dibalut dengan keimanan.
Jika ada yang bertanya: Bagaimana cara mengingat kematian? Ada beberapa kiat untuk mengingat kematian:
- Menghadiri majlis-majlis taklim yang mengingatkan kita akan akhirat sehingga bisa melembutkan hati kita.
- Ziarah kubur dengan tadabbur.
- Menyaksikan jenazah dan mengurusinya.
- Mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits seputaralam akhirat berupa siksa kubur, dahsyatnya kematian, dll. (At-Tadzkiroh 1/27 oleh Al-Qurthubi).
*****
Madrasah Keduabelas: Solidaritas Antar Sesama
Inilah hikmah dari sisi kemasyarakatan. Sesungguhnya merasakan lapar dan haus demi menjalankan perintah agama, akan menumbuhkan solidaritas dan perasaan persamaan dengan orang-orang miskin yang kesehariannya sering merasakan kelaparan dan kehausan. Hal ini akan menumbuhkan sifat peka dan peduli terhadap saudaranya yang kurang mampu. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan: “Puasa akan mengingatkan keberadaan orang-orang yang kelaparan dari kalangan orang-orang miskin”. (Zaadul Ma’ad 2/27, Ibnul Qayyim).
Ibnu Humam Rahimahullah berkata; “Sesungguhnya tatkala orang yang puasa itu merasakan sakitnya rasa lapar pada sebagian waktu, maka hal itu akan mengingatkannya pada seluruh keadaan dan waktu. Yang akan membawanya bersegera untuk peduli kepada orang yang kurang mampu”. (Fathul Qodir 2/42, Ibnu Humam).
Bulan Ramadhan adalah bulan kasih sayang dan kedermawanan, karena bulan itu adalah bulan yang sangat mulia dan pahalanya berlipat ganda. Nabi kita Muhammad ﷺ adalah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi apabila di bulan Ramadhan, sehingga digambar- kan bahwa beliau lebih dermawan daripada api yang kencang.
Nabi ﷺ juga bersabda:
مَنْ فَظَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرُ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala semisal orang yang berpuasa, tanpa dikurangi dari pahala orang yang berpuasa sedikitpun”. (HR. Tirmidzi : 807 dan dishahihkan Al Albani).
Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa Islam adalah agama yang rahmat (kasih sayang) kepada sesama. Bagaimana tidak, di antara nama Allah Azza wa Jalla adalah Rohman dan Rohim (Maha penyayang), Nabi Muhammad ﷺ juga adalah penyayang, Al-Qur’an juga penyayang, lantas bagaimana ajaran Islam tidak menganjurkan umatnya untuk berbuat kasih sayang kepada sesama?!
Oleh karenanya, celakalah segelintir orang yang melakukan aksi-aksi terorisme dan pengeboman yang sangat bertentangan dengan prinsip Islam adalah agama kasih sayang sehingga menimbulkan kerusakan yang sangat banyak seperti hilangnya keamanan Negara, hilangnya nyawa, rusaknya bangunan, tercemarnya nama Islam dan lain sebagainya.
Oleh karena itulah dalam ibadah puasa, kita dianjurkan untuk menjaga persatuan dan kebersa- maan agar persauadaraan antar sesame semakin terasa dan bermakna. Nabi ﷺ bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمَ يَصُوْمُ النَّاسُ وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ
“Puasa itu hari manusia berpuasa dan hari raya itu hari manusia berhari raya.” (HR. Tirmidzi: 697, Ibnu Majah: 1660 dan dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah: 224).
Ya, demikianlah ajaran Islam yang mulia. Lantas kenapa kita harus berpecah belah dan fanatik terhadap kelompok dan golongan masing-masing, padahal Tuhan kita satu, rasul kita satu, ka’bah kita satu dan Al-Qur’an kita satu?! Oleh karenanya, marilah kita rapatkan barisan kita dan rajut persatuan dengan mengikuti Al-Qur’an dan sunnah, taat kepada pemimpin kita dan mengingkari setiap pemikiran yang mengajak kepada perpecahan.
*****
Madrasah Ketigabelas: Istiqomah Hingga Ajal Tiba
Ibadah puasa mengajarkan kepada kita untuk tetap konsisten dalam ketaatan. Oleh karena itu, perhatikanlah hadits berikut:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).
Demikianlah suri tauladan kita, justru lebih bersungguh-sungguh di akhir Ramadhan, bukan terbalik seperti kebanyakan di antara kita, di awal Ramadhan kita semangat tetapi di akhir-akhir Ramadhan sibuk dengan baju baru, kue lebaran dan hiasan rumah.
Jadi, sekalipun Ramadhan sudah berlalu meninggalkan kita bukan berarti telah terputus amal ibadah sampai di sana saja, tetapi masih terbuka lebar pintu-pintu kebaikan lainnya setelah Ramadhan hingga ajal menjemput kita.
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepa- damu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)
Bila di bulan Ramadhan ada shalat terawih maka ingatlah bahwa di sana masih ada shalat malam. Bila di bulan Ramadhan kita berpuasa ingatlah bahwa di sana ada puasa-puasa sunnah seperti senin kamis, puasa Dawud dan sebagainya, bahkan di bulan ini setelah Ramadhan Nabi menganjurkan agar kita mengiringinya dengan puasa enam hari Syawal. Beliau ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari bulan Syawwal, maka dia seperti berpuasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim: 1164).
Demikian pula ibadah-ibadah lainnya seperti sedekah, membaa Al-Qur’an, berdo’a dan lain sebagainya, hendaknya tetap kita lakukan sekalipun sudah selesai Ramadhan.
Demikianlah beberapa pelajaran berharga dari madrasah puasa yang bisa membawa kesucian dan kebeningan hati kita. Semoga Allah Azza wa Jalla melembutkan dan membersihkan hati kita semua.
*****
Bagaimana penilaian antum terhadap Ebook ini?
Perkenankanlah kami pada kesempatan kali ini untuk menyampaikan beberapa pelajaran tazkiyah nufus dari madrasah Ramadhan. Semoga dapat kita fahami dan dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.


