
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
📚┃ Materi : Menjadi Muslim yang Bermanfaat
🎙┃ Pemateri : Ustadz Dzuqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah.
🗓️┃ Hari, Tanggal : Selasa, 7 Juli 2026 M / 22 Muharram 1448
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Umar – Windan Kartasura
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih diberikan kesempatan bermajelis yang penuh keberkahan dalam rangkaian kegiatan menjalankan Shalat Subuh.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita manusia yang banyak keberkahan hingga menjadi orang-orang yang dicintai Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits:
الْمُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ، وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ، وَلَا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاس
“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan mudah didekati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bergaul dan tidak mudah didekati. Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat dari mereka untuk manusia”. (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no: 3289)
Bermanfaat artinya mendatangkan kebaikan. Dan Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling bermanfaat, sebagaimana sifatnya para nabi dan Rasul.
Ketika Rasulullah ﷺ pulang dari Gua Hira’ dalam keadaan ketakutan setelah menerima wahyu pertama, Sayyidah Khadijah Radhiyallahu’anha menenangkan beliau dengan menyebutkan lima sifat kemuliaan Nabi ﷺ:
- Selalu menyambung silaturahim (suka menjalin hubungan baik dengan keluarga dan kerabat).
- Memikul beban orang lain (selalu meringankan penderitaan orang yang sedang kesusahan).
- Suka memberi kepada yang membutuhkan.
- Memuliakan tamu (menjamu dan menghormati orang yang datang).
- Menolong orang-orang yang menegakkan kebenaran (atau menolong korban dari musibah dan kezaliman).
Khadijah Radhiyallahu’anha mengetahui sifat-sifat Nabi ﷺ dengan penuh keyakinan.
Demikian juga Nabi Yusuf alaihissalam yang tatkala dipenjara ada seorang yang bermimpi, dan menceritakan bahwa engkau adalah seorang yang selalu berbuat Ihsan (baik hati).
Allah menyebut Nabi Yusuf alaihissalam dengan sifat ihsan ini, di awal kisah, setelah saudara-saudaranya membuangnya ke dalam sumur dan diambil anak oleh penguasa Mesir. Maka, Nabi Yusuf alaihissalam melayani mereka saudaranya yang telah mendzaliminya.
وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗۤ اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا ۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِ ى الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Yusuf: 22)
Demikian juga nabi Isa Alaihissalam yang menjelaskan bahwasanya aku orang yang berberkah. Firman-Nya dalam surat Maryam ayat 31:
وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُۖ
Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada
Penafsiran ayat ini:
- Berkata Mujahid ketika menjelaskan makna berberkah yaitu orang yang selalu mengajarkan kebaikan.
- Atha bin Abi rabah menjelaskan kebaikan maknanya selalu berdakwah.
- Imam Al-Baghawi menjelaskan bahwa berberkah maknanya selalu memberi manfaat.
Maka, orang yang berberkah maknanya adalah orang yang bermanfaat dimanapun berada. Bukan seperti sebagian manusia yang tidak bermanfaat bagi manusia lainnya.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshari radhiallahu ‘anhu:
وعَنِ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshari, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allah. Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Merujuk pada Surah Ad-Dukhan ayat 29. Ayat ini menjelaskan bahwa ketika orang-orang zalim dan sombong (seperti Fir’aun dan kaumnya) dibinasakan, tidak ada tangisan atau kesedihan dari langit dan bumi karena mereka tidak memiliki amal saleh yang diangkat ke atas.
Sebaliknya, ulama tafsir menjelaskan bahwa bagi orang-orang mukmin yang saleh, tempat-tempat ibadah dan amal kebaikan mereka di bumi dan di langit akan senantiasa menangisi kepergian mereka karena kehilangan amalan serta ketaatan mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim,
وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).
Maka, janganlah mendatangkan keburukan pada manusia. Memberikan rasa aman bagi manusia lainya. Karena rasa aman adalah modal utama dalam beribadah.
Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari Ubaidullah bin Mihshan al-Khatmi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)
Dalam riwayat Tirmidzi dan An Nasa’i,
و المؤمن من أمنة الناس على دمائهم و أموالهم
“Seorang mu’min (yang sempurna) yaitu orang yang manusia merasa aman darah mereka dan harta mereka dari gangguannya.”
Sebab-sebab menjadi orang-orang yang bermanfaat adalah:
1. Berakidah yang benar
Karena sumber kemanfaatan adalah aqidah yang benar, karena akidah yang baik, akan berpengaruh terhadap dirinya dimanapun bumi dipijak.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Maka, harus ada keyakinan dalam akidah yang benar dan ini adalah pokok dakwah para nabi dan Rasul dan kunci masuk ke dalam surga. Perhatian terhadap akidah yang benar adalah sumber dari segala manfaat.
Kaum musyrikin memiliki sifat yang baik antara lain memuliakan tamu. Dan menolong orang-orang yang dizalimi, tetapi mereka tidak bermanfaat karena berbuat kesyirikan.
Dan pelaku syirik selalu akan menghasilkan keburukan sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Hajj Ayat 31:
وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ ٱلطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ ٱلرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ
Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.
Maka, siapa yang ingin memanen buah, dia harus menanam pokoknya, jika tidak dilakukan maka mustahil dapat hasilnya. Pokok agama adalah akidah berupa keimanan yang benar.
