Keajaiban Istighfar: Keuntungan di Dunia dan Akhirat

Bersama: Ustadz Dr. Abdullah Zaen, M.A Hafidzahullah
Istighfar merupakan amalan yang sangat agung. Banyak orang mengira bahwa manfaat istighfar hanya berkaitan dengan kehidupan akhirat, seperti mendapatkan ampunan Allah dan keselamatan dari siksa neraka. Padahal, istighfar juga memiliki banyak manfaat yang dapat dirasakan di dunia.
Allah Ta’ala menyebutkan berbagai manfaat istighfar melalui perkataan Nabi Nuh alaihis salam kepada kaumnya. Ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya sebab mendapatkan kebaikan di akhirat, tetapi juga menjadi sebab datangnya berbagai kebaikan dalam kehidupan dunia.
Keuntungan Istighfar di Dunia
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Nuh ayat 10–12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ١١ وَّيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَّبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ أَنْهَارًا ١٢
“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)
Perhatikan bagaimana Nabi Nuh alaihis salam mengajak kaumnya untuk memperbanyak istighfar. Beliau tidak hanya menyebutkan keuntungan akhirat, tetapi juga menyebutkan berbagai keuntungan dunia.
1. Istighfar menjadi sebab turunnya hujan
Allah berfirman:
يُّرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.”
Maka ketika terjadi kekeringan, kemarau panjang, tanaman mengalami kekurangan air, atau kondisi kehidupan terasa sulit karena minimnya hujan, di antara amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak istighfar dan kembali kepada Allah.
Bukan dengan melakukan ritual-ritual yang tidak memiliki dasar, tetapi dengan memperbanyak istighfar, bertobat, memperbaiki ibadah, dan memohon pertolongan kepada Allah.
2. Istighfar menjadi sebab datangnya rezeki dan harta
Allah berfirman:
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ
“Dan Dia akan memperbanyak harta kalian.”
Ini menunjukkan bahwa istighfar dapat menjadi salah satu sebab datangnya rezeki.
Ketika seseorang merasa rezekinya sempit atau kehidupannya sedang mengalami kesulitan, hendaknya ia tidak mencari jalan yang haram. Jangan sampai kesulitan ekonomi membuat seseorang mendatangi praktik-praktik yang merusak akidah. Perbanyaklah istighfar dan bertawakallah kepada Allah.
Di antara bacaan istighfar yang dapat diamalkan adalah:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
“Aku memohon ampun kepada Allah.”
Atau:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.”
Ada pula berbagai bentuk istighfar yang diajarkan dalam hadis-hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
3. Istighfar menjadi sebab datangnya keturunan
Allah melanjutkan:
وَبَنِينَ
“Dan anak-anak.”
Artinya, istighfar juga merupakan salah satu sebab datangnya keturunan.
Bagi pasangan yang telah lama menikah tetapi belum dikaruniai anak, jangan mudah berputus asa. Perbanyak doa, istighfar, ikhtiar yang dibenarkan syariat, dan jangan pernah merasa bahwa rahmat Allah telah tertutup.
Nabi Ibrahim alaihis salam sendiri mendapatkan keturunan ketika telah lanjut usia. Nabi Zakaria alaihis salam juga mendapatkan Yahya alaihis salam ketika usianya telah sangat tua. Allah Mahakuasa memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki.
Karena itu, jangan menjadikan lamanya waktu sebagai alasan untuk berhenti berdoa. Bisa jadi seseorang baru berdoa beberapa tahun, kemudian merasa doanya belum dikabulkan dan akhirnya menyerah. Jangan demikian. Teruslah berdoa dan memperbanyak istighfar.
4. Istighfar menjadi sebab suburnya kebun dan pertanian
Allah berfirman:
وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنَّاتٍ
“Dan Dia akan mengadakan kebun-kebun untukmu.”
Bagi orang yang memiliki sawah, kebun, atau ladang, hendaknya memperbanyak istighfar sambil tetap melakukan ikhtiar yang diperlukan.
Istighfar adalah zikir yang agung. Tidak ada ketentuan bahwa seseorang harus menghitung istighfar dalam jumlah tertentu untuk setiap keadaan umum. Seseorang dapat memperbanyaknya sesuai kemampuan.
Ketika sedang menunggu pekerjaan, menjaga sawah, menunggu kendaraan, atau melakukan aktivitas yang tidak membutuhkan banyak konsentrasi, lisan dapat digunakan untuk berdzikir: “Astaghfirullah.” Daripada waktu berlalu tanpa manfaat, lebih baik diisi dengan istighfar.
