Riyadhus Shalihin

Riyadhus Shalihin Bab-2: Taubat

Table of Contents

šŸ“– | Hadits #16: Rahmat Allah ļ·» Meliputi segala Sesuatu

ٔ٦- ŁˆŲ¹Ł† أبي Ł…ŁŁˆŲ³Ł‰ Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł بنِ Ł‚ŁŽŁŠŁ’Ų³Ł Ų§Ł„Ų£ŁŽŲ“Ł’Ų¹ŁŽŲ±ŁŁŠŁŁ‘ ، رضِي الله عنه ، عن Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁŠŁŽŁ‘ ŲµŁŽŁ„Ł‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł… قال: Ā« ؄ِن الله تعالى ŁŠŲØŁ’Ų³ŁŲ·Ł ŁŠŲÆŁ‡Ł ŲØŁŲ§Ł„Ł„ŁŽŁ‘ŁŠŁ’Ł„Ł Ł„ŁŠŲŖŁŁˆŲØ Ł…ŁŲ³ŁŠŲ”Ł Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽŲ§Ų±Ł ŁˆŁŽŁŠŲØŁ’Ų³ŁŲ·Ł ŁŠŁŽŲÆŁ‡Ł ŲØŲ§Ł„Ł†ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽŲ§Ų±Ł Ł„ŁŠŁŽŲŖŁŁˆŲØŁŽ Ł…ŁŲ³ŁŁŠŲ”Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘ŁŠŁ’Ł„Ł Ų­ŲŖŁŽŁ‘Ł‰ ŲŖŁŽŲ·Ł’Ł„ŁŲ¹ŁŽ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘Ł…Ł’Ų³Ł مِن مغْرِبِها Ā» Ų±ŁˆŲ§Ł‡ مسلم

16. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari radhiallahu ā€˜anhu, dari Nabi shalallahu ā€˜alaihi wasallam, sabdanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala itu membeberkan tanganNya – yakni kerahmatanNya -di waktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu siang dan juga membeberkan tanganNya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu malam. Demikian ini terus menerus sampai terbitnya matahari dari arah barat – yakni di saat hampir tibanya hari kiamat, karena setelah ini terjadi, tidak diterima lagi taubatnya seseorang.ā€ (Riwayat Muslim)

šŸ“ƒ| Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (no. 2759).

šŸ“ƒ| Kandungan Hadits

  1. Penetapan sifat memiliki tangan (ŁŠŁŽŲÆŁŒ) bagi Allah ļ·». Dia mempunyai dua tangan yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya, dan hanya Dia semata yang mengetahui sifat dan bentuknya. Oleh karena itu, kita harus mengimaninya dan tidak perlu menanyakan bagaimana sifatnya. Demikianlah sebagaimana mazhab para ulama Salafush Shalih Adapun orang yang berpendapat bahwa “tangan” di situ merupakan kinayah (kiasan) dari “kekuasaan dan keutamaan”, maka sungguh dia telah menyalahi akal dan nash (al-Qur’an dan as-Sunnah).
  2. Rahmat Allah ļ·» meliputi segala sesuatu.
  3. Di antara syarat diterimanya taubat adalah dilakukan pada waktu yang masih memungkinkan, yaitu sebelum matahari terbit dari barat, dan fenomena ini termasuk salah satu tanda Kiamat besar.

*****

šŸ“– | Hadits #17: Taubat diterima sebelum sebelum matahari terbit dari barat

ٔ٧- ŁˆŲ¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲØŁŁŠ Ł…ŁŁˆŲ³Ł‰ Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł بْنِ Ł‚ŁŽŁŠŁ’Ų³Ł Ų§Ł„Ų£ŁŽŲ“Ł’Ų¹ŁŽŲ±ŁŁŠ Ų±ŁŽŲ¶ŁŁŠŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁŠŁŁ‘ ļ·ŗ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : Ā« Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽ ŲŖŁŽŲ¹ŁŽŲ§Ł„ŁŽŁ‰ ŁŠŁŽŲØŁ’Ų³ŁŲ·Ł ŁŠŁŽŲÆŁŽŁ‡Ł ŲØŁŲ§Ł„Ł„ŁŽŁ‘ŁŠŁ’Ł„Ł Ł„ŁŁŠŁŽŲŖŁŁˆŲØŁŽ Ł…ŁŲ³ŁŁŠŲ”Ł Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽŲ§Ų±Ł ، ŁˆŁŽŁŠŁŽŲØŁ’Ų³ŁŲ·Ł ŁŠŁŽŲÆŁŽŁ‡Ł ŲØŁŲ§Ł„Ł†ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽŲ§Ų±Ł Ł„ŁŠŁŽŲŖŁŁˆŲØŁŽ Ł…ŁŲ³ŁŁŠŲ”Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘ŁŠŁ’Ł„Ł Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ ŲŖŁŽŲ·Ł’Ł„ŁŲ¹ŁŽ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘Ł…Ł’Ų³Ł مِنْ Ł…ŁŽŲŗŁ’Ų±ŁŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ Ā» Ų±ŁŽŁˆŁŽŲ§Ł‡Ł مسلم .

17. Dari Abu Hurairah radhiallahu ā€˜anhu, ia berkata; Rasulullah ļ·ŗ pernah bersabda: “Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, maka Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim)

šŸ“ƒ| Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (no. 2703).

šŸ“ƒ| Kosa Kata Hadits

  • ŲŖŁŽŲ§ŲØŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł : Allah menerima taubatnya.

šŸ“ƒ| Kandungan Hadits

Allah menerima taubat para hamba-Nya dan memaafkan semua dosa (yang pernah diperbuat olehnya), jika taubat itu dilaksanakan sebelum batas waktu yang ditentukan, di antaranya yaitu sebelum matahari terbit dari barat. Firman-Nya:

ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ ŁŠŁŽŲ£Ł’ŲŖŁŁŠŁ’ ŲØŁŽŲ¹Ł’Ų¶Ł اٰيٰتِ Ų±ŁŽŲØŁŁ‘ŁƒŁŽ Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŁ†Ł’ŁŁŽŲ¹Ł Ł†ŁŽŁŁ’Ų³Ł‹Ų§ Ų§ŁŁŠŁ’Ł…ŁŽŲ§Ł†ŁŁ‡ŁŽŲ§ Ł„ŁŽŁ…Ł’ ŲŖŁŽŁƒŁŁ†Ł’ Ų§Ł°Ł…ŁŽŁ†ŁŽŲŖŁ’ مِنْ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„Ł Ų§ŁŽŁˆŁ’ ŁƒŁŽŲ³ŁŽŲØŁŽŲŖŁ’ ŁŁŁŠŁ’Ł“ Ų§ŁŁŠŁ’Ł…ŁŽŲ§Ł†ŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų®ŁŽŁŠŁ’Ų±Ł‹Ų§Ū— 

” … Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu …. “ (QS. Al-An’Ć¢m:158)

Yaitu saat matahari sudah terbit dari arah barat. Jika manusia melihat matahari terbit dari barat, saat itulah mereka akan beriman secara keseluruhan. Namun hari itu iman seseorang tidak lagi bermanfaat. Demikian sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ā€˜anhu dari riwayat al-Bukhari (VIII/297-Fathul BĆ¢ri).

*****

šŸ“– | Hadits #18: Taubat Harus Dilakukan Sesegera Mungkin


ٔ٨- ŁˆŲ¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲØŁŁŠ Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ų±ŁŽŁ‘Ų­Ł’Ł…ŁŽŁ†Ł Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł بْنِ Ų¹ŁŁ…ŁŽŲ±ŁŽ بْنِ Ų§Ł„Ų®ŁŽŲ·ŁŽŁ‘Ų§ŲØŁ Ų±ŁŽŲ¶ŁŁŠŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡ŁŁ…ŁŽŲ§ Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁŠŁŁ‘ ļ·ŗ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : Ā« Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽ Ų¹ŁŽŲ²ŁŽŁ‘ ŁˆŁŽŲ¬ŁŽŁ„ŁŽŁ‘ ŁŠŁŽŁ‚Ł’ŲØŁŽŁ„Ł ŲŖŁŽŁˆŁ’ŲØŁŽŲ©ŁŽ Ų§Ł„Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ł…ŁŽŲ§ Ł„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŲŗŁŽŲ±Ł’ŲŗŁŲ±Ł’ Ā» Ų±ŁŽŁˆŁŽŲ§Ł‡Ł Ų§Ł„ŲŖŲ±Ł…Ų°ŁŠ ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : Ų­ŁŽŲÆŁŁŠŁ’Ų«ŁŒ Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†ŁŒ

18. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin al-Khathab radhiallahu ā€˜anhu, dari Nabi ļ·ŗ, (bahwa) beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat setiap hamba sebelum nyawanya sampai di kerongkongan (dalam kondisi sekarat).”
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, lantas dia menyatakan: “Hadits ini (derajatnya) hasan.”

