Fikih

Berburu Lailatul Qadar

E-Book: Berburu Lailatul Qadar

Penulis: Abu Aniisah Syahrul Fatwa, Lc., M.A. Hafidzahullah

Muqaddimah Penulis

Malam Lailatul qadar adalah anugerah besar dari Allah Azza wa Jalla kepada ummat Islam yang gemar mencari kebaikan. Karena pada malam ini, semua ibadah dan amal kebaikan pahalanya setara dengan seribu bulan, sungguh keistimewaan yang tiada tara. Begitu besarnya dan mulianya malam ini, manusiapun berlomba-lomba mencari dan berburu Lailatul qadar. Karena Lailatul qadar hanya satu malam saja dan hanya di bulan Ramadhan saja, maka perlu kiranya kita memahami bagaimana caranya untuk mendapatkan malam kemuliaan tersebut.

Buku mungil ini akan memberi jawaban bagi saudara-saudariku yang sering bertanya tentang apa dan bagaimana Lailatul qadar tersebut. Semoga bermanfaat.

Telaga Sakinah-Cikarang Barat.
03 Sya’ban 1446 H / 01 Februari 2025.
Seorang hamba yang sangat mengharapkan ampunan Rabbnya.

Abu Abdillah Syahrul Fatwa, Lc., M.A.


Makna Lailatul Qadar

Sebelum mendefiniskan secara keseluruhan makna Lailatul Qadar, sebaiknya kita mengetahui definisi kosa kata-nya satu persatu, sebab seperti dikatakan oleh ar-Razi: “Tidak mungkin kita memahami definisi sesuatu kecuali setelah mengetahui kosa kata-nya satu persatu”. (Al-Mahshul 1/91. ar-Razi)

Kata Lailat (لَيْلَةُ) artinya malam. Dipilih malam hari, bukan siang menunjukkan keistimewaan waktu malam. Oleh karena itulah, Allah dan rasul-Nya seringkali menyebut waktu malam seperti:

وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاَدْبَارَ السُّجُوْدِ

“Bertasbihlah pula kepada-Nya pada Sebagian malam hari dan setiap selesai shalat.” (QS. Qaaf: 40).

Hal itu karena pada waktu malam terdapat kebeningan hati, keikhlasan dan ketenangan jiwa dari kesibukan.

Sedangkan al-Qadar (القدر), maknanya berkisar pada tiga makna;

  1. Qadar yang berarti (الشرف) artinya kemuliaan.
  2. Qadar yang berarti taqdir; karena pada malam itu ditentukan taqdir yang akan terjadi dalam setahun.
  3. Qadar yang berarti kadar dan kedudukan, karena shalat pada malam itu memiliki kedudukan yang besar dan pahala yang banyak. (Al-Mughni 3/181, Ibnu Qudamah, as-Syarah al-Mumti’ 6/492, Ibnu Utsaimin).

Keutamaan Lailatul Qadar

Ada banyak keutamaan dari malam Lailatul Qadar, diantaranya;

1. Al-Qur’an diturunkan pada malam tersebut

Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul qadar.” (QS. al-Qadar: 1).

2. Allah Menentukan Taqdir Dalam Setahun

Allah Azza wa Jalla berfirman;

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ٤ أَمْرًۭا مِّنْ عِندِنَآ ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ٥

“Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Hal itu merupakan) urusan (yang besar) dari sisi Kami. Sesungguhnya Kamilah yang mengutus (para rasul).” (QS. ad-Dukhan: 4-5).

Pada malam itu Allah Azza wa Jalla menentukan taqdir seluruh makhluk dalam setahun. Dia adalah penetapan taqdir yang kedua. Karena Allah telah menentukan seluruh taqdir pada pertama kali sebelum penciptaan para makhluk dengan jarak lima puluh ribu tahun. Pada malam ini ditentukan kehidupan, kematian, orang yang sukses, yang celaka, yang bahagia, yang sengsara, yang mulia, yang terhina dan seluruh yang Allah inginkan pada tahun depan ditentukan pada malam lailatul qadar.(Tafsir Ibnu Jarir 16/480, Tafsir Ibnu Katsir 4/469).