5. Istighfar menjadi sebab mengalirnya sungai
Allah melanjutkan:
وَيَجْعَلْ لَّكُمْ أَنْهَارًا
“Dan Dia akan mengadakan sungai-sungai untukmu.”
Maka ayat-ayat ini menunjukkan betapa besar manfaat istighfar.
Hujan, harta, anak-anak, kebun, dan sungai disebutkan oleh Allah sebagai bagian dari berbagai karunia yang dikaitkan dengan istighfar Nabi Nuh alaihis salam kepada kaumnya. Semua ini merupakan keuntungan istighfar yang dapat berkaitan dengan kehidupan dunia.
Namun, ada keuntungan yang jauh lebih besar.
Keuntungan Istighfar di Akhirat
Keuntungan dunia memang besar, tetapi yang jauh lebih penting adalah keuntungan akhirat. Apa yang kita cari dalam kehidupan ini?
Kita ingin mendapatkan surga dan diselamatkan dari siksa neraka. Salah satu ciri orang yang mendapatkan keselamatan tersebut adalah orang-orang yang bertakwa dan senantiasa memperbaiki hubungannya dengan Allah.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 15–18:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ ١٥ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ ١٦ كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ١٧ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ١٨
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman surga dan mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 15–18)
Ayat ini menggambarkan beberapa karakter calon penghuni surga.
Karakter Calon Penghuni Surga
1. Mereka adalah orang-orang yang berbuat baik
Allah berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ
“Mereka sebelum itu adalah orang-orang yang berbuat baik.”
- Berbuat baik bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Allah dan kepada diri sendiri.
- Berbuat baik kepada Allah adalah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
- Berbuat baik kepada diri sendiri adalah dengan menjaga diri dari dosa dan memperbanyak amal saleh.
- Berbuat baik kepada manusia adalah dengan tidak menyakiti mereka melalui lisan maupun perbuatan.
2. Mereka sedikit tidur di malam hari
Allah berfirman:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam.”
Maksudnya, malam mereka tidak dihabiskan seluruhnya untuk tidur. Mereka menggunakan sebagian malam untuk beribadah kepada Allah, seperti salat tahajud, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
Malam merupakan waktu yang tenang dan sunyi sehingga seseorang lebih mudah berkonsentrasi dalam beribadah.
Karena itu, apabila seseorang ingin membangun kebiasaan tahajud, hendaknya ia berusaha mengatur waktu tidurnya dan tidak menunggu sampai mendekati waktu Subuh.
3. Mereka rajin beristighfar pada waktu sahur
Allah berfirman:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”
Inilah bagian yang sangat penting.
Waktu sahur adalah waktu menjelang Subuh. Orang-orang saleh memanfaatkan waktu tersebut untuk beristighfar dan berdoa kepada Allah.
Waktu sahur tidak hanya berkaitan dengan orang yang sedang berpuasa. Pembahasan ayat ini adalah waktu, yaitu waktu menjelang Subuh.
Maka seseorang dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memperbanyak istighfar, baik sedang berpuasa maupun tidak.
Bangunlah lebih awal. Laksanakan tahajud, kemudian duduklah untuk berzikir dan memperbanyak istighfar sampai mendekati waktu Subuh.
Istighfar Menjadi Sebab Terhindar dari Azab
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah tidak akan menghukum mereka sedang mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33)
Ayat ini menunjukkan besarnya kedudukan istighfar. Jika seseorang takut terhadap azab Allah, maka salah satu amalan yang hendaknya diperbanyak adalah istighfar.
Istighfar bukan hanya dilakukan ketika kita merasa telah melakukan dosa besar. Kita membutuhkan istighfar setiap hari karena kita adalah manusia yang banyak memiliki kekurangan.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri memperbanyak istighfar.
Istighfar Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah, sungguh aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa beliau memohon ampun kepada Allah seratus kali dalam sehari.
Dari Al-Agharr Al-Muzani radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Sesungguhnya terkadang hatiku mengalami sesuatu yang menghalangi kejernihannya, dan sungguh aku memohon ampun kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim no. 2702)
Kalau Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saja memperbanyak istighfar, bagaimana dengan kita yang penuh kekurangan dan dosa?
Istighfar yang Sejati, Bukan Sekadar Ucapan
Di sini ada perkara yang sangat penting. Apakah setiap ucapan “Astaghfirullah” otomatis menjadi istighfar yang sempurna? Tentu tidak.
