Fikih

Bedah Buku: Adab Berpuasa Ramadan

  • Buku: Adab Berpuasa Ramadan
  • Penulis: Ustadz Aden Pasha, S.T. Hafidzahullah [Staff Pengajar Ma’had Al-Faruq Karanglewas]

Kata Pengantar

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ

Tidak sedikit orang yang berpuasa Ramadan, namun hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Ia tidak menjaga hati, lisan, dan perbuatannya dari keburukan. Akibatnya, alih-alih memanen pahala, ia justru kehilangan pahala dan dosanya bertambah banyak. Na‘użubillah min żalik.

Berangkat dari fenomena tersebut, buku “Adab Berpuasa Ramadan” hadir di hadapan para pembaca sekalian. Di dalamnya terdapat 20 adab yang berkaitan dengan puasa Ramadan dan amalan utama lainnya. Setiap adab didukung dengan dalil yang sahih. Selain itu, dilengkapi dengan catatan yang berisi beberapa penjelasan para ulama.

Cover Buku

Penulisan buku ini terinspirasi dari pembahasan tentang adab-adab puasa, seperti pada kitab Ṣaḥīḥ al-Ādāb al-Islāmiyyah (Karya: Syaikh Muhammad bin Abdussalam Baliy ḥafiẓahullāh) dan beberapa referensi lainnya.

Harapannya, buku ini bisa menjadi sarana bagi para pembaca untuk meningkatkan kualitas puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan. Sehingga, pahala yang diraih bisa lebih maksimal, serta terhindar dari hilangnya pahala dan bertambahnya dosa.

Semoga Allah ﷻ senantiasa mengaruniakan keikhlasan kepada penulis, dan menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi penulis, pembaca dan kaum muslimin sekalian, āmīn.

Semoga Allah ﷻ senantiasa mengampuni dosa dan memberkahi penulis, kedua orang tuanya, guru-gurunya, keluarganya, dan kaum muslimin sekalian, āmīn.

Sya’ban 1447H,

Ustadz Aden Pasha, S.T. Hafidzahullah

*****

Adab ke-1 : Berpuasa dengan Penuh Keikhlasan

Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan ihtisab (mengharapkan pahala dari Allah ﷻ), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.[1]

Catatan:

  • Hadis ini menunjukkan bahwa seharusnya puasa Ramadan dikerjakan dengan landasan iman dan ihtisab.
  • Imam an-Nawawi Rahimahullah juga menjelaskan, “Makna karena iman adalah membenarkan bahwa syariat tersebut benar adanya, meyakini juga akan keutamaannya. Sedangkan ihtisab adalah hanya mengharapkan Allah ﷻ saja, bukan bertujuan agar dilihat manusia atau tujuan lainnya yang menyelisihi keikhlasan.”[2]
  • Dosa yang diampuni adalah dosa-dosa kecil. Sebagaimana Imam an-Nawawi Rahimahullah menjelaskan, “Yang dikenal oleh para fuqaha adalah keutamaan ampunan tersebut hanya khusus untuk dosa kecil, bukan dosa besar. Namun, sebagian ulama menjelaskan bahwa bisa juga meringankan dosa besar, apabila tidak didapati dosa kecil.”[3]
  • Adapun untuk meraih ampunan dari dosa besar, maka dibutuhkan taubat nasuha.

Adab ke-2: Berniat di Malam Hari

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ.

Barang siapa yang belum berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.[4]

Catatan:

  • Hadis tersebut menunjukkan bahwa di antara syarat sahnya puasa Ramadan adalah berniat di malam hari sebelum terbit fajar.
  • Imam Tirmidzi Rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya makna hadis tersebut menurut para ahli ilmu adalah tidak ada puasa bagi orang yang belum berniat sebelum terbit fajar pada puasa Ramadan, atau qadha Ramadan, atau puasa nazar. Jika ia belum berniat di malam hari, maka puasanya tidak sah.
    Adapun puasa sunah, maka diperbolehkan niat setelah pagi hari. Inilah pendapat as-Syafi‘i, Ahmad dan Ishaq.”[5]
  • Jumhur ulama (Hanafi, Syafi’i, Hanbali) berpendapat bahwa niat puasa harus dilakukan setiap malam. Sebab, puasa pada masing-masing hari bulan Ramadan adalah ibadah tersendiri dan dibatasi oleh kewajiban waktunya.[6]

Adab ke-3: Tidak Meninggalkan Makan Sahur

Nabi ﷺ bersabda,

تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً.

Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada makan sahur itu terdapat keberkahan.[7]

Catatan:

  • Berkah adalah turunnya kebaikan dari Allah ﷻ dan tetapnya kebaikan pada sesuatu. Bisa juga dimaknai dengan bertambahnya kebaikan dan pahala.
  • Di antara keberkahan makan sahur yaitu:
    • Makan sahur merupakan bentuk ketaatan kepada Rasulullah ﷺ.
    • Makan sahur merupakan syiar kaum muslimin yang membedakannya dengan ahli kitab.
    • Makan sahur akan menguatkan badan untuk beribadah.
    • Orang yang makan sahur akan mendapatkan shalawat dari Allah ﷻ dan malaikat.
    • Makan sahur akan menghindarkan seseorang dari akhlak yang buruk, yang biasanya disebabkan karena rasa lapar.
    • Waktu sahur merupakan waktu yang berkah, yaitu waktu turunnya Allah ﷻ ke langit dunia.
    • Waktu sahur merupakan waktu terbaik untuk beristighfar.
    • Orang yang makan sahur dipastikan bisa menjawab adzan Subuh dan menghadiri salat berjamaah.
    • Makan sahur bisa bernilai ibadah apabila diniatkan untuk semakin menguatkan ketaatan kepada Allah dan mengikuti Rasulullah ﷺ.
    • Orang yang makan sahur tidak akan merasa berat dengan puasanya.
    • Orang yang makan sahur akan mendapat banyak kebaikan dari Allah, sehingga sangat pantas untuk mendapatkan taufik dari Allah ﷻ di hari itu.[8]
  • Oleh karena itu, jangan tinggalkan sahur, meskipun hanya dengan seteguk air.

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوْهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ؛ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.

“Makan sahur itu berkah. Maka, janganlah engkau tinggalkan sahur, meskipun hanya dengan minum seteguk air. Sebab, sesungguhnya Allah ﷻ dan para malaikatnya bershalawat kepada orang yang makan sahur.”[9]


Adab ke-4: Sahur dengan Kurma

Nabi ﷺ bersabda,

نِعْمَ سَحُورُ المُؤْمِنِ التَّّمْرُ.

Sebaik-baik hidangan sahur seorang mukmin adalah kurma.[10]

Catatan:

  • Seseorang yang makan sahur dengan kurma berarti ia telah mengikuti petunjuk Nabi ﷺ. Tentunya, petunjuk Beliau ﷺ yang satu ini, mengandung kebaikan yang sangat banyak. Hal tersebut pun sudah dibuktikan oleh penelitian ilmiah.
  • Di antara manfaat kurma sebagai hidangan sahur antara lain,
    • Sebagai sumber energi yang padat gizi. Kandungan gula alami pada kurma seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa memberikan energi yang cepat, namun tahan lama. Sehingga, orang yang berpuasa tidak mudah lemas.
    • Membantu hidrasi dan pencernaan. Kandungan kalium dan magnesium pada kurma sangat membantu untuk menghidrasi tubuh dan menyeimbangkan elektrolit.[11]

Adab ke-5: Mengakhirkan Sahur

Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit Radhiyallahu’anhu mengatakan,

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبيِّ ﷺ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ.

“Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ, lalu Beliau melaksanakan shalat.”

قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً.

Aku (Anas) pun bertanya, “Berapa lama jeda antara adzan dan sahur?” Ia (Zaid) menjawab, “Seperti lamanya membaca lima puluh ayat.”[12]

Catatan:

  • Waktu sahur dimulai dari separuh malam terakhir hingga terbitnya fajar sadik (waktu subuh). Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi Rahimahullah dalam al-Majmū‘.[13] Adapun yang makan sebelum pertengahan malam, maka tidak dianggap sahur.
  • Waktu yang paling utama untuk makan sahur adalah mendekati subuh, sekitar bacaan lima puluh ayat.

Ibnu Hajar al-Asqalaniy Rahimahullah menjelaskan, “Maksudnya adalah bacaan ayat yang pertengahan, tidak terlalu panjang ataupun pendek. Tidak pula bacaan yang terlalu cepat ataupun pelan.”[14]

  • Jika dikonversi menjadi menit, mungkin bacaan 50 ayat yang dimaksud adalah sekitar 15-30 menit, Allahu a’lam.
  • Mengakhirkan sahur tentu akan membantu seseorang untuk lebih kuat berpuasa.

Adab ke-6: Memperbanyak Do’a saat Berpuasa

Rasulullah ﷺ bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ …

“Tiga orang yang doanya tidak akan tertolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doanya orang yang terzalimi.”[15]

Sedangkan dalam riwayat lainnya disebutkan,

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِيْنَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ …

“Tiga orang yang doanya tidak akan tertolak: Orang yang berpuasa ketika ia (hendak) berbuka, pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi.”[16]

Catatan:

  • Hadis tersebut menunjukkan bahwa doa orang yang sedang berpuasa (dari awal puasa hingga berbuka) adalah mustajab. Maka, hendaknya ia memperbanyak berdoa kepada Allah ﷻ untuk kebaikan akhirat dan dunianya.
  • Maksud dari momen mustajab “ketika berbuka” adalah sebelum berbuka. Sebab, saat itu terkumpul beberapa kondisi: ketundukan jiwa, kerendahan hati di hadapan Allah ﷻ, dan sedang berpuasa. Semua ini termasuk sebab terkabulnya doa. Adapun setelah berbuka, jiwa merasa tenang, gembira, dan bisa jadi muncul kelalaian.[17]

Adab ke-7: Menjaga Lisan dan Perbuatan

Rasulullah ﷺ bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ …

“Puasa adalah perisai. Maka, janganlah orang yang berpuasa berkata kotor dan bertindak bodoh. Apabila ada seseorang yang mengajaknya berkelahi dan mencelanya, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang berpuasa’ -dua kali- …”[18]

Di dalam riwayat hadis lainnya, Rasulullah ﷺ mengingatkan,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.

Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang batil, maka Allah tidak butuh terhadap rasa lapar dan haus yang ia tahan.[19]

Catatan:

  • Syaikh ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzan hafiẓahullāh menjelaskan, makna dari “Puasa adalah perisai” adalah puasa akan melndungi seseorang dari maksiat di dunia. Jika puasa menjadi perisai baginya dari maksiat, maka puasa juga akan menjadi perisai baginya di akhirat dari api neraka.
  • Rafaṡ” adalah perkataan yang keji, digunakan pula untuk ungkapan yang mengarah kepada hubungan badan dan bercumbu karena syahwat. Kebanyakan ulama mengatakan makna “rafaṡ” pada hadis ini adalah perkataan keji dan buruk, Allahu a‘lam.
  • “Al-Jahl” adalah kebalikan dari sikap tenang. Maka, artinya janganlah orang yang berpuasa melakukan perbuatannya orang bodoh, seperti berteriak-teriak, sembrono, dan semisalnya.[20]
  • Beliau hafiẓahullāh juga menjelaskan, Perkataan “az-Zūr” maksudnya adalah perkataan yang menyimpang dari kebenaran menuju kepada kebatilan. Termasuk di dalamnya adalah semua perkataan yang haram, seperti dusta, cacian, hinaan, gibah, adu domba, dan persaksian palsu.
  • Sedangkan perbuatan “az-Zūr” maksudnya adalah melakukan perbuatan yang diharamkan. Termasuk pula tindakan memusuhi orang lain, seperti kezaliman, khianat, menipu, mengambil harta (secara batil), menyakiti orang lain, dan lainnya. Begitu pula dengan mendengarkan dan melihat perkara yang diharamkan.[21] 
  • Para ulama berbeda pendapat tentang makna dari “Allah ﷻ tidak  terhadap rasa lapar dan haus yang ia tahan”. Di antaranya,
    • Ibnu al-Munir Rahimahullah dalam al-Ḥāsyiyah mengatakan, “Itu adalah ungkapan untuk tidak diterimanya amal.”
    • Ibnu al-‘Arabiy Rahimahullah mengatakan, “Konsekuensi hadis ini adalah orang yang melakukan perbuatan tersebut tidak akan mendapatkan pahala puasanya.[22]
  • Oleh karena itu, dalam hadis yang lainnya. Nabi ﷺ juga mengingatkan,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapat lapar dan dahaga saja.”[23]

Apakah maksiat membatalkan puasa?

  • Orang yang bermaksiat saat berpuasa, puasanya sah. Namun, pahalanya akan berkurang bahkan bisa hilang semuanya. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi Rahimahullah dalam al-Majmu‘, “Jika seseorang melakukan gibah saat berpuasa, maka ia telah bermaksiat. Akan tetapi puasanya tidak batal menurut kami. Ini juga merupakan pendapat Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan seluruh ulama, kecuali al-Auza‘iy yang berpendapat gibah membatalkan puasa.”[24]

Jika bertaubat, apakah pahala puasa bisa kembali?

  • Jika orang yang berpuasa namun bermaksiat, kemudian beristigfar dan bertaubat dengan taubat yang jujur, diharapkan ia mendapatkan kebaikan dan dihapuskan efek buruk dosanya. Bahkan, sesungguhnya Allah ﷻ telah berjanji akan mengganti keburukannya dengan kebaikan.[25]

Adab ke-8: Menahan Diri dari Gangguan Orang Lain

Sebagaimana hadis sebelumnya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

… وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ …

“… Apabila ada seseorang yang mengajaknya berkelahi dan mencelanya, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang berpuasa’ -dua kali- …”[26]

Catatan:

  • Imam an-Nawawi Rahimahullah menjelaskan, “Para ulama berbeda pendapat mengenai makna ucapan ‘Innī Ṣā’imun’. Ada yang berpendapat agar diucapkan dengan lisan secara jelas, sehingga orang yang mencela dan mengajak bertengkar bisa mendengarnya lalu berhenti dari perbuatannya.

Ada pula yang berpendapat bahwa tidak diucapkan dengan lisan, tapi di dalam hati. Sehingga, ucapan tersebut akan menahan diri seseorang dari saling mencaci, bertengkar, dan membalas keburukan apapun, serta menjaga dari hal-hal yang merusak puasa.

Jika seseorang menggabungkan kedua cara tersebut, maka itu pun baik.”[27]


Adab ke-9: Menyegerakan Berbuka

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ.