šŸ“ƒ| Pengesahan Hadits

Hadits ini shahih dengan beberapa syahid (riwayat penguat)-nya. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (no. 3537), Ibnu Majah (no. 4252), Ahmad (no. 6160, 6408), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 1306), Ibnu Hibban (no. 2449), dan Imam al-Hakim (IV/257). Diriwayatkan pula melalui jalan Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban dari ayahnya, dari Mak-hul, dari Jubair bin Nufair, dari Abdullah bin Umar uƄl. Dan dalam riwayat Imam Ibnu Majah tercantum nama Abdullah bin Amr (bukan Abdullah bin Umar bin al-Khathab), akan tetapi ini merupakan wahm (kesalahan).

Saya berkomentar: “Rijal (para perawi) hadits ini tsiqah (tepercaya) selain Abdurrahman bin Tsabit. Sebab dia suka berbuat kekeliruan walau berstatus shaduq (perawi yang jujur), sehingga haditsnya dinilai hasan.
Hadits ini juga mempunyai syawahid (riwayat-riwayat penguat atau yang mendukung riwayat di atas) dari Abu Dzar dan Basyir bin Ka’ab. Oleh sebab itulah, Imam an-Nawawi menshahihkannya di dalam kitab Syarh ShahĆ®h Muslim (XVII/25).”

šŸ“ƒ| Kosa Kata Hadits

  • Ł…ŁŽŲ§Ł„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŲŗŁŽŲ±Ł’ŲŗŁŲ±Ł’ : Sebelum nyawanya sampai di kerongkongan. Yakni pada saat atau sewaktu naza’ (sakaratul maut). Perumpamaan hal ini seperti air yang dimasukkan ke mulut orang yang sakit parah, maka dia mengembalikan air itu ke pangkal kerongkongan karena tidak sanggup menelannya.

šŸ“ƒ| Kandungan Hadits

  1. Taubat tidak akan diterima apabila ia dilakukan ketika nyawa sudah sampai di kerongkongan atau pada saat naza’. Allah berfirman:

Ų„ŁŁ†Ł‘ŁŽŁ…ŁŽŲ§ Ł±Ł„ŲŖŁ‘ŁŽŁˆŁ’ŲØŁŽŲ©Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ł±Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ł„ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł…ŁŽŁ„ŁŁˆŁ†ŁŽ Ł±Ł„Ų³Ł‘ŁŁˆŁ“Ų”ŁŽ ŲØŁŲ¬ŁŽŁ‡ŁŽŁ°Ł„ŁŽŲ©Ł Ų«ŁŁ…Ł‘ŁŽ ŁŠŁŽŲŖŁŁˆŲØŁŁˆŁ†ŁŽ مِن Ł‚ŁŽŲ±ŁŁŠŲØŁ ŁŁŽŲ£ŁŁˆŪŸŁ„ŁŽŁ°Ł“Ų¦ŁŁƒŁŽ ŁŠŁŽŲŖŁŁˆŲØŁ Ł±Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŁ…Ł’ Ū— ŁˆŁŽŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ł±Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŁŠŁ…Ł‹Ų§ Ų­ŁŽŁƒŁŁŠŁ…Ł‹Ų§

“Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertaubat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. An-NisĆ¢’ [4]: 17)

Dan setiap orang yang bertaubat sebelum kematian menjemput, maka berarti ia telah bertaubat dalam waktu yang dekat atau segera bertaubat. Kemudian, Allah berfirman:

ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ų³ŁŽŲŖŁ Ł±Ł„ŲŖŁ‘ŁŽŁˆŁ’ŲØŁŽŲ©Ł Ł„ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł…ŁŽŁ„ŁŁˆŁ†ŁŽ Ł±Ł„Ų³Ł‘ŁŽŁŠŁ‘ŁŁ€Ł”ŁŽŲ§ŲŖŁ Ų­ŁŽŲŖŁ‘ŁŽŁ‰Ł°Ł“ Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ų­ŁŽŲ¶ŁŽŲ±ŁŽ Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲÆŁŽŁ‡ŁŁ…Ł Ł±Ł„Ł’Ł…ŁŽŁˆŁ’ŲŖŁ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ ؄ِنِّى ŲŖŁŲØŁ’ŲŖŁ Ł±Ł„Ł’Ł€Ł”ŁŽŁ°Ł†ŁŽ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ Ł±Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ ŁŠŁŽŁ…ŁŁˆŲŖŁŁˆŁ†ŁŽ ŁˆŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁƒŁŁŁ‘ŁŽŲ§Ų±ŁŒ ۚ Ų£ŁŁˆŪŸŁ„ŁŽŁ°Ł“Ų¦ŁŁƒŁŽ Ų£ŁŽŲ¹Ł’ŲŖŁŽŲÆŁ’Ł†ŁŽŲ§ Ł„ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų¹ŁŽŲ°ŁŽŲ§ŲØŁ‹Ų§ Ų£ŁŽŁ„ŁŁŠŁ…Ł‹Ų§

“Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan: ‘Saya benar-benar bertaubat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima taubat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih.” (QS. An-NisĆ¢’ [4]: 18)

Karena, yang dimaksud dengan “yang jauh” adalah kematian. Malik bin ar-Raib al menangisi diri sendiri seraya menyatakan:

ŁŠŁŽŁ‚ŁŁˆŁ’Ł„ŁŁˆŁ’Ł†ŁŽ Ł„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲØŁ’Ų¹ŁŲÆŁ’ ŁˆŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁŠŁŽŲÆŁ’ŁŁŁˆŁ’Ł†ŁŽŁ†ŁŁŠŁ’ * ŁˆŁŽŲ£ŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ł…ŁŽŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų§Ł„Ł’ŲØŁŲ¹Ł’ŲÆŁ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‘Ų§ Ł…ŁŽŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŁŠŁŽŲ§

mereka berseru: Jangan menjauh (jangan mati), namun mereka berusaha membunuhku
di manakah tempat yang jauh itu, selain tempatku (kematian)

Oleh karena itu, Allah tabaraka wa ta’ ala tidak menerima taubat Fir’aun, yaitu ketika dia beriman saat ditenggelamkan ke dalam laut:

ŁˆŁŽŲ¬ŁŽŁ€Ł°ŁˆŁŽŲ²Ł’Ł†ŁŽŲ§ ŲØŁŲØŁŽŁ†ŁŁ‰Ł“ Ų„ŁŲ³Ł’Ų±ŁŽŁ°Ł“Ų”ŁŁŠŁ„ŁŽ Ł±Ł„Ł’ŲØŁŽŲ­Ł’Ų±ŁŽ ŁŁŽŲ£ŁŽŲŖŁ’ŲØŁŽŲ¹ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁŁŲ±Ł’Ų¹ŁŽŁˆŁ’Ł†Ł ŁˆŁŽŲ¬ŁŁ†ŁŁˆŲÆŁŁ‡ŁŪ„ ŲØŁŽŲŗŁ’ŁŠŁ‹Ū­Ų§ ŁˆŁŽŲ¹ŁŽŲÆŁ’ŁˆŁ‹Ų§ Ū– Ų­ŁŽŲŖŁ‘ŁŽŁ‰Ł°Ł“ Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§Ł“ Ų£ŁŽŲÆŁ’Ų±ŁŽŁƒŁŽŁ‡Ł Ł±Ł„Ł’ŲŗŁŽŲ±ŁŽŁ‚Ł Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų”ŁŽŲ§Ł…ŁŽŁ†ŲŖŁ Ų£ŁŽŁ†Ł‘ŁŽŁ‡ŁŪ„ Ł„ŁŽŲ§Ł“ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ€Ł°Ł‡ŁŽ Ų„ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ§ Ł±Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁ‰Ł“ Ų”ŁŽŲ§Ł…ŁŽŁ†ŁŽŲŖŁ’ بِهِۦ ŲØŁŽŁ†ŁŁˆŁ“Ų§ŪŸ Ų„ŁŲ³Ł’Ų±ŁŽŁ°Ł“Ų”ŁŁŠŁ„ŁŽ ŁˆŁŽŲ£ŁŽŁ†ŁŽŲ§Ū  Ł…ŁŁ†ŁŽ Ł±Ł„Ł’Ł…ŁŲ³Ł’Ł„ŁŁ…ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų”ŁŽŲ§Ł“Ł„Ł’Ł€Ł”ŁŽŁ€Ł°Ł†ŁŽ ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲÆŁ’ Ų¹ŁŽŲµŁŽŁŠŁ’ŲŖŁŽ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„Ł ŁˆŁŽŁƒŁŁ†ŲŖŁŽ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ł±Ł„Ł’Ł…ŁŁŁ’Ų³ŁŲÆŁŁŠŁ†ŁŽ .ŁŁŽŁ±Ł„Ł’ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ Ł†ŁŁ†ŁŽŲ¬Ł‘ŁŁŠŁƒŁŽ ŲØŁŲØŁŽŲÆŁŽŁ†ŁŁƒŁŽ Ł„ŁŲŖŁŽŁƒŁŁˆŁ†ŁŽ Ł„ŁŁ…ŁŽŁ†Ł’ Ų®ŁŽŁ„Ł’ŁŁŽŁƒŁŽ Ų”ŁŽŲ§ŁŠŁŽŲ©Ł‹Ū­ ۚ ŁˆŁŽŲ„ŁŁ†Ł‘ŁŽ ŁƒŁŽŲ«ŁŁŠŲ±Ł‹Ū­Ų§ Ł…Ł‘ŁŁ†ŁŽ Ł±Ł„Ł†Ł‘ŁŽŲ§Ų³Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų”ŁŽŲ§ŁŠŁŽŁ€Ł°ŲŖŁŁ†ŁŽŲ§ Ł„ŁŽŲŗŁŽŁ€Ł°ŁŁŁ„ŁŁˆŁ†ŁŽ