Istighfar yang sempurna bukan hanya ucapan lisan. Istighfar harus disertai dengan hati yang benar-benar ingin kembali kepada Allah. Ketika seseorang mengatakan:
“Astaghfirullah wa atubu ilaih.” Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.”
Maka ucapan tersebut seharusnya benar-benar sesuai dengan keadaan hatinya. Ada orang yang lisannya mengucapkan istighfar, tetapi dalam hatinya masih bertekad untuk mengulangi dosa tersebut. Misalnya, seseorang melakukan maksiat, kemudian mengatakan, “Astaghfirullah,” tetapi dalam hatinya sudah berencana: “Besok saya ulangi lagi.”
Ini menunjukkan bahwa istighfarnya belum menunjukkan kesungguhan dalam bertobat. Berbeda dengan orang yang mengatakan:
“Ya Allah, aku menyesal atas dosa ini. Aku ingin meninggalkannya. Aku ingin memperbaiki diri. Ya Allah, aku lemah. Bantulah aku agar tidak kembali kepada dosa ini.”
Inilah istighfar yang disertai kesungguhan. Lisan dan hati berjalan bersama.
Taubat yang Sungguh-Sungguh
Taubat yang benar mencakup penyesalan terhadap dosa, meninggalkan dosa tersebut, dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka hak tersebut juga harus dikembalikan atau diselesaikan dengan cara yang benar.
Orang yang benar-benar bertobat tidak boleh berputus asa ketika suatu saat ia kembali terjatuh. Jika seseorang telah bertobat dengan sungguh-sungguh, kemudian karena kelemahan dirinya ia kembali melakukan dosa, maka ia harus kembali bertobat.
Jangan mengatakan: “Saya sudah terlalu banyak dosa. Tidak mungkin Allah mengampuni saya.” Ini adalah salah satu jebakan setan.
Setan ingin manusia berputus asa dari rahmat Allah. Ketika seseorang sudah merasa tidak mungkin diampuni, biasanya ia akan semakin malas beribadah dan semakin tenggelam dalam dosa. Padahal Allah membuka pintu taubat selama seseorang masih hidup.
Hadis Qudsi tentang Ampunan Allah
Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman melalui lisan Nabi-Nya:
عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِيمَا يَحْكِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: «أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا، فَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ، وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ، ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: عَبْدِي أَذْنَبَ ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ، وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ، ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ، وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ، اعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ».
[صحيح] – [متفق عليه] – [صحيح مسلم: 2758]
Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Dari Nabi ﷺ dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Tuhannya ﷻ, beliau bersabda, “Ada seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu ia berkata, “Ya Allah! Ampunilah dosaku.” Allah -Tabāraka wa Ta’ālā- pun berfirman, “Hamba-Ku melakukan dosa sementara ia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman karena dosa.” Kemudian hamba tersebut kembali melakukan dosa lalu berkata, “Ya Tuhanku! Ampunilah dosaku.” Maka Allah -Tabāraka wa Ta’ālā- berfirman, “Hamba-Ku melakukan dosa sementara ia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberi hukuman karena dosa.” Selanjutnya hamba tersebut kembali melakukan dosa, lalu berkata, “Ya Tuhanku! Ampunilah dosaku.” Allah -Tabāraka wa Ta’ālā- berfirman, “Hamba-Ku berbuat dosa lagi, tetapi dia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman karena dosa. Lakukanlah sekehendakmu! Aku telah mengampunimu.“
[Sahih] – [Muttafaq ‘alaih] – [Ṣaḥīḥ Muslim – 2758]
Hadis ini bukan berarti seseorang boleh sengaja merencanakan dosa karena merasa pasti akan diampuni. Justru sebaliknya, hadis ini menunjukkan luasnya rahmat Allah bagi hamba yang benar-benar kembali kepada-Nya.
Janganlah seseorang berkata: “Sekarang saya bermaksiat saja. Nanti saya tinggal istighfar.” Ini bukan taubat yang sungguh-sungguh.
Orang yang bertobat dengan benar adalah orang yang benar-benar ingin memperbaiki dirinya. Jika kemudian ia tergelincir lagi karena kelemahannya, ia tidak menyerah. Ia kembali kepada Allah, memohon ampun, dan kembali berusaha meninggalkan dosa tersebut.
Selama seseorang tidak berhenti bertobat dan tidak berputus asa dari rahmat Allah, hendaknya ia terus kembali kepada-Nya.
Jangan Pernah Berputus Asa dari Ampunan Allah
Salah satu penyakit orang yang banyak melakukan dosa adalah merasa bahwa dosanya sudah terlalu banyak untuk diampuni.