Manusia senantiasa berada pada kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.[28]

Catatan:

  • Maksud dari disunahkannya menyegerakan berbuka puasa adalah ketika telah tiba waktunya, yaitu terbenamnya matahari. Bukanlah maksudnya bersegera berbuka ketika belum masuk waktunya.
  • Di antara kebaikan menyegerakan berbuka antara lain,
    • Mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dan mengamalkan sunahnya.
    • Merupakan akhlak para nabi.
    • Merupakan kemudahan bagi manusia dan menjauhkan dari sikap berlebihan-lebihan dalam beragama.[29]
  • Syaikh ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzan hafiẓahullāh menasihatkan, “Hendaknya setiap muslim bersemangat mengamalkan sunah ini, yaitu menyegerakan buka puasa. Di antara sarananya adalah orang yang berpuasa hendaknya menyibukkan diri di sore hari dengan membaca al-Qur’an, berzikir, berdoa. Selain itu, jangan keluar rumah kecuali jika ada kebutuhan. Sehingga, ia tidak akan terluput dari kebaikan ini. Sebab, bisa jadi adzan berkumandang, sedangkan ia masih di perjalanan menuju rumahnya dalam keadaan terengah-engah. Ia pun melewatkan waktu berdoa dan kesempatan untuk menyegerakan buka puasa, wallāhul-musta‘ān.[30]

Adab ke-10: Berbuka dengan Kurma atau Air

Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu mengatakan,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ، حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ.

Rasulullah ﷺ biasa berbuka sebelum shalat dengan beberapa ruthab (kurma basah). Jika tidak ada, maka dengan beberapa tamr (kurma kering). Jika tidak ada, maka dengan beberapa teguk air.[31]

Catatan:

  • Disunahkannya berbuka dengan kurma dan air ketika berbuka sebelum shalat Magrib, mengandung beberapa hikmah, di antaranya:
    • Kurma merupakan makanan dengan kandungan gizi yang baik, mudah, dan cepat diserap oleh tubuh. Sehingga, sangat tepat sekali dikonsumsi saat berbuka, dibandingkan makanan lainnya.
    • Adapun air sangat bermanfaat untuk menghilangkan dahaga dan mendinginkan panasnya badan setelah berpuasa.
    • Kurma dan air merupakan makanan yang relatif ringan, sehingga dapat memudahkan seseorang untuk bersegera mendatangi shalat Magrib secara berjamaah.[32]
  • Tidak ada keterangan sahih dari Nabi ﷺ yang menjelaskan bahwa beliau berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil. Maka, cukup dengan makan kurma tanpa hitungan tertentu, sudah cukup dikatakan mengikuti sunah.[33]

Adab ke-11: Membaca Do’a ketika Berbuka

Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu’anhu mengatakan,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

“Apabila Nabi ﷺ berbuka puasa, Beliau membaca,

żahabaẓ-ẓamā’u, wabtallatil-‘urūqu, waṡabatal-ajru insyā’allah

(Rasa dahaga telah hilang, dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insyaallah).[34]

Catatan:

  • Doa ini dibaca ketika seseorang telah berbuka puasa, bukan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan makna yang ada pada doa tersebut yaitu, “rasa dahaga telah hilang, dan urat-urat telah basah”.
  • Maksud dari ucapan “waṡabatal-ajru insyā’allah” (pahala telah ditetapkan, insyaallah), adalah sebagai bentuk doa dan harapan kepada Allah ﷻ agar puasa dan rasa lelah berbuah pahala. Ini adalah motivasi untuk beribadah dan terus-menerus melakukannya. Sebab, lelahnya telah hilang namun pahalanya tetap ada dengan kehendak Allah ﷻ.[35]
  • Adapun doa berbuka puasa “Allāhumma laka Ṣumtu …” merupakan doa yang bersumber dari hadis yang dha‘if (lemah).[36]

Adab ke-12: Berbagi Hidangan Berbuka

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَن فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا.

Barang siapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.[37]

Catatan:

  • Hendaknya seorang muslim bersemangat untuk berbagi hidangan berbuka kepada orang yang berpuasa, meskipun dengan sesuatu yang ringan. Sebab, ia akan meng-copy paste pahala orang yang diberi makanan tersebut. Semakin banyak yang diberi, semakin banyak pula pahala puasa yang didapatkan.

Adab ke-13: Mengerjakan Shalat Tarawih

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barang siapa melakukan qiyam Ramadan karena iman dan ihtisab (mengharapkan pahala dari Allah ﷻ), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[38]

Catatan:

  • Maksud dari Qiyam Ramadan adalah shalat Tarawih.[39]
  • Hadis tersebut menunjukkan disunahkannya mengerjakan shalat Tarawih.
  • Shalat Tarawih secara berjamaah lebih utama daripada dikerjakan sendirian di rumah, Itulah yang dikerjakan oleh Umar bin al-Khattab dan para shahabat Radhiyallahu’anhum dan terus berlanjut dilakukan oleh kaum muslimin. Sebab, Tarawih berjamaah termasuk syiar-syiar yang nampak, menyerupai shalat Ied. .[40]
  • Penjelasan tentang makna iman, ihtisab, dan dosa yang diampuni telah dijelaskan sebelumnya.