“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata: ‘Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri).’ Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”(QS Yunus [10]: 90-92).

2. Di antara syarat bertaubat adalah harus dilakukan sesegera mungkin, yakni sebelum berada dalam keadaan yang tidak memungkinkan lagi untuk bertahan hidup.

*****

šŸ“– | Hadits #19: Anjuran Menuntut Ilmu, Keluasan Rahmat Allah dan Dia Menerima Taubat HambaNya

ٔ٩- ŁˆŁŽŲ¹ŁŽŁ†Ł’ زِرِّ بْنِ Ų­ŁŲØŁŽŁŠŁ’Ų“Ł Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ų£ŁŽŲŖŁŽŁŠŁ’ŲŖŁ ŲµŁŽŁŁ’ŁˆŁŽŲ§Ł†ŁŽ ŲØŁ’Ł†ŁŽ Ų¹ŁŽŲ³ŁŽŁ‘Ų§Ł„Ł Ų±ŁŽŲ¶ŁŁŠŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡Ł Ų£ŁŽŲ³Ł’Ų£ŁŽŁ„ŁŁ‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ³Ł’Ų­Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŁŁŽŁ‘ŁŠŁ’Ł†Ł ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ł…ŁŽŲ§ Ų¬ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŲØŁŁƒŁŽ ŁŠŁŽŲ§ Ų²ŁŲ±ŁŁ‘ŲŸ ŁŁŽŁ‚ŁŁ„Ł’ŲŖŁ: Ų§ŁŲØŁ’ŲŖŁŲŗŁŽŲ§Ų”ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŁ„Ł’Ł…ŁŲŒ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽŲ©ŁŽ ŲŖŁŽŲ¶ŁŽŲ¹Ł Ų£ŁŽŲ¬Ł’Ł†ŁŲ­ŁŽŲŖŁŽŁ‡ŁŽŲ§ Ł„ŁŲ·ŁŽŲ§Ł„ŁŲØŁ الْعِلْمِ رِضًا ŲØŁŁ…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ·Ł’Ł„ŁŲØŁŲŒ ŁŁŽŁ‚ŁŁ„Ł’ŲŖŁ: Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ł‚ŁŽŲÆŁ’ Ų­ŁŽŁƒŁŽŁ‘ فِي ŲµŁŽŲÆŁ’Ų±ŁŁŠ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ³Ł’Ų­Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŁŁŽŁ‘ŁŠŁ’Ł†Ł ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁŽ Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŲ§Ų¦ŁŲ·Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’ŲØŁŽŁˆŁ’Ł„ŁŲŒ ŁˆŁŽŁƒŁŁ†Ł’ŲŖŁŽ Ų§Ł…Ł’Ų±ŁŽŲ£Ł‹ مِنْ Ų£ŁŽŲµŁ’Ų­ŁŽŲ§ŲØŁ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁŠŁŁŁ‘ ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽŲŒ ŁŁŽŲ¬ŁŲ¦Ł’ŲŖŁ Ų£ŁŽŲ³Ł’Ų£ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ: Ł‡ŁŽŁ„Ł’ Ų³ŁŽŁ…ŁŲ¹Ł’ŲŖŁŽŁ‡Ł ŁŠŁŽŲ°Ł’ŁƒŁŲ±Ł فِي Ų°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ Ų“ŁŽŁŠŁ’Ų¦Ł‹Ų§ŲŸ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ł†ŁŽŲ¹ŁŽŁ…Ł’ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ ŁŠŁŽŲ£Ł’Ł…ŁŲ±ŁŁ†ŁŽŲ§ Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ ŁƒŁŁ†ŁŽŁ‘Ų§ Ų³ŁŽŁŁ’Ų±Ł‹Ų§ Ų£ŁŽŁˆŁ’ Ł…ŁŲ³ŁŽŲ§ŁŁŲ±ŁŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ų£ŁŽŁ†Ł’ Ł„ŁŽŲ§ Ł†ŁŽŁ†Ł’Ų²ŁŲ¹ŁŽ Ų®ŁŁŁŽŲ§ŁŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«ŁŽŲ©ŁŽ Ų£ŁŽŁŠŁŽŁ‘Ų§Ł…Ł ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁŠŁŽŲ§Ł„ŁŁŠŁ’Ł‡ŁŁ†ŁŽŁ‘ Ų„Ł„Ų§ŁŽŁ‘ مِنْ Ų¬ŁŽŁ†ŁŽŲ§ŲØŁŽŲ©ŁŲŒ Ł„ŁŽŁƒŁŁ†Ł’ مِنْ ŲŗŁŽŲ§Ų¦ŁŲ·Ł ŁˆŁŽŲØŁŽŁˆŁ’Ł„Ł ŁˆŁŽŁ†ŁŽŁˆŁ’Ł…Ł. ŁŁŽŁ‚ŁŁ„Ł’ŲŖŁ: Ł‡ŁŽŁ„Ł’ Ų³ŁŽŁ…ŁŲ¹Ł’ŲŖŁŽŁ‡Ł ŁŠŁŽŲ°Ł’ ŁƒŁŲ±Ł فِي Ų§Ł„Ł’Ł‡ŁŽŁˆŁŽŁ‰ Ų“ŁŽŁŠŁ’Ų¦Ł‹Ų§ŲŸ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ł†ŁŽŲ¹ŁŽŁ…Ł’ ŁƒŁŁ†Ł‘Ų§ Ł…ŁŽŲ¹ŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ’Ł„Ł اللهِ ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ فِي Ų³ŁŽŁŁŽŲ±ŁŲŒ ŁŁŽŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽŲ§ Ł†ŁŽŲ­Ł’Ł†Ł Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽŁ‡Ł ؄ِذْ Ł†ŁŽŲ§ŲÆŁŽŲ§Ł‡Ł Ų£ŁŽŲ¹Ł’Ų±ŁŽŲ§ŲØŁŁŠŁŒŁ‘ ŲØŁŲµŁŽŁˆŁ’ŲŖŁ Ł„ŁŽŁ‡Ł Ų¬ŁŽŁ‡Ł’ŁˆŁŽŲ±ŁŁŠŁŁ‘: ŁŠŁŽŲ§ Ł…ŁŲ­ŁŽŁ…ŁŽŁ‘ŲÆŁŲŒ ŁŁŽŲ£ŁŽŲ¬ŁŽŲ§ŲØŁŽŁ‡Ł Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ’Ł„Ł اللهِ ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ Ł†ŁŽŲ­Ł’ŁˆŁ‹Ų§ مِنْ ŲµŁŽŁˆŁ’ŲŖŁŁ‡Ł: Ā« Ł‡ŁŽŲ§Ų¤ŁŁ…Ł’ Ā» ŁŁŽŁ‚ŁŁ„Ł’ŲŖŁ Ł„ŁŽŁ‡Ł: ŁˆŁŽŁŠŁ’Ų­ŁŽŁƒŁŽ Ų§ŲŗŁ’Ų¶ŁŲ¶Ł’ مِنْ ŲµŁŽŁˆŁ’ŲŖŁŁƒŁŽ ŁŁŽŲ„ŁŁ†ŁŽŁ‘ŁƒŁŽ Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁŠŁŁ‘ ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲÆŁ’ Ł†ŁŁ‡ŁŁŠŁ’ŲŖŁŽ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ł‡Ų°ŁŽŲ§ŲŒ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł„Ł‡Ł Ł„ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲŗŁ’Ų¶ŁŲ¶Ł: Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų§Ł’Ł„Ų£ŁŽŲ¹Ł’Ų±ŁŽŲ§ŲØŁŁŠŁŁ‘: Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ±Ł’Ų”Ł ŁŠŁŲ­ŁŲØŁŁ‘ Ų§Ł„Ł’Ł‚ŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁ…ŁŽŁ‘Ų§ ŁŠŁŽŁ„Ł’Ų­ŁŽŁ‚Ł’ ŲØŁŁ‡ŁŁ…Ł’ŲŸ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁŠŁŁ‘ ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ: Ā« Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ±Ł’Ų”Ł Ł…ŁŽŲ¹ŁŽ Ł…ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲØŁŽŁ‘ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł‚ŁŁŠŁŽŲ§Ł…ŁŽŲ©Ł Ā» ŁŁŽŁ…ŁŽŲ§ Ų²ŁŽŲ§Ł„ŁŽ ŁŠŁŲ­ŁŽŲÆŁŁ‘Ų«ŁŁ†ŁŽŲ§ Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ Ų°ŁŽŁƒŁŽŲ±ŁŽ ŲØŁŽŲ§ŲØŁ‹Ų§ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲŗŁ’Ų±ŁŲØŁ Ł…ŁŽŲ³ŁŁŠŲ±ŁŽŲ©Ł Ų¹ŁŽŲ±Ł’Ų¶ŁŁ‡Ł Ų£ŁŽŁˆŁ’ ŁŠŁŽŲ³ŁŁŠŲ±Ł Ų§Ł„Ų±ŁŽŁ‘Ų§ŁƒŁŲØŁ فِي Ų¹ŁŽŲ±Ł’Ų¶ŁŁ‡Ł Ų£ŁŽŲ±Ł’ŲØŁŽŲ¹ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų£ŁŽŁˆŁ’ Ų³ŁŽŲØŁ’Ų¹ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų¹ŁŽŲ§Ł…Ł‹Ų§. Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų³ŁŁŁ’ŁŠŁŽŲ§Ł†Ł Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲÆŁ Ų§Ł„Ų±ŁŁ‘ŁˆŁŽŲ§Ų©Ł: Ł‚ŁŲØŁŽŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘Ų§Ł…Ł Ų®ŁŽŁ„ŁŽŁ‚ŁŽŁ‡Ł Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł ŲŖŁŽŲ¹ŁŽŲ§Ł„ŁŽŁ‰ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ Ų®ŁŽŁ„ŁŽŁ‚ŁŽ Ų§Ł„Ų³ŁŽŁ‘Ł…ŁŽŲ§ŁˆŁŽŲ§ŲŖŁ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų£ŁŽŲ±Ł’Ų¶ŁŽ Ł…ŁŽŁŁ’ŲŖŁŁˆŲ­Ł‹Ų§ Ł„ŁŁ„ŲŖŁŽŁ‘ŁˆŁ’ŲØŁŽŲ©Ł Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŲŗŁ’Ł„ŁŽŁ‚Ł Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ ŲŖŁŽŲ·Ł’Ł„ŁŲ¹ŁŽ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘Ł…Ł’Ų³Ł Ł…ŁŁ†Ł’Ł‡Ł Ā» Ų±ŁŽŁˆŁŽŲ§Ł‡Ł Ų§Ł„ŲŖŁŁ‘Ų±Ł’Ł…ŁŲ°ŁŁŠŁŁ‘ ŁˆŁŽŲŗŁŽŁŠŁ’Ų±ŁŁ‡Ł ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ų­ŁŽŲÆŁŁŠŁ’Ų«ŁŒ Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†ŁŒ ŲµŁŽŲ­ŁŁŠŁ’Ų­ŁŒ.

