Daurah Sehari: Kitab Al-Waraqat fil Ushul

بسم الله الرحمن الرحيم
📚 ┃Kajian Kitab Al-Waraqat fil Ushul – الورقات في الأصول karya Abul Ma’ali Abdul Malik ibn Yusuf ibn Muhammad ibn Abdullah Al-Juwaini (Imamul Haramain) Rahimahullah.
🎙┃ Ustadz Riza Taufiq Al-Madina, Lc., M.A. Hafizhahullah [Mahasiswa Doktoral Jurusan Fikih, Universitas Islam Madinah & Anggota Dewan Masyayikh Ma’had Al-Faruq].
🗓️┃Sabtu, 18 Juli 2026 – 4 Safar 1448┃ Jam 08:00 – 17:00
🕌┃ Masjid Umar bin Khathab Ma’had Al-Faruq Karanglewas Kidul – Purwokerto
Sesi #1: Pembuka
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya, Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.
Imam An-Nawawi Rahimahullah menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah salah satu bentuk ibadah yang paling utama dan paling agung kedudukannya di sisi Allah ﷻ.
Ushul Fiqih (Metodologi Penggalian Hukum)
Ushul Fiqih adalah ilmu tentang kaidah, metode, dan dalil yang digunakan oleh seorang ahli hukum (mujtahid) untuk menarik kesimpulan hukum dari Al-Qur’an dan Hadits.
Fiqih (Produk Hukum Praktis)
Fiqih adalah kumpulan pemahaman dan kesimpulan hukum dari para ulama mengenai perbuatan manusia sehari-hari (ibadah, muamalah, pidana), berdasarkan dalil-dalil syariat.
Qawaid Fiqhiyyah (Kaidah Universal)
Qawaid (bentuk jamak dari qa’idah) adalah prinsip-prinsip umum hukum yang bersifat fleksibel yang berfungsi untuk mengelompokkan masalah-masalah fiqih yang tersebar agar lebih mudah diterapkan.
Sebagaimana suatu pabrik air minum, pabriknya adalah Ushul Fiqih dan produk air minum kemasannya adalah Fiqih-nya.
Sebagaimana para ulama telah menyusun kitab seperti Kitab Ar-Risalah yaitu karya monumental di bidang ushul fikih yang ditulis oleh Imam Syafi’i. Kitab ini membahas kaidah-kaidah dasar dalam menggali hukum Islam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti konsep bayan (penjelasan), nasikh mansukh (hukum yang menghapus dan dihapus), ijma’, dan qiyas.
Tentang Kitab Al-Waraqat
Kitab al-Waraqat adalah karya klasik paling mendasar dalam disiplin ilmu Ushul Fiqih karya Imam Haramain al-Juwaini (w. 478 H) dari mazhab Syafi’i. Kitab ringkas ini mengkaji kaidah asasi penetapan hukum Islam, seperti pembagian hukum syariat (wajib, haram, dll), sumber hukum (Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas), serta metode ijtihad.
Penulis: Abu al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf al-Juwaini. Dikenal sebagai Imam Haramain karena pernah bermukim dan mengajar di Mekah dan Madinah.
Aqidah beliau awalnya mempelajari ilmu kalam, namun Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah mengatakan bahwa Syaikh Abdul Malik telah menyesal mempelajari ilmu kalam dan rujuk kepada sunnah.
Dan kitab ini, tidak ada penyimpangan yang ada di dalamnya dan terus dikaji para ahli ilmu.
Kegunaan Mempelajari Ushul Fiqih
Agar memahami Al-Qur’an dan Hadits dengan benar. Sebagaimana jika ada seolah-olah pertentangan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits.
Contohnya: Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Kahfi ayat 29:
فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْۚ
Maka siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman dan siapa yang menghendaki (kufur), biarlah dia kufur.
Dalam ayat ini terdapat kata perintah berupa maka kafir lah, tetapi maknanya bukan perintah untuk kafir. kalimat ini bermakna:
- Bukan Perintah: Ini adalah bentuk ancaman atau peringatan keras dari Allah ﷻ atas pilihan manusia, bukan membolehkan atau menyuruh untuk kafir.
- Kebebasan Memilih: Allah ﷻ memberikan kehendak bebas (free will) kepada manusia untuk memilih antara jalan kebenaran (iman) atau kesesatan (kufur).
Contoh lain: Dalam ayat 2 surat Al-Ma’idah disebutkan:
وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَٱصْطَادُوا۟ ۚ
apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berburulah.
Dalam ayat ini meskipun terlihat kata perintah, hakekatnya berburu tidaklah wajib setelah haji.
Analogi dalam Memahami Ushul Fiqih
Untuk memudahkan kita memahami usul fikih, ada baiknya kita menggunakan metode mind map atau peta pikiran, serta analogi, yang acap kali dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menggambarkan suatu hal kepada para sahabatnya.
Kita gambarkan usul fikih sebagai sebuah pohon yang besar dan berbuah. Buahnya matang dan siap dipetik. Lalu datang seseorang yang mencoba untuk memetik buah tersebut. Inilah gambaran usul fikih secara sederhana.
Pohon tersebut ibarat sumber hukum (أدله) di dalam Islam, yaitu Al-Qur’an, sunah, ijmak, dan qiyas. Sedangkan buah pohon itu adalah hukum itu sendiri, yakni wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram. Orang yang datang untuk memetik buah itu adalah seorang mujtahid. Ia ingin memetik buah berupa hukum dari pohon yang merupakan sumber hukum. Terakhir, cara orang tersebut memetik buah adalah metode dalam mengeluarkan hukum suatu permasalahan dari sumber hukum itu sendiri, yang sudah kita singgung sebelumnya sebagai istidlal atau istinbath.
Bagian-bagian dari Ushul Fiqih adalah:
1. Ahkam (الأحكام) (Hukum-hukum): Membahas tentang segala titah (ketentuan) Allah ﷻ yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf. Ini mencakup pembagian hukum kepada taklifi (wajib, sunnah, haram, makruh, mubah) dan hukum wad’i (sah dan batal).
2. Al-Adillah (الأدلة) (Sumber/Dalil Hukum): Membahas landasan atau sumber hukum Islam. Terbagi menjadi dalil yang disepakati (Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas) serta dalil yang diperselisihkan (Istihsan, Maslahah Mursalah, ‘Urf, Sadz adz-Dzari’ah, dan lainnya).
3. Qawaid/Thariqah al-Istinbath (طريقة الاستنباط) (Kaidah Pengambilan Hukum): Membahas kaidah-kaidah kebahasaan (bahasa Arab) dan logika untuk memahami teks dalil. Ini mencakup pembahasan tentang am-khash (umum-khusus), muthlaq-muqayyad, manthuq-mafhum, serta amr (perintah) dan nahy (larangan).
4. Ijtihad dan Taqlid : Membahas metode penggalian hukum bagi seorang ahli (المجتهد) beserta syarat-syaratnya, konsep ittiba’, serta aturan bertaqlid (mengikuti pendapat ulama) bagi orang awam.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
Kitab Al-Waraqat fil Ushul
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
Pengantar
مُقَدِّمَةُ الْكِتَابِ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
هَذِهِ وَرَقَاتٌ تَشْمَلُ عَلَى مَعْرِفَةِ فُصُولٍ مِّن أُصُولِ الْفِقْهِ. وَذَٰلِكَ مُؤَلَّفٌ مِّن جُزْأَيْنِ مُفْرَدَيْنِ: فَالأَصْلُ مَا يُبْنَى عَلَيْهِ غَيْرُهُ، وَالْفَرْعُ مَا يُبْنَى عَلَى غَيْرِهِ. وَالْفِقْهُ: مَعْرِفَةُ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الَّتِي طَرِيقُهَا الْاجْتِهَادُ.
Ini adalah lampiran-lampiran yang mencakup fasal-fasal ilmu Ushul Fiqih.
Makna Etimologis Ushul Fiqih
Ushul Fiqih itu tersusun dari dua bagian kata tunggal (dua kata tersebut yang pertama yaitu:) al ashlu (asal) adalah sesuatu yang menjadi landasan terbangunnya sesuatu yang lain. Sementara al far’u (cabang) adalah perkara yang dibangun di atas sesuatu yang lain. (kata yang kedua adalah) Fiqh adalah mengetahui hukum-hukum syariat yang jalan perolehannya adalah Ijtihad.
Perbedaan Antara Fiqih, Ilmu, Zhann, dan Syakk
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
وَالْفِقْهُ أَخَصُّ مِنَ الْعِلْمِ. وَالْعِلْمُ مَعْرِفَةُ الْمَعْلُومِ عَلَى مَا هُوَ بِهِ فِي الْوَاقِعِ. وَالْجَهْلُ: تَصَوُّرُ الشَّيْءِ عَلَى خِلَافِ مَا هُوَ بِهِ فِي الْوَاقِعِ. وَالْعِلْمُ الضَّرُورِيُّ مَا لَا يَقَعُ عَنْ نَظَرٍ وَاسْتِدْلَالٍ، كَالْعِلْمِ الْوَاقِعِ بِإِحْدَى الْحَوَاسِّ الْخَمْسِ. وَأَمَّا الْعِلْمُ الْمُكْتَسَبُ فَهُوَ الْمَوْقُوفُ عَلَى النَّظَرِ وَالِاسْتِدْلَالِ. وَالنَّظَرُ هُوَ الْفِكْرُ فِي حَالِ الْمَنْظُورِ فِيهِ.
وَالِاسْتِدْلَالُ طَلَبُ الدَّليلِ. وَالدَّليلُ هُوَ الْمُرْشِدُ إِلَى الْمَطْلُوبِ. وَالظَّنُّ تَجَوُّزُ أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَظْهَرُ مِنَ الْآخَرِ. وَالشَّكُّ تَجَوُّزُ أَمْرَيْنِ لَا مَزِيَّةَ لِأَحَدِهُمَا عَلَى الْآخَرِ.
Fiqih itu lebih khusus dari pada ilmu. Ilmu adalah mengetahui informasi-informasi (pengetahuan) berdasarkan apa yang terjadi sebenarnya (kenyataan). Jahl (Bodoh) adalah menggambarkan (yakni memahami) sesuatu, berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Ilmu Dharuri (Ilmu pasti) adalah ilmu yang diperoleh tanpa memerlukan pemikiran mendalam dan mencari pembuktian. Adapun Ilmu Muktasab adalah ilmu yang perolehannya didasarkan pada berpikir dan pembuktian. Nadzor adalah berfikir (menganalisis) keadaan perkara yang dijadikan sasaran berpikir (objek kajian).
Istidlal adalah mencari dalil (bukti). Dalil adalah sesuatu yang menunjukkan pada sesuatu yang dicari. Zhann (menyangka) adalah menganggap mungkin terjadinya dua perkara dimana yang salah satunya lebih kuat dari yang lain. Syakk (ragu) adalah menganggap mungkin terjadinya dua perkara dimana tidak ada yang saling lebih kuat diantara keduanya.
1. Al-Ahkam
- Taklifiyah: Wajib, mustahab, mubah, makruh dan haram.
- Wad’iyah: Shahih dan Bathil.
Dan Mualif Syaikh Abdul Malik menggabungkan semuanya menjadi satu.
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
الأحْكَامُ سَبْعَةٌ
وَالأحْكَامُ سَبْعَةٌ: الْوَاجِبُ، وَالْمَنْدُوبُ، وَالْمُبَاحُ، وَالْمَحْظُورُ، وَالْمَكْرُوهُ، وَالصَّحِيحُ، وَالْفَاسِدُ.
فَالْوَاجِبُ: مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَيُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ. وَالْمَنْدُوبُ: مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ. وَالْمُبَاحُ: مَا لَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ. وَالْمَحْظُورُ: مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ وَيُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ. وَالْمَكْرُوهُ: مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ. وَالصَّحِيحُ: مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَيُعْتَدُّ بِهِ. وَالْبَاطِلُ: مَا لَا يَتَعَلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَلَا يُعْتَدُّ بِهِ.
Hukum ada tujuh, yaitu:
- Wajib,
- Mandub,
- Mubah,
- Mahdzur,
- Makruh,
- Shohih, dan
- Batil
Taklifiyah – التكليفيه
- Wajib adalah sesuatu yang diberi pahala karena melakukannya, dan disiksa karena meniggalkannya.
- Mandub (sunnah, mustahab) adalah sesuatu yang diberi pahala karena melakukannya, dan tidak disiksa karena meninggalkannya.
- Mubah (halal, boleh) adalah sesuatu yang tidak diberi pahala karena melakukannya, dan tidak disiksa karena meninggalkannya.
- Mahdzur (haram, dilarang) adalah sesuatu yang diberi pahala karena meninggalkannya, dan disiksa karena melakukannya.
- Makruh (sebaiknya ditinggalkan) adalah sesuatu yang diberi pahala karena meninggalkannya dan tidak disiksa karena melakukannya.
Wad’iyah – الوضعيه
- Sahih adalah sesuatu yang dianggap telah berhasil kepada tujuan (nufudz) dan dinilai mencukupi.
- Batil adalah sesuatu yang tidak berhasil (tidak sampai tujuan) dan tidak dianggap mencukupi.
Contoh:
- Jangan menjual barang yang bukan miliknya – ( لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ )
- Hukum taklif: Haram
- Hukum wad’iyah: batil
- Larangan jual beli setelah adzan Shalat Jum’at: – (فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ )
- Hukum taklif: haram
- Hukum wad’iyah: batil
Sesi #2: Pengertian Terminologis Ushul Fiqih
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
وَأُصُولُ الْفِقْهِ: طُرُقُهُ عَلَى سَبِيلِ الْإِجْمَالِ وَكَيْفِيَّةُ الْاسْتِدْلَالِ بِهَا.
Ilmu ushul fiqih adalah motode-metode fiqih secara global dan tata cara mencari dalil (bukti) dengan metode tersebut.
Topik-Topik Ushul Fiqih
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
وَأَبْوَابُ أُصُولِ الْفِقْهِ أَقْسَامٌ: الْكَلَامُ، وَالْأَمْرُ، وَالْنَّهْيُ، وَالْعَامُ، وَالْخَاصُ، وَالْمُجْمَلُ، وَالْمُبِيِّنُ، وَالظَّاهِرُ، وَالْأَفْعَالُ، وَالنَّاسِخُ، وَالْمَنْسُوخُ، وَالإِجْمَاعُ، وَالْأَخْبَارُ، وَالْقِيَاسُ، وَالْحَظْرُ وَالْإِبَاحَةُ، وَتَرْتِيبُ الْأَدِلَّةِ، وَصِفَةُ الْمُفْتِي وَالْمُسْتَفْتِي، وَأَحْكَامُ الْمُجْتَهِدِينَ.
Bab-bab yang dibahas di Ushul fiqih adalah: pembagian kalam (kalimat), amr (kata perintah), nahi (kata larangan), ‘am (kata umum), khas (kata khusus), mujmal, mubayyan, dzahir (makna tersurat), muawwal (makna yang ditakwil/tersirat), af’al (kata kerja), nasikh, mansukh, ijma’, akhbar, qiyas, hadzr (hukum haram), ibahah (hukum boleh), tartibul adillah (urutan-urutan sumber hukum), sifat mufti (sifat dan gambaran pemberi fatwa), mustafti (orang yang meminta fatwa), dan ketentuan-ketentuan mujtahid.
Contoh kasus: Dalam riwayat Muslim disebutkan,
لاَ يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ
“Jangan salah seorang dari kalian mandi di air yang tergenang dalam keadaan junub” (HR. Muslim no. 283).
2. Al-Adillah (Sumber/Dalil Hukum)
Membahas landasan atau sumber hukum Islam. Terbagi menjadi:
- Muttafaqun alaihi: dalil yang disepakati (Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas)
- Dalil yang diperselisihkan ( Al-Amr dan nahi, Istihsan, Maslahah Mursalah, ‘Urf, Sadz adz-Dzari’ah, dan lainnya).
Tipologi Kalâm
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
الكَلَامُ وَأَقْسَامُهُ
فَأَمَّا أَقْسَامُ الكَلَامِ، فَأَقَلُّ مَا يَتَرَتَّبُ مِنْهُ الكَلَامُ: اسْمَانِ، أَوْ اسْمٌ وَفِعْلٌ، أَوْ فِعْلٌ وَحَرْفٌ، أَوْ اسْمٌ وَحَرْفٌ. وَالكَلَامُ يَنْقَسِمُ إِلَى أَمْرٍ وَنَهْيٍ وَخَبَرٍ وَاسْتِخْبَارٍ، وَيَنْقَسِمُ أَيْضًا إِلَى تَمَنٍ وَعَرْضٍ وَقَسَمٍ. وَمِنْ وَجْهٍ آخَرَ يَنْقَسِمُ إِلَى حَاقِقَةٍ وَمَجَازٍ، فَالحَاقِقَةُ مَا بَقِيَ فِي الاِسْتِعْمَالِ عَلَى مَوْضُوعِهِ، وَقِيلَ: فِيمَا اِصْطَلَحَ عَلَيْهِ مِنَ المُخَاطَبَةِ. وَالمَجَازُ مَا تَجُوزُ بِهِ عَنْ مَوْضُوعِهِ. وَالحَاقِقَةُ إِمَّا لُغْوِيَّةٌ وَإِمَّا شَرْعِيَّةٌ وَإِمَّا عُرْفِيَّةٌ. وَالمَجَازُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ بِزِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ أَوْ نَقْلٍ أَوْ اسْتِعَارَةٍ، فَالمَجَازُ بِالزِّيَادَةِ مِثْلَ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ﴾، وَالْمَجَازُ بِالنَّقْصَانِ مِثْلَ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿ وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ ﴾، وَالْمَجَازُ بِالنَّقْلِ كَالْغَائِطِ فِيمَا يَخْرُجُ مِنَ الْإِنْسَانِ، وَالْمَجَازُ بِالِاسْتِعَارَةِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿ جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ ﴾.