3. Ibadah Pada Malam Ini Lebih Baik Dari 1000 bulan

Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. al-Qadar: 3).

Maka Ibadah di malam Lailatul Qadar lebih afdhal di sisi Allah dari pada ibadah di seribu bulan yang tidak ada Lailatul qadarnya. Seribu bulan itu setara dengan 83 tahun dan 4 bulan. (Tafsir Ibnu Katsir 4/442).

4. Jibril dan Para Malaikat Turun Membawa Kebaikan Dan Keberkahan

Allah Azza wa Jalla berfirman:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم

“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Rabbnya untuk mengatur semua urusan.” (QS. al-Qadar: 4).

5. Lailatul Qadar Malam Kesejahteraan

Allah Azza wa Jalla berfirman:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadar: 5).

Malam ini adalah malam yang kosong dari keburukan dan gangguan, malam yang dipenuhi dengan amalan ketaatan dan kebaikan. Di dalam malam ini ada keselamatan dari adzab, seluruhnya berisi keselamatan dan kesejahteraan. (Fiqhus Shaum hlm.90, al-Qism al-Ilmi Bi Muassasah ad-Durar as-Saniyyah).


Amalan yang Dianjurkan Pada Malam Lailatul Qadar

Ada beberapa amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan pada malam ini, diantaranya;

1. Shalat Malam

Dianjurkan menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan harapan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.2014, Muslim no.760).

Shalat yang dimaksud adalah shalat malam, tahajud, witir, bukan shalat yang disebut dengan shalat lailatul qadar.

Sebagian manusia ada yang mengerjakan shalat Lailatul Qadar dengan tata cara; shalat dua raka’at dengan berjama’ah setelah shalat taraweh. Kemudian di akhir malam, mereka shalat lagi seratus raka’at. Shalat ini mereka kerjakan pada malam yang menurut persangkaan kuat mereka adalah Lailatul qadar. Oleh karena itu shalat ini dinamakan shalat Lailatul qadar. Tidak ragu lagi bahwa ini adalah bid’ah yang nyata. (Al-Bida’ al-Hauliyyah 2/431, Bida’ Wa Akhtha’ hal.396).

2. I’tikaf

Dianjurkan pada malam ini untuk mengerjakan I’tikaf. Rasulullah ﷺ biasa I’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan demi mencari Lailatul qadar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من اعتكف معي فَلْيَعْتَكِفِ العَشْرَ الأَوَاخِرَ فقد أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثم أُنْسِيتُهَا، وقد رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ من صَبِيحَتِهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ، والتمسوها في كل وِتْرٍ.

“Barangsiapa yang ingin i’tikaf bersamaku maka hendaklah dia i’tikaf di sepuluh hari terakhir. Sungguh aku telah diperlihatkan malam lailatul qadar, kemudian aku dilupakan malam tersebut. Aku bermimpi bahwa aku sujud di atas air dan tanah pada pagi harinya. Maka carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir dan carilah pada setiap malam yang ganjil.” (HR. Bukhari no.2027, Muslim no.1167).

3. Bedo’a

Dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada malam ini, mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Perbanyaklah membaca do’a pada malam yang mulia ini dengan do’a yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah Radhiyalahu’anha tatkala dia berkata:

  يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ  قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Wahai Rasulullah, bila aku mendapati Lailatul Qadar, apakah yang saya ucapkan?. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Ucapkanlah: Allahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Anni; Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampun, maka ampunilah aku”. (HR. Tirmidzi no.3513, Ibnu Majah no.3850. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykah no.2091).

Sufyan at-Tsauri Rahimahullah berkata: Berdo’a pada malam ini (Lailatul Qadar) lebih aku sukai daripada shalat. Apabila dia membaca dalam shalat dan berdo’a, berharap kepada Allah dengan sungguh-sungguh dalam do’a dan permintaannya, maka bisa jadi dia akan dikabulkan. (Lathaif al-Ma’arif hlm.204).