19. Dari Zirr bin Hubaisy radhiallahu ā€˜anhu, ia bercerita; Aku mendatangi Shafwan bin Assal radhiallahu ā€˜anhu untuk menanyakan perihal mengusap khuff. Dan tatkala melihatku, dia bertanya: “Untuk apa kamu kemari, wahai Zirr?” Aku menjawab: “Untuk menuntut ilmu.” Maka dia berkata: “Sesungguhnya Malaikat-Malaikat meletakkan sayap mereka bagi penuntut ilmu, karena ridha dengan apa yang dicarinya.” Aku lantas bertanya: “Sesungguhnya masih terdapat kejanggalan dalam hatiku perihal mengusap khuff setelah buang air besar maupun buang air kecil. Karena engkau salah seorang Sahabat Nabi ļ·ŗ, maka aku datang untuk bertanya kepadamu: ‘Pernahkah engkau mendengar beliau menyebutkan sesuatu mengenainya?’” Lalu dia menjawab: “Ya. Beliau pernah memerintahkan kepada kami ketika dalam perjalanan-dalam keadaan musafir-agar tidak melepaskan khuff kami selama tiga hari tiga malam kecuali karena janabah (kondisi junub); tetapi jika hanya karena buang air besar, buang air kecil, atau tidur maka khuff itu tidak perlu dilepas.”

Aku bertanya lagi: “Pernahkah engkau mendengar beliau menyebutkan sesuatu mengenai kecintaan?” Kemudian dia (Shafwan bin Assal) pun menjawabnya: “Ya. Kami pernah bersama Rasulullah di dalam suatu
perjalanan. Ketika kami sedang bersama beliau, tiba-tiba seorang Badui berseru kepada beliau dengan suara yang amat lantang lagi keras: ‘Hai Muhammad!’ Maka Rasulullah menjawab dengan suara sekeras suaranya: ‘Silakan!’ Lalu kukatakan kepada orang Badui itu: ‘Celaka kamu! Rendahkanlah suaramu, karena kamu sedang bersama Nabi ļ·ŗ. Kamu dilarang melakukan demikian.’ Orang Badui itu lantas berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan merendahkan suaraku.’

Lebih lanjut, orang Badui itu bertanya: ‘(Bagaimana dengan) seseorang yang mencintai suatu kaum, namun dia belum pernah dapat beramal sesempurna amalan mereka?’ Nabi pun bersabda: ‘Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya pada hari Kiamat.’ Setelah itu, beliau terus menceritakan (berbagai hal) kepada kami. Hingga beliau menyebutkan salah satu pintu yang berada di sebelah barat, dan lalu dijelaskan kepada kami bahwa jarak lebar pintu itu dapat ditempuh -atau seorang pengendara bisa menempuh jarak lebar pintu tersebut- selama empat puluh atau tujuh puluh tahun.”

Sufyan, salah seorang perawi hadits ini, mengatakan: “(Pintu itu berada) di arah Syam. Allah ta’Ć¢la menciptakannya bersamaan dengan hari Dia menciptakan langit dan bumi dalam kondisi terbuka untuk menerima taubat, dan (taubat) tidak akan ditutup hingga matahari terbit dari arah pintu itu.”

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan perawi lainnya. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

šŸ“ƒ| Pengesahan Hadits

Hadits ini shahih karena akumulasi beberapa jalur periwayatannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (no. 3535, 3536), Ibnu Majah (no. 4070), Imam Ahmad (IV/239-240, 241), Imam ath-Thayalisi (2767-Minhatul Ma’bĆ»d), al-Humaidi di dalam Musnad-nya (no. 881), Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (no. 793, 795), Imam Ibnu Hibban (186-al-Mawarid), al-Thabrani dalam al-KabĆ®r (7352, 7353, 7359-7365, 7388), Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (VII/308), Ibnu Khuzaimah (no. 193), Imam al-Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah (no. 1315) dan Ma’Ć¢limat TanzĆ®l, (XI/144), Ibnu Jarir ath-Thabari dalam JĆ¢mi’ul BayĆ¢n (VIII/72), al-Baihaqi (I/276), dan Ibnu Adi dalam al-KĆ¢mil (V/1806). Semuanya diriwayatkan melalui jalur Ashim bin Abin Najud, dari Zirr bin Hubaisy, dari Shafwan bin Assal.

Sanad riwayat tersebut adalah hasan. Rijal (perawi-perawi)-nya tsiqah, kecuali Ashim. Meskipun Ashim seorang ‘alim (ahli) dalam ilmu al-Qur’an, namun hadits yang diriwayatkannya hanya sampai kepada
derajat hasan. Namun riwayat Ashim diperkuat oleh riwayat Zubaid al-Yami yang terdapat dalam kitab Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari (VIII/72).

Zubaid yang dimaksud adalah Ibnul Harits al-Yami, perawi yang tsiqah, mantap hafalannya, dan ‘abid (seorang ahli ibadah). Oleh karena itulah, hadits derajat tersebut menjadi shahih. Segala puji dan sanjungan hanya milik Allah atas Islam dan as-Sunnah.”

šŸ“ƒ| Kosa Kata Hadits

  • Ł…ŁŽŲ§Ų¬Ų§Ų”ŁŽ ŲØŁŁƒŁŽ : Untuk apa kamu kemari. Maksudnya ialah apakah yang mendorong kamu (Zirr bin Hubaisy) datang menemui aku (yakni Shafwan bin Assal).
  • Ų„ŲØŁ’ŲŖŁŲŗŁŽŲ§Ų”ŁŽ الْعِلْمِ : Untuk menuntut ilmu.
  • ŲŖŁŽŲ¶ŁŽŲ¹Ł Ų£ŁŽŲ¬Ł’Ł†ŁŲ­ŁŽŲŖŁŽŁ‡ŁŽŲ§ : Malaikat-Malaikat meletakkan sayap mereka. Setiap Malaikat itu menahan sayapnya untuk tidak terbang. Mereka akan tetap diam dan tenang sebagai penghormatan bagi penuntut ilmu, dan karena mereka menyukai apa yang dilakukannya.
  • Ų­ŁŽŁƒŁŽŁ‘ في ŲµŁŽŲÆŲ±ŁŁŠ : Ada keraguan dalam hatiku. Yaitu bergejolak dan muncul keraguan di dalam diriku mengenai suatu hal.
  • Ų§ŁŽŁ„ŲŗŁŽŲ§Ų¦ŁŲ·Ł : Buang air besar. Arti asalnya adalah tempat yang rendah di permukaan tanah. Namun, kata ini juga digunakan untuk sesuatu yang keluar dari dubur manusia.
  • Ų³ŁŽŁŁŽŲ±Ł‹ : Ketika dalam perjalanan. Kata ini adalah jamak dari kata jl, yang berarti musafir atau yang sedang bepergian.
  • Ų®ŁŁŁŽŲ§ŁŁŁ†ŁŽŲ§ : Khuff kami. Kata: Ų®ŁŁŁŽŲ§ŁŁ ini adalah jamak dari kata Ų®ŁŁ (khuff) yaitu sesuatu yang dipakai manusia sebagai alas kaki, seperti sandal.
  • Ų§ŁŽŁ„Ų¬ŁŽŁ†ŁŽŲ§ŲØŁŽŲ©Ł : Janabah. Menurut bahasa, janabah berarti jauh. Sedangkan menurut istilah syariat, janabah berarti sesuatu yang mengharuskan seseorang mandi baik dikarenakan hubungan badan, keluar mani, maupun mimpi basah. Disebut demikian karena dalam kondisi junub itu seseorang menjadi jauh dari ibadah yang biasa dikerjakannya.
  • Ł„ŁŽŁƒŁŁ†Ł’ مِنْ ŲŗŁŽŲ§Ų¦ŁŲ·Ł : Tetapi jika hanya karena buang air besar. Artinya Nabi menyuruh kami (para Sahabat), jika sedang dalam perjalanan, melepaskan khuff ketika mandi junub selama masa yang ditentukan (tiga hari tiga malam). Akan tetapi, kami tidak perlu melepaskannya ketika buang air besar atau buang air kecil atau tidur.
  • Ų§Ł„Ł’Ł‡ŁŽŁˆŁŽŁ‰ : Kecintaan.
  • Ų£ŁŽŲŗŁ’Ų±ŁŽŲØŁŠŁŁ‘ : Seorang Badui.
  • Ų¬ŁŽŁ‡Ł’ŁˆŁŽŲ±ŁŁŠŁŁ‘ : Dengan suara lantang lagi keras.
  • Ł†ŁŽŲ­Ł’ŁˆŁ‹Ų§ مِنْ ŲµŁŽŁˆŁ’ŲŖŁŁ‡Ł : Dengan suara yang sekeras suaranya.
  • Ł‡ŁŽŲ§Ų¤Ł…Ł : Silakan.
  • ŁˆŁŽŁŠŁ’Ų­ŁŽŁƒŁŽ : Celakalah kamu! Termasuk kata kecaman (yakni karena dorongan kasih sayang, kasihan, dan prihatin) terhadap para pelaku keburukan yang sepatutnya tidak dia lakukan.
  • Ų£ŁŲŗŁ’Ų¶ŁŲ¶Ł’ مِنْ ŲµŁŽŁˆŁ’ŲŖŁŁƒŁŽ : Rendahkanlah suaramu.
  • Ł„ŁŽŁ…ŁŽŁ‘Ų§ ŁŠŁŽŁ„Ł’Ų­ŁŽŁ‚Ł’ بِهِمْ : Dia belum pernah dapat beramal sesempurna amalan mereka. Yakni mereka belum berbuat seperti amal kaum itu dari segi kesempurnaan.

šŸ“ƒ| Kandungan Hadits

  1. Anjuran untuk menuntut ilmu.
  2. Perintah kepada mukallaf agar bertanya kepada orang berilmu (ulama) terkait masalah agama yang belum dipahaminya, sebagaimana yang ditegaskan dalam firman Allah :

.. ŁŁŽŲŖŲ“ŁŽŁ„ŁŁˆŲ§Ł’ Ų£ŁŽŁ‡Ł’Ł„ŁŽ Ų§Ł„Ų°ŁŁ‘ŁƒŁ’Ų±Ł ؄ِن ŁƒŁŲŖŁ†ŁŲŖŁŁ…Ł’ Ł„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲ¹Ł’Ł„ŁŽŁ…ŁŁˆŁ†ŁŽ

” … maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 43; Al-AnbiyĆ¢’ [21]: 7).

Penuntut ilmu harus menanyakan kepada seorang yang berilmu dalil dari jawaban pertanyaannya baik berupa nash (al-Qur’an dan as-Sunnah), istidlal (sisi argumentasi dari suatu nash), ataupun ijtihad (pendapat pribadinya). Orang yang berilmu pun tidak boleh merasa keberatan terhadap pertanyaan tersebut, sebab penyertaan dalil dalam fatwa merupakan tanda kejujuran dan tanda keikhlasan. Selain itu, hal ini sesuai dengan firman Allah:

… Ł‚ŁŁ„Ł’ Ł‡ŁŽŲ§ŲŖŁŁˆŲ§Ł’ ŲØŁŲ±Ł‡ŁŽŁ†ŁŽŁƒŁŁ…Ł’ ؄ِن ŁƒŁŁ†ŲŖŁŁ…Ł’ ŲµŁŽŲÆŁŁ‚ŁŁŠŁ†

.. Katakanlah: ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.'” (QS. Al-Baqarah [2]: 111)

  1. Diperbolehkan mengusap khuff. Masa berlakunya adalah tiga hari tiga malam bagi musafir, sedangkan sehari semalam bagi orang yang mukim (tidak sedang dalam perjalanan). Pada dasarnya, kaus kaki dan sepatu berhukum sama dengan khuff. Hukum-hukum perihal mengusap khuff ini sangat jelas tercantum dalam kitab-kitab fiqih. Syaikh Jamaluddin al-Qasimi Rahimahullah mengkhususkan pembahasan tersebut dalam risalah tersendiri. Risalahnya itu dikomentari oleh Syaikh Ahmad Syakir Rahimahullah, kemudian hadits-haditsnya di-tahqiq dan di-takhrij oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani Rahimahullah.
  2. Mengusap kedua khuff sudah mewakili pembasuhan kedua kaki dalam wudhu yang disebabkan oleh buang air besar, buang air kecil, dan tidur. Adapun ketika mandi dari hadats besar yang disebabkan janabah, haidh, atau nifas, seseorang diharuskan melepas khuff-nya dan membasuh kedua kakinya secara langsung.
  3. Anjuran menjaga adab pada waktu bersama para ulama (orang yang berilmu), dan merendahkan suara ketika berada dalam majelis atau tempat mereka mengajarkan ilmu agama.
  4. Disunnahkan mengajari orang yang jahil (bodoh) terhadap adab islami, sekaligus mengajarkan bagaimana cara bertingkah laku yang baik dan sopan.
  5. Berteman dengan orang-orang baik dan mencintai mereka. Sebab, seseorang akan bersama orang-orang yang dicintainya kelak (yang pada hari Kiamat). Seseorang juga tergantung pada agama teman akrabnya. Oleh karena itu, perhatikanlah pribadi teman Anda. Hal ini penting karena cinta mampu menarik seseorang ke jalan orang yang dicintai dan menyeret dirinya untuk selalu menurut. Maka, ada ungkapan Arab populer: Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ų­ŁŲØ Ų³ŁŽŲ§Ų­ŁŲØ (Teman ibarat penarik).
  6. Keluasan rahmat Allah , dan Dia menerima taubat hamba-Nya.
  7. Perintah untuk segera bertaubat, berintrospeksi, dan kembali kepada Allah sebelum tiba hari ketika penyesalan tidak berarti lagi.