Seperti apa tahapan yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam pendidikan? Jundub bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu memaparkan tahapan tersebut,
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
“Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar Al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat.” (HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy)
2. Teguh di Atas Islam dan sunnah Nabi ﷺ
Islam bermakana agamanya para nabi dan Rasul. Kemudian teguh di atas sunnah, yaitu jalannya Nabi ﷺ, sebagai uswatun hasanah. Sebagaimana firman-Nya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah ﷻ. (QS Al-Ahzab ayat 21)
Maka, orang-orang yang bermanfaat adalah orang-orang yang mengikuti jalannya Nabi ﷺ dan pada sahabat. Merekalah generasi terbaik, karena sifat-sifat mereka mencontoh dari perbuatan Nabi ﷺ.
Maka, siapa yang ingin bermanfaat, ikutlah pemahaman akidah dan Sunnah yang benar. Yang menghasilkan ilmu dan akhlak yang baik.
Keberkahan akan selalu ada bersama orang yang tua diantara kalian. Rasulullah ﷺ: “Keberkahan itu bersama orang-orang tua (senior) di antara kalian.” (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban).
Dalam Islam, orang tua yang dimaksud mencakup orang tua secara keilmuan (ulama atau tokoh senior).
Dalam hadits lainya:
عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ جَاءَ شَيْخٌ يُرِيدُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَبْطَأَ الْقَوْمُ عَنْهُ أَنْ يُوَسِّعُوا لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا. (رواه الترمذي)
Anas bin Malik berkata, “Seorang lelaki tua datang kepada Nabi ﷺ lantas orang-orang memperlambat untuk memperluas jalan untuknya, maka Nabi ﷺ bersabda, “Bukan termasuk dari golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak menghormati orang tua (orang dewasa) kami.” (Hadits Riwayat Tirmidzi).
3. Ilmu yang Bermanfaat
Dan ciri kebaikan adalah ilmu yang bermanfaat. Allah tidak diibadahi dengan sesuatu yang terbaik selain ilmu yang benar. Ilmu adalah landasan dari segala amal perbuatan. Tanpa adanya pemahaman yang benar (ilmu), sebuah ibadah tidak akan sah atau tidak diterima.
Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).
Maka, orang yang berilmu akan memperoleh kebaikan dalam ibadahnya seperti seseorang yang berjama’ah subuh kemudian ikut kajian, orang yang berilmu akan menghadirkan beberapa niat, seperti:
- Menuntut ilmu
- I’tikaf
- Mengikuti sunnah Nabi ﷺ
- Mencari keberkahan di waktu subuh.
4. Berdakwah di Jalan Allah ﷻ
Dalam Al-Qur’an Surat Fushshilat ayat 33:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?'”
Ayat ini menegaskan bahwa perkataan yang paling mulia di sisi Allah adalah dakwah (mengajak kepada kebaikan/tauhid), diiringi dengan amal saleh, dan keteguhan iman sebagai seorang muslim.
Dan paling tidak kepada anggota keluarga kita. Sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[at-Tahrîm/66:6]
5. Selalu berbuat baik
Ihsan adalah perkara yang luar biasa, yang membawa kebaikan bagi manusia. Sebagaimana ilmu, selalu membawa kesejukan bagi pemiliknya.
Wahai Ahli ilmu yang baik histori amalannya, bergembiralah, karena engkau selalu puas minum walaupun tidak ada air…
Ahli ilmu (penuntut ilmu) tidak pernah merasa kenyang dengan ilmu dan justru lebih membutuhkan ilmu agama daripada kebutuhan jasad akan makan dan minum. Hal ini karena ilmu adalah asupan bagi hati dan ruh.
Berbuat baik adalah cara paling ampuh untuk meluluhkan dan memenangkan hati seseorang. Dan itu akan kembali kepada diri sendiri.
اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِكُمۡ
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. (QS. Al-Isra ayat 7)
وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ
dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat (Al-qashash-Ayat-7)
Maka, jika seseorang yang berjalan di atas Ihsan adalah ia berada pada sudut kemanfaatan.
6. Berbuat ishlah (Mendamaikan)
Firman-Nya dalam Al-Qur’an :
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰٮهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَا حٍ ۢ بَيْنَ النَّا سِ ۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَا تِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُـؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 114)
Mendamaikan orang bermusuhan pahalanya besar. Dan Bukan orang yang berbuat kerusakan.
7. Nabi ﷺ selalu Memberikan Kaidah besar
Diantaranya adalah membantu orang lain dalam kebaikan. Dan membantu manusia dalam menunaikan hajatnya adalah ciri-ciri orang yang bermanfaat.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ،
“Siapa yang mengangkat satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan angkat darinya satu kesusahan hari Kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang dilanda kesulitan, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. [Ṣaḥīḥ Muslim – 2699]
Dan Nabi ﷺ selalu memberikan nasehat terkadang disesuaikan dengan kondisi yang bertanya, terkadang hanya disebut satu poin seperti ‘Jangan Marah’. Terkadang bisa sampai 5 poin.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita orang-orang yang selalu bermanfaat dan tidak mendatangkan kedzaliman dimanapun berada.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم



