13 Kiat Menggapai Kesucian Jiwa dari Madrasah Ramadhan

- Ditulis ulang dari E-book Menggapai Kesucian Jiwa dari Madrasah Ibadah Puasa
- Penulis: Ustadz Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi Hafidzahullah
Mukadimah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
الْحمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:
Sering kita jumpai banyak orang pada zaman sekarang lebih memperhatikan penampilan indah pada tubuhnya, pakaiannya, mobilnya, rumahnya dan sebagainya. Namun sayang seribu sayang, dia melalaikan penampilan indah pada hati dan bathinnya padahal keindahan hati jauh lebih penting daripada keindahan luar, karena itulah tolak ukur kemuliaan di sisi Allah Azza wa Jalla :
إِنَّ أَكْرَ مَكُمْ عِندَ اُللَّهِ أَنقَئَكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa diantara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Dan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallohu’anhu, bersabda:
إنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak melihat kepada bentuk kalian, tubuh atau harta kalian, tetapi Allah Azza wa Jalla akan melihat kepada hati dan amal kalian”. HR. Muslim: 2564
Oleh karenanya, maka hendaknya bagi kita untuk lebih memperhatikan kesucian hati kita,di samping juga memperhatikan kesucian badan, pakaian atau lingkungan kita.

Saudaraku, Tazkiyatun Nufus dalam artian mensucikan jiwa dari noda-noda dan dosa dengan ketaatan dan keimanan adalah perkara yang sangat penting, bahkan merupakan salah satu tugas inti dari dari dakwah Nabi Muhammad adalah mengemban tazkiyah nufus. Allah Azza wa Jalla berfirman:
هُوَ اُلَّذِى بَعَثَ فِىِ الأُمَيِئنَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ ءَايَئْهِ، وَيُزَكِيِهِمْ وَيُعَلِمُهُمُ اُلْكِنَبَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَلِ مُبِينٍ
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang mem- bacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Juga, tazkiyatun nufus adalah kunci kebahagaian dan keberuntungan di dunia dan akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyu- cikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Perlu diketahui bahwa tazkiyah nufus memiliki dua tingkatan (Lihat risalah Tazkiyah Nufus karya Syaikh Dr. Ibrahim Ar Ruhaili) :
- Tingkatan Pertama: Mensucikan hati dengan melakukan amalan yang disyari’atkan. Dia selalu mengoreksi dan mengontrol keimanannya, beru- saha selalu meningkatkan imannya dan menjauhi segala virus yang dapat menggerogoti imannya.
إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ القَّوْبُ الْحخْلِقُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ في قُلُوبِڪُم
“Sesungguhnya iman dalam hati itu bisa luntur/ usang sebagaimana lunturnya pakaian, maka perbaharuilah keimanan kalian”. (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrok 1/4 dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah 4/113).
Dan sebagaimana dimaklumi bersama bahwa iman itu mencakup keyakinan, ucapan dan perbuatan.
- Keyakinan. Dia mewujudkan amalan-amalan hati berupa cinta, berharap, takut, tawakkal, ikhlas, pengagungan kepada Allah Azza wa Jalla dan Nabinya serta amalan-amalan hati lainnya.
- Perbuatan. Dia membersihkan hatinya dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla berupa amalan- amalan badan seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan amalan-amalan lainnya.
- Ucapan. Dia membersihkan hatinya dengan amalan-amalan lisan seperti membaca Al-Qur’an, dzikir, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya.
- Tingkatan Kedua: Mensucikan Hati dengan meninggalkan larangan Allah Azza wa Jalla. Dia meninggalkan seluruh maksiat dan dosa dengan berbagai modelnya dan tingkatannya, sebab dosa itu sangat meracuni hati dan merusaknya. Bukankah semua kerusakan di muka bumi ini serta segala kerusakan dalam ekonomi, politik, sosial melain- kan karena akibat dosa?!!
رَأَيْتُ الذُّنُوبَ تُمِيتُ الْقُلُوبَ … وَيُتْبِعُهَا الدُّلَّ إِدْمَانُهَا
وَتَرْكُ الذُّنُوبِ حَيَاةُ الْقُلُوبِ … وَالْخَيْرُ لِلنَّفْسِ عِصْيَانهَا
(Al-Mujalasah wa Jawahirul ilmi 2/30.)
Namun, perlu diketahui bahwa metode tazkiyatun nufus yang benar adalah apa yang sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ. Hal ini kami tekankan, karena akhir-akhir ini banyak bermunculan metode-metode baru untuk penyucian jiwa dan hati sehingga terkadang muncul suatu komentar: “Salaf itu bagus dalam masalah aqidahnya, tapi dalam masalah tazkiyah, saya lebih memilih model dzikirnya fulan (!), khuruj dan mudzakarah- nya jama’ah fulan (!), mabit dan muhasabahnya harokah fulan (!)”.
Aduhai, apakah Nabi ﷺ dan para sahabatnya tidak mengajarkan metode tazkiyah nufus?! Mengapa mereka tidak merasa cukup dengannya, bahkan menginginkan metode-metode selainnya?!!
Lantas bagaimana kiat-kiat untuk meraih kesucian dan kebeningan hati?! Ada beberapa kiat jitu untuk meraihnya yang seandainya kita melaksankannya maka kita akan segera meraihnya dengan izin Allah Azza wa Jalla. Diantaranya:
1. Do’a dan Memohon Kepada Allah Azza wa Jalla
Sekalipun hamba memiliki peran dalam penyucian hatinya, namun perlu dia sadari bahwa yang memberi taufiq kesucian dan kebeningan hati hanya Allah Azza wa Jalla semata. Oleh karenanya, Allah Azza wa Jalla berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah Azza wa Jalla dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah Azza wa Jalla membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Azza wa Jalla Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 21)
Maka seorang hamba, dalam setiap detiknya selalu membutuhkan Allah Azza wa Jalla dan memohon kepada-Nya agar Allah Azza wa Jalla menganugerahkan kepadanya kebeningan hati. Oleh karena itulah, Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita untuk berdo’a:
اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
Allaahumma aati nafsii taqwaahaa wazakkihaa, anta khairu man zakkaahaa, anta waliyyuhaa wa maulaahaa.
“Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaan dan sucikanlah jiwa karena Engkau adalah se- baik-baik Dzat yang mensucikannya”. HR. Muslim: 2722
Karena itu pula kita disyari’atkan ketika mendengar panggilan shalat ketika muadzin men- gatakan: Hayya ‘ala shalat”. Dan “Hayya ‘ala Falah” (Ayo kita shalat, ayo kita menuju keberuntungan), maka kita menjawab: “Laa Haula wal Quwwata illa Billahi” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah)
2. Berilmu
Ilmu adalah kunci jitu untuk meraih kesucian hati. Sebab kesucian hati itu diraih dengan melaksanakan ketaatan serta menjauhi larangan secara ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Dan hal itu tidak mungkin terwujudkan kecuali dengan ilmu. Oleh karenanya, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan fahamkan ia dalam agama- Nya” (Muttafaq Alaihi).
Maka Nabi ﷺ menjadikan ilmu agama sebagai faktor semua kebaikan, karena dengan ilmu dia mampu beribadah kepada Allah Azza wa Jalla secara benar.
3. Melaksanakan Perintah Allah Azza wa Jalla dan Menjauhi Larangan-Nya
Jika ilmu adalah kunci meraih kesucian jiwa, maka yang jauh lebih utama daripada itu adalah mengamalkan ilmu. Apalah artinya jika kita belajar, ikut taklim dan menuntut ilmu jika kita tidak mengamalkannya. Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:
كُلُّ عِلْمٍ وَعَمَلٍ لاَ يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلُ، وَكُلُّ إِيمَانٍ لاَ يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَل فَمَدْخُوْلُ
“Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng).” (Al Fawaid hlm.86)
Jika kita melaksanakan perintah-perintah Allah Azza wa Jalla seperti shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al- Qur’an maka di situlah hati akan suci dan bahagia. Sebaliknya, jika kita menerjang larangan-larangan Allah Azza wa Jalla, maka hati ini akan sempit, gundah dan galau.
4. Selalu Muhasabah (Intropeksi diri)
Allah Azza wa Jalla berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla dan hendaklah Setiap diri memper- hatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla, Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)
Seorang mukmin dia akan selalu mengoreksi dan mengevaluasi amalannya. Dia akan berusaha untuk tidak terjerumus ke dalam dosa dengan menjauhi segala sarana yang dapat merayunya seperti fitnah dunia, wanita dan teman yang jelek. Dan jika dia telah terjatuh ke dalam dosa, maka dia segera bertaubat dengan istighafar kepada Allah Azza wa Jalla dengan tekad yang bulat untuk tidak mengulanginya lagi.
Nah, salah satu sarana untuk meraih tazkiyah nufus adalah melalui ibadah puasa yang disyari- atkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai madrasah ketaqwaan.
*****
Menggapai Kesucian Jiwa dari Madrasah Puasa
Sejenak, marilah kita intropeksi; “Sudah berapa kali kita mendapati bulan Ramadhan. Namun apakah kita telah meraih pelajaran-pelajaran berharga dari bulan Ramadhan?! Sudahkah Ramadhan membuahkan perubahan dalam pribadi kita ataukah hanya sekedar rutinitas belaka yang datang dan berlalu begitu saja?!”
Oleh karenanya, perkenankanlah kami pada kesempatan kali ini untuk menyampaikan beberapa pelajaran tazkiyah nufus dari madrasah Ramadhan. Semoga dapat kita fahami dan dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.
Bulan Ramadhan merupakan sekolah keimanan dan bengkel akhlak yang sangat manjur bagi orang yang mengetahuinya. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil darinya, di antaranya:
Madrasah Pertama: Ikhlas, Memurnikan Niat Hanya Untuk Allah Azza wa Jalla

Ikhlas merupakan pondasi pertama diterimanya suatu amalam ibadah seorang hamba. Dalam ibadah puasa secara khusus, Nabi ﷺ telah bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
“Barangsiapa yang puasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala Allah Azza wa Jalla, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari 4/250, Muslim 759)
Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda:
“Barang siapa yang mendirikan salat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala (dari Allah Azza wa Jalla), maka akan diampuni dosa- dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari 4/250, Muslim 759)
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَئبِهِ
“Barang siapa yang shalat pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan harapan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari: 2014, Muslim: 760).
Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu berkata: “Barang siapa yang berpuasa atau shalat malam, maka hendak- nya menjadikan semua ibadah tersebut hanya untuk Allah Azza wa Jalla”. (Fadhail Ramadhan, Ibnu Abi Dunya: 31).
Demikianlah Nabi ﷺ selalu menekankan agar di bulan Ramadhan, kita Ikhlas dalam beribadah. Demikian pula dalam setiap amalan ibadah kita, marilah kita ikhlaskan murni hanya untuk Allah Azza wa Jalla semata sehingga kita tidak mengharapkan selain Allah Azza wa Jalla. Ingatlah, bahwa sebesar apapun ibadah yang kita lakukan tetapi bila tidak ikhlas meng- harapkan wajah Allah Azza wa Jalla maka sia-sia belaka tiada berguna.
Dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa tiga golongan yang pertama kali dicampakkan oleh Allah Azza wa Jalla adalah mujahid, pemberi sedekah, dan pembaca Al-Qur’an. Perhatikanlah bukanlah jihad merupakan amalan yang utama?! Bukankah se- dekah dan membaca Al-Qur’an merupakan ama- lan yang sangat mulia? Namun kenapa mereka malah dicampakkan ke neraka?! Karena mereka kehilangan keikhlasan dalam beramal.
Oleh karenanya, kita harus berusaha ikhlash dalam ibadah. Bagaimanakah caranya?
1. Berdo’a
Perbanyak do’a supaya kita diberi keikhlasan dalam amal ibadah kita. Ini kiat paling utama, karena yang memudahkan kita untuk ikhlas hanyalah Allah Azza wa Jalla. Tanpa pertolongan Allah Azza wa Jalla, kita tidak akan bisa untuk ikhlas. Oleh karenanya, Umar bin Khattab Radhiyallahu’anhu pernah berdo’a:
اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلي كُلُّهُ صَالِحًا وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا وَلاَ تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيْهِ شَيْئًا
“Ya Allah, jadikanlah semua amal ibadahku ini shalih (sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ ), dan jadikanlah ikhlas hanya mengharapkan Wajah- Mu, dan janganlah Engkau beri ruang sedikit pun untuk siapapun (selain Engkau).”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (W.728 H) Rahimahullah, beliau kagum dengan do’a ini, seringkali beliau sebutkan sebagai do’a yang bagus, karena meminta keikhlasan. (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim 2/373 karya Ibnu Taimiyyah).
2. Berusaha menyembunyikan amal ibadah kita.
Usahakan dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla kita merahasiakannya. Kita berupaya untuk menyem- bunyikannya sebisa mungkin. Jangan suka pamer. Jangan suka menampakkan, karena itu rawan bocor keikhlasan kita. Sahabat Nabi, Zubair bin Awam Radhiyallahu’anhu, salah seorang dari 10 sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, beliau pernah mengatakan:
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ تَكُوْنَ لَهُ خَبِيْتَةُ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ
“Barangsiapa diantara kalian yang bisa memiliki amal shalih rahasia maka lakukanlah”. (Diriwayatkan Ahmad dalam Az Zuhd dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih).
Dalam atsar ini terdapat pelajaran penting bagi kita untuk berusaha melakukan amal shalih secara rahasia dan tidak diketahui oleh orang lain selama amal tersebut tidak dianjurkan syariat untuk dinampakkan seperti adzan, shalat berjamaah di masjid dan lain sebagainya.
Dengan merahasiakan amal shalih berarti seorang menuai beberapa faedah:
- Lebih ikhlas
- Lebih jujur dan semangat dalam beramal
- Menambah rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla
- Memperbesar pahala
- Menghindari cinta popularitas
- Menjaga hati dari noda-noda perusak hati.
(Syarh Al Ghurar Min Mauqufil Atsar hlm. 26-28 karya Syaikh Sha- lih Al-‘Ushaimi).
Abdullah Al Khuraibi Rahimahullah berkata: “Para salaf menganjurkan agar seorang memiliki amal sha- lih rahasia yang tidak diketahui oleh istrinya sekalipun”. (Siyar A’lam Nubala’ 9/349.)
Pernah disebutkan nama Ibnul Mubarak kepada Imam Ahmad maka beliau berkata: “Tidaklah Allah Azza wa Jalla mengangkat derajat Ibnul Mubarak kecuali dengan sebab amal shalih rahasia yang dia lakukan”. (Shifatu Shafwah 2/330.)
*****
Madrasah Kedua: Meneladani Sunnah Nabi ﷺ
Salah satu kunci utama untuk meraih kesucian hati adalah dengan mengikuti sunnah Nabi ﷺ, karena tidak ada metode dalam penyucian hati yang lebih baik daripada petunjuk beliau. Semoga Allah Azza wa Jalla merahmati Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tatkala mengatakan: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengutus para rasul untuk mengemban tazkiyah atau penyucian dan pengobatan hati umat. Dan penyucian jiwa lebih berat daripada pengobatan badan. Maka barangsiapa yang menyucikan dirinya dengan riyadhoh, mujahadah, khulwah*) yang tidak dicontohkan oleh para rasul, maka perumpamaannya seperti pasien yang mengobati penyakitnya dengan caranya sendiri. Akankah hal ini sama dengan cara para dokter?! Sesungguhnya para rasul adalah dokter hati. Jadi tidak ada cara/ metode untuk penyucian jiwa kecuali dari cara yang diajarkan rasul”. (Madarij Salikin 2/315).
*) Ini adalah istilah-istilah tasawwuf untuk penyucian jiwa. (Lihat Mu’jam ash-Shufi, DR. Mahmud Abdur Rozzaq 2/654, 968).
Salah satu pelajaran penting dari madrasah Ramadhan adalah meneladani sunnah Nabi ﷺ dan ini pelajaran yang sangat penting sekali karena mengikuti sunnah merupakan pondasi kedua untuk diterimanya suatu ibadah. Betapa ikhlasnya kita dalam beribadah tetapi kalau tidak sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ maka tertolak dan tidak diterima. Oleh karenanya dalam berpuasa kita meniru bagaimana puasa Nabi ﷺ seperti mengakhirkan sahur dan segera dalam berbuka.
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بخَيْرِ مَا عَجَّلُوْا ألفِظْرَ وَأَخَّرُوْا السَّحُوْرَ
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.” (HR. Bukhari: 1957 dan Muslim: 1098).
Abu Darda’ Radhiyallahu’anhu berkata: “Tiga hal termasuk akhlak kenabian: segera dalam berbuka puasa, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika shalat”. (Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Kabir sebagaimana dalam Majma’ Zawaid 2/105).
‘Amr bin Maimun Al Azdi Rahimahullah berkata: “Adalah para sahabat Nabi sangat segera dalam berbuka puasa dan sangat mengakhirkan sahur”. (Abdur Razzaq dalam Al Mushannaf 4/226 dan dishahihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 4/199).
Demikian pula dalam setiap ibadah lainnya, marilah kita berusaha untuk meniru agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah agar amal kita tidak sia-sia belaka, karena syarat diterimanya ibadah kita adalah ikhlash dan ittiba’. Ini dua syarat diterimanya amal ibadah yang selalu harus kita lakukan agar kita tidak menjadi orang-orang yang merugi dalam perjalanan kita menuju kampung akhirat.
Jangan sampai seperti seorang musafir yang hanya memberatkan dirinya, tapi tidak ada faedahnya. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah: “Orang yang beribadah namun tidak ikhlas dan ittiba’ bagaikan orang musafir yang mengisi tasnya dengan pasir, hanya memberatkannya dan tidak bermanfaat baginya”. (Al Fawaid hlm. 62).
Dan konsekuensi ingin beribadah sesuai sunnah Nabi mengharuskan kita mempelajari Al- Qur’an dan hadits Nabi ﷺ, kemudian kita mempraktekkannya, dan istiqomah di atasnya. Ini tiga hal dalam menjalankan sunnah Nabi ﷺ.
Pertama: ilmu
Pelajari ilmu, karena tidak mungkin kita mengikuti sunnah Nabi ﷺ tanpa ilmu. Kata Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, “Siapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla tanpa ilmu, maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.” (Az-Zuhud 1/301 karya Imam Ahmad)
Kedua: Amal
Setelah kita pelajari, maka amalkanlah, karena ilmu bukan cuma sekedar teori, tapi untuk kita amalkan. Tahu tentang sunnah Nabi, satu dua sunnah, maka amalkan. Sekecil apapun itu, jangan pernah meremehkan.
Ketiga: Istiqomah
Maka kita harus berusaha semangat mengikuti sunnah Nabi semaksimal mungkin dan istiqomah di atasnya. Sufyan bin ‘Uyainah (W.198 H) Rahimahullah pernah mengatakan, “Kalau kamu bisa untuk tidak menggaruk kepalamu kecuali dengan sunnah, maka lakukanlah.” (Al Jami’ li Akhlaki Rawi wa Adabi Sami 1/142 karya Al Khathib Al-Baghdadi).
Artinya dalam masalah sekecil apapun, kalau kamu bisa untuk beribadah sesuai sunnah, lakukan sekecil apapun itu.
Pernah datang seseorang kepada Imam Malik (W.179 H) Rahimahullah, lalu ia bertanya, “Wahai Imam, dari mana saya akan memulai ihram untuk haji dan umrah?”, dan dia adalah penduduk Madinah. Kata Imam Malik, “Dari Dzul Hulaifah, miqatnya Rasulullah ﷺ.” Dahulu Rasulullah memulai ihramnya dari Dzul Hulaifah. Orang ini lalu mengatakan, “Saya ingin ihram dari Masjid Nabawi.” Kata Imam Malik, “Jangan lakukan itu, aku khawatir kamu terkena fitnah.” Orang itu membantah dan ngeyel, “Fitnah apa yang kamu khawatirkan, wahai Imam, itu hanya sekedar beberapa meter saja?” Kata Imam Malik, “Fitnah apakah yang lebih besar daripada kamu merasa lebih hebat daripada Nabi Muhammad ﷺ?!”.
(Tartibul Madarik 2/40 Al Qadhi ‘Iyadh, Dzammul Kalam 463 Al Harawi, Al Lalikai dalam Ushul ‘Itiqad Ahli Sunnah no. 294, Abu Nuaim dalam Al Hilyah 6/326 dan lain sebagainya).
*****
Madrasah Ketiga: Taqwa
Meraih derajat taqwa merupakan tujuan po- kok ibadah puasa. Allah Azza wa Jalla berfirman:
یٰۤاَیُّهَا الَّذِیْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَیْكُمُ الصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَی الَّذِیْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Taqwa artinya takut kepada Allah Azza wa Jalla dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya atas dasar ikhlash dan sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah ﷺ.
Inilah tujuan inti kenapa Allah Azza wa Jalla mewajibkan puasa kepada kita. Puasa bukan hanya sekadar kita merasakan lapar dan puasa, namun bagaimana kita menahan seluruh anggota tubuh kita dari perkara yang haram. Bagaimana setelah ibadah puasa, kita menjadi pribadi yang semakin dekat dengan Allah Azza wa Jalla, semakin baik aqidah kita, ibadah kita dan akhlak kita.
Dan inilah hakikat puasa yang sebenarnya. Sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu’anhu berkata: “Jika engkau berpuasa maka berpuasalah pendengaranmu, pandanganmu serta lisanmu dari dusta dan dosa. Janganlah menyakiti pembantu. Hendaknya dirimu tenang dan berwibawa saat puasa. Dan jangan jadikan hari puasamu dan hari tidak puasamu sama saja”. (Al Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah: 5973).
Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah berkata: “Orang berpuasa yang sebenarnya adalah orang yang menahan anggota badannya dari segala dosa, lisannya dari dusta, perutnya dari makanan, minuman dan farjinya dari jima’. Bila berbicara, dia tidak mengeluarkan perkataan yang menodai puasanya. Jika berbuat, dia tidak melakukan hal yang dapat merusak puasanya. Sehingga ucapannya yang keluar adalah bermanfaat dan baik. Demikian pula amal perbuatannya, ibarat wewangian yang dicium baunya oleh kawan duduknya. Seperti itu juga orang yang puasa, kawan duduknya mengambil manfaat dan merasa aman dari kedustaan, kemaksiatan, dan kezhalimannya. Inilah hakikat puasa sebenarnya, bukan hanya sekadar menahan diri dari makanan dan minuman.” (Al-Wabil ash-Shayyib wa Rafi’ul Kalim ath-Thayyib hlm. 57 Ibnul Qayyim)
Oleh karenanya, marilah kita koreksi dan bertanya pada hati kita masing-masing?! Sudahkah kita meraih tujuan puasa ini?! Sudahkan kita memetik buah ketaqwaan ini?! Ataukah kita puasa hanya sekedar rutinitas saja?!
Umar bin Abdul Aziz (W.101 H) Rahimahullah berkata, “Setiap safar itu pasti butuh bekal. Dan bekal untuk perjalanan akhirat adalah taqwa”. (Qashrul Amal Ibnu Abi Dunya).
Takwa bukan hanya shalat dan puasa saja. Tak- wa itu adalah ketika seorang hamba menjalankan apapun yang Allah Azza wa Jallaajibkan kepadanya, dan tatkala seorang hamba meninggalkan apapun yang Allah Azza wa Jalla larang kepadanya dengan ikhlash dan sesuai sunnah Nabi. Itulah takwa kepada Allah Azza wa Jalla. Kita melaksanakan semua yang Allah Azza wa Jalla perintahkan dan kita meninggalkan semua yang Allah Azza wa Jalla larang.
Perlu diingat, bahwa “takwa” bukanlah seke- dar wasiat yang hanya sekedar kata yang berlalu di telinga, tetapi yang terpenting adalah penga- malannya. Semoga Allah Azza wa Jalla merahmati Imam Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah tatkala beliau menulis surat kepada seseorang: “Saya wasiatkan padamu dengan takwa kepada Allah Azza wa Jalla… Sesungguhnya orang yang menasehati dengannya cukup banyak, tetapi yang mengamalkannya sedikit sekali! Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita semua termasuk orang- orang yang bertakwa”.
Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan, “Asal makna takwa adalah seorang hamba menjadikan antara dirinya dengan yang ia takuti dan waspadai penjagaan yang menjaganya. Maka takwanya seorang hamba kepada Rabb-Nya, hendaklah ia menjadikan penjagaan dan kewaspadaan antara dirinya dengan Allah Azza wa Jalla dari perkara-perkara yang bisa mendatangkan marah, murka dan siksa-Nya. Yang demikian itu adalah dengan mengerjakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam 1/398).
Keutamaan takwa sangat banyak (Lihat At-Tuhfah Iroqiyyah oleh Ibnu Taimiyyah dan Syarh Washi- yyah Shughro oleh Syaikh Ibrahim al-Hamd) dan termaktub di dalam Al-Qur’an (Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin memiliki risalah bagus berjudul “Fawaid Taqwa Fil Qur’an”. Beliau meneliti faedah- faedah taqwa dalam Al-Qur’an) dalam banyak ayat-Nya. Di- antaranya:
1. Wasiat Allah Azza wa Jalla yang berharga
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ
“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; Agar bertakwalah kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 131)
2. Mendapat warisan surga
Allah Azza wa Jalla berfirman:
تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِيْ نُوْرِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا
“Itulah surga yang akan kami wariskan kepada hamba-hamba kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63)
3. Dicintai oleh Allah Azza wa Jalla
Allah Azza wa Jalla berfirman:
بَلٰى مَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ وَاتَّقٰى فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ
“Sebenarnya siapa yang menpati janji dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyukai orang- orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 76)
4. Dibukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negri-negri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A’raf: 96)
5. Dimudahkan urusannya di dunia dan akhirat
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرً
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)
6. Allah Azza wa Jalla bersama orang-orang yang bertakwa
Allah Azza wa Jalla berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَࣖ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)
7. Sebaik-baiknya bekal
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
8. Kesudahan yang baik
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ
“Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang- orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf: 128)
9. Diberi rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla niscaya dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq:2-3)
10. Dilipatgandakan pahala
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, niscaya dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. At-Thalaq: 5)
*****
Madrasah Keempat: Menggapai Muraqabah
Seorang yang berpuasa, dia tidak akan berbuka sekalipun manusia tidak ada yang menge- tahuinya karena dia merasa takut dan merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dalam gerak-geriknya. Demikianlah hendaknya kita dalam setiap saat, merasa takut dan diawasi oleh Allah Azza wa Jalla di manapun berada dan kapanpun juga, terlebih ketika kita hanya seorang diri, apalagi pada zaman kita ini di mana alat-alat kemaksiatan begitu mudah dikomsumsi, maka ingatlah bahwa itu adalah ujian agar Allah Azza wa Jalla mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang takut kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang ihsan yaitu,
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Hendaklah Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat-Nya. Kalaupun Engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu” (HR. Muslim no. 8 dari Umar bin Al Khattab Radhiyallahu ‘anhu).
Hadits ini menjelaskan tentang ihsan dalam ibadah kepada Allah Azza wa Jalla , yaitu merasa diawasi oleh Allah sehingga hamba terus akan memperbaiki ibadahnya. Imam An Nawawi Rahimahullah berkata: “Hadits ini termasuk jawami’ul kalimi Nabi (ungkapan singkat tapi padat) karena seorang hamba apabila dia saat ibadah merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla maka dia akan melakukan semua yang dia mampu berupa ketundukan, kekhusyu’an, keindahan akhlak… Intinya, hadits ini adalah anjuran untuk ikhlash dalam ibadah dan muraqabah kepada Allah Azza wa Jalla dalam menyempurnakan kekhusyua’an dan ketundukan dan lain sebagainya”. (Syarh Shahih Muslim 1/157-158. Lihat pula Al Mu’in ‘ala Tafah- humil Arbain hlm. 167 oleh Ibnul Mulaqqin).
Jadi, derajat Ihsan adalah kita selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla semata. Ini yang disebut oleh para ulama dengan istilah ‘muraqabah’. Muraqabah yaitu kita selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla di manapun kita berada. Ma syaa Allah, sungguh mulia kalau kita sudah sampai kepada derajat ini. Ini derajat yang paling tinggi. Dan ini sangat penting sekali untuk kita tanamkan dalam diri kita untuk selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Terutama di zaman sekarang, di mana pintu- pintu kemaksiatan dan dosa terbuka lebar. Kalau kita tidak merasa diawasi Allah Azza wa Jalla, akan hancur diri kita. Kita akan mudah terjerumus ke dalam jerat- jerat setan, karena sekarang orang melakukan dosa begitu mudah. Di kamarnya sendirian, orang bisa melakukan dosa dengan mudah. Kalau kita tidak merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla, kita akan terje- rumus ke dalam jerat-jerat setan. Oleh karenanya, hendaknya bagi kita untuk selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dan itulah derajat ihsan.
Dan untuk menghadirkan muraqabah ini, maka hendaknya seorang hamba melakukan hal- hal berikut:
- Menghadirkan makna yang terkandung dalam nama-nama Allah Azza wa Jalla seperti Al-Alim (Dzat yang Maha Mengetahui), As-Sami’ (Maha Mendengar) dan sejenisnya.
- Selalu mengingat Allah Azza wa Jalla
- Selalu muhasabah (intropeksi diri)
- Mengingat kedahsyatan siksaan Allah Azza wa Jalla
- Mengingat janji dan ancaman Allah Azza wa Jalla.
(Lihat A’malul Qulub 1/406-423 karya Dr. Khalid bin Utsman As Sabt, Majmu’ Rasail Ibnu Rajab 2/462).
*****

Madrasah Kelima: Memperkuat Iman Dengan Al Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an yang berisi petunjuk bagi umat manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Maka sudah semestinya kita memuliakannya dengan banyak membaca, menghayati, dan memahami isinya pada bulan ini. Rasulullah ﷺ -teladan kita- selalu mengecek bacaan Al-Qur’annya pada Malaikat Jibril pada bulan tesebut. (HR. Bukhari 1/30, Muslim No. 3308).
Cukuplah untuk menunjukkan keutamaan membaca dan mempelajari Al-Qur’an sebuah hadits yang berbunyi:
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا , لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi, no. 2910. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Tirmidzi, no. 2910. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].
Maka hal ini memberikan pelajaran kepada kita kaum muslimin agar kembali kepada ajaran Al-Qur’an dengan membacanya, memahami isinya, mengamalkannya, dan menjadikannya sebagai cahaya dalam menapaki kehidupan ini.
Saudaraku, Allah Azza wa Jalla menurunkan Al-Qur’an kepada para hamba-Nya sebagai petunjuk, cahaya, rahmat dan peringatan. Oleh karenanya, Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwa orang-orang yang beriman apabila membaca Al-Qur’an maka akan bertambah iman mereka.
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat- Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Syaikh Muhammad Rasyid Ridho Rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa kuatnya agama dan iman tidak mungkin diraih kecuali dengan banyak membaca Al-Qur’an atau mendengarkannya dengan penuh renungan dan dengan niat untuk mengamalkan perintah dan menjauhi larangannya”. (Mukhtar Tafsir Al-Manar 3/170).
Namun perlu ditandaskan bahwa maksud membaca Al-Qur’an yang merupakan faktor penyubur iman dan kesucian hati di sini bukan hanya sekedar membaca saja, tetapi membacanya dan memahami makna kandungannya serta mengamalkan isinya. Oleh karenanya Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwa tujuan inti Al-Qur’an ini diturunkan adalah untuk dipelajari dan direnungi bersama.
Tidaklah kehinaan yang menimpa kaum muslimin pada zaman sekarang kecuali disebabkan karena jauhnya mereka dari Al-Qur’an dan sunnah.
Dari Shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةورضيتم بالزرعِ وَاتبعتمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ.
“Apabila kalian sudah melakukan jual beli dengan cara ‘inah (jual beli yang terdapat unsur riba), sangat menyukai bertani dan mengukuti ekor-ekor sapi (sibuk dengan lahan pertanian), dan meninggalkan jihad fi sabilillah, Niscaya Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian. Dan Dia (Allah) tidak akan melepaskannya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” [HR. Abu Dawud dan Ahmad]
Demikian pula bencana demi bencana yang menimpa negri ini dari tsunami, banjir, tanah longsor, lumpur panas dan sebagainya, barangkali semua itu karena perbuatan dosa umat manusia agar mereka segera menyadari dan kembali kepada ajaran agama yang suci?! Allah Azza wa Jalla berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah nampak kerusakan di daratan dan lauatan disebabkan ulah perbuatan manusia.” (QS. Ar-Ruum: 41)
*****
Bagaimana penilaian antum terhadap Ebook ini?
Perkenankanlah kami pada kesempatan kali ini untuk menyampaikan beberapa pelajaran tazkiyah nufus dari madrasah Ramadhan. Semoga dapat kita fahami dan dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.