Selanjutnya, pembagian kalimat (tentu yang dimaksud adalah kalimat dalam bahasa Arab), paling minimal kata untuk menyusun kalimat (dalam bahasa Arab) adalah terdiri dari dua isim (kata benda) atau isim dan fi’il atau fi’il dan huruf atau isim dan huruf. Dan kalam (kalimat) terbagi menjadi amr (kalimat perintah), nahi (kalimat larangan), khobar (kalimat berita), istikhbar (kalimat tanya). Dan (kalam) juga terbagi menjadi tamanni (kalimat perandaian), ‘arodl (kalimat permintaan secara halus) dan qasam (kalimat sumpah).
Dan dari sisi lain (kalam) terbagi menjadi kalam hakikat dan majaz. Kalam Hakikat adalah kalimat atau kata yang dalam penggunaannya menetapi makna aslinya. Dan menurut suatu pendapat: kalam hakikat adalah kalimat atau kata yang digunakan di dalam istilah-istilahnya si penutur (menurut istilahnya suatu golongan). Kalam Majaz adalah kalimat atau kata yang keluar dari makna aslinya. Dan kalam hakikat adakalanya bersifat kebahasaan, syar’iyyah (bersifat keagamaan), dan urfiyyah (bersifat kebiasaan penggunaan kata atau kalimat) Dan kalam Majaz adakalanya dengan penambahan, pengurangan atau perpindahan atau isti’arah (meminjam kata sekaligus makna lain)
Majaz dengan penambahan seperti firman Allah: “laisa kamitslihi syaiun” (tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah). Majaz dengan pengurangan seperti firman Allah: “was alil qaryata” (tanyalah penduduk desa). Majaz dengan pemindahan seperti kalimat “Ghoith” untuk kotoran yang keluar dari manusia. Majaz dengan isti’arah (peminjaman) seperti firman Allah “Jidaran yuridu an yang qoddlo” tembok yang ingin roboh.
📃 Penjelasan:
Suatu lafadz bisa bermakna hakiki dan majazi. Seperti pada kalimat:
- Hakiki: Aku melihat harimau di kebun binatang.
- Majazi: Aku mendengarkan singa podium berkhutbah.
Hakikat ada tiga macam:
- Syar’iyyah: lafadz yang digunakan sebagai sebuah istilah khusus dalam syariat. Contohnya ialah kata “shalat” yang oleh syariat dimaknai sebagai ibadah shalat yang kita kenal, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam serta dilengkapi dengan berbagai persyaratan.
- ‘Urfiyyah: Makna kata yang bergeser karena kebiasaan dan kesepakatan masyarakat tertentu. Contohnya ialah kata “dabbah” yang secara kebahasaan bermakna semua hewan darat, kemudian oleh komunitas orang Arab bermakna hanya pada hewan darat yang berkaki empat.
- Lughowiyah: Penggunaan suatu kata atau lafadz persis sesuai dengan makna asal atau etimologi yang ditetapkan oleh para ahli bahasa Arab. Contohnya, kata “shalat” secara lughawiyah bermakna “doa”.
Amar (Perintah)
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
بَابُ الْأَمْرِ
وَالْأَمْرُ اسْتِدعَاءُ الْفِعْلِ بِالْقَوْلِ مِمَّنْ هُوَ دُونَهُ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ. وَصِيغَتُهُ: افْعَلْ، وَعِندَ الْإِطْلَاقِ وَالتَّجَرُّدِ عَنْ الْقَرِينَةِ تُحْمَلُ عَلَيْهِ، إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ مِنْهُ الْنَّدْبُ أَوِ الْإِبَاحَةُ. وَلَا يَقْتَضِي التَّكْرَارَ عَلَى الصَّحِيحِ، إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيلُ عَلَى قَصْدِ التَّكْرَارِ. وَلَا يَقْتَضِي الْفَوْرَ.
وَالأَمْرُ بِإِيجَادِ الْفِعْلِ أَمْرٌ بِهِ وَبِمَا لَا يَتِمُّ الْفِعْلُ إِلَّا بِهِ، كَالأَمْرِ بِالصَّلَاةِ أَمْرٌ بِالطَّهَارَةِ الْمُؤَدِّيَةِ، وَإِذَا فُعِلَ يَخْرُجُ الْمَأْمُورُ بِهِ عَنْ الْعَهْدَةِ. الَّذِي يَدْخُلُ فِي الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَمَا لَا يَدْخُلُ يَدْخُلُ فِي خَاطِبِ اللَّهِ تَعَالَى: الْمُؤْمِنُونَ. وَالسَّاهِي وَالصَّبِيُّ وَالْمَجْنُونُ غَيْرُ دَاخِلِينَ. وَالْكُفَّارُ مُخَاطَبُونَ بِفُرُوعِ الشَّرِيعَةِ، وَبِمَا لَا تَصِحُّ إِلَّا بِهِ، وَهُوَ الْإِسْلَامُ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿ قَالُوا: لَمْ نَكُن مِّنَ الْمُصَلِّينَ ﴾. وَالْأَمْرُ بِالْشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ،
وَالنَّهْيُ عَنْ الشَّيْءِ أَمْرٌ بِضِدِّهِ. وَالنَّهْيُ اسْتِدْعَاءُ التَّرْكِ بِالْقَوْلِ مِمَّنْ هُوَ دُونَهُ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ، وَيَدُلُّ عَلَى فَسَادِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ. وَتَرِدُ صِيغَةُ الْأَمْرِ وَالْمُرَادُ بِهَا الْإِبَاحَةُ وَالتَّهْدِيدُ أَوِ التَّسْوِيَةُ أَوِ التَّكَايُنُ.
Amr (Perintah) adalah permintaan untuk melakukan perbuatan yang bersifat mengharuskan dengan melalui ucapan kepada orang yang di bawahnya (dalam kedudukan). Bentuk kata perintah (dalam bahasa Arab) adalah if’al. Bentuk kata tersebut ketika dimutlakan dan tidak ada indikasi lain yang meyertainya maka diarahkan ke hukum wajib kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa sesungguhnya yang diharapkan dari sighat amr (kata perintah tersebut) adalah hukum sunnah atau mubah dan tidak menuntut pengulangan berdasarkan pendapat yang shohih kecuali ada dalil yang menunjukkan terhadap tujuan pengulangan dan tidak menuntut untuk dilakukan seketika perintah untuk mewujudkan perbuatan itu berarti perintah terhadap perbuatan tersebut dan terhadap sesuatu yang menyempurnakannya. seperti perintah melakukan sholat, maka sesungguhnya itu perintah melakukan bersuci yang mengantarkan kepada sholat jika perbuatan yang diperintahkan itu telah dilakukan, maka orang yang diperintah terlepas dari tanggungan.
Larangan
Larangan adalah menuntut meninggalkan perbuatan pakai ucapan dari orang yang dibawahnya secara wajib. Larangan itu menunjukkan rusaknya perbuatan yang dilarang. Dan bentuk kalimat perintah berlaku dan yang maksud adalah boleh atau ancaman atau menyamakan atau menciptakan.
📃 Penjelasan:
Perintah
- Ta’rif (Definisi) : permintaan untuk melakukan perbuatan yang bersifat mengharuskan dengan melalui ucapan kepada orang yang di bawahnya (dalam kedudukan).
- Bentuknya (Sighah) : If’al.
- Dilalah: petunjuk atau makna yang terkandung dalam suatu lafaz. Untuk kata amr (perintah), dilalah utamanya adalah menunjukkan suatu tuntutan untuk melakukan perbuatan dari pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah. Contohnya: “Aqimus sholah” (Dirikanlah salat) bermakna wajib dikerjakan.
Larangan
Ta’rif: menuntut meninggalkan perbuatan pakai ucapan dari orang yang dibawahnya secara wajib
- Apakah setiap larangan menjadikan sah tidaknya suatu ibadah. Seperti seorang laki-laki yang shalat memakai sutera. Maka secara taklif haram dan wad’iyah dia berdosa.
- Jangan shalat kecuali menghadap sutrah. Maka didalamnya ada kewajiban menghadap sutrah. Tetapi saat Umar shalat suatu saat tidak memakai suterah, maka diambil hukum sunnah.
Lafazh Am (Umum) dan Bentuk-Bentuknya
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
العام والخاص وأقسامهما
وأما العام فهو ما عم شيئين فصاعداً، من قوله: عممت زيداً عمراً بالعطاء، وعممت جميع الناس .
وألفاظه أربعة: الاسم الواحد المعرف باللام، واسم الجمع المعرف باللام، والأسماء المبهمة، كمن فيما يعقل، وما فيما لا يعقل، وأي في الجمع، وأين في المكان، ومتى في الزمان، وما في الاستفهام والجزاء وغيره، ولا في النكرات . والعموم من صفات النطق .
