Akidah dan ManhajArtikel dan Kajian

Jalan Pendidikan Para Ulama

بسم الله الرحمن الرحيم

📚┃ Tabligh Akbar: Jalan Pendidikan Para Ulama
🎙┃Pemateri: Syaikh Nu’man bin Abdul Karim Al Watr (Mudir Darul Hadits Makho, Yaman)
🎙️┃ Penerjemah: Ustadz Bahr Khoiruzaad, Lc M.H (Dosen STAI JIC Surakarta)
🗓️┃Selasa, 7 Juli 2026 / 22 Muharram 1448 H
🕰️┃ Ba’da Maghrib
🕌┃ Masjid Jajar Islamic Center Surakarta



Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Syaikh mengawali kajian dengan memohon agar majelis ini penuh barakah dan bermanfaat.

Kemudian beliau membaca Al-Qur’an Surat Al-Fath Ayat 28:

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

Para mufasir memberi penjelasan bahwa Al-Huda atau petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat yang bisa menyelamatkan manusia dari kesesatan serta menjelaskan berbagai jalan yang baik dan buruk, dan agama yang haq adalah amal yang Shaleh yang bisa membersihkan hati , menyucikan jiwa, menumbuhkan akhlak baik dan meninggikan derajat diri. Maka, semakin tinggi ilmu dan amal yang shalih seorang hamba maka akan semakin mulia di sisi Allah ﷻ.

Dan Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224).

Kita dituntut untuk menuntut ilmu syar’i. Dengannya merupakan indikator kebaikan di sisi Allah ﷻ.

Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).

Hukum menuntut ilmu ada dua:

  1. Fardhu ain: wajib bagi setiap Muslim untuk mempelajarinya, yaitu ilmu yang berkaitan dengan kewajiban setiap muslim dan perkara-perkara yang wajib ditinggalkan.
  2. Fardhu kifayah yang hanya dituntut bagi sebagian kaum muslimin. Apabila sudah ada sebagian yang menuntut ilmu maka gugurlah kewajiban bagi yang lain.

Dan ahli ilmu memiliki banyak keutamaan sebagaimana Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

وَ فَضْلُ اْلعَالِمِ عَلَى اْلعَابِدِ كَفَضْلِ اْلقَمَرِ عَلَى سَائِرُ اْلكَوَاكِبِ, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ,

“Keutamaan orang yang berilmu dibanding dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi…” [HR.Abu Dawud (3641), At-Tirmidzi(2682)]

Dan para malaikat berbondong-bondong memberikan shalawat kepada para penuntut ilmu.

Sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi, dari Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Disebutkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dua orang, salah satunya adalah orang yang ahli dalam ibadah, sedangkan yang lainnya adalah seorang alim, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِيْ عَلَى أَدْنَاكُمْ.

“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seseorang yang paling rendah di antara kalian.”

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِيْنَ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ.

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada di lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” [Jaami’ at-Tirmidzi kitaab al-‘Ilmu bab Fii Fadhlil Fiqh ‘alal ‘Ibaadah (VII/379-380 no. 2825)]

Sejak dahulu, baik pria maupun wanita mempelajari ilmu. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang berada di atas kitabullah dan sunnah-sunnah Nabi ﷺ. Mereka beribadah di atas ilmu tersebut, mereka beribadah dengan ilmu, baik shalat, haji dan dzikir atau ibadah lainya dan muamalah. Maka, seseorang hendaknya menuntut ilmu agar ibadah yang dilakukan di jalan yang benar dan tidak terjatuh pada kesalahan dan dosa.

Bahwasanya sahabat-sahabat Nabi ﷺ ditengah kesibukan ditengah ladang dan perniagaan mereka, tetapi tidak menghalangi dari menuntut ilmu. Maka lahirlah dari mereka para ulama baik laki-laki maupun perempuan. Namun, pada zaman sekarang, banyak yang beralasan dengan kesibukan, yang akhirnya menghalangi dari menuntut ilmu. Padahal memungkinkan bagi mereka untuk menuntut ilmu, kesibukan mereka banyak pada hal-hal yang tidak bermanfaat.

Apabila kita ingin mengikuti jalannya para ulama seperti iman Ahmad, Imam Syafi’i, imam malik dan imam Abu Hanifah, maka kita harus merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah. Ilmu Akidah, ilmu tafsir, ilmu fikih dan lainnya, semuanya berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Beliau menyebutkan jalan untuk mendapatkan ilmu sebagaimana yang telah ditempuh ahlul islam dari dahulu sampai sekarang, ilmu itu panjang dan umur kita pendek. Maka pelajarilah ilmu yang terpenting sampai yang kurang penting. Yaitu ilmu yang terpenting tentang Allah ﷻ, Tauhid dan hak-hak Allah ﷻ serta sifat-sifatNya.

Bahwasanya Nabi ﷺ ketika mengutus para dai beliau, Nabi ﷺ berpesan memulai dakwah mereka dengan Tauhid. Seperti halnya nasehat beliau kepada muadz bin Jabal yang akan mendakwahi ahli kitab.

Rasulullah ﷺ berpesan kepada Mu’adz bin Jabal saat mengutusnya ke Yaman agar memulai dakwah secara bertahap: ajarkan kalimat tauhid (syahadat) terlebih dahulu. Bila mereka taat, lanjutkan dengan perintah salat lima waktu, lalu kewajiban zakat, dan peringatkan Mu’adz untuk menjauhi kezaliman serta doa orang yang teraniaya.

Tatkala Rasulullah ﷺ berdakwah, selalu menulis surat kepada para raja Ramawi dan Persi, beliau memulai risalahnya dengan dakwah Tauhid yang hak Tauhid adalah hak Allah ﷻ yang paling agung. Beliau tidak memulai dakwahnya dengan yang lain dari perkara-perkara dunia.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surah Adz-Dzariyat ayat 56 menegaskan bahwa tujuan utama Allah menciptakan jin dan manusia adalah semata-mata untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Demikian juga dalam surat Ali ‘Imran · Ayat 64:

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ۝٦٤

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.”

Semua nabi memulai dakwah mereka dengan dakwah Tauhid, agar mereka beribadah menyembah Allah ﷻ saja. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah ﷻ, mereka para nabi mengatakan:

يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ

Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. (Hud ayat 84)

Dalam ayat lainya :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,
(QS. An-Nahl ayat 36)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, akan terjagalah darah-darah dan harta-harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam, sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.”

(HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 25 dan Muslim, no. 21]

Dalam Surah An-Nisa ayat 36:

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”

Dalam Surat Al-Isra ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قال:
قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم كَلِمَةً وَقُلْتُ أُخْرَى، قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ» وَقُلْتُ أَنَا: مَنْ مَاتَ وَهُوَ لَا يَدْعُو لِلهِ نِدًّا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
[صحيح] – [متفق عليه] – [صحيح البخاري: 4497]

Abdullah bin Mas’ūd -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ pernah mengucapkan sebuah kalimat dan aku mengucapkan kalimat yang lain. Nabi ﷺ bersabda, “Siapa yang meninggal dalam keadaan berdoa kepada selain Allah, niscaya akan masuk neraka.” Sedangkan aku mengatakan, “Siapa yang meninggal dalam keadaan tidak berdoa kepada seorang sekutu bagi Allah, niscaya akan surga.” [Ṣaḥīḥ Bukhari – 4497]

Banyak kaum muslimin yang melafalkan kalimat Tauhid, tetapi mereka tidak mengetahui kandungannya.

Tauhid adalah engkau mengakui bahwasanya Dialah saja Allah ﷻ yang berhak untuk diibadahi dan selain-Nya adalah batil.

Maka, makna Tauhid yang benar adalah Hanya menyembah kepada Allah ﷻ saja dan tidak menyekutukanNya, karena hanya Allah ﷻ yang berhak untuk diibadahi dan selain-Nya adalah batil.

Apabila kita sudah mengetahui makna Tauhid, maka kita harus melakukan ibadah hanya untuk Allah ﷻ saja baik berkenaan dengan do’a, nazar, kurban, istighasah, mahabah, roja dan lainnya baik yang dzahir ataupun bathin, tidak boleh diperuntukkan kepada selain Allah ﷻ.

Berdasarkan hadis dari sahabat Muadz bin Jabal, hak Allah atas hamba-Nya adalah beribadah hanya kepada Allah ﷻ semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sebaliknya, hak hamba atas Allah adalah Dia tidak akan mengazab hamba yang tidak berbuat syirik sedikit pun.

Hadits yang dikeluarkan oleh Iman Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallahu ta’ala dalam kedua kitab shahihnya dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( يا معاذ, أ تدرى ما حق الله على عباد ؟ ) قال : الله و رسوله أعلم, قال : ( أن يعبدوه ولا يشركو به شيأ, , أ تدرى ما حقهم عليه ؟) قال : الله و رسوله أعلم, قال : (أن لا يعذبهم) و فى لفظ لمسلم : ( و حق العباد على الله عز و خل أن لا يعذب من لا يشرك به شيأ )

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : (yaitu)“hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, (dan) tahukah engkau hak hamba terhadap Allah ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : “Dia tidak akan mengadzab mereka”

Maka, jika kita sudah mengetahui hak Allah ﷻ tersebut, maka barangsiapa yang menyeru kepada selain Allah ﷻ, meminta kepada para nabi, malaikat, pohon atau lainya yang tidak dapat memberikan manfaat atau menjatuhkan mudharat, ia telah jatuh kepada kesyirikan.

Firman-Nya dalam Surat Yunus Ayat 107:

وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ ۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Atas dasar itu, ibadah adalah hak khusus bagi Allah ﷻ, maka kewajiban seorang muslim wajib menjauhi segala bentuk kesyirikan. Karena Allah ﷻ tidak mengampuni segala bentuk kesyirikan. Jika Allah ﷻ tidak mengampuni maka kembalinya di neraka. Na’udzubillahmindalik.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72).

Dalam hadits qudsi dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR. Tirmidzi no. 3540. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Abu Thohir)

Maka, perkara yang paling penting bagi penuntut ilmu adalah mempelajari Tauhid, dan tidak sah amalan seseorang jika tidak mempelajari Tauhid terlebih dahulu.

Maka, ulama mengajarkan pelajari tauhid sebelum mempelajari Al-Qur’an. Islam agama yang mudah dan penuh dengan keselamatan.

Setelah perkara Tauhid, hendaknya mempelajari Al-Qur’an karena Dialah pondasi ilmu, kemudian mempelajari sunnah-sunnah Nabi ﷺ, baik mukim maupun Safar. Nabi ﷺ adalah teladan dalam hidup kita.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Al-Ahzab Ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ۝٢١

Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.

Apabila seorang muslim mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ dengan benar, Maka dia akan menunaikan hak Allah ﷻ dan hak manusia dengan muamalah yang benar, Baik dengan anak dan isterinya, tetangganya dan manusia lainnya.

Apapun profesinya, dokter, pedagang ataupun lainnya, maka dia akan bermuamalah dengan baik dan benar dan Syaikh mengakhiri kajian dengan mendo’akan kebaikan dan dijauhkan dari keburukan.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button