Adab ke-14: Tarawih bersama Imam hingga Selesai

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ، حَتَّى يَنْصَرِفَ، كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Barang siapa shalat (Tarawih) bersama imam hingga selesai, dicatat baginya pahala shalat semalam suntuk.[41]

Catatan:

  • Hendaknya seseorang mengikuti shalat Tarawih bersama imam dari awal sampai selesai, karena keutamaannya yang luar biasa.
  • Di antara alasan seseorang tidak tuntas dalam mengikuti Tarawih bersama imam adalah karena menunda witir untuk shalat tahajud di akhir malam. Maka, sebaiknya, ia tetap shalat witir bersama imam. Lalu, di akhir malam ketika shalat tahajud, ia tidak perlu melakukan shalat witir lagi[42]. Sehingga, keutamaan pahala shalat semalam suntuk tetap didapatkan.
  • Ada amalan lain yang dijanjikan dengan pahala shalat semalam suntuk, yaitu melaksanakan shalat ‘Isya dan Subuh secara berjamaah. Nabi ﷺ bersabda,

وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِيْ جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

Barangsiapa yang shalat Isya dan Subuh secara berjamaah, maka baginya (pahala) seperti shalat semalam suntuk.[43]


Adab ke-15: Memperbanyak Sedekah

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhuma mengatakan,

كَانَ النَّبيُّ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِيْ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبيُّ ﷺ الْقُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ.

“Nabi ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadan ketika malaikat Jibril menemuinya. Jibril menemui Beliau setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadan. Nabi ﷺ membacakan al-Qur’an kepadanya. Ketika Jibril menemui beliau, maka kedermawanannya melebihi angin yang berhembus.”[44]

Catatan:

  • Hadis ini memotivasi untuk bersikap dermawan dan gemar berinfak di setiap waktu, terlebih lagi di bulan Ramadan.
  • Syaikh ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzan hafiẓahullāh menjelaskan, “Perumpaan kedermawanan Nabi ﷺ dengan “angin yang berhembus” menunjukkan bahwa Beliau sangat bersegera (ringan) untuk berbuat kebaikan melebihi cepatnya angin berhembus.
  • Adapun ungkapan “yang berhembus” mengisyaratkan bahwa Beliau selalu menebar kasih sayang dan manfaat yang luas dengan kedermawanannya, sebagaimana luasnya manfaat yang dibawa oleh angin yang berhembus.[45]

Adab ke-16: Memperbanyak Baca Al-Qur’an

Dalilnya adalah hadis sebelumnya, bahwa Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhuma mengatakan,

… وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِيْ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبيُّ ﷺ الْقُرْآنَ، …

“… Jibril ‘alaihissalam menemui Nabi ﷺ setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadan, dan Nabi ﷺ membacakan al-Qur’an kepadanya …”[46]

Di dalam riwayat lainnya disebutkan,

… وكانَ يَلْقاهُ في كُلِّ لَيْلَةٍ مِن رَمَضانَ فيُدارِسُهُ القُرْآنَ …

“… Jibril ‘alaihissalam menemui Nabi ﷺ setiap malam di bulan Ramadan, lalu Nabi ﷺ saling membacakan al-Qur’an bersama Jibril ‘alaihissalam …”[47]

Catatan:

  • Hadis tersebut menunjukkan bahwa di antara amalan yang sangat ditekankan untuk dikerjakan di bulan Ramadan adalah memperbanyak membaca al-Qur’an dan mempelajarinya.
  • Dijelaskan bahwa yang dilakukan setiap malam bulan Ramadan adalah Nabi ﷺ membaca al-Qur’an, lalu malaikat Jibril ‘alaihissalam menyimak, dan malaikat Jibril ‘alaihissalam membaca, lalu Nabi ﷺ  menyimak.
  • Hal itu berlangsung sebanyak satu kali setiap tahun. Adapun pada tahun dimana Rasulullah ﷺ wafat, maka Jibril ‘alaihissalam membacakan al-Qur’an kepada Beliau sebanyak dua kali.[48]

Adab ke-17: Semakin Semangat di 10 Hari Terakhir

‘Aisyah Radhiyallahu’anha mengatakan,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ.

“Rasulullah ﷺ senantiasa bersungguh-sungguh (dalam beribadah) di sepuluh hari terakhir Ramadan, melebihi kesungguhan Beliau di hari lainnya.”[49]

Catatan:

  • Hadis ini menunjukkan anjuran untuk semakin giat beribadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Sehingga, semakin mendekati garis “finish” Ramadan, seharusnya grafik ibadah semakin meningkat. Bukan sebaliknya, sebagian orang justru semakin malas beribadah menjelang akhir Ramadan.

Adab ke-18: Melakukan Iktikaf

Ibunda Kaum Muslimin ‘Aisyah Radhiyallahu’anha mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.

Sesungguhnya Nabi ﷺ senantiasa beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, hingga Beliau diwafatkan Allah ﷻ. Sepeninggal Beliau, para istri Beliau pun beriktikaf.[50]

Catatan:

  • Hadis tersebut menunjukkan keutamaan iktikaf, terlebih lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Sebab, Nabi ﷺ beriktikaf di momen tersebut hingga beliau wafat.
  • Iktikaf dihukumi sah apabila dikerjakan di masjid yang ditegakkan shalat jamaah. Apabila selama iktikaf mendapati shalat Jumat, maka hendaknya beriktikaf di masjid yang ditegakkan shalat Jumat. Inilah pendapat yang hati-hati, karena sebagian ahli ilmu mensyaratkan iktikaf harus dilakukan di masjid yang dilaksanakan shalat Jumat.
  • Di antara faidah utama iktikaf adalah mengasingkan diri sementara dari urusan kehidupan dan kesibukan dunia, lalu fokus mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.
  • Hendaknya orang yang beriktikaf menghabiskan dan memanfaatkan waktunya untuk shalat, baca al-Qur’an, berdzikir, dan mempelajari ilmu agama, Tidak mengapa sedikit berbincang untuk suatu keperluan. [51]
  • Tidak ada batas waktu minimal dan maksimal dalam iktikaf.[52] Sehingga, bagi yang tidak mampu melakukan iktikaf sepuluh hari terakhir secara keseluruhan, maka sebaiknya tetap iktikaf di sebagian waktunya.

Adab ke-19: Menghidupkan Lailatul Qadar

Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar karena iman dan ihtisab (mengharapkan pahala dari Allah ﷻ), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[53]

Catatan:

  • Makna Lailatul qadar adalah malam kemuliaan. Selain itu, bisa juga dimaknai dengan malam penetapan takdir, karena malam itu terjadi penetapan takdir yang akan terjadi selama satu tahun.[54]
  • Hadis tersebut menjelaskan tentang keutamaan dan anjuran untuk menghidupkan Lailatul Qadar,
  • Cara menghidupkan Lailatul Qadr adalah dengan melaksanakan shalat, berdzikir, berdoa, membaca al-Qur’an, dan kebaikan-kebaikan lainnya.[55]
  • Lailatul Qadr adalah malam yang sangat istimewa. Di antara keutamaannya difirmankan oleh Allah ﷻ,

لَيلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيرٌ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٍ ٣

“Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan.”[56]

  • Imam ath-Thabari Rahimahullah menjelaskan, “Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa mengerjakan amalan yang diridhai Allah ﷻ pada Lailatul Qadar, lebih baik dari mengerjakannya selama seribu bulan pada malam-malam selainnya.”[57]
  • Para ulama menjelaskan bahwa Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Kemungkinan terjadi di malam ganjil lebih besar daripada malam genap.[58]
  • Adapun waktu terjadinya Lailatul Qadar berpindah-pindah setiap tahunnya[59]. Sehingga, sikap yang tepat adalah menghidupkan semua malam di sepuluh hari terakhir Ramadan, tanpa memilih malam tertentu saja. Dengan begitu, keutamaan Lailatul Qadar pasti akan berhasil diraih.

Adab ke-20: Membaca Do’a di Lailatul Qadar

‘Aisyah Radhiyallahu’anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو؟ قَالَ: تَقُولِينَ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Wahai Rasulullah, bagaimana pandangan Anda jika saya mendapati Lailatul Qadar, doa apa yang harus saya baca?” Rasulullah ﷺ mengatakan, “Bacalah: Allāhumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul-’afwa fa‘fu ‘annī (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku).”[60]

Catatan:

  • Hadis ini berisi anjuran untuk memperbanyak baca doa tersebut di malam yang diduga kuat sebagai Lailatul Qadar.
  • Di antara tanda-tanda malam mulia ini disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ ، طَلْقَةٌ ، لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ، تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيْحَتَها ضَعِيفَةً حَمْرَاءَ.

“Lailatul Qadar adalah malam yang nyaman, indah, tidak panas juga tidak dingin, dan matahari terbit di pagi harinya dengan cahaya teduh dan kemerahan.”[61]

  • Makna permohonan maaf (al-‘Afwu) adalah permohonan kepada Allah ﷻ agar menghapuskan dosa dan tidak memberi hukuman.[62]
  • Ibnu Rajab al-Hanbaliy Rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya diperintahkan untuk meminta maaf setelah bersungguh-sungguh dalam beramal pada Lailatul Qadar dan sepuluh malam terakhir, karena orang yang arif akan bersungguh-sungguh dalam beramal, namun mereka tidak menganggap dirinya memiliki amal, keadaan, maupun ucapan yang baik.  Sehingga, mereka pun kembali memohon maaf seperti keadaan orang yang berdosa dan penuh kekurangan.”[63]

Footnotes:

[1] HR. Bukhari (1901) dan Muslim (760), dari Abu Hurairah Radhitallahu’anhu.

[2] Lihat: SyarḥṢaḥīḥMuslim, karya Imam an-Nawawi Rahimahullah, padaٍKitāb as-Siyām, bab at-Targīb fī Qiyām Ramaḍān wa Huwa at-Tarāwīḥ.

[3] Ibid.

[4] HR. Abu Daud (2454) dan Tirmidzi (730), dari Ummul Mu’minin Hafshah . Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

[5] Lihat: Ṣaḥīḥ at-Tirmiżī, karya Syaikh al-Albani Rahimahullah, pada Kitāb aṣ-Ṣaum, pada bab Lā Ṣiyām liman lam Ya‘zim min al-Lail.

[6] Lihat: Kitāb Fiqh aṣ-Ṣaum, hal. 62-63.

[7] HR. Bukhari (1923) dan Muslim (1095), dari Anas bin Malik Radhitallahu’anhu.

[8] Lihat: Ramaḍān Durūsun wa ‘Ibarun, karya Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamad, hal. 15-17.

[9] HR. Ahmad (11086), dari Abu Sa‘id al-Khudriy Radhitallahu’anhu. Dinilai shahih oleh Syaikh Syu‘aib al-Arnauth Rahimahullah.

[10] HR. Abu Daud (2345), dari Abu Hurairah. Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

[11] https://www.daima.ae/benefits-of-consuming-nuts-and-dates-during-ramadan

[12] HR. Bukhari (1921) dan Muslim (1097).

[13] Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/108994.

[14] Lihat: Fatḥul-Bārī bi Syarḥ al-Bukhārī, pada kitab aṣ-Ṣaum, bab Qadr Kam baina as-Saḥūr wa Ṣalātil-Fajr.

[15] HR. Ahmad (8034), 13/410, dari Abu Hurairah Radhitallahu’anhu. Syaikh Syu‘aib al-Arnauth Rahimahullah menilai hadis ini sahih dengan berbagai jalan dan penguatnya.

[16] HR. Tirmidzi (2526), dari Abu Hurairah Radhitallahu’anhu. Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

[17] Faidah tersebut disarikan dari perkataan Syaikh al-Utsaimin Rahimahullah yang dinukil pada: https://islamqa.info/ar/answers/293455.

[18] HR. Bukhari (1894) dan Muslim (1151), dari Abu Hurairah Radhitallahu’anhu.

[19] HR. Bukhari (1903), dari Abu Hurairah Radhitallahu’anhu.

[20] Lihat: Mukhtaṣar Ahādīṡaṣ-Ṣiyām, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzan hafiẓahullāh, hal. 35-37.

[21] Minḥah al-‘Allām fī Syarḥ Bulūg al-Marām pada kitab aṣ-Ṣiyām, bab Mā Yajibu ‘alā aṣ-Ṣāim Tarkuhu.

[22] Lihat: Fatḥul-Bārī bi Syarḥ al-Bukhārī, karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalaniy Rahimahullah, pada kitab aṣ-Ṣaum, bab Man lam Yada‘ Qaul az-Zūr wal-‘Amala bihi fī aṣ-Ṣaum.

[23] HR. Ahmad (8856), dari Abu Hurairah Radhitallahu’anhu. Syaikh Syu‘aib al-Arnauth Rahimahullah mengatakan isnadnya jayyid.

[24] Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/37376.

[25] Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/136918.

[26] HR. Bukhari (1894) dan Muslim (1151), dari Abu Hurairah Radhitallahu’anhu.

[27] Lihat: SyarḥṢaḥīḥMuslim, karya Imam an-Nawawi Rahimahullah, pada ٍKitāb as-Siyām, bab Nadb aṣ-Ṣā’im iżā Du‘iya ilā Ṭa‘āmin walam Yurid al-Ifṭār.

[28] HR. Bukhari (1957) dan Muslim (1098), dari Sahl bin Sa‘ad as-Sa‘idiy Radhitallahu’anhu.

[29] Lihat: Mukhtaṣar Ahādīṡaṣ-Ṣiyām, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzan hafiẓahullāh, hal. 33-34.

[30] Lihat: Minḥah al-‘Allām fī Syarḥ Bulūg al-Marām, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzan hafiẓahullāh, pada kitab aṣ-Ṣiyām, bab Istiḥbāb Ta‘jil al-Ifṭār.

[31] HR. Abu Daud (2356). Dinilai hasan sahih oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

[32] Beberapa faidah tersebut disarikan dari beberapa penjelasan para ulama, seperti Ibnul Qayyim Rahimahullah dan lainnya. Lihat: https://islamqa.info/ar/articles/48.

[33] Lihat: https://islamqa.info/ar/answers/230906.

[34] HR. Abu Daud (2357). Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

[35] Lihat: https://dorar.net/hadith/sharh/87925.

[36] Lihat: https://islamqa.info/ar/answers/93066.

[37] HR. Tirmidzi (807) dan Ibnu Majah (1746), dari Zaid bin Khalid al-Juhaniy Radhitallahu’anhu. Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

[38]     HR. Bukhari (2009) dan Muslim (759), dari Abu Hurairah Radhitallahu’anhu.

[39] Lihat: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, karya Imam an-Nawawi Rahimahullah, pada ٍKitāb as-Siyām, bab at-Targīb fī Qiyām Ramaḍān wa Huwa at-Tarāwīḥ.

[40] Inilah pendapat Imam Syafi‘i, mayoritas pengikut beliau, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan sebagian ulama Maliki. (Rujukan yang sama dengan sebelumnya.)

[41] HR. Tirmidzi (806) dan Ibnu Majah (1327), dari Abu Dzar al-Ghifariy Radhitallahu’anhu. Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

[42] Demikian penjelasan dari Syaikh Bin Baz Rahimahullah yang terdapat di: https://binbaz.org.sa/fatwas/5874.

[43] HR. Abu Daud (555), dari ‘Utsman bin ‘Affan Radhitallahu’anhu. Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

[44] HR. Bukhari (1902) dan Muslim (2308).

[45] Lihat: Mukhtaṣar Ahādīṡaṣ-Ṣiyām, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzan hafiẓahullāh, hal. 25.

[46] HR. Bukhari (1902) dan Muslim (2308).

[47] HR. Bukhari (6).

[48] Lihat: SyarḥKitāb aṣ-Ṣaum min Ṣaḥīḥal-Bukharī karya Syaikh ‘Abdullah bin Mani‘ ar-Ruqiy Rahimahullah, pada bab Ajwadu Mā Kāna an-Nabiyyu Yakūnu fī Ramaḍān.

[49] HR. Muslim (1175).

[50] HR. Bukhari (2026) dan Muslim (1171).

[51] Lihat beberapa faidah tersebut pada Mukhtaṣar Ahādīṡaṣ-Ṣiyām, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzan hafiẓahullāh, hal. 57.

[52] Lihat: Kitāb Fiqh aṣ-Ṣaum, hal. 311-312.

[53] HR. Bukhari (2014) dan Muslim (760), dari Abu Hurairah Radhitallahu’anhu.

[54] Lihat: Mukhtaṣar Ahādīṡaṣ-Ṣiyām, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzan hafiẓahullāh, hal. 62-63.

[55] Lihat penjelasan Syaikh Bin Baz Rahimahullah pada https://binbaz.org.sa/ fatwa no. 12965.

[56] QS. Al-Qadr (97): 3.

[57] Lihat:Tafsīr aṭ-Ṭabarī.

[58] Inilah pendapat mazhab Syafi‘iyyah, Hanabilah, sebagian pendapat Malikiyyah, Ibnu Taimiyyah, as-Shan‘aniy, Ibnu Baz, dan Ibnu ‘Utsaimin . Lihat: Kitāb Fiqh aṣ-Ṣaum, milik Muassasah ad-Durar as-Saniyyah.

[59] Inilah pendapat mazhab Syafi‘iyyah, Hanabilah, sebagian pendapat Malikiyyah, dan sebagian besar ahli ilmu . Lihat: Kitāb Fiqh aṣ-Ṣaum, milik Muassasah ad-Durar as-Saniyyah.

[60] HR. Tirmidzi (3513) dan Ibnu Majah (3850), redaksi tersebut milik Ibnu Majah. Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

[61] HR. Ibnu Khuzaimah (2192), dari Ibnu ‘Abbas . Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

[62] Lihat: Syarḥ ad-Du‘ā’ min al-Kitāb wa as-Sunnah, hal. 365.

[63] Lihat: Laṭā’if al-Ma‘ārif, hal. 206 (shamela.ws/book)


Daftar Pustaka

  • Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. 2023. Ṣaḥīḥul-Bukharī. Cetakan ketiga. Mu’assasah ar-Risālah. Beirut-Libanon.
  • An-Naisaburiy, Muslim bin al-Hajjaj. 2000. Ṣaḥīḥ Muslim. Cetakan kedua. Dārussalām. Saudi Arabia.
  • At-Tirmidzi, Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa. 2022. Sunan at-Tirmiżī. Cetakan pertama. Mu’assasah ar-Risālah. Beirut-Libanon.

E-Book (PDF)

  • Al-Albaniy, Muhammad Nashiruddin. Ṣaḥīḥ Sunan Abī Daud. Cetakan pertama: 1998. Maktabah al-Ma‘ārif. Riyadh.
  • Al-Fauzan, ‘Abdullah bin Shalih. Mukhtaṣar Ahādīṡ aṣ-Ṣiyām. Cetakan kedua: 1436H. Dār Ibnul Jauziy. 
  • Al-Hamad, Muhammad bin Ibrahim. Ramaḍān Durūsun wa ‘Ibarun. Dār Ibnu Khuzaimah. 
  • Al-Qahthani, Sa‘id bin ‘Ali bin Wahf. Syarḥ ad-Du‘ā’ min al-Kitāb wa as-Sunnah.
  • Kitāb Fiqh aṣ-Ṣaum, 2023. Muassasah ad-Durar as-Saniyyah.
  • Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. 1995. Mu’assasah ar-Risālah. Beirut-Libanon.

Al-Maktabah Asy-Syāmilah

  • An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.
  • Al-Asqalaniy, Ahmad bin ‘Ali bin Hajar. Fatḥul-Bārī bi Syarḥ al-Bukhārī.
  • Al-Fauzan, ‘Abdullah bin Shalih. Minḥah al-‘Allām fī Syarḥ Bulūg al-Marām.
  • Al-Hanbaliy, ‘Abdurrahman bin Ahmadn bin Rajab. Laṭā’if al-Ma‘ārif.
  • Ar-Ruqiy, ‘Abdullah bin Mani‘. Syarḥ Kitāb aṣ-Ṣaum min Ṣaḥīḥ al-Bukharī.

Website

  • https://binbaz.org.sa
  • https://dorar.net
  • https://islamqa.info
  • https://sunnah.one
  • https://tafsir.app
  • https://www.daima.ae
  • https://www.islamweb.net

Bagaimana pendapat antum tentang Artikel ini?

Buku yang berjudul “Adab Berpuasa Ramadan” hadir di hadapan para pembaca sekalian. Di dalamnya terdapat 20 adab yang berkaitan dengan puasa Ramadan dan amalan utama lainnya. Semoga bisa menjadi sarana bagi para pembaca untuk meningkatkan kualitas puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan.

User Rating: 4.5 ( 1 votes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button