*****

šŸ“– | Hadits #20: Taubatnya Pembunuh 100 Orang

٢٠- ŁˆŁŽŲ¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲØŁŁŠŁ’ Ų³ŁŽŲ¹ŁŁŠŁ’ŲÆŁ Ų³ŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁ بْنِ Ł…ŁŽŲ§Ł„ŁŁƒŁ بْنِ Ų³ŁŁ†ŁŽŲ§Ł†Ł Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŲÆŁ’Ų±ŁŁŠŁŁ‘ Ų±ŁŽŲ¶ŁŁŠŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡Ł: Ų£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘ Ł†ŁŽŲØŁŁŠŁŽŁ‘ اللهِ ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ā« ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ ŁŁŁŠŁ…ŁŽŁ†Ł’ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŽŁƒŁŁ…Ł’ Ų±ŁŽŲ¬ŁŁ„ŁŒ Ł‚ŁŽŲŖŁŽŁ„ŁŽ ŲŖŁŲ³Ł’Ų¹ŁŽŲ©Ł‹ ŁˆŁŽŲŖŁŲ³Ł’Ų¹ŁŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³Ł‹Ų§ŲŒ ŁŁŽŲ³ŁŽŲ£ŁŽŁ„ŁŽ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲ¹Ł’Ł„ŁŽŁ…Ł Ų£ŁŽŁ‡Ł’Ł„Ł Ų§Ł„Ł’Ų£ŁŽŲ±Ł’Ų¶ŁŲŒ ŁŁŽŲÆŁŁ„ŁŽŁ‘ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų±ŁŽŲ§Ł‡ŁŲØŁŲŒ ŁŁŽŲ£ŁŽŲŖŁŽŲ§Ł‡Ł ŁŁŽŁ‚ŁŽŁ„ŁŽ: Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ł‚ŁŽŲŖŁŽŁ„ŁŽ ŲŖŁŲ³Ł’Ų¹ŁŽŲ©Ł‹ ŁˆŁŽŲŖŁŲ³Ł’Ų¹ŁŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³Ł‹Ų§ŲŒ ŁŁŽŁ‡ŁŽŁ„Ł’ Ł„ŁŽŁ‡Ł مِنْ ŲŖŁŽŁˆŲØŁŽŲ©ŁŲŸ ŁŁŽŁ‚ŁŽŁ„ŁŽ: Ł„Ų§ŁŽŲŒ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲŖŁŽŁ„ŁŽŁ‡Ł ŁŁŽŁƒŁŽŁ…ŁŽŁ‘Ł„ŁŽ بِهِ Ł…ŁŲ§Ų¦ŁŽŲ©Ł‹ŲŒ Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ų³ŁŽŲ£ŁŽŁ„ŁŽ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲ¹Ł’Ł„ŁŽŁ…Ł Ų£ŁŽŁ‡Ł’Ł„Ł Ų§Ł’Ł„Ų£ŁŽŲ±Ł’Ų¶ŁŲŒ ŁŁŽŲÆŁŁ„ŁŽŁ‘ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų±ŁŽŲ¬ŁŁ„Ł Ų¹ŁŽŲ§Ł„ŁŁ…Ł ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ł‚ŁŽŲŖŁŽŁ„ŁŽ  Ł…ŁŲ§Ų¦ŁŽŲ©ŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³Ł ŁŁŽŁ‡ŁŽŁ„Ł’ Ł„ŁŽŁ‡Ł مِنْ ŲŖŁŽŁˆŁ’ŲØŁŽŲ©ŁŲŸ ŁŁŽŁ‚Ł‹Ų§Ł„ŁŽ: Ł†ŁŽŲ¹ŁŽŁ…Ł’ŲŒ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲ­ŁŁˆŁ’Ł„Ł ŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽŁ‡Ł ŁˆŁŽŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ų§Ł„ŲŖŁŽŁ‘ŁˆŁ’ŲØŁŽŲ©ŁŲŸ Ų§ŁŁ†Ł’Ų·ŁŽŁ„ŁŁ‚Ł’ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ŁŽ Ų£ŁŽŲ±Ł’Ų¶Ł ŁƒŁŽŲ°ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŁƒŁŽŲ°ŁŽŲ§ŲŒ ŁŁŽŲ„ŁŁ†ŁŽŁ‘ ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų£ŁŁ†ŁŽŲ§Ų³Ł‹Ų§ ŁŠŁŽŲ¹Ł’ŲØŁŲÆŁŁˆŁ’Ł†ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‡ŁŽ ŁŁŽŲ§Ų¹Ł’ŲØŁŲÆŁ Ų§Ł„Ł„Ł‡ŁŽ Ł…ŁŽŲ¹ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ŲŒ ŁˆŁŽŁ„Ų§ŁŽ ŲŖŁŽŲ±Ł’Ų¬ŁŲ¹Ł’ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ų£ŁŽŲ±Ł’Ų¶ŁŁƒŁŽ ŁŁŽŲ„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲ±Ł’Ų¶Ł Ų³ŁŁˆŁ’Ų”ŁŲŒ ŁŁŽŲ§Ł†Ł’Ų·ŁŽŁ„ŁŽŁ‚ŁŽ Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ł†ŁŽŲµŁŽŁŁŽ Ų§Ł„Ų·ŁŽŁ‘Ų±ŁŁŠŁ’Ł‚ŁŽ Ų£ŁŽŲŖŁŽŲ§Ł‡Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŁˆŁ’ŲŖŁ ŁŁŽŲ§Ų®Ł’ŲŖŁŽŲµŁŽŁ…ŁŽŲŖŁ’ ŁŁŁŠŁ’Ł‡Ł Ł…ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽŲ©Ł Ų§Ł„Ų±ŁŽŁ‘Ų­Ł’Ł…ŁŽŲ©Ł ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽŲ©Ł Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲ°ŁŽŲ§ŲØŁ. ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲŖŁ’ Ł…ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽŲ©Ł Ų§Ł„Ų±ŁŽŁ‘Ų­Ł’Ł…ŁŽŲ©Ł: Ų¬ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŲŖŁŽŲ§Ų¦ŁŲØŁ‹Ų§ŲŒ Ł…ŁŁ‚Ł’ŲØŁŁ„Ł‹Ų§ ŲØŁŁ‚ŁŽŁ„Ł’ŲØŁŁ‡Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ اللهِ ŲŖŁŽŲ¹ŁŽŲ§Ł„ŁŽŁ‰ŲŒ ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲŖŁ’ Ł…ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽŲ©Ł Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲ°ŁŽŲ§ŲØŁ: Ų„Ł†ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ł„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł…ŁŽŁ„Ł’ Ų®ŁŽŁŠŁ’Ų±Ł‹Ų§ Ł‚ŁŽŲ·ŁŁ‘ŲŒ ŁŁŽŲ£ŁŽŲŖŁŽŲ§Ł‡ŁŁ…Ł’ Ł…ŁŽŁ„ŁŽŁƒŁŒ فِي ŲµŁŁˆŁ’Ų±ŁŽŲ©Ł Ų¢ŲÆŁŽŁ…ŁŁŠŁŁ‘ ŁŁŽŲ¬ŁŽŲ¹ŁŽŁ„ŁŁˆŁ’Ł‡Ł ŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų£ŁŠŁ’ Ų­ŁŽŁƒŁŽŁ…Ł‹Ų§ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ł‚ŁŁŠŲ³ŁŁˆŲ§ Ł…ŁŽŲ§ ŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ų§Ł„Ų£ŁŽŲ±Ł’Ų¶ŁŽŁŠŁ’Ł†Ł ŁŁŽŲ„Ł„ŁŽŁ‰ Ų£ŁŽŁŠŁŽŁ‘ŲŖŁŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų£ŁŽŲÆŁ’Ł†ŁŽŁ‰ ŁŁŽŁ‡ŁŁˆŁŽ Ł„ŁŽŁ‡ŁŲŒ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ų³ŁŁˆŁ’Ł‡Ł ŁŁŽŁˆŁŽŲ¬ŁŽŲÆŁŁˆŁ’Ł‡Ł Ų£ŁŽŲÆŁ’Ł†ŁŁ‰ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ŁŽ Ų§Ł’Ł„Ų£ŁŽŲ±Ł’Ų¶Ł Ų§Ł„ŁŽŁ‘ŲŖŁŁŠ Ų£Ų±ŁŽŲ§ŲÆŁŽŲŒ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲØŁŽŲ¶ŁŽŲŖŁ’Ł‡Ł Ł…ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽŲ©Ł Ų§Ł„Ų±ŁŽŁ‘Ų­Ł’Ł…ŁŽŲ©Ł Ā» Ł…ŁŲŖŁŽŁ‘ŁŁŽŁ‚ŁŒ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł.ŁˆŁŽŁŁŁŠ Ų±ŁŁˆŁŽŲ§ŁŠŁŽŲ©Ł فِي Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ų­ŁŁŠŁ’Ų­Ł: Ā« ŁŁŽŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ł‚ŁŽŲ±Ł’ŁŠŁŽŲ©Ł Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ų§Ł„ŁŲ­ŁŽŲ©Ł Ų£ŁŽŁ‚Ł’Ų±ŁŽŲØŁŽ ŲØŁŲ“ŁŲØŁ’Ų±ŁŲŒ ŁŁŽŲ¬ŁŲ¹ŁŁ„ŁŽ مِنْ Ų£ŁŽŁ‡Ł’Ł„ŁŁ‡ŁŽŲ§ Ā» ŁˆŁŽŁŁŁŠ Ų±ŁŁˆŁŽŲ§ŁŠŁŽŲ©Ł فِي Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ų­ŁŁŠŁ’Ų­Ł: Ā« ŁŁŽŲ£ŁŽŁˆŁ’Ų­ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł ŲŖŁŽŲ¹ŁŽŲ§Ł„ŁŽŁ‰ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŽŲØŁŽŲ§Ų¹ŁŽŲÆŁŁ‰Ł’ŲŒ ŁˆŁŽŲ„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ł‡ŁŽŲ°ŁŁ‡Ł Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŽŁ‚Ų±ŁŽŁ‘ŲØŁŁŠŁ’ ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ł‚ŁŁŠŁ’Ų³ŁŁˆŁ’Ų§ Ł…ŁŽŲ§ ŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ŲŒ ŁŁŽŁˆŁŽŲ¬ŲÆŁŁˆŁ’Ų§ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ł‡ŁŽŲ°ŁŁ‡Ł Ų£ŁŽŁ‚ŁŽŲ±ŁŽŲØŁŽ ŲØŁŲ“ŁŲØŁ’Ų±Ł ŁŁŽŲŗŁŁŁŽŲ±ŁŽ Ł„ŁŽŁ‡Ł Ā» ŁˆŁŽŁŁŁŠ Ų±ŁŁˆŁŽŲ§ŁŠŁŽŲ©Ł: Ā« ŁŁŽŁ†ŁŽŲ£ŁŽŁ‰ ŲØŁŲµŁŽŲÆŁ’Ų±ŁŁ‡Ł Ł†ŁŽŲ­Ł’ŁˆŁ‡ŁŽŲ§ Ā».