ولا تجوز دعوى العموم في غيره من الفعل وما يجري مجراه .
Am adalah sesuatu yang mencakup dua perkara bahkan lebih. (kata tersebut diambil) dari perkataan orang Arab: ‘Amamtu Zaidan wa ‘Amran bil ‘Atha’ (Aku menyamaratakan pemberian kepada Zaid dan Amr), dan ‘Amamtu jami’annasi bil ‘atha’ (Aku menyamaratakan pemberian kepada semua orang).
Lafadz-lafadz ‘Amm itu ada empat, yaitu: 1) Isim mufrad (kata yang bermakna tunggal) yang di-ma’rifat-kan dengan alif dan lam, 2) Isim jamak yang di-ma’rifat-kan dengan lam, 3) Isim mubham seperti kata man (من) untuk makhluk yang berakal, kata ma (ما) untuk sesuatu yang tidak berakal, ayyun (أي) untuk semuanya (baik berakal ataupun tidak), aina (أين) untuk tempat, mataa (متى) untuk waktu, ma (ما) digunakan untuk pertanyaan, pembalasan dan selainnya, 4) huruf la (لا) pada isim nakirah. Predikat umum (‘Amm) merupakan sifat dari ucapan. Jadi tidak diperbolehkan menyifati umum pada selain ucapan yakni pada perbuatan dan yang semisalnya.
Khâsh dan Takhshîsh
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
وَالخَاصُ يُقَابِلُ العَامَّ . وَالتَّخْصِيصُ تَمْيِيزُ بَعْضِ الجُمَلَةِ، وَهُوَ يُنْقَسِمُ إِلَى: مُتَّصِلٍ وَمُنْفَصِلٍ، فَالمُتَّصِلُ الِاسْتِثْنَاءُ وَالشَّرْطُ وَالتَّقْيِيدُ بِالصِّفَةِ، وَالاِسْتِثْنَاءُ إِخْرَاجُ مَا لَوْلَاهُ لَدَخَلَ فِي الْكَلَامِ، وَإِنَّمَا يَصِحُّ بِشَرْطِ أَنْ يَبْقَى مِنَ الْمُسْتَثْنَى مِنْهُ شَيْءٌ . وَمِنْ شَرْطِهِ أَنْ يَكُونَ مُتَّصِلًا بِالْكَلَامِ .
وَيَجُوزُ تَقْدِيمُ الْاِسْتِثْنَاءِ عَلَى الْمُسْتَثْنَى مِنْهُ . وَيَجُوزُ الْاِسْتِثْنَاءُ مِنَ الْجِنْسِ وَمِنْ غَيْرِهِ . وَالشَّرْطُ يَجُوزُ أَنْ يَتَقَدَّمَ عَلَى الْمَشْرُوطِ . وَالْمُقَيَّدُ بِالصِّفَةِ يَحْمِلُ عَلَيْهِ الْمُطْلَقُ كَالْرِّقَبةِ قُيِّدَتْ بِالْإِيمَانِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَأُطْلِقَتْ فِي بَعْضٍ، فَيُحْمَلُ الْمُطْلَقُ عَلَى الْمُقَيَّدِ . وَيَجُوزُ تَخْصِيصُ الْكِتَابِ بِالْكِتَابِ، وَتَخْصِيصُ الْكِتَابِ بِالسُّّنَّةِ، وَتَخْصِيصُ السُّّنَةِ بِالْكِتَابِ، وَتَخْصِيصُ السُّّنَةِ بِالسُّّنَةِ، وَتَخْصِيصُ النُّطْقِ بِالْقِيَاسِ، وَنَعْنِي بِالنُّطْقِ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى وَقَوْلَ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ.
Khas (khusus) merupakan kebalikan ‘Amm. Sementara Takhsis adalah membedakan sebagian kelompok. Takhsis terbagi menjadi muttasil dan munfasil. Takhsis muttasil itu istisna’ (pengecualian), syarat dan pembatasan dengan sifat. Istisna’ adalah mengeluarkan sesuatu, yang apabila tidak dikeluarkan, ia akan tercakup dalam ucapan. Istisna’ hanya sah dengan syarat; ada yang tersisa dari perkara yang dikecualikan (mustatsna minhu). Dan termasuk syaratnya adalah harus sambung dengan ucapan, diperbolehkan mendahulukan istisna’ dari mustatsna minhu dan diperbolehkan istisna’ (mengecualikan) dari perkara yang sejenis seperti yang sudah disebutkan dan dari yang tidak sejenis.
(Takhsis Muttasil yang kedua adalah) Syarat diperbolehkan mendahului masyrut-nya. (Takhsis Muttasil yang ketiga adalah) Muqayyad bisshifah. Lafadz yang mutlak (umum) diarahkan ke lafadz Muqayyad bisshifah yakni lafadz yang dibatasi dengan sifat. Contoh lafadz raqabah di batasi dengan yang beriman dibeberapa tempat. Oleh karena itu lafadz yang muthlaq dipahami melalui lafadz yang muqayyad.
Diperbolehkan men-takhsis al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan assunnah, assunnah dengan al-Qur’an, annutq dengan qiyaas. Yang kami maksud dengan annutq adalah Firman Allah Ta’ala dan Sabda Rasulullah ﷺ.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
Sesi #3: Mujmal dan Mubayan, Ragam Implikasi Perbuatan Rasulullah ﷺ
📃 Penjelasan Khâsh dan Takhshîsh:
Takhsis Al-Qur’an dengan Al-Qur’an adalah metode dalam Ushul Fiqih dimana lafaz ayat Al-Qur’an yang bermakna umum (‘Am) dikhususkan atau dibatasi ruang lingkupnya oleh ayat Al-Qur’an yang lain (Khash). Kesepakatan ulama membolehkan metode ini karena derajat sumber hukum kedua ayat adalah setara (sama-sama Qath’i).
Contoh:
Ayat Umum (Keumuman Larangan)
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu…” (QS. Al-Baqarah: 221)
Ayat ini pada awalnya melarang pria muslim menikahi seluruh wanita yang tidak beriman (musyrikah), baik penyembah berhala maupun ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).
Ayat Khusus (Pengecualian/Takhsis)
Keumuman ayat di atas dikhususkan (ditakhsis) oleh ayat lain yang memperbolehkan pria muslim menikahi wanita dari kalangan Ahli Kitab:
“…Dan dihalalkan (menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu…” (QS. Al-Ma’idah: 5)
Kesimpulan Hukum
Melalui metode takhsis ini, hukum finalnya adalah:
- Haram menikahi wanita musyrik penyembah berhala/tidak beragama (tetap berdasarkan QS. Al-Baqarah: 221).
- Boleh/Halal menikahi wanita Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang menjaga kehormatan (berdasarkan QS. Al-Ma’idah: 5).
Takhsis Al-Qur’an dengan Al-Hadits
Takhsis Al-Qur’an dengan Al-Hadits adalah proses mengkhususkan atau membatasi keumuman suatu lafal (ayat) Al-Qur’an menggunakan dalil dari Hadits. Hal ini terjadi ketika Al-Qur’an menyebutkan suatu aturan secara umum (mencakup banyak hal), tetapi hadits memberikan pengecualian atau batasan spesifik terhadap ketentuan tersebut.
Ulama ushul fiqih sepakat bahwa hadits (baik ahad maupun mutawatir) boleh mentakhsis Al-Qur’an.
1. Keumuman Ayat Al-Qur’an
Allah ﷻ mengharamkan segala jenis bangkai melalui firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah…” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Ayat ini bersifat mutlak dan umum, yang berarti mencakup seluruh jenis hewan yang mati tanpa melalui proses penyembelihan yang sah secara syariat.
2. Pengecualian melalui Hadits (Takhshish)
Rasulullah ﷺ memberikan takhshish (pengkhususan/pengecualian) dari keumuman ayat di atas dengan memperbolehkan dua jenis bangkai:
Rasulullah ﷺ bersabda, “Dihalalkan bagi kita dua jenis bangkai dan dua jenis darah. Adapun dua jenis bangkai tersebut adalah ikan dan belalang…” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
3. Konklusi Hukum
Berdasarkan metode takhshish ini, terjadi perubahan hukum untuk kasus-kasus khusus:
- Bangkai Ikan: Dihalalkan untuk dikonsumsi walaupun mati tanpa disembelih.
- Bangkai Belalang: Termasuk hewan yang bangkainya halal dan suci untuk dimakan, tanpa perlu disembelih terlebih dahulu.
Takhsis hadits dengan hadits
Takhsis hadits dengan hadits adalah proses mengkhususkan atau membatasi keumuman (‘am) makna suatu hadits dengan menggunakan dalil hadits lain yang bersifat khusus (khash).