4. Amal Shalih

Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. al-Qadar: 3).

Banyak dari kalangan ahli tafsir mengatakan tentang ayat ini; bahwa beramal pada malam lailatul qadar lebih baik dari beramal pada seribu bulan yang tidak ada lailatul qadarnya. Pada malam ini akan dibagikan kebaikan yang banyak yang tidak dijumpai semisalnya pada malam lain di seribu bulan. (Tafsir al-Qurthubi 20/131).


Waktu Lailatul Qadar

Lailatul qadar waktunya pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Lebih diharapkan
terjadi di malam-malam ganjil daripada malam yang genap. Dan ini adalah pendapat dari madzhab Syafi’iyyah (Mughnil Muhtaj 1/449, as-Syirbini), Hanabilah (Kassyaful Qina’ 2/344, al-Buhuti), salah satu pendapat Malikiyyah (Al-Qawanin al-Fiqhiyyah hlm.85, Ibnul Jazzi). Pendapat ini menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Majmu’ Fatawa 25/284), as-Shan’ani (Subulus Salam 2/176), Syaikh bin Baz (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz 6/399) dan Syaikh Ibnu Utsamin (Majmu’ Fatawa Wa Rasail Ibnu Utsaimin 20/346-347).

Al-Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Madzhab kami adalah madzhab mayoritas ulama bahwa lailatul qadar di sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan dan malam-malam ganjilnya lebih diharapkan”.(Raudhatut Thalibin 2/389).

Dalil-dalil akan hal ini diantaranya

1. Dari Aisyah Radhiyallahu’anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِثْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah malam Lailatul Qadar di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no.2017, Muslim no.1169).

2. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

التَمِسُوهَا في العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ القَدْرِ، فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى، فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى، فِي خَامِسَةٍ تَبْقى

“Carilah Lailatul qadar pada sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan. Lailatul qadar pada hari ke sembilan yang tersisa, pada hari ke tujuh yang tersisa, pada hari ke lima yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021).

3. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma dia berkata;

أنَّ رِجَالا مِنْ أَصْحَابِ التَّيِّ وَ َ، أُرُوا لَيْلَةَ القَدْرِ في المَنَامِ في السَّبْع الأَوَاخِرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا في السَّبْع الأوَاخِرِ

Beberapa sahabat laki-laki diperlihatkan Lailatul qadar di dalam mimpi pada tujuh hari terakhir Ramadhan, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Aku melihat mimpi kalian bersepakat bahwa lailatul qadar pada tujuh hari terakhir dari Ramadhan. Barangsiapa yang ingin mencari Lailatul qadar maka hendaklah dia cari pada tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no.2015, Muslim no.1165).

4. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma dia berkata:

رَأَى رَجُلُ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِينَ، فَقَالَ النَّبِيُّ َﷺ: أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَاطْلُبُوها فِي الْوِثْرِ مِنْھَا

Ada seorang yang melihat Lailatul qadar pada malam ke dua puluh tujuh Ramadhan. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat mimpi-mimpi kalian tentang lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, maka carilah Lailatul qadar pada malam-malam ganjilnya.” (HR. Bukhari no.6991, Muslim no.1165).


Apakah Lailatul Qadar Waktunya Tetap atau Berganti-ganti?

Lailatul qadar waktunya tidak tetap pada satu malam tertentu saja di setiap tahun. Bahkan berganti-ganti pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Ini adalah pilihan dari madzhab as-Syafi’iyyah (Al-Majmu’ 6/450, an-Nawawi), Hanabilah (Al-Inshaf 3/354, al-Mardawi.), salah satu pendapat Malikiyyah (Hasiyah ad-Dasuki 1/551) dan ini adalah pendapat kebanyakan ahli ilmu (Fathul Qadir 2/389, Ibnul Humam).

