Tazkiyatun Nufus

13 Kiat Menggapai Kesucian Jiwa dari Madrasah Ramadhan

  • Ditulis ulang dari E-book Menggapai Kesucian Jiwa dari Madrasah Ibadah Puasa
  • Penulis: Ustadz Yusuf Abu Ubaidah  as-Sidawi Hafidzahullah

Mukadimah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الْحمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Sering  kita  jumpai banyak orang pada  zaman sekarang lebih memperhatikan penampilan indah pada  tubuhnya, pakaiannya, mobilnya, rumahnya dan sebagainya. Namun  sayang seribu  sayang, dia  melalaikan penampilan indah pada  hati  dan bathinnya  padahal  keindahan  hati jauh lebih penting daripada keindahan luar,  karena itulah tolak  ukur kemuliaan di sisi Allah Azza wa Jalla :

إِنَّ أَكْرَ مَكُمْ عِندَ اُللَّهِ أَنقَئَكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa diantara  kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Dan  dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari  Abu Hurairah Radhiyallohu’anhu, bersabda:

إنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya  Allah Azza wa Jalla tidak melihat  kepada  bentuk  kalian, tubuh atau  harta  kalian, tetapi  Allah Azza wa Jalla akan melihat  kepada hati dan amal kalian”.  HR. Muslim: 2564

Oleh karenanya,  maka  hendaknya  bagi kita untuk lebih  memperhatikan  kesucian hati kita,di samping juga  memperhatikan kesucian badan, pakaian atau lingkungan kita.

Cover E-book

Saudaraku, Tazkiyatun Nufus  dalam artian mensucikan  jiwa dari noda-noda  dan dosa dengan ketaatan  dan keimanan  adalah  perkara yang  sangat penting,  bahkan merupakan salah  satu tugas inti  dari  dari  dakwah Nabi  Muhammad adalah mengemban tazkiyah  nufus. Allah Azza wa Jalla berfirman:

هُوَ اُلَّذِى بَعَثَ فِىِ الأُمَيِئنَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ ءَايَئْهِ، وَيُزَكِيِهِمْ وَيُعَلِمُهُمُ اُلْكِنَبَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَلِ مُبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum  yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang mem- bacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka  dan mengajarkan mereka  kitab  dan Hikmah  (As Sunnah).  dan Sesungguhnya  mereka sebelumnya benar-benar  dalam  kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Juga, tazkiyatun nufus  adalah kunci  kebahagaian dan keberuntungan  di  dunia  dan akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyu- cikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”  (QS. Asy-Syams: 9–10)

Perlu diketahui  bahwa  tazkiyah nufus  memiliki dua  tingkatan (Lihat risalah Tazkiyah Nufus karya Syaikh Dr. Ibrahim Ar Ruhaili) :

  • Tingkatan  Pertama:  Mensucikan hati  dengan melakukan amalan yang  disyari’atkan. Dia selalu mengoreksi dan  mengontrol keimanannya, beru- saha  selalu  meningkatkan imannya dan menjauhi segala  virus  yang  dapat menggerogoti imannya.

إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ القَّوْبُ الْحخْلِقُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ في قُلُوبِڪُم

“Sesungguhnya iman  dalam hati  itu  bisa luntur/ usang sebagaimana  lunturnya pakaian, maka perbaharuilah  keimanan kalian”. (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrok 1/4  dan dishahihkan  Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah 4/113).

Dan  sebagaimana dimaklumi bersama bahwa iman  itu  mencakup keyakinan, ucapan dan  perbuatan.

  1. Keyakinan.  Dia  mewujudkan amalan-amalan  hati berupa cinta, berharap, takut, tawakkal, ikhlas,  pengagungan  kepada Allah Azza wa Jalla dan  Nabinya serta amalan-amalan hati  lainnya.
  2. Perbuatan.  Dia  membersihkan hatinya dengan  ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla berupa amalan- amalan badan seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan  amalan-amalan lainnya.
  3. Ucapan. Dia  membersihkan  hatinya  dengan  amalan-amalan lisan  seperti membaca Al-Qur’an, dzikir,  amar ma’ruf  nahi  munkar dan  lain sebagainya.
  • Tingkatan Kedua: Mensucikan Hati  dengan meninggalkan larangan Allah Azza wa Jalla. Dia meninggalkan  seluruh maksiat dan  dosa  dengan berbagai modelnya dan  tingkatannya, sebab dosa  itu  sangat meracuni hati  dan  merusaknya. Bukankah semua kerusakan di muka bumi  ini  serta segala kerusakan dalam ekonomi, politik,  sosial  melain- kan  karena akibat dosa?!!

رَأَيْتُ الذُّنُوبَ تُمِيتُ الْقُلُوبَ … وَيُتْبِعُهَا الدُّلَّ إِدْمَانُهَا

وَتَرْكُ الذُّنُوبِ حَيَاةُ الْقُلُوبِ … وَالْخَيْرُ لِلنَّفْسِ عِصْيَانهَا

Aku mendapati dosa itu mematikan hati
Dan terus menerus dalam dosa menjadikan hina
Meninggalkan dosa adalah hidupnya  hati
Namun jiwa ingin selalu berdosa.

(Al-Mujalasah wa Jawahirul ilmi 2/30.)

Namun, perlu diketahui bahwa metode tazkiyatun nufus yang  benar adalah apa  yang  sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ. Hal ini kami  tekankan,  karena akhir-akhir ini  banyak bermunculan metode-metode baru untuk penyucian jiwa  dan hati  sehingga terkadang muncul suatu komentar: “Salaf itu  bagus  dalam masalah aqidahnya, tapi dalam masalah tazkiyah, saya  lebih  memilih model  dzikirnya fulan  (!), khuruj dan  mudzakarah- nya  jama’ah fulan  (!), mabit dan  muhasabahnya harokah fulan  (!)”.

Aduhai,  apakah Nabi ﷺ dan  para  sahabatnya tidak  mengajarkan metode tazkiyah nufus?!  Mengapa mereka  tidak merasa  cukup dengannya, bahkan menginginkan metode-metode selainnya?!!

Lantas  bagaimana kiat-kiat untuk meraih kesucian  dan kebeningan  hati?! Ada  beberapa kiat jitu  untuk meraihnya yang  seandainya kita melaksankannya maka kita  akan  segera meraihnya dengan izin Allah Azza wa Jalla. Diantaranya:

1.  Do’a dan Memohon Kepada Allah Azza wa Jalla

Sekalipun hamba  memiliki peran  dalam  penyucian hatinya, namun perlu dia  sadari bahwa yang  memberi  taufiq kesucian dan  kebeningan hati hanya Allah Azza wa Jalla  semata. Oleh  karenanya,  Allah Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.  Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan  itu  menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan  yang mungkar.  Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah Azza wa Jalla dan rahmat-Nya kepada kamu  sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu  bersih (dari perbuatan-perbuatan  keji dan  mungkar itu)  selama-lamanya, tetapi Allah Azza wa Jalla membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Azza wa Jalla Maha  Mendengar  lagi Maha  Mengetahui.” (QS. An-Nur: 21)

Maka  seorang hamba,  dalam setiap detiknya selalu  membutuhkan Allah Azza wa Jalla dan  memohon kepada-Nya  agar  Allah Azza wa Jalla menganugerahkan kepadanya kebeningan hati.  Oleh karena itulah, Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita untuk berdo’a:

اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

Allaahumma aati nafsii taqwaahaa wazakkihaa, anta khairu man zakkaahaa, anta waliyyuhaa wa maulaahaa.

“Ya Allah, berikanlah  kepada  jiwaku  ketaqwaan dan  sucikanlah  jiwa  karena  Engkau  adalah  se- baik-baik Dzat yang mensucikannya”. HR. Muslim: 2722

Karena  itu  pula  kita  disyari’atkan ketika mendengar panggilan shalat ketika muadzin men- gatakan: Hayya ‘ala shalat”. Dan “Hayya ‘ala Falah” (Ayo kita shalat, ayo kita menuju keberuntungan), maka kita menjawab: “Laa Haula wal Quwwata illa Billahi” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan  Allah)

2. Berilmu

Ilmu  adalah kunci  jitu  untuk meraih kesucian hati. Sebab kesucian hati  itu diraih dengan melaksanakan ketaatan serta menjauhi larangan secara ikhlas  dan  sesuai  dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Dan  hal  itu  tidak  mungkin terwujudkan  kecuali dengan ilmu.  Oleh karenanya, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barangsiapa  yang Allah kehendaki  kebaikan, maka Allah akan  fahamkan  ia  dalam  agama- Nya” (Muttafaq Alaihi).

Maka  Nabi ﷺ menjadikan ilmu  agama sebagai faktor semua kebaikan, karena dengan ilmu  dia mampu beribadah kepada Allah Azza wa Jalla secara benar.

3. Melaksanakan  Perintah Allah Azza wa Jalla dan Menjauhi Larangan-Nya

Jika ilmu  adalah kunci  meraih kesucian jiwa, maka yang  jauh  lebih  utama daripada itu  adalah mengamalkan ilmu.  Apalah artinya jika kita  belajar, ikut  taklim dan  menuntut ilmu  jika kita  tidak mengamalkannya. Ibnul  Qayyim Rahimahullah berkata:

كُلُّ عِلْمٍ وَعَمَلٍ لاَ يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلُ، وَكُلُّ إِيمَانٍ لاَ يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَل فَمَدْخُوْلُ

“Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam  keimanan dan keyakinan  maka telah termasuki (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng).” (Al Fawaid hlm.86)

Jika kita melaksanakan perintah-perintah Allah Azza wa Jalla seperti shalat, puasa,  zakat,  haji, membaca Al- Qur’an  maka di situlah hati  akan  suci  dan  bahagia.  Sebaliknya, jika  kita  menerjang larangan-larangan Allah Azza wa Jalla, maka hati  ini akan  sempit, gundah dan  galau.

4. Selalu Muhasabah (Intropeksi  diri)

Allah Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Hai orang-orang  yang beriman,  bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla dan hendaklah  Setiap diri memper- hatikan apa yang telah  diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla, Sesungguhnya  Allah Azza wa Jalla Maha mengetahui apa yang kamu  kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)

Seorang mukmin  dia  akan  selalu  mengoreksi dan  mengevaluasi amalannya. Dia akan  berusaha untuk tidak terjerumus ke  dalam dosa  dengan menjauhi segala sarana yang  dapat merayunya seperti  fitnah  dunia, wanita  dan teman  yang jelek.  Dan  jika  dia  telah terjatuh ke  dalam dosa, maka dia  segera bertaubat dengan istighafar kepada  Allah Azza wa Jalla dengan tekad yang  bulat untuk tidak mengulanginya  lagi.

Nah,  salah  satu sarana untuk meraih tazkiyah nufus adalah melalui ibadah puasa yang  disyari- atkan oleh  Allah Azza wa Jalla sebagai madrasah ketaqwaan.

*****

Menggapai Kesucian Jiwa dari Madrasah Puasa

Sejenak,  marilah kita  intropeksi; “Sudah  berapa kali kita  mendapati bulan Ramadhan. Namun apakah kita  telah meraih pelajaran-pelajaran berharga dari bulan Ramadhan?!  Sudahkah  Ramadhan membuahkan perubahan dalam pribadi kita  ataukah hanya sekedar rutinitas belaka  yang datang dan  berlalu begitu saja?!”

Oleh karenanya, perkenankanlah kami  pada kesempatan  kali  ini  untuk  menyampaikan beberapa pelajaran tazkiyah nufus dari  madrasah Ramadhan. Semoga  dapat kita  fahami dan  dapat kita  wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.

Bulan  Ramadhan merupakan  sekolah keimanan  dan  bengkel akhlak yang  sangat manjur bagi orang yang  mengetahuinya. Banyak  sekali  pelajaran yang  dapat diambil darinya, di antaranya:

Madrasah Pertama: Ikhlas, Memurnikan Niat Hanya Untuk Allah Azza wa Jalla

Ikhlas  merupakan pondasi pertama diterimanya suatu amalam ibadah seorang hamba. Dalam ibadah puasa secara khusus,  Nabi ﷺ  telah bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ

“Barangsiapa yang puasa di bulan Ramadhan karena  keimanan dan  mengharap pahala  Allah Azza wa Jalla, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari 4/250, Muslim 759)

Rasulullah ﷺ juga  pernah bersabda:

“Barang siapa  yang  mendirikan salat  malam  di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala  (dari Allah Azza wa Jalla), maka  akan  diampuni  dosa- dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari 4/250, Muslim 759)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَئبِهِ

“Barang siapa yang shalat  pada  malam  Lailatul Qadr dengan  penuh  keimanan dan  harapan  pahala, niscaya  akan  diampuni  dosa-dosanya  yang telah lalu.” (HR.Bukhari: 2014, Muslim: 760).

Umar  bin  Khathab Radhiyallahu’anhu berkata: “Barang  siapa yang  berpuasa atau shalat malam, maka hendak- nya menjadikan semua  ibadah  tersebut  hanya untuk Allah Azza wa Jalla”. (Fadhail Ramadhan, Ibnu Abi Dunya: 31).

Demikianlah Nabi ﷺ selalu  menekankan agar di bulan Ramadhan, kita  Ikhlas  dalam beribadah. Demikian pula  dalam setiap amalan ibadah kita, marilah kita  ikhlaskan murni hanya untuk Allah Azza wa Jalla semata sehingga kita  tidak  mengharapkan selain Allah Azza wa Jalla.  Ingatlah, bahwa  sebesar  apapun  ibadah yang  kita  lakukan tetapi bila  tidak  ikhlas  meng- harapkan wajah Allah Azza wa Jalla maka sia-sia  belaka  tiada berguna.

Dalam sebuah  hadits  dikisahkan bahwa  tiga golongan yang  pertama kali  dicampakkan oleh Allah Azza wa Jalla adalah mujahid, pemberi sedekah, dan pembaca Al-Qur’an. Perhatikanlah bukanlah jihad merupakan amalan yang  utama?! Bukankah se- dekah dan  membaca Al-Qur’an merupakan ama- lan  yang  sangat mulia? Namun kenapa mereka malah dicampakkan ke  neraka?! Karena  mereka kehilangan keikhlasan dalam beramal.

Oleh  karenanya, kita  harus berusaha ikhlash dalam ibadah. Bagaimanakah caranya?

1.  Berdo’a

Perbanyak do’a  supaya kita  diberi  keikhlasan dalam amal ibadah kita.  Ini  kiat  paling utama, karena yang memudahkan kita  untuk ikhlas  hanyalah Allah Azza wa Jalla. Tanpa pertolongan Allah Azza wa Jalla, kita tidak akan  bisa untuk ikhlas. Oleh karenanya, Umar  bin Khattab Radhiyallahu’anhu pernah berdo’a:

اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلي كُلُّهُ صَالِحًا وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا وَلاَ تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيْهِ شَيْئًا

“Ya Allah, jadikanlah  semua  amal  ibadahku  ini shalih  (sesuai  dengan  tuntunan Nabi ﷺ ), dan jadikanlah  ikhlas  hanya  mengharapkan  Wajah- Mu, dan janganlah Engkau beri ruang sedikit pun untuk siapapun (selain Engkau).”

Syaikhul  Islam  Ibnu  Taimiyah (W.728 H) Rahimahullah, beliau kagum dengan do’a  ini,  seringkali beliau sebutkan  sebagai do’a  yang  bagus, karena meminta keikhlasan. (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim 2/373  karya Ibnu Taimiyyah).

2. Berusaha menyembunyikan amal ibadah kita.

Usahakan dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla kita merahasiakannya. Kita berupaya untuk menyem- bunyikannya sebisa  mungkin. Jangan  suka pamer. Jangan suka menampakkan, karena  itu rawan bocor keikhlasan kita.  Sahabat Nabi,  Zubair  bin Awam Radhiyallahu’anhu, salah seorang dari 10 sahabat Nabi yang dijamin masuk surga,  beliau  pernah mengatakan:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ تَكُوْنَ لَهُ خَبِيْتَةُ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ

“Barangsiapa diantara  kalian yang bisa memiliki amal shalih rahasia maka lakukanlah”.  (Diriwayatkan Ahmad dalam Az Zuhd dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih).

Dalam atsar  ini terdapat  pelajaran  penting bagi  kita  untuk berusaha melakukan amal  shalih secara rahasia dan tidak  diketahui oleh orang lain selama  amal tersebut  tidak dianjurkan  syariat untuk dinampakkan seperti adzan,  shalat  berjamaah di masjid dan  lain sebagainya.

Dengan merahasiakan  amal  shalih  berarti seorang menuai beberapa faedah:

  1. Lebih ikhlas
  2. Lebih jujur  dan  semangat dalam beramal
  3. Menambah rasa  takut kepada Allah Azza wa Jalla
  4. Memperbesar pahala
  5. Menghindari cinta popularitas
  6. Menjaga hati  dari  noda-noda perusak hati.

(Syarh Al Ghurar Min Mauqufil Atsar hlm. 26-28 karya Syaikh Sha- lih Al-‘Ushaimi).

Abdullah  Al Khuraibi Rahimahullah berkata: “Para  salaf menganjurkan agar  seorang memiliki amal  sha- lih rahasia yang tidak  diketahui oleh istrinya sekalipun”. (Siyar A’lam Nubala’ 9/349.)

Pernah disebutkan nama Ibnul  Mubarak kepada  Imam Ahmad  maka beliau  berkata: “Tidaklah Allah Azza wa Jalla mengangkat derajat Ibnul  Mubarak kecuali dengan sebab  amal  shalih  rahasia yang  dia  lakukan”.  (Shifatu Shafwah 2/330.)

*****

Madrasah Kedua: Meneladani Sunnah Nabi

Salah  satu kunci utama untuk meraih kesucian  hati  adalah dengan mengikuti sunnah Nabi ﷺ, karena tidak  ada  metode dalam penyucian hati yang lebih baik daripada petunjuk beliau.  Semoga Allah Azza wa Jalla  merahmati  Imam Ibnu Qayyim  al-Jauziyyah tatkala mengatakan: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengutus para  rasul  untuk mengemban tazkiyah atau penyucian dan  pengobatan hati  umat. Dan penyucian jiwa  lebih  berat daripada pengobatan badan. Maka  barangsiapa yang  menyucikan dirinya  dengan riyadhoh,  mujahadah,  khulwah*)  yang tidak  dicontohkan oleh  para  rasul,  maka perumpamaannya  seperti  pasien yang mengobati  penyakitnya dengan caranya sendiri. Akankah hal ini  sama  dengan cara  para  dokter?! Sesungguhnya  para  rasul  adalah dokter hati.  Jadi tidak  ada cara/  metode untuk penyucian jiwa  kecuali dari cara  yang  diajarkan rasul”.  (Madarij Salikin 2/315).

*) Ini adalah  istilah-istilah tasawwuf  untuk penyucian  jiwa. (Lihat Mu’jam ash-Shufi, DR. Mahmud Abdur Rozzaq 2/654, 968).

Salah  satu  pelajaran penting  dari madrasah Ramadhan adalah meneladani sunnah Nabi ﷺ  dan ini  pelajaran yang  sangat penting sekali  karena mengikuti sunnah merupakan pondasi kedua untuk diterimanya suatu ibadah. Betapa  ikhlasnya kita dalam  beribadah  tetapi  kalau  tidak sesuai dengan sunnah  Nabi ﷺ maka tertolak  dan tidak diterima.  Oleh  karenanya  dalam  berpuasa  kita meniru  bagaimana puasa  Nabi ﷺ seperti mengakhirkan sahur dan  segera dalam berbuka.

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بخَيْرِ مَا عَجَّلُوْا ألفِظْرَ وَأَخَّرُوْا السَّحُوْرَ

“Manusia akan  senantiasa  berada  dalam  kebaikan selama  mereka  menyegerakan berbuka  puasa dan mengakhirkan sahur.”  (HR. Bukhari: 1957 dan Muslim: 1098).

Abu  Darda’  Radhiyallahu’anhu berkata:  “Tiga  hal termasuk akhlak kenabian: segera dalam berbuka puasa, mengakhirkan  sahur,  dan meletakkan  tangan kanan di atas  tangan kiri ketika shalat”. (Diriwayatkan oleh Ath Thabarani  dalam  Al Kabir sebagaimana dalam Majma’ Zawaid 2/105).

‘Amr bin  Maimun Al Azdi Rahimahullah berkata: “Adalah para  sahabat Nabi  sangat segera dalam berbuka puasa dan  sangat mengakhirkan sahur”. (Abdur Razzaq dalam Al Mushannaf 4/226  dan dishahihkan  oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 4/199).

Demikian pula  dalam setiap ibadah lainnya, marilah kita  berusaha untuk meniru agar  sesuai dengan tuntunan Rasulullah agar  amal  kita  tidak sia-sia  belaka,  karena syarat diterimanya ibadah kita  adalah ikhlash dan  ittiba’. Ini dua  syarat diterimanya amal  ibadah yang  selalu  harus kita lakukan  agar kita tidak menjadi  orang-orang yang  merugi dalam perjalanan kita  menuju kampung  akhirat.

Jangan sampai seperti  seorang musafir yang hanya memberatkan dirinya,  tapi  tidak  ada  faedahnya. Alangkah  indahnya ucapan Ibnul  Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah: “Orang  yang  beribadah namun tidak ikhlas dan  ittiba’ bagaikan orang musafir yang  mengisi tasnya  dengan pasir,  hanya memberatkannya dan  tidak  bermanfaat baginya”. (Al Fawaid hlm. 62).

Dan  konsekuensi ingin  beribadah sesuai sunnah  Nabi mengharuskan kita mempelajari Al- Qur’an dan  hadits Nabi ﷺ, kemudian kita mempraktekkannya, dan  istiqomah di atasnya. Ini tiga  hal dalam menjalankan sunnah Nabi ﷺ.

Pertama: ilmu

Pelajari  ilmu,  karena tidak  mungkin kita mengikuti sunnah Nabi ﷺ tanpa ilmu. Kata Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, “Siapa yang  beribadah kepada Allah Azza wa Jalla  tanpa ilmu,  maka dia  akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.” (Az-Zuhud 1/301 karya Imam Ahmad)

Kedua: Amal

Setelah kita  pelajari, maka amalkanlah, karena ilmu  bukan cuma sekedar teori,  tapi  untuk kita amalkan.  Tahu  tentang  sunnah Nabi,  satu dua sunnah,  maka amalkan. Sekecil  apapun itu,  jangan  pernah meremehkan.

Ketiga: Istiqomah

Maka kita harus berusaha semangat mengikuti sunnah Nabi semaksimal mungkin dan  istiqomah di atasnya. Sufyan bin ‘Uyainah (W.198 H) Rahimahullah pernah  mengatakan, “Kalau kamu bisa  untuk tidak menggaruk  kepalamu  kecuali  dengan  sunnah, maka lakukanlah.” (Al Jami’ li Akhlaki Rawi wa Adabi Sami 1/142  karya Al Khathib Al-Baghdadi).

Artinya  dalam masalah sekecil apapun, kalau  kamu bisa  untuk beribadah sesuai  sunnah, lakukan sekecil  apapun itu.

Pernah datang seseorang kepada Imam Malik (W.179 H)  Rahimahullah,  lalu  ia  bertanya, “Wahai  Imam, dari  mana saya  akan  memulai ihram  untuk haji dan  umrah?”, dan  dia adalah penduduk Madinah. Kata  Imam  Malik,  “Dari  Dzul  Hulaifah,  miqatnya  Rasulullah ﷺ.” Dahulu Rasulullah memulai ihramnya dari  Dzul  Hulaifah. Orang  ini  lalu  mengatakan, “Saya ingin  ihram dari  Masjid Nabawi.” Kata  Imam Malik,  “Jangan  lakukan itu,  aku  khawatir kamu terkena fitnah.”  Orang  itu  membantah dan  ngeyel,  “Fitnah  apa  yang  kamu khawatirkan, wahai Imam,  itu  hanya sekedar beberapa meter saja?”  Kata  Imam Malik,  “Fitnah apakah yang  lebih  besar  daripada kamu merasa lebih  hebat  daripada Nabi Muhammad ﷺ?!”.

(Tartibul Madarik 2/40  Al Qadhi ‘Iyadh, Dzammul Kalam 463  Al Harawi, Al Lalikai dalam  Ushul ‘Itiqad Ahli Sunnah no. 294, Abu Nuaim dalam Al Hilyah 6/326  dan lain sebagainya).

*****

Madrasah Ketiga: Taqwa

Meraih derajat taqwa merupakan tujuan po- kok ibadah puasa.  Allah Azza wa Jalla berfirman:

یٰۤاَیُّهَا الَّذِیْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَیْكُمُ الصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَی الَّذِیْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ

“Hai  orang-orang yang beriman,  diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana  diwajibkan atas orang-orang sebelum  kamu  agar kamu  bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Taqwa  artinya takut kepada Allah Azza wa Jalla dengan menjalankan semua perintah-Nya dan  menjauhi semua  larangan-Nya atas dasar ikhlash dan  sesuai  dengan tuntunan  sunnah Rasulullah ﷺ.

Inilah tujuan  inti kenapa  Allah Azza wa Jalla  mewajibkan puasa kepada kita.  Puasa bukan hanya sekadar kita merasakan lapar  dan puasa,  namun bagaimana kita  menahan seluruh anggota tubuh kita  dari perkara yang  haram. Bagaimana setelah  ibadah puasa,  kita  menjadi pribadi yang  semakin dekat dengan Allah Azza wa Jalla, semakin baik  aqidah kita,  ibadah kita  dan  akhlak kita.

Dan inilah  hakikat puasa yang sebenarnya. Sahabat Jabir  bin  Abdillah Radhiyallahu’anhu berkata: “Jika engkau berpuasa  maka  berpuasalah  pendengaranmu,  pandanganmu serta lisanmu dari  dusta dan dosa. Janganlah menyakiti  pembantu.  Hendaknya  dirimu tenang  dan berwibawa saat puasa. Dan jangan jadikan hari  puasamu dan  hari  tidak puasamu sama  saja”. (Al Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah: 5973).

Al-Hafizh  Ibnu Qayyim  al-Jauziyyah Rahimahullah berkata: “Orang  berpuasa yang  sebenarnya adalah orang  yang menahan  anggota  badannya  dari segala  dosa, lisannya dari dusta, perutnya dari makanan, minuman dan  farjinya dari  jima’. Bila berbicara, dia tidak  mengeluarkan  perkataan yang  menodai puasanya. Jika  berbuat, dia  tidak melakukan hal yang dapat merusak puasanya. Sehingga  ucapannya yang  keluar adalah bermanfaat dan baik.  Demikian  pula amal perbuatannya, ibarat wewangian yang  dicium baunya oleh kawan  duduknya.  Seperti  itu juga orang  yang puasa,  kawan duduknya mengambil manfaat dan merasa aman dari  kedustaan, kemaksiatan, dan kezhalimannya. Inilah  hakikat puasa sebenarnya, bukan hanya sekadar menahan diri dari makanan dan  minuman.” (Al-Wabil ash-Shayyib wa Rafi’ul Kalim ath-Thayyib hlm. 57 Ibnul Qayyim)

Oleh  karenanya, marilah kita  koreksi dan  bertanya pada  hati  kita  masing-masing?! Sudahkah kita  meraih tujuan puasa ini?! Sudahkan kita  memetik buah ketaqwaan ini?! Ataukah kita  puasa hanya sekedar rutinitas saja?!

Umar bin  Abdul  Aziz (W.101 H)  Rahimahullah berkata, “Setiap  safar  itu  pasti  butuh bekal.  Dan bekal  untuk  perjalanan akhirat adalah taqwa”. (Qashrul Amal Ibnu Abi Dunya).

Takwa bukan hanya shalat dan puasa saja. Tak- wa itu adalah ketika seorang hamba menjalankan apapun yang  Allah Azza wa Jallaajibkan kepadanya, dan  tatkala  seorang hamba meninggalkan apapun yang Allah Azza wa Jalla  larang kepadanya dengan ikhlash dan  sesuai sunnah Nabi. Itulah takwa kepada Allah Azza wa Jalla. Kita melaksanakan semua yang Allah Azza wa Jalla perintahkan dan kita  meninggalkan semua yang  Allah Azza wa Jalla larang.

Perlu  diingat, bahwa  “takwa” bukanlah  seke- dar  wasiat yang  hanya sekedar kata  yang  berlalu di  telinga, tetapi yang  terpenting adalah penga- malannya. Semoga  Allah Azza wa Jalla merahmati Imam Umar bin  Abdul  Aziz Rahimahullah tatkala beliau menulis surat kepada seseorang: “Saya wasiatkan padamu dengan  takwa kepada Allah Azza wa Jalla… Sesungguhnya orang yang  menasehati dengannya cukup banyak, tetapi yang mengamalkannya sedikit sekali!  Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita  semua termasuk orang- orang yang  bertakwa”.

Al-Hafizh  Ibnu Rajab  Rahimahullah mengatakan,  “Asal makna takwa adalah seorang hamba menjadikan antara dirinya dengan yang  ia takuti dan  waspadai penjagaan yang  menjaganya. Maka  takwanya seorang hamba  kepada Rabb-Nya,  hendaklah  ia menjadikan penjagaan dan  kewaspadaan antara dirinya dengan Allah Azza wa Jalla  dari  perkara-perkara yang bisa mendatangkan marah, murka dan  siksa-Nya. Yang  demikian itu  adalah dengan mengerjakan ketaatan dan  menjauhi kemaksiatan”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam 1/398).

Keutamaan takwa sangat banyak (Lihat At-Tuhfah Iroqiyyah oleh Ibnu Taimiyyah dan Syarh Washi- yyah Shughro oleh Syaikh Ibrahim al-Hamd) dan termaktub di dalam Al-Qur’an (Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin  memiliki risalah bagus berjudul  “Fawaid Taqwa Fil Qur’an”. Beliau meneliti  faedah- faedah  taqwa dalam Al-Qur’an) dalam banyak ayat-Nya.  Di- antaranya:

1.  Wasiat Allah Azza wa Jalla yang berharga

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ

“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum  kamu  dan (juga)  kepada  kamu;  Agar bertakwalah kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 131)

2. Mendapat warisan surga

Allah Azza wa Jalla berfirman:

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِيْ نُوْرِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا

“Itulah surga  yang  akan  kami  wariskan  kepada hamba-hamba kami  yang selalu bertakwa.”  (QS. Maryam: 63)

3. Dicintai oleh Allah Azza wa Jalla

Allah Azza wa Jalla berfirman:

بَلٰى مَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ وَاتَّقٰى فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ

“Sebenarnya siapa yang menpati janji dan bertakwa, maka  sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyukai orang- orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 76)

4. Dibukakan pintu keberkahan  dari langit dan bumi

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negri-negri beriman dan bertakwa,  pastilah  kami  akan melimpahkan kepada mereka  berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A’raf: 96)

5. Dimudahkan  urusannya di dunia dan akhirat

Allah Azza wa Jalla berfirman:

 وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرً

“Dan  barangsiapa  yang  bertakwa kepada  Allah niscaya  Allah menjadikan  baginya  kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)

6. Allah Azza wa Jalla bersama orang-orang  yang bertakwa

Allah Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَࣖ

“Sesungguhnya  Allah Azza wa Jalla beserta  orang-orang  yang bertakwa dan  orang-orang  yang  berbuat  kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)

7. Sebaik-baiknya bekal

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

8. Kesudahan yang baik

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Dan  kesudahan yang  baik  adalah  bagi  orang- orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf: 128)

9. Diberi rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

“Barangsiapa yang  bertakwa  kepada  Allah Azza wa Jalla  niscaya dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki  dari arah yang tiada  disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq:2-3)

10. Dilipatgandakan pahala

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا

“Dan barangsiapa  yang  bertakwa kepada  Allah Azza wa Jalla, niscaya  dia  akan  menghapus kesalahan-kesalahannya  dan  akan  melipat  gandakan  pahala  baginya.” (QS. At-Thalaq: 5)

*****

Madrasah Keempat: Menggapai Muraqabah

Seorang  yang berpuasa,  dia  tidak akan berbuka  sekalipun manusia tidak  ada  yang  menge- tahuinya karena dia  merasa takut  dan merasa diawasi oleh  Allah Azza wa Jalla dalam gerak-geriknya. Demikianlah hendaknya kita  dalam setiap saat,  merasa takut dan  diawasi oleh  Allah Azza wa Jalla di manapun berada dan kapanpun juga,  terlebih  ketika kita hanya seorang diri, apalagi  pada  zaman kita  ini di mana alat-alat kemaksiatan begitu mudah dikomsumsi, maka ingatlah bahwa itu  adalah ujian  agar  Allah Azza wa Jalla mengetahui siapa  di antara hamba-Nya yang  takut  kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ  menjelaskan tentang ihsan yaitu,

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Hendaklah Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat-Nya. Kalaupun Engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu” (HR. Muslim no. 8 dari Umar bin Al Khattab Radhiyallahu ‘anhu).

Hadits ini  menjelaskan tentang  ihsan dalam ibadah  kepada  Allah Azza wa Jalla ,  yaitu merasa  diawasi oleh  Allah sehingga hamba terus akan  memperbaiki  ibadahnya. Imam An Nawawi Rahimahullah berkata: “Hadits  ini termasuk jawami’ul kalimi  Nabi (ungkapan singkat tapi  padat) karena seorang hamba apabila dia saat ibadah merasa diawasi oleh  Allah Azza wa Jalla maka dia akan  melakukan semua yang  dia mampu  berupa ketundukan,  kekhusyu’an, keindahan akhlak…  Intinya, hadits ini adalah anjuran untuk ikhlash  dalam  ibadah  dan muraqabah  kepada Allah Azza wa Jalla dalam menyempurnakan kekhusyua’an dan ketundukan dan  lain sebagainya”. (Syarh Shahih Muslim 1/157-158. Lihat pula Al Mu’in ‘ala Tafah- humil Arbain hlm. 167 oleh Ibnul Mulaqqin).

Jadi,  derajat Ihsan adalah kita  selalu merasa diawasi oleh  Allah Azza wa Jalla semata. Ini yang  disebut oleh para  ulama dengan istilah ‘muraqabah’. Muraqabah yaitu  kita  selalu  merasa diawasi oleh  Allah Azza wa Jalla di manapun kita  berada. Ma syaa Allah, sungguh mulia kalau kita sudah  sampai  kepada derajat ini. Ini derajat yang  paling  tinggi.  Dan ini sangat penting sekali  untuk kita  tanamkan  dalam diri kita  untuk selalu  merasa diawasi oleh  Allah Azza wa Jalla.

Terutama di  zaman sekarang, di  mana pintu- pintu kemaksiatan dan  dosa  terbuka lebar.  Kalau kita  tidak  merasa diawasi Allah Azza wa Jalla, akan  hancur diri kita. Kita akan  mudah terjerumus ke dalam jerat- jerat  setan,  karena  sekarang orang  melakukan dosa begitu mudah. Di kamarnya sendirian, orang bisa  melakukan dosa  dengan mudah. Kalau kita tidak  merasa diawasi oleh  Allah Azza wa Jalla, kita  akan  terje- rumus ke dalam jerat-jerat setan. Oleh karenanya, hendaknya bagi kita  untuk selalu  merasa diawasi oleh  Allah Azza wa Jalla dan  itulah derajat ihsan.

Dan  untuk menghadirkan muraqabah ini, maka hendaknya seorang hamba melakukan hal- hal berikut:

  • Menghadirkan makna yang   terkandung dalam nama-nama Allah Azza wa Jalla seperti Al-Alim (Dzat yang  Maha  Mengetahui), As-Sami’ (Maha Mendengar) dan  sejenisnya.
  • Selalu mengingat Allah Azza wa Jalla
  • Selalu muhasabah (intropeksi diri)
  • Mengingat kedahsyatan siksaan Allah Azza wa Jalla
  • Mengingat janji dan  ancaman Allah Azza wa Jalla.

(Lihat A’malul Qulub 1/406-423 karya Dr. Khalid bin Utsman As Sabt, Majmu’ Rasail Ibnu Rajab 2/462).

*****

Keutamaan Ahlul-Qur’an

Madrasah Kelima: Memperkuat Iman Dengan Al Qur’an

Bulan  Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an yang  berisi  petunjuk bagi  umat manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ

“Bulan Ramadhan,  bulan yang di dalamnya  diturunkan  (permulaan)  Al-Qur’an sebagai  petunjuk bagi manusia  dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu  dan pembeda  (antara  yang hak dan yang batil). Karena itu,  barang  siapa di antara  kamu  hadir (di negri tempat tinggalnya)  di bulan itu, maka  hendaklah  ia berpuasa  pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Maka  sudah semestinya kita  memuliakannya dengan banyak membaca, menghayati, dan  memahami isinya  pada  bulan ini. Rasulullah ﷺ  -teladan kita-  selalu  mengecek bacaan Al-Qur’annya pada  Malaikat Jibril pada  bulan tesebut. (HR. Bukhari 1/30, Muslim No. 3308).

Cukuplah untuk menunjukkan keutamaan membaca dan  mempelajari Al-Qur’an sebuah hadits  yang  berbunyi:

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا , لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi, no. 2910. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Tirmidzi, no. 2910. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].

Maka hal ini  memberikan  pelajaran  kepada kita kaum  muslimin agar kembali kepada  ajaran  Al-Qur’an  dengan membacanya, memahami isinya,  mengamalkannya, dan  menjadikannya sebagai  cahaya dalam menapaki kehidupan ini.

Saudaraku, Allah Azza wa Jalla menurunkan Al-Qur’an kepada  para  hamba-Nya sebagai petunjuk, cahaya, rahmat  dan peringatan.  Oleh  karenanya, Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwa orang-orang yang  beriman apabila membaca Al-Qur’an  maka akan  bertambah  iman  mereka.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

“Sesungguhnya  orang-orang  yang beriman  ialah mereka  yang bila disebut  nama Allah gemetarlah hati  mereka,  dan  apabila  dibacakan  ayat-ayat- Nya bertambahlah  iman mereka (karenanya), dan  hanya  kepada  Tuhanlah  mereka  bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)

Syaikh  Muhammad Rasyid  Ridho  Rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa kuatnya agama dan  iman  tidak mungkin diraih kecuali dengan banyak membaca Al-Qur’an  atau  mendengarkannya dengan penuh renungan dan  dengan niat untuk mengamalkan perintah dan  menjauhi larangannya”. (Mukhtar Tafsir Al-Manar 3/170).

Namun perlu ditandaskan bahwa maksud membaca Al-Qur’an yang merupakan faktor penyubur  iman dan kesucian  hati di  sini bukan  hanya sekedar membaca saja,  tetapi membacanya  dan memahami makna kandungannya serta mengamalkan isinya.  Oleh  karenanya Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwa tujuan inti  Al-Qur’an ini diturunkan adalah untuk dipelajari dan  direnungi bersama.

Tidaklah  kehinaan yang  menimpa kaum muslimin pada zaman sekarang kecuali disebabkan karena jauhnya mereka dari  Al-Qur’an  dan  sunnah.

Dari Shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

 إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةورضيتم بالزرعِ وَاتبعتمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ. 

“Apabila kalian sudah melakukan jual beli dengan cara ‘inah (jual beli yang terdapat unsur riba), sangat menyukai bertani dan mengukuti ekor-ekor sapi (sibuk dengan lahan pertanian), dan meninggalkan jihad fi sabilillah, Niscaya Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian. Dan Dia (Allah) tidak akan melepaskannya sampai kalian kembali kepada agama kalian.”  [HR. Abu Dawud dan Ahmad]

Demikian pula  bencana demi  bencana yang menimpa negri ini  dari tsunami,  banjir, tanah longsor, lumpur  panas dan  sebagainya,  barangkali semua itu  karena perbuatan dosa  umat manusia  agar  mereka segera menyadari dan  kembali kepada ajaran agama yang  suci?! Allah Azza wa Jalla berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah nampak  kerusakan  di daratan dan lauatan disebabkan ulah  perbuatan manusia.”  (QS. Ar-Ruum:  41)

*****

Bagaimana penilaian antum terhadap Ebook ini?

Perkenankanlah kami  pada kesempatan  kali  ini  untuk  menyampaikan beberapa pelajaran tazkiyah nufus dari  madrasah Ramadhan. Semoga  dapat kita  fahami dan  dapat kita  wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.

User Rating: 5 ( 1 votes)
1 2 3Next page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button