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiallahu ā€˜anhu; Bahwa Nabi Allah ļ·ŗ bersabda: “Dahulu, di antara umat sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Kemudian dia mencari orang yang paling berilmu di muka bumi ini, maka dia ditunjukkan kepada seorang pendeta (ahli ibadah). Lalu dia segera mendatanginya dan bertanya: ‘Sesungguhnya seseorang telah membunuh 99 orang, masihkah dia mempunyai kesempatan untuk bertaubat?’ ‘Tidak,’ jawab si pendeta. Mendengar jawaban demikian, dia pun membunuh pendeta tersebut sehingga genaplah orang yang dibunuhnya menjadi seratus.

Setelah itu, laki-laki tadi mencari lagi orang yang paling berilmu di muka bumi, hingga akhirnya dia ditunjukkan kepada seorang ‘alim (ulama). Lalu dia bertanya: ‘Sesungguhnya seseorang telah membunuh seratus orang, masihkah dia mempunyai kesempatan untuk bertaubat?’ Orang ‘alim itu menjawab: ‘Ya, masih. Siapakah yang akan dapat menghalangi dirinya untuk bertaubat? Berangkatlah ke tempat (negeri) ini dan itu, sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah ta’Ć¢la. Lantas beribadahlah bersama mereka, dan janganlah kembali lagi ke negerimu, sebab ia merupakan negeri yang buruk.’

Maka laki-laki itu pun berangkat (menuju ke negeri tersebut); hingga ketika berada di tengah perjalanan, dia menemui ajalnya. Kemudian, Malaikat rahmat dan Malaikat adzab berselisih pendapat mengenai (roh)nya. Malaikat rahmat menyatakan: ‘Dia datang dalam keadaan bertaubat, dan dengan hatinya dia pun bertolak menuju Allah ta’Ć¢la.’

Sedangkan Malaikat adzab menegaskan: ‘Sesungguhnya dia belum pernah berbuat kebaikan, sama sekali.’ Kemudian mereka didatangi Malaikat dalam wujud manusia, lantas mereka menjadikannya sebagai penengah di antara mereka.

Malaikat itu berkata: ‘Ukurlah jarak antara dua negeri (yang ditinggalkan dan yang dituju laki-laki) itu; dan ke negeri manakah dia lebih dekat, itulah yang menjadi bagian dari (penentu takdir)nya.’ Maka mereka melakukan pengukuran hingga mendapatkan hasilnya (bahwa dia) lebih dekat dengan negeri yang ditujunya. Karena itulah, dia (rohnya) diambil oleh Malaikat rahmat.” (Mutta ‘faq ‘alaih)

Dalam suatu riwayat dalam kitab ash-ShahĆ®h-ShahĆ®h al-Bukhari- disebutkan: “Ternyata dia lebih dekat sejengkal ke kampung yang baik itu, sehingga dia pun dianggap sebagai salah seorang penduduknya.”

Dalam riwayat lainnya, yang juga terdapat pada kitab ash-ShahĆ®h, disebutkan: “Maka Allah ta’Ć¢la memerintahkan kepada daerah (yang buruk) ini agar menjauh dan kepada daerah (yang baik) ini agar mendekat, kemudian Malaikat tadi berkata: ‘Ukurlah jarak antara kedua daerah itu.’ Ternyata mereka mendapatkan hasilnya (bahwa dia) lebih dekat satu jengkal dengan daerah yang baik itu, sehingga dia diberi ampunan.”

Di dalam riwayat lainnya disebutkan: “Maka dia berupaya sekuat tenaga berjalan dengan (bertumpu pada) dadanya untuk bisa mendekat kepada daerah yang baik.”

šŸ“ƒ| Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (VI/512) dan Muslim (no. 2766).

šŸ“ƒ| Kosa Kata Hadits

  • Ų±ŁŽŲ§Ł‡ŁŲØŁŒ : Seorang pendeta. Yakni ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Hal itu menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi setelah pengangkatan Isa ‘alaihissalam sebab kependetaan sebenarnya dibuat oleh para pengikut Nabi Allah tersebut, sebagaimana ditegaskan dalam surah Al-HadĆ®d.
  • Ł…ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲ­ŁŁˆŁ’Ł„Ł : Siapakah yang dapat menghalangi? Maksudnya, siapakah yang mampu menjadi penghalang dan pemisah.
  • Ł†ŁŽŲµŁŽŁŁŽ Ų§Ł„Ų·ŁŽŁ‘Ų±ŁŁŠŁ’Ł‚ŁŽ : Ketika berada di tengah perjalanan. Yaitu saat telah sampai setengah dari jarak tempuh perjalanannya.
  • Ų£ŁŽŲÆŁ’Ł†Ł‰ : Lebih dekat.
  • ŁŁŽŁ†ŁŽŲ£ŁŽŁ‰ ŲØŁŲµŁŽŲÆŁ’Ų±ŁŁ‡Ł : Maka dia berupaya sekuat tenaga berjalan dengan (bertumpu pada) dadanya. Maksudnya, laki-laki itu tetap bergerak dengan sekuat tenaga dan susah payah, meskipun beban Sakaratul Maut menimpanya.

šŸ“ƒ| Kandungan Hadits

  1. Hikmah Nabi ļ·ŗ dalam memberikan bimbingan dan/atau nasihat melalui perumpamaan. Hal ini disebabkan jiwa manusia cenderung meniru sesuatu yang semisal dengannya, yakni untuk mengeluarkan kotorannya.
  2. Diperbolehkan membicarakan perihal Bani Israil, karena di tengah-tengah mereka seringkali terjadi berbagai keajaiban. Tetapi jika ada Ahlul Kitab yang memberitahukan sesuatu kepada kita, maka kita tidak boleh membenarkan dan tidak pula mendustakannya.
  3. Di dalam jiwa manusia terdapat kebaikan mendasar (sesuai fitrah), sedangkan keburukan dan kejahatan adalah sesuatu yang dimasukkan ke dalamnya. Keberadaan diri seseorang untuk mengingatkannya mengindikasikan bahwa pada dirinya ada kesiapan untuk istiqamah menuju jalan petunjuk.
  4. Ilmu dengan sedikit ibadah lebih utama daripada banyak ibadah yang dilakukan dengan kebodohan (tanpa ilmu). Sebab pelaku ibadah yang bodoh mungkin saja keliru ketika hendak berbuat baik, sehingga dia pun binasa dan membinasakan, serta menjadi sesat dan menyesatkan. Dalam hal itu terdapat penjelasan bahwa seseorang yang menyerukan petunjuk kepada orang lain, atau mengajak mereka kepada Islam dan kebenaran, hendaklah mencari ilmu syariat terlebih dahulu; karena jika tidak demikian, niscaya mudharat yang dihasilkan akan lebih besar daripada manfaatnya.
  5. Kebodohan merupakan musuh diri sendiri. Jadi, dalam kisah di atas, minimnya pengetahuan si pendeta menjadi bumerang bagi dirinya. Seharusnya dia berhati-hati terhadap orang yang berani membunuh, apalagi pembunuhan sudah menjadi kebiasaannya, sehingga tidak mengarahkannya kepada hal yang bertolak belakang dengan apa-apa yang menjadi tujuan pembunuh tersebut. Di samping itu, hendaknya dia menggunakan kata-kata sindiran atau kiasan (dalam menjawab pertanyaannya), serta bersikap lemah lembut terhadapnya.
  6. Orang yang berilmu berjalan dengan cahaya kebenaran dan ilmu pengetahuan. Dengan begitu dia mampu memberi arahan kepada petunjuk, sampai akhirnya memperoleh manfaat bagi diri sendiri
    sekaligus bermanfaat bagi orang lain.
  7. Hendaknya orang yang berilmu dan orang yang berdakwah di jalan Allah menyampaikan kabar gembira dan tidak membuat orang-orang lari (dari Islam); serta tidak menjadikan orang-orang berputus asa dari rahmat Allah , padahal rahmat-Nya itu sungguh meliputi segala sesuatu.
  8. Pintu taubat senantiasa terbuka bagi segala dosa dan kesalahan, baik besar maupun kecil. Maka taubat yang dilakukan seseorang dengan sungguh-sungguh akan diterima di sisi Allah , meskipun dosanya begitu besar dan banyak. Tentu saja, selama dia tidak menyekutukan diri-Nya dengan sesuatu apa pun.
  9. Para Malaikat yang ditugaskan untuk mengurus anak cucu Adam (umat manusia) memiliki ijtihad yang berbeda-beda mengenai hak mereka terkait pada golongan manakah manusia itu dikelompokkan, kepada orang yang taat atau orang yang durhaka. Sungguh, mereka terus berselisih mengenai hal itu hingga Allah memutuskan hukum di antara mereka.
  10. Pengetahuan tentang kemampuan Malaikat untuk berubah wujud atau menjelma menjadi manusia (dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla).
  11. Disyariatkan pindah dari daerah yang menjadi tempat bermaksiat kepada Allah u ke daerah yang tidak menjadi tempat bermaksiat, atau minimal pindah ke daerah yang penduduknya tidak banyak berbuat maksiat.
  12. Orang yang bertaubat harus meninggalkan kebiasaannya dalam bermaksiat, mengubahnya secara keseluruhan, serta menyibukkan diri dengan hal-hal positif lainnya.
  13. Berteman dan bergaul dengan orang-orang yang berilmu, bertakwa, dan berbuat kebaikan dapat membantu seseorang dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah ü, juga dapat mematahkan godaan syaitan.
  14. Kemampuan menahan beban dan kesulitan dalam upaya bergabung dengan orang-orang shalih merupakan bukti yang menunjukkan kesungguhan bertaubat kepada Allah Ta’ala.
  15. Siapa saja yang berhijrah kepada Allah maka pahalanya berada di sisi-Nya, dan Dia tidak akan mengabaikan sedikit pun amalnya.
  16. Diperbolehkan bagi kita mengangkat seseorang (penengah) untuk memutuskan perkara yang diperselisihkan. Hal ini sebagaimana Allah mengutus Malaikat berwujud manusia untuk menengahi dua Malaikat yang berselisih.
  17. Jika terdapat dalil-dalil dan hal-hal yang bertentangan, dan berbagai keterangan yang bertolak belakang dalam pandangan hakim, maka hendaklah dia mengikutsertakan bukti-bukti lain sebagai penguat.
  18. Keutamaan orang shalih atas Malaikat; mengingat bahwa Allah menjadikan Malaikat dalam bentuk manusia untuk memberikan keputusan dalam hadits ini, yaitu guna memberikan ketetapan di antara Malaikat-Malaikat yang berselisih pendapat.

Catatan Penting

Para ulama berbeda pendapat mengenai sah atau tidaknya taubat orang yang melakukan pembunuhan dengan sengaja, dan pendapat yang benar adalah sah. Hadits Abu Sa’id di atas sebagai bukti penegasnya. Meskipun hukum yang terkandung dalam hadits tersebut merupakan syariat bagi umat sebelum kita, kalau masih terdapat silang pendapat dalam menggunakan syariat mereka sebagai dalil (argumentasi), dan meski kita tidak berdalil dengannya, semua itu bukanlah hal yang paling diperselisihkan. Sebab, yang jadi perbedaan pendapat ialah jika syariat mereka tidak mendapat legitimasi dan pembenaran dalam syariat kita.

Namun jika syariat mereka itu telah ditetapkan dan disepakati dalam syariat kita, maka tanpa diragukan lagi hal itu dinilai termasuk syariat bagi kita.

Masalah dalam hadits di atas telah disepakati oleh syariat kita, yaitu sebagaimana termaktub dalam Al-Quran. Maksudnya ialah firman Allah berikut ini:

ŁˆŁŽŲ§ŁŁ„ŁŽŁ‘Ų°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲÆŁ’Ų¹ŁŁˆŁ†ŁŽ Ł…ŁŽŲ¹ŁŽ اللهِ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‡ŁŽŲ§ Ų”ŁŽŲ§Ų®ŁŽŲ±ŁŽ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŁ‚Ł’ŲŖŁŁ„ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŁŁ’Ų³ŁŽ Ų§Ł„ŁŽŁ‘ŲŖŁŁ‰ Ų­ŁŽŲ±ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‘Ł‡Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‘Ų§ŲØŁŲ§ŁŽŁ„Ł’Ų­ŁŽŁ‚ŁŁ‘ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ²Ł’Ł†ŁŁˆŁ† ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ† ŁŠŁŽŁŁ’Ų¹ŁŽŁ„Ł’ Ų°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ ŁŠŁŽŁ„Ł’Ł‚ŁŽ Ų£ŁŽŲ«ŁŽŲ§Ł…Ł‹Ų§ ŁŠŁŲ¶ŁŽŲ¹ŁŽŁŁ’ Ł„ŁŽŁ‡Ł Ų§ŁŁ„Ł’Ų¹ŁŽŲ°ŁŽŲ§ŲØŁ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł‚ŁŁŠŁ…ŁŽŲ©Ł ŁˆŁŽŁŠŁŽŲ®Ł’Ł„ŁŲÆŁ’ ŁŁŁŠŁ‡ŁŲŒ Ł…ŁŁ‡ŁŽŲ§Ł†Ł‹Ų§ (٦) Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‘Ų§ Ł…ŁŽŁ† ŲŖŁŽŲ§ŲØŁŽ ŁˆŁŽŲ”ŁŽŲ§Ł…ŁŽŁ†ŁŽ ŁˆŁŽŲ¹ŁŽŁ…ŁŁ„ŁŽ Ų¹ŁŽŁ…ŁŽŁ„Ł‹Ų§ ŲµŁŽŁ„ŁŲ­Ł‹