Dalil dalam masalah ini adalah:

1. Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُنْتُ أُجَاوِرُ هَذِهِ العَشْرَ، ثُمَّ قَدْ بَدَا لِي أَنْ أُجَاوِرَ هَذِهِ العَشْرَ الأَوَاخِرَ، فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَثْبُتْ فِي مُعْتَكَفِهِ، وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ، ثُمَّ أَنْسِيتُهَا، فَابْتَغُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ، وَابْتَغُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ، وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ))، فَاسْتَهَلَّتِ السَّمَاءُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ فَأَمْطَرَتْ، فَوَكَفَ المَسْجِدُ فِي مُصَلى النَّبِيِّ ﷺ لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ، فَبَصُرَتْ عَيْني رَسُولَ اللهِ ﷺ، وَنَظَرْتُ إِلَيْهِ انْصَرَفَ مِنَ الصُّبْحِ وَوَجْهُهُ مُمْتَلِئُ طِينًا وَمَاءً

Aku beri’tikaf pada sepuluh hari ini (pertengahan Ramadhan). Kemudian nampak bagiku untuk I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Barangsiapa yang ikut I’tikaf bersamaku maka hendaklah dia tetap di tempat I’tikafnya. Sungguh aku diperlihatkan malam Lailatul qadar kemudian aku dibuat lupa, maka carilah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dan carilah pada malam-malam ganjilnya. Sungguh aku melihat dalam mimpi bahwa aku sujud di atas air dan tanah. Langit pada malam itu menurunkan hujan yang deras. Maka atap masjid sampai menumpahkan air ke tempat shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam ke dua puluh satu. Mataku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pagi harinya, ketika Rasulullah keluar bekas air dan tanah masih menempel pada wajahnya. (HR. Bukhari no.2108, Muslim no.1167).

Dari Abdullah bin Unais Radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، ثُمَّ أُنْسِيتُهَا، وَأَرَانِي صُبْحَهَا أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ. قَالَ: فَمُطِرْنَا لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ، فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَانْصَرَفَ وَإِنَّ أَثَرَ الْمَاءِ وَالطَّينِ عَلَى جَبْهَتِهِ وَأَنْفِهِ

Aku diperlihatkan Lailatul qadar kemudian aku dibuat lupa. Aku diperlihatkan pada pagi harinya aku sujud di atas air dan tanah. Kami diturunkan hujan pada malam ke dua puluh tiga. Rasulullah ﷺ shalat bersama kami, kemudian beliau pergi dan bekas air dan tanah masih menempel di kening dan hidungnya. (HR. Muslim no.1168).


Sebab Dirahasiakannya

Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu’anhu dia berkata:

خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ القَدْرِ فَتَلاحَى رَجُلاَنِ مِنَ المُسْلِمِينَ فَقَالَ: خَرَجْتُ لِأُخْيِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاَحَى فُلاَنُ وَفُلاَنُ، فَرُفِعَتْ وَعَسَى أنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk memberi kabar kepada kami tentang Lailatul qadar. Kemudian ada dua orang dari kaum muslimin yang sedang bertengkar. Nabi ﷺ berkata: “Aku keluar untuk mengabarkan kalian tentang Lailatul qadar, akan tetapi fulan dan fulan bertengkar, kemudian berita itu diangkat dariku, semoga ini menjadi kebaikan bagi kalian.” (HR. Bukhari no.2023).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Sabdanya; semoga ini mejadi kebaikan bagi kalian, sisi kebaikan yang dimaksud adalah dengan disembunyikannya Lailatul qadar akan memotivasi untuk menghidupkan seluruh malamnya dalam satu bulan atau pada sepuluh hari terakhir, berbeda jika keberadaan Lailatul qadar jika sudah diketahui”. (Fathul Bari 4/268).

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: “Diantara sebab dirahasiakannya malam Lailatul qadar adalah agar para hamba memperbanyak amalan di malam-malam tersebut (sepuluh hari terkahir) dengan shalat, dzikir, do’a sehingga mereka menambah kedekatan kepada Allah dan bertambah pahalanya. Juga agar terlihat siapa yang sungguh-sungguh dalam mencarinya dan siapa yang malas menyepelekannya”. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin 20/347).

*****

Lailatul Qadar Akan Tetap Ada Sampai Hari Kiamat

Dari Aisyah Radhiyallahu’anha bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِثْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no.2017, Muslim no.1169)

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Dan telah sepakat orang yang dipercaya bahwa Lailatul qadar akan tetap ada sampai akhir dunia, berdasarkan hadits-hadits yang shahih yang masyhur”. (Syarah Shahih Muslim 8/57).


Tanda-Tanda Lailatul Qadar

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan tandatanda malam lailatul qadar agar seorang muslim mengetahuinya. Diantara tandanya:

1. Pagi Harinya Matahari Tidak Menyilaukan

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu’anhu;

وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَظْلُعَ الشَّمْسُ فى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا

“Tanda Lailatul Qadar adalah pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit putih, tidak menyilaukan.” (HR. Muslim: 762).

2. Malamnya Sejuk Tidak Panas

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas d sebagai berikut;

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَمْحَةُ طَلْقَةُ لاَ حَارَّةُ وَلاَ بَارِدَةُ تُصْبِحُ شَمْسُهَا صَبِيْحَتَهَا ضَعِيْفَةً حَمْرَاءَ

“Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin. Keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (Hasan. HR. Riwayat at-Thayalisi no.349, Ibnu Khuzaimah 3/331, al-Bazzar 1/486).


Cara Mendapatkan Lailatul Qadar

Ada beberapa cara agar kita bisa mendapatkan lailatul qadar, diantaranya;

1. I’tikaf

Aisyah Radhiyallahu’anha berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُجَاوِرُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، وَيَقُولُ: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِالأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam diri di dalam masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Beliau berkata: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari no.2020).

Juwaibir pernah bertanya kepada Adh Dhahhak; Bagaimana pandanganmu tentang wanita-wanita yang sedang nifas, haid, dan juga musafir serta orang yang tidur di malam Lailatul qadar? Apakah mereka mendapat bagian dari Lailatul qadar?’. Adh Dhahhak berkata, “Ya, setiap orang yang diterima amalannya pada malam itu mendapat bagiannya dari Lailatul qadar’. (Lathaif al-Ma’arif hlm.192.)

2. Niat Bangun Malam

Niat adalah sebab yang paling kuat agar bisa bangun malam. Betapa banyak orang yang akan bepergian jauh dengan pesawat di waktu subuh dia mampu bangun awal malam, yang demikian karena faktor niat. Manfaat yang lain, dengan niat agar ditulis baginya pahala shalat malam sekalipun ketiduran.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ أَنَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّيّ مِنْ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّه

Barangsiapa yang mendatangi tempat tidurnya sedangkan dia punya niat untuk shalat malam, kemudian ternyata ketiduran hingga pagi hari, akan ditulis baginya apa yang dia niatkan. Tidurnya adalah sedekah dari Rabbnya. (HR. Nasa’i no.1786, Ibnu Majah no.1344, Ibnu Khuzaimah no.1172, Ibnu Hibban 6/323, Hakim 1/311, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwaa 2/204, no.454).

3. Tidur Siang

Qaylulah atau bisa disebut dengan tidur siang termasuk sarana pembantu agar mudah bangun malam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قِيْلُوْا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَقِيْلُ

“Qoyluulah-lah kalian, sesungguhnya syaithan tidak qayluulah.” (HR. Abu Nu’aim dalam At-Thib: 12/1, Thabarani dalam Al-Ausath: 2725, dihasankan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no.1647)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Hadits diatas menunjukkan bahwa qoyluulah temasuk kebiasaan para sahabat Nabi setiap harinya”. (Fathul Bari 11/83).

4. Jangan terlalu capek di siang hari

Semisal terlalu memaksakan diri untuk kerja seharian penuh, karena hal itu akan membuat tidur semakin nyeyak di malam hari dan terluput dari Lailatul qadar.

5. Jangan terlalu banyak makan

Karena banyak makan menyebabkan banyak minum, sehingga rasa ngantuk semakin kuat dan berat bangun malam. Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk terbaik dalam masalah makan.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مَلأَ آدَمِيُّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَظْنٍ, بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ يُقِمْنَ صُلْبَهُ, فَإِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ, فَتُلُثُ أَكُلاَتُ : لِطَعَامِهِ, وَثُلُثُ لِشَرَابِهِ, وَثُلُثُ لِنَفَسِهِ.

“Tidaklah seorang anak adam memenuhi tempatnya yang paling jelek daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap sekedar untuk menegakkan tulang punggungnya. Apabila tidak
mungkin, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk pernafasannya.”
(HR. Tirmidzi no.2380, Ibnu Majah no.3349, Ahmad 4/132, Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd no.603, Thabarani dalam al-Kabir 20/644, Ibnu Hibban 5236, Hakim 4/121 dll. Dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Shahihah no.2265, al-Irwaa no.1983).

Wahab bin Munabbih mengatakan: “Tidak ada yang paling dicintai oleh setan dari anak Adam melainkan orang yang banyak tidur dan makan”. (Az-Zuhd hal.373, Ahmad bin Hanbal).

6. Segera Tidur Setelah Isya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci percakapan setelah isya yang tidak membawa kebaikan. Berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِى بَرْزَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Dari Abu Barzah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum ’Isya dan bercakap setelahnya. (HR. Bukhari no.568 dan Muslim no.647).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Dibencinya tidur sebelum ‘Isya karena dapat melalaikan pelakunya dari shalat ‘Isya sehingga keluar waktunya, adapun bercakap-cakap setelahnya yang tidak ada manfaatnya-pent, dapat menyebabkan tidur hingga shalat shubuh dan luput dari shalat malam”. (Fathul Bari 1/278).

Kemudian Al-Hafizh menegaskan bahwa larangan bercakap-cakap setelah ‘Isya dikhususkan pada percakapan yang tidak ada manfaat dan kebaikan didalamnya. (Idem).

7. Tidur dengan berbaring ke sisi kanan

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: “Syariat ini menganjurkan tidur dengan berbaring ke sisi kanan, agar tidurnya tidak pulas hingga dia tidak bisa bangun malam. Tidur ke sisi kanan sangat bermanfaat bagi hati”. (Zaadul Ma’ad 1/321).

8. Pasang jam beker sebagai alat pembangun.

9. Minta bantuan orang lain untuk membangunkan kita, seperti istri dan anak atau lainnya.

10. Minta bantuan teman agar menghubungi kita lewat telpon saat tengah malam.

11. Jangan Lupa Bangunkan Keluarga

Aisyah Radhiyallahu’anha berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِثْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan beliau menguatkan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. (HR. Bukhari no.2024).

12. Perbanyak do’a

Perbanyaklah membaca do’a pada malam yang mulia ini dengan do’a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah Radhiyallahu’anha tatkala dia berkata;

يَا رَسُولَ اللهِ أَرَّأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ: تَقُولِينَ اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوُّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنى

Wahai Rasulullah, bila aku mendapati Lailatul Qadar, apakah yang saya ucapkan?. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Ucapkanlah: Allahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Anni; Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampun, maka ampunilah aku”. (HR.Tirmidzi no.3513, Ibnu Majah no.3850. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykah no.2091).

13. Baca al-Qur’an

Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah berkata: “Dan menghidupkan malam Lailatul Qadar adalah dengan shalat, dzikir, baca do’a, membaca al-Qur’an dan sebagainya dari amalan-amalan kebaikan.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz 15/426)

Allahu A’lam.

Telaga Sakinah-Cikarang Barat. (Malam hari yang sejuk diiringi rintik hujan).
03 Sya’ban 1446 H / 01 Februari 2025.

Seorang hamba yang sangat mengharapkan ampunan Rabbnya.

Abu Abdillah Syahrul Fatwa, Lc., M.A.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button