Salah satu contoh paling populer dari penerapan takhsis hadits dengan hadits adalah mengenai batas nisab zakat hasil bumi:
Hadits Umum (‘Am):
Rasulullah ﷺ bersabda:”Pada tanaman yang disirami air hujan atau mata air, atau yang disirami dengan pengairan (tanpa biaya/tadah hujan), zakatnya adalah sepersepuluh (10%).” (HR. Bukhari)
Hadits Pengkhusus (Khash/Mukhashis):
Hadits di atas bersifat umum, mencakup seluruh hasil bumi atau tanaman apa pun jumlahnya. Kemudian keumuman tersebut dikhususkan oleh hadits lain yang menetapkan batas minimal (nisab): “Tidak ada zakat pada tanaman yang kurang dari lima ausuq.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Analisis Hukum:
Kata “tanaman” pada hadits pertama bermakna umum. Namun, hadits kedua men-takhsis (mengkhususkan)-nya dengan membatasi bahwa zakat hanya wajib jika jumlahnya mencapai atau lebih dari 5 ausuq (setara dengan sekitar 653 kg). Jika kurang dari itu, maka hasil panen tersebut tidak dikenakan zakat.
Mujmal dan Mubayyan
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
وَالْمُجْمَلُ مَا يَفْتَقِرُ إِلَى الْبَيَانِ. وَالْبَيَانُ إِخْرَاجُ الشَّيْءِ مِنْ حَيْزِ الْإِشْكَالِ إِلَى حَيْزِ التَّجَلِّي. وَالْمُبَيِّنُ هُوَ النَّصُّ. وَالنَّصُّ مَا لَا يَحْتَمِلُ إِلَّا مَعْنًى وَاحِدًا، وَقِيلَ: مَا تَأْوِيلُهُ تَنْزِيلُهُ، وَهُوَ مُشْتَقٌّ مِنْ مَنْصَةِ الْعَرُوسِ وَهُوَ الْكُرْسِيُّ. وَالظَّاهِرُ مَا احْتَمَلَ أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَظْهَرُ مِنَ الْآخَرِ، وَيُؤَوَّلُ الظَّاهِرُ بِالْدَّلِيلِ، وَيُسَمَّى ظَاهِرًا بِالْدَّلِيلِ.
Mujmal adalah sesuatu yang butuh pada Bayaan (penjelasan). Bayaan (penjelasan) adalah mengeluarkan sesuatu dari ruang yang sulit dimengerti menuju ruang yang terang (jelas). Nash adalah sesuatu yang hanya mengandung satu makna. Menurut pendapat lain, (Nash adalah) sesuatu yang penjelasannya merupakan yang disampaikannya. Kata Nash berasal dari kata minasshotil arus (pelaminan pengantin) yang bermakna kursi.
Dhahir adalah kata yang mengandung dua makna, salah satu maknanya lebih jelas dari makna yang lain. Kata yang dhahir dapat ditakwil dengan dalil, sehingga disebut dhahir bid dalil (kata yang jelas sebab dalil).
📃 Penjelasan:
Pengertian wudhu bisa bermakna: Nash (tidak ada kemungkinan lain), dzahir, muawwal (keduanya ada kemungkinan lain) atau mujmal.
Contoh:
Makna wudhu mencakup tiga pendekatan utama dalam ushul fiqih: nash (teks harfiah/dalil), dzahir (makna yang paling kuat dipahami dari redaksi), dan mu’awwal (makna yang dipalingkan dari arti aslinya melalui takwil).
Berikut adalah penjabaran ringkasnya:
Secara Nash (Tekstual): Ibadah bersuci untuk menghilangkan hadas kecil dengan menggunakan air suci pada empat anggota tubuh (wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki) sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Ma’idah ayat 6.
Secara Dzahir (Pemahaman Umum/Tersurat): Secara tekstual berarti “membersihkan” atau “mencuci”, yang merupakan makna asli yang langsung dipahami saat lafaz wudhu diucapkan.
Secara Mu’awwal (Takwil/Majazi): Memalingkan makna zhahir ke makna lain yang lebih spesifik berdasarkan dalil penguat (misalnya: membasuh kepala yang diartikan cukup sebagian saja karena adanya hadits Nabi).
Mujmal: Ayat wudhu yang bersifat global; butuh perincian dan penjelasan (seperti tata cara dan niat) yang dicontohkan secara langsung oleh praktik Rasulullah ﷺ.
Contohnya adalah hadis yang menganjurkan wudhu setelah makan daging unta. Bisa dimaknai secara nash atau dzahir bid dalil.
Ragam Implikasi Perbuatan Rasulullah ﷺ
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
الأفعال: فعل صاحب الشريعة لا يخلو: إما أن يكون على وجه القربة والطاعة أو لا يكون .
فإن كان على وجه القربة والطاعة فإن دل دليل على الاختصاص به فيحمل على الاختصاص .
وإن لم يدل لا يختص به، لأن الله تعالى قال: ﴿ لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة ﴾، فيحمل على الوجوب عند بعض أصحابنا،
ومن أصحابنا من قال: يحمل على الندب، ومنهم من قال: يتوقف فيه،
فإن كان على وجه غير وجه القربة والطاعة فيحمل على الإباحة .
وإقرار صاحب الشريعة على القول هو قول صاحب الشريعة، وإقراره على الفعل كفعله .
وما فعل في وقته في غير مجلسه وعلم به ولم ينكره فحكمه حكم ما فعل في مجلسه .
Perbuatan pembawa syari’ah tidak lepas dari adakalanya berupa ibadah dan ketaatan. Apabila ada dalil yang menunjukan kehususan bagi nabi, maka di arahkan kepada kekhususan tersebut.
Dan apabila tidak ada dalil yang menunjukkan maka tidak dikhususkan bagi nabi, karena Allah Ta’ala telah berfirman “sungguh telah ada pada diri rosulullah suri tauladan yang baik bagi kalian”, maka diarahkan pada hukum wajib menurut sebagian Ashhabina (ashab assyafi’i).
Dan sebagiannya ada yang bependapat tidak cenderung pada pendapat manapun. Apabila perbuatan Nabi tidak berupa ibadah dan ketaatan, maka diarahkan pada hukum boleh (mubah) pada hak nabi dan hak kita.
Persetujuan pembawa syariah terhadap ucapan yang keluar dari seseorang merupakan perkataan pembawa syariah. dan persetujuannya terhadap perbuatan adalah seperti perbuatanya.
Dan perbuatan yang dilakukan pada masa Nabi di luar majlisnya, dan beliau mengetahui dan tidak mengingkarinya maka hukumnya itu seperti hukum yang dilaksanakan di majlisnya.
📃 Penjelasan:
Hukum asal perbuatan Nabi ﷺ ada dua jenis:
- ‘Adah (adat) yaitu kebiasaan atau adat yang tidak wajib umatnya untuk mengikuti.
- ‘Ibadah: ada dua yaitu khusus untuk Nabi ﷺ dan penjelasan kepada umatnya.
Seperti puasa wishal yang khusus untuk beliau Nabi ﷺ dan juga isteri Nabi ﷺ lebih dari empat.
Nasakh
الْنَّسْخُ
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
وَأَمَّا الْنَّسْخُ فَمَعْنَاهُ الْإِزَالَةُ، يُقَالُ: نَسَخَتِ الشَّمْسُ الظِّلَّ إِذَا أَزَالَتْهُ، وَقِيلَ: مَعْنَاهُ النَّقْلُ مِنْ قَوْلِهِمْ: نَسَخْتُ مَا فِي هَذَا الْكِتَابِ إِذَا نَقَلْتُهُ.
وَحَدُّهُ: الْخِطَابُ الدَّالُّ عَلَى رَفْعِ الْحُكْمِ الثَّابِتِ بِالْخِطَابِ الْمُتَقَدِّمِ عَلَى وَجْهٍ لَوْلَاهُ لَكَانَ ثَابِتًا مَعَ تَرَاخِيهِ عَنْهُ.
وَيَجُوزُ نَسْخُ الرَّسْمِ وَبَقَاءُ الْحُكْمِ، وَنَسْخُ الْحُكْمِ وَبَقَاءُ الرَّسْمِ، وَالْنَّسْخُ إِلَى بَدَلٍ وَإِلَى غَيْرِ بَدَلٍ، وَإِلَى مَا هُوَ أَغْلَظُ وَإِلَى مَا هُوَ أَخَفُّ.
وَيَجُوزُ نَسْخُ الْكِتَابِ بِالْكِتَابِ، وَنَسْخُ السُّنَّةِ بِالْكِتَابِ، وَلَا يَجُوزُ نَسْخُ الْكِتَابِ بِالسُّنَّةِ.
وَيَجُوزُ نَسْخُ الْمُتَوَاتِرِ بِالْمُتَوَاتِرِ، وَنَسْخُ الْأَحَادِ بِالْأَحَادِ وَبِالْمُتَوَاتِرِ،
وَنَسْخُ الْأَحَادِ بِالْأَحَادِ وَبِالْمُتَوَاتِرِ، وَلَا يَجُوزُ نَسْخُ الْمُتَوَاتِرِ بِالْأَحَادِ.
Naskh bermakna menghilangkan, dikatakan ”Matahari menghilangkan bayang-bayang” dan menurut pendapat lain makna naskh adalah pindah, diambil dari ucapan orang arab; saya memindah sesuatu yang ada di kitab ini, yaitu saya memindah sesuai bentuk aslinya.
Dan definisinya adalah: ucapan yang menunjukkan hilangnya hukum yang telah ditetapkan oleh ucapan yang dahulu, berdasarkan gambaran yang jika tidak ada ucapan tersebut niscaya hukum itu tetap, serta hukum tetap berlaku seperti semula.
- Diperbolehkan menghapus tulisan dan masih tetapnya hukum, menghapus hukum dan tetapnya tulisan dan menghapus keduanya.
- Penghapusan ini (Naskh) terbagi menjadi adanya pergantian dan tidak ada pergantian, ada pergantian yang lebih berat dan yang lebih ringan.
- Diperbolehkan naskh al-Quran dengan al-Quran, naskh assunnah dengan al-Quran, naskh assunnah dengan assunnah. (Tidak ada nash Al-Qur’an dengan Sunnah).
- Diperbolehkan naskh mutawatir dengan mutawatir, dan khabar Ahad dengan Khabar Ahad juga Mutawatir.
- Tidak diperbolehkan naskh mutawatir dengan khabar ahad.
📃 Penjelasan:
Berikut adalah contoh spesifik ayat nasikh dan mansukh dalam Al-Qur’an:
1. Hukum Masa Iddah Istri yang Ditinggal Mati Suami
Ayat Mansukh (Hukum Lama): Istri yang ditinggal wafat suaminya harus menjalani masa iddah selama satu tahun penuh. Ketentuan ini tertulis dalam Surah Al-Baqarah Ayat 240.
Ayat Nasikh (Hukum Baru): Masa iddah diubah dan dipersingkat menjadi 4 bulan 10 hari. Ketentuan ini menghapus hukum pada ayat sebelumnya dan tertulis dalam Surah Al-Baqarah Ayat 234.
2. Kewajiban Berperang Melawan Musuh
Ayat Mansukh (Hukum Lama): Pada awal masa Islam, satu orang Muslim diwajibkan untuk sabar dan kuat menghadapi sepuluh orang musuh. Ketentuan ini tertulis dalam Surah Al-Anfal Ayat 65.
Ayat Nasikh (Hukum Baru): Aturan tersebut diringankan oleh Allah ﷻ karena kelemahan umat Islam. Satu orang Muslim kini diwajibkan untuk menghadapi dua orang musuh. Ketentuan ini tertulis dalam Surah Al-Anfal Ayat 66.
3. Larangan Mendekati Sholat Saat Mabuk
Ayat Mansukh (Hukum Lama): Umat Islam pada awalnya dilarang untuk sholat ketika dalam keadaan mabuk atau tidak sadarkan diri. Ketentuan ini tertulis dalam Surah An-Nisa Ayat 43.
Ayat Nasikh (Hukum Baru): Aturan ini kemudian dihapus dan diganti dengan pengharaman total (mutlak) terhadap khamr (minuman keras) kapan pun dan di mana pun, baik sedang sholat maupun tidak. Ketentuan ini tertulis dalam Surah Al-Ma’idah Ayat 90.
Pasal Pembahasan Mengenai Kontradiksi Dalil-Dalil
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
فَصْلُ التَّعَارُضِ وَالتَّرْجِيحِ
إِذا تَعَارَضَ نُطْقَانِ فَلا يَخْلُو: إِمَّا أَنْ يَكُونَا عَامَّيْنِ أَوْ خَاصَّيْنِ أَوْ أَحَدُهُمَا عَامٌّ وَالْآخَرُ خَاصٌّ أَوْ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَامٌّ مِنْ وَجْهٍ وَخَاصٌّ مِنْ وَجْهٍ. فَإِن كَانَا عَامَّيْنِ فَإِنْ أَمْكَنَ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا جُمِعَ، وَإِن لَمْ يُمْكِنِ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا يَتَوَقَّفُ فِيهِمَا إِن لَمْ يُعْلَمِ التَّارِيخُ، فَإِنْ عُلِمَ التَّارِيخُ فَيَنْسَخُ الْمُتَقَدِّمُ بِالْمُتَأَخِّرِ، وَكَذَٰلِكَ إِذا كَانَا خَاصَّيْنِ. وَإِن كَانَ أَحَدُهُمَا عَامًّا وَالْآخَرُ خَاصًّا فَيُخَصُّ الْعَامُ بِالْخَاصِّ، وَإِن كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَامًّا مِنْ وَجْهٍ وَخَاصًّا مِنْ وَجْهٍ فَيُخَصُّ عُمُومُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِخُصُوصِ الْآخَرِ.
Fasal: Apabila terdapat dua dalil nutq saling berlawanan, maka tidak lepas ada kalanya keduanya umum (‘Amm), keduanya khusus (Khas), salah satunya umum dan yang lain khusus, atau masing-masing dari keduanya umum dari satu sisi dan khusus dari sisi yang lain.
Jika kedua dalil tersebut umum, apabila mungkin keduanya dikompromikan, maka keduanya harus dikompromikan. Apabila tidak mungkin dikompromikan maka keduanya maka didiamkan jika tidak diketahui asal-usulnya. Kemudian apabila asal-usulnya diketahui maka dalil yang datang terlebih dahulu dihapus dengan dalil yang datang belakangan. Demikian juga, apabila keduanya khusus (khas).
Jika salah satu dalil tersebut umum (‘Amm) dan yang lain khusus (Khas) maka yang umum di-takhsis dengan yang khusus. Apabila salah satu dalil tersebut umum dari satu sisi dan khusus dari sisi yang lain, maka keumuman masing-masing di-takhsis dengan yang lainnya.
📃 Penjelasan:
Metode yang digunakan para ulama (mujtahid) dalam ilmu Ushul Fiqih untuk menyelesaikan dalil-dalil atau nash yang tampak bertentangan:
1. Jamak (Al-Jam’u)
Pengertian: Metode menggabungkan atau mengompromikan dua dalil yang tampaknya bertentangan agar keduanya bisa diamalkan secara bersamaan. Cara ini dilakukan dengan memberikan batasan (taqyid), kekhususan (takhsish), atau menyesuaikan konteksnya. Ini adalah metode utama dan paling diutamakan sebelum beralih ke metode lain.
Contoh: Terdapat dua hadis tentang wudu. Hadis pertama menyebutkan Nabi ﷺ berwudu dan membasuh kakinya tanpa menyebutkan menyapu khuf (sepatu khusus). Hadis kedua menyebutkan Nabi ﷺ menyapu khuf saat berwudu.
Cara Jamak: Ulama menggabungkannya dengan menyimpulkan bahwa membasuh kaki adalah hukum asal saat tidak memakai alas, sedangkan menyapu khuf adalah rukhshah (keringanan) saat sedang memakai khuf. Kedua hadis tetap dipakai sesuai kondisinya.
2. Naskh (An-Nasakh)
Pengertian: Secara bahasa berarti membatalkan atau menghilangkan. Secara istilah, ini adalah penghapusan suatu hukum syariat dengan dalil syariat yang datang kemudian. Hukum lama yang dihapus disebut Mansukh, dan dalil baru yang menghapus disebut Nasikh.
Contoh dalam Al-Qur’an: Perubahan arah kiblat. Pada awal Islam, kiblat salat menghadap Baitul Maqdis (Yerusalem). Hukum ini kemudian dihapus dan diganti dengan perintah untuk menghadap Ka’bah (Masjidil Haram) di Makkah (QS. Al-Baqarah: 144).
Contoh dalam Hadis: Dulu Nabi ﷺ melarang keras umat Islam untuk ziarah kubur agar tidak mengingat tradisi jahiliyah, namun pada masa berikutnya Nabi ﷺ memperbolehkan dan menganjurkannya dengan bersabda: “Dulu aku melarang kalian ziarah kubur, tapi sekarang ziarahlah.”
3. Tarjih
Pengertian: Secara bahasa artinya mencari yang lebih kuat. Dalam istilah, tarjih adalah membandingkan dua dalil yang bertentangan dan tidak bisa di-jamak atau di-naskh, untuk menentukan dalil mana yang memiliki kekuatan hukum lebih kuat (rajih) untuk diamalkan, sehingga dalil yang lemah (marjuh) ditinggalkan.
Contoh: Terdapat dua hadis tentang puasa sunah di hari Jumat. Hadis pertama melarang puasa khusus di hari Jumat, dan hadis kedua membolehkan (jika digabung dengan hari sebelumnya/setelahnya).
Cara Tarjih: Ulama melihat kekuatan perawi hadis (sanad). Jika hadis yang melarang memiliki perawi yang lebih kuat dan jumlahnya lebih banyak yang meriwayatkan, maka hadis larangan tersebut diunggulkan (tarjih).