- “Dosa saya sudah terlalu banyak.”
- “Saya sudah terlalu jauh.”
- “Tidak mungkin Allah mengampuni saya.”
Jangan berpikir demikian. Allah adalah Al-Ghaffar, Yang Maha Pengampun. Tugas kita adalah terus kembali kepada Allah. Jika terjatuh, bangkit. Jika berdosa, bertobat. Jika kembali tergelincir, bertobat lagi. Jangan sampai dosa membuat kita berhenti mendekat kepada Allah.
Tanya Jawab Ringkas
Bagaimana Lafaz Istighfar yang Benar?
Dalam sesi tanya jawab, ditanyakan tentang lafaz istighfar yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Pada dasarnya terdapat berbagai lafaz istighfar yang diajarkan dalam hadis. Di antaranya:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
“Aku memohon ampun kepada Allah.”
Ada pula:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.”
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan Sayyidul Istighfar, yaitu doa istighfar yang sangat agung:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
Artinya:
“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas perjanjian dengan-Mu dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku lakukan. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutnya sebagai bentuk istighfar yang paling utama. Barang siapa membacanya dengan keyakinan pada siang hari kemudian meninggal sebelum sore, maka ia termasuk penghuni surga. Demikian pula jika membacanya pada malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum pagi. (HR. Bukhari no. 6306)
Istighfar Setelah Shalat
Adapun setelah selesai shalat, terdapat tuntunan khusus dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tsauban radhiyallahu 'anhu meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila selesai dari shalatnya, beliau memohon ampun kepada Allah tiga kali.”
Kemudian beliau membaca:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Yang Mahasalam), dan dari-Mu keselamatan. Mahaberkah Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim no. 591)
Para ulama menjelaskan bahwa istighfar yang dimaksud adalah mengucapkan:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
sebanyak tiga kali.
Jadi, setelah shalat, seseorang hendaknya mengikuti tuntunan khusus tersebut. Adapun di luar waktu setelah shalat, seseorang memiliki kesempatan luas untuk memperbanyak istighfar dengan berbagai lafaz yang terdapat dalam sunnah.
Berapa Kali Sehari Kita Beristighfar?
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memperbanyak istighfar dalam kesehariannya. Sebagaimana telah disebutkan, beliau beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari dalam satu hadis, dan seratus kali dalam sehari dalam hadis lainnya.
Maka jangan merasa cukup dengan istighfar sesekali. Jangan mengatakan: “Kemarin saya sudah istighfar seratus kali, berarti hari ini tidak perlu.”
Tidak demikian. Istighfar adalah amalan yang terus dilakukan. Hari ini istighfar. Besok istighfar. Lusa istighfar. Sampai kita meninggal dunia.
Kesimpulan: Istighfar Menguntungkan di Dunia dan Akhirat
Dari pembahasan ini kita dapat mengambil banyak pelajaran:
- Istighfar bukan sekadar ucapan yang diulang oleh lisan. Istighfar adalah bentuk pengakuan bahwa kita adalah hamba yang lemah, penuh kekurangan, dan membutuhkan ampunan Allah.
- Di antara manfaat istighfar yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah:
- Menjadi sebab turunnya hujan.
- Menjadi sebab datangnya rezeki dan harta.
- Menjadi sebab mendapatkan keturunan.
- Menjadi sebab suburnya kebun dan pertanian.
- Menjadi sebab adanya sungai dan berbagai karunia duniawi.
- Menjadi karakter orang-orang bertakwa yang menjadi calon penghuni surga.
- Menjadi sebab mendapatkan ampunan Allah.
- Menjadi sebab terhindar dari azab Allah.
Namun, jangan sampai tujuan kita beristighfar hanya karena menginginkan harta, anak, hujan, atau kelapangan dunia. Tujuan terbesar kita adalah mendapatkan ampunan Allah dan keselamatan di akhirat. Karena itu, jadikan istighfar sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
- Ketika bangun tidur, beristighfar.
- Setelah shalat, beristighfar.
- Ketika menyadari kesalahan, beristighfar.
- Pada waktu sahur, beristighfar.
- Ketika mendapatkan nikmat, beristighfar.
- Ketika hati terasa lalai, beristighfar.
- Dan ketika terjatuh ke dalam dosa, jangan lari dari Allah. Justru kembalilah kepada Allah.
Ucapkan dengan penuh kesadaran:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang banyak beristighfar, benar-benar bertobat, tidak berputus asa dari rahmat-Nya, serta mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya di dunia dan akhirat.
Wallahu Ta’ala a’lam.