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
Sesi#4 Ijmak (Konsensus Ulama)
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
الإجماع
وأما الإجماع فهو اتفاق علماء أهل العصر على حكم الحادثة، ونعني بالعلماء الفقهاء، ونعني بالحادثة الحادثة الشرعية .
وإجماع هذه الأمة حجة دون غيرها، لقوله صلى الله عليه وآله وسلم: (( لا تجتمع أمتي على ضلالة ))، والشرع ورد بعصمة هذه الأمة .
والإجماع حجة على العصر الثاني، وفي أي عصر كان، ولا يشترط انقراض العصر على الصحيح، فإن قلنا: انقراض العصر شرط يعتبر قول من ولد في حياتهم وتفقه وصار من أهل الاجتهاد ولهم أن يرجعوا عن ذلك الحكم .
والإجماع يصح بقولهم وبفعلهم وبقول البعض وبفعل البعض وانتشار ذلك وسكوت الباقين عنه .
وقول الواحد من الصحابة ليس بحجة على غيره على القول الجديد .
Adapun ijma’ adalah kesepakatan ulama’ suatu masa atas hukum dari suatu masalah baru yang terjadi. Yang kami maksud dengan ulama’ adalah ahli-ahli fiqih, dan yang kami maksud dengan masalah baru yang terjadi adalah masalah syar’iyyah (agama). Dan Ijma’ ummat ini adalah dalil, tidak selain umat ini, karena sabda Nabi ﷺ : “ummatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan”, dan syariat telah menyampaikan terjaganya ummat ini (dari kesesatan).
Ijma’ adalah dalil atas periode kedua dan dalam periode / masa manapun. Berlakunya Ijma’ sebagai dalil tidak disyaratkan habisnya masa (para pelaku ijma’) Jika kita mengatakan “habisnya masa” adalah sebuah syarat, maka ucapan orang yang dilahirkan di masa ulama-ulama tersebut dan ia belajar sampai menjadi mujtahid, maka mereka berhak mencabut hukum tersebut.
Ijma’ itu sah dengan perkataan mereka, dengan perbuatan mereka, dengan ucapan sebagian, dengan perbuatan sebagian dan menyebarnya semua itu dan diamya ulama yang lain.
Pendapat Personal Sahabat Nabi
Ucapan satu sahabat itu tidak menjadi dalil atas lainya, menurut qaul jadiid.
Macam-Macam Khabar (Informasi)
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
الأخبار
وأما الأخبار، فالخبر ما يدخله الصدق والكذب، وقد يقطع بصدقه أو كذبه . والخبر ينقسم قسمين: إلى آحاد ومتواتر . فالمتواتر ما يوجب العلم، وهو أن يروي جماعة لا يقع التواطؤ على الكذب عن مثلهم إلى أن ينتهي إلى المخبر عنه فيكون في الأصل عن مشاهدة أو سماع
والآحاد هو الذي يوجب العمل ولا يوجب العلم، وينقسم قسمين: إلى مرسل ومسند، فالمسند ما اتصل إسناده، والمرسل ما لم يتصل إسناده، فإن كان من مراسيل غير الصحابة فليس بحجة، إلا مراسيل سعيد بن المسيب، فإنها فتشت فوجدت مسانيد . والعنعنة تدخل على الإسناد، وإذا قرأ الشيخ يجوز للراوي أن يقول: حدثني وأخبرني، وإن قرأ هو على الشيخ فيقول: أخبرني، ولا يقول: حدثني . وإن أجازه الشيخ من غير رواية فيقول: أجازني أو أخبرني إجازة .
Akhbar adalah khabar yakni perkara yang bisa bernilai kebenaran dan bernilai kebohongan. dan khabar terbagi menjadi dua, yaitu: khabar ahad dan khabar mutawatir. Khabar mutawatir adalah kabar / berita yang bisa menimbulkan ilm (yakin). Mutawatir merupakan kabar/ berita yang diriwayatkan oleh suatu kelompok yang tidak mungkin bersepakat pada kebohongan dari sesama kelompok mereka sampai pada sumber khabar/ berita. Khabar mutawatir sumbernya dari menyaksikan atau mendengarkan, bukan dari ijtihad. Khabar ahad adalah khabar yang mengharuskan untuk dikerjakan dan tidak sampai menimbulkan ilm (yakin).
Dan Khabar ahad terbagi menjadi khabar mursal dan khabar musnad khabar musnad adalah khabar yang mata rantai (sanadnya) sambung (muttashil) khabar mursal adalah khabar yang mata rantai (sanadnya) tidak bersambung (tidak muttashil)
Metode Penerimaan dan Penyampaian Hadits
Selanjutnya, Apabila orang-orang yang menyampaikan khabar-khabar mursal itu bukan dari kelompok sahabat, maka tidak bisa dijadikan dalil, kecuali hadits-hadits mursal-nya Sa’ad bin Musayyab. Karena khabar-khabar mursal Sa’ad bin Musayyab sudah diteliti, kemudian telah ditemukan mata rantainya yakni para sahabat. Khabar An’anah termasuk dari khabar musnad.
Apabila seorang Syaikh membaca, maka boleh bagi periwayat hadits (rawi) mengatakan haddasani atau akhbarani dan jika perawi (yang sedang meminta riwayat hadits) membacakan kepada Sang Syaikh, maka Si Periwayat Hadits mengucapkan akhbaroni, dan tidak boleh mengucapkan haddasani. dan jika seorang guru memberinya ijazah tanpa membacakan riwayat, maka Si Periwayat mengucapkan ajazani atau akhbaroni ijazatan.
Qiyas (Analogi)
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
القياس
وأما القياس فهو رد الفرع إلى الأصل بعلة تجمعهما في الحكم . وهو ينقسم إلى ثلاثة أقسام: إلى قياس علة، وقياس دلالة، وقياس شبه .
فقياس العلة ما كانت العلة فيه موجبة الحكم . وقياس الدلالة هو الاستدلال بأحد النظرين على الآخر، وهو أن تكون العلة دالة على الحكم ولا تكون موجبة للحكم . وقياس الشبه هو الفرع المتردد بين أصلين، فيلحق بأكثرهما شبهاً . ومن شرط الفرع أن يكون مناسباً للأصل، ومن شرط الأصل أن يكون ثابتاً بدليل متفق عليه بين الخصمين . ومن شرط العلة أن تطرد في معلولاتها، فلا تنتقض لفظاً ولا معنى . ومن شرط الحكم أن يكون مثل العلة في النفي والإثبات . والعلة هي الجالبة، والحكم هو المجلوب للعلة .
Adapun Qiyas adalah mengembalikan cabang kepada asal, karena suatu ‘illah (alasan) yang mengumpulkan keduanya dalam hukum. Qiyas terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1. qiyas illah,2. qiyas dalalah, dan 3. qiyas syibh.
- Qiyas illah adalah Qiyas yang di dalamnya terdapat ‘illah, dan ‘illah tersebut menetapkan sebuah hukum.
- Qiyas dalalah adalah mengambil salah satu dua pandangan sebagai penunjuk.
- Qiyas dalalah itu keberadaan ‘illah-nya sebagai indikator sebuah hukum bukan menetapkan hukum.
- Qiyas syibh adalah qiyas yang cabang-nya (al far’u) terdapat keserupaan antara dua asal, kemudian disamakan pada asal yang memiliki lebih banyak persamaannya.
Salah satu syarat cabang (al far’u) adalah terdapat keselarasan pada asal. dan salah satu syarat asal adalah tertetapkan dengan dalil yang disepakati oleh dua pihak yang berbeda pendapat. dan salah satu syarat ‘illah adalah harus berlaku pada seluruh ma’lul (masalah-masalah yang terdapat ‘illah tersebut). Oleh karena itu, ‘illah tidak boleh rusak secara lafadz-nya dan maknanya.
dan termasuk syarat hukum adalah menyamai ‘illah dalam ada dan tidaknya. ‘illah adalah sesuatu yang menarik atau mendatangkan pada adanya hukum Hukm adalah sesuatu yang ditarik atau didatangkan keberadaannya oleh ‘illah.
📃 Penjelasan:
Syarat atau rukun qiyas dalam ilmu Ushul Fiqih memang terdiri dari empat unsur utama yang saling berkaitan:
1. Ashl (Asal/Pokok): Perkara atau kasus yang sudah ada ketentuan hukumnya di dalam Al-Qur’an atau Hadits.
2. Far’u (Cabang): Perkara atau kasus baru yang belum ada nash hukumnya dan akan dicarikan persamaannya.
3. ‘Illah: Sifat atau alasan yang menjadi titik persamaan antara kasus pokok (ashl) dan kasus cabang (far’u).
4. Hukum Ashl: Hukum syara’ yang terdapat pada kasus pokok dan menjadi dasar penarikan hukum.
Dalam ilmu Ushul Fiqih, qiyas (penyasalan hukum analogis) terbagi menjadi tiga jenis utama berdasarkan kejelasan atau bentuk penerapannya. Pembagian ini mencakup:
1. Qiyas ‘Illat: Menyamakan cabang (kasus baru) dengan pokok karena adanya kesamaan ‘illat (alasan penetapan hukum) secara jelas dan pasti.
2. Qiyas Dalalah: Menyamakan cabang dengan pokok berdasarkan petunjuk ‘illat-nya, meski ‘illat tersebut tidak disebutkan secara langsung oleh dalil.
3. Qiyas Syabh: Menyamakan cabang dengan pokok yang memiliki kemiripan sifat atau bentuk, namun hukumnya disesuaikan dengan pokok yang paling dominan persamaannya.
Contoh 1: Penerapan qiyas pada gandum dan beras adalah menganalogikan hukum beras (hal baru yang tidak ada nashnya) kepada gandum (hukum asalnya) karena adanya kesamaan alasan atau sifat dasar (‘illat). Keduanya disamakan karena sama-sama merupakan makanan pokok.
Berikut adalah rukun qiyas pada kasus ini beserta penerapannya:
1. Al-Ashlu (Pokok): Gandum. (Bahan makanan pokok yang memiliki ketentuan hukum jelas).
2. Al-Far’u (Cabang): Beras. (Bahan makanan pokok yang hukumnya dicari).
3. Al-Hukmu (Hukum): Wajib dikeluarkan zakat fitrahnya (sebesar satu sha’ atau sekitar 2,5 kg/3,5 liter) dan berlaku aturan riba fadhl.
4. Al-‘Illat (Alasan Hukum): Makanan pokok.
Contoh 2: Qiyas larangan berkata “uff” (hus) kepada orang tua adalah contoh Qiyas Aulawi (analogi prioritas). Hukum perbuatan yang dianalogi (far’u) lebih kuat atau sebanding daripada hukum asal (ashl) karena memiliki ‘illat (alasan hukum) yang sama.
1. Nash (Hukum Asal / Ashl): Larangan berkata “uff” kepada orang tua dalam Surat Al-Isra ayat 23.
2. ‘Illat: Menyakiti hati orang tua.
3. Qiyas (Cabang / Far’u): Memukul, membentak, atau melakukan kekerasan fisik kepada orang tua.
Kesimpulan: Jika berkata “uff” saja diharamkan karena menyakiti hati orang tua, maka memukul atau menyiksa mereka jauh lebih haram dan lebih berat dosanya karena tingkat menyakitinya lebih besar.
Larangan dan Perkenan (Boleh)
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
الحظر والإباحة والاستصحاب
وأما الحظر والإباحة فمن الناس من يقول: إن الأشياء على الحظر إلا ما أباحته الشريعة، فإن لم يوجد في الشريعة ما يدل على الإباحة يتمسك بالأصل وهو الحظر . ومن الناس من يقول بضده، وهو أن الأصل في الأشياء على الإباحة إلا ما حظره الشرع .
ومعنى استصحاب الحال: أن يستصحب الأصل عند عدم الدليل الشرعي .
وأما الأدلة فيقدم الجلي منها على الخفي، والموجب للعلم على الموجب للظن، والنطق على القياس، والقياس الجلي على الخفي . فإن وجد في النطق ما يغير الأصل وإلا فيستصحب الحال .
Adapun Hadzr (hukum haram) dan ibahah (hukum boleh/mubah) itu terdapat ulama yang berpendapat bahwa; segala sesuatu itu menetapi hukum haram kecuali terdapat dalil syariat yang memperbolehkan. Dan (juga) terdapat ulama yang berpendapat dengan sebaliknya yakni, secara asal (hukum asal) segala sesuatu adalah boleh (ibahah) kecuali terdapat dalil syara’ yang mengharamkannya.
Istishab Al-Hal (Presumsi Kontinuitas)
Makna istishab al-hal adalah memberlakukan hukum asal di saat tidak adanya dalil syar’inya.
Hirarki Dalil-dalil
Adapun (mengenai) dalil-dalil itu harus didahulukan dalil yang jelas daripada dalil yang masih samar. (mendahulukan) Dalil yang berimplikasi pada keyakinan daripada yang berimplikasi pada dugaan. (mendahulukan) dalil nutq (yakni Alqur’an dan Sunnah) daripada Qiyas. (mendahulukan) qiyas jali daripada qiyas khafi. Selanjutnya, apabila di dalam nutq (Alqur’an dan Sunnah) terdapat dalil yang mengubah hukum pertama (maka yang dipakai adalah dalil nutq). Kecuali apabila tidak ditemukan dalil yang merubah hukum pertama pada nutq maka menggunakan dalil istishab al-hal.
Syarat Mufti dan Mustafti
Mualif Syaikh Abdul Malik berkata:
الاجتهاد والإفتاء والتقليد
ومن شرط المفتي أن يكون عالماً بالفقه أصلاً وفرعاً، خلافاً ومذهباً . وأن يكون كامل الآلة في الاجتهاد، عارفاً بما يحتاج إليه في استنباط الأحكام من النحو واللغة ومعرفة الرجال وتفسير الآيات الواردة في الأحكام والأخبار الواردة فيها . ومن شرط المستفتي: أن يكون من أهل التقليد، فيقلد المفتي في الفتيا . وليس للعالم أن يقلد .
والتقليد قبول قول القائل بلا حجة، فعلى هذا قبول قول النبي صلى الله عليه وآله وسلم يسمى تقليداً . ومنهم من قال: التقليد قبول قول القائل وأنت لا تدري من أين قاله، فإن قلنا: إن النبي صلى الله عليه وآله وسلم كان يقول بالقياس، فيجوز أن يسمى قبول قوله تقليداً . وأما الاجتهاد فهو بذل الوسع في بلوغ الغرض، فالمجتهد إن كان كامل الآلة في الاجتهاد، فإن اجتهد في الفروع فأصاب فله أجران، وإن اجتهد فيها وأخطأ فله أجر . ومنهم من قال: كل مجتهد في الفروع مصيب
ولا يجوز أن يقال: كل مجتهد في الأصول الكلامية مصيب، لأن ذلك يؤدي إلى تصويب أهل الضلالة من النصارى والمجوس والكفار والملحدين . ودليل من قال: ليس كل مجتهد في الفروع مصيباً، قوله صلى الله عليه وآله وسلم: (( من اجتهد وأصاب فله أجران، ومن اجتهد وأخطأ فله أجر واحد )) . وجه الدليل أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم خطأ المجتهد وصوبه أخرى .
Termasuk dari syarat Mufti adalah menguasai (alim) fikih, yakni menguasai hukum asal, hukum cabang, perbedaan pendapat pada suatu hukum dan madzhab. (Begitu juga syarat mufti adalah) ia harus sempurna perangkat dalam ber-ijtihad, mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menggali hukum yakni ilmu nahwu, ilmu lughah, pengetahuan mengenai para perawi hadits, tafsir ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum.
Sebagian dari syarat-syarat mustafti (orang yang meminta fatwa) adalah ia termasuk orang yang ahli taqliid (pengikut). Oleh karena itu, ia harus mengikuti fatwa-fatwa dari seorang mufti. Orang alim (mujtahid) tidak boleh taqliid. Taqliid adalah menerima pendapat seseorang tanpa disertai dalil (hujjah). Berdasarkan pengertian ini, menerima perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut taqliid.
Taqlid
Sebagian ulama mendefinisikan taqliid sebagai menerima pendapat seseorang, sementara Anda tidak mengetahui darimana perolehan pendapat tersebut. Oleh karena itu, (berdasarkan definisi kedua ini) apabila kita mengatakan; “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berbicara berdasarkan qiyas”. Maka menerima ucapan tersebut boleh dikatakan sebagai taqliid.
Ijtihad
Adapaun ijtihad adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk sampai ke tujuannya. Kemudian, seorang mujtahid apabila ia sempurna perangkat ijtihad-nya, lalu melakukan ijtihad pada hukum-hukum cabang, kemudian ia benar (dalam ijtihad-nya) maka ia mendapatkan dua pahala. Lalu, apabila ia ber-ijtihad pada suatu hukum dan ia keliru (dalam ijtihad-nya), maka ia mendapatkan satu pahala. Sebagian ulama berpendapat; setiap mujtahid pada masalah hukum cabang pasti benar.
Tidak diperbolehkan mengatakan: “setiap mujtahid dalam masalah ushul kalam (ushul addin/ pokok agama) pasti benar”. Karena, hal tersebut memberikan label pembeneran pada orang-orang yang sesat seperti orang-orang nasrani, majusi, orang kafir dan kelompok-kelompok ateis. Dalil ulama yang berpendapat setiap mujtahid dalam masalah hukum cabang benar adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Barang siapa yang melakukan ijtihad, kemudian ia benar, maka ia berhak mendapatkan dua pahala. Dan barang siapa ber-ijtihad dan ia keliru, maka ia berhak mendapatkan satu pahala. Titik tekan dalil tersebut adalah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu kondisi beliau memberi penilaian salahya mujtahid dan memberi predikat benar pada kondisi yang lain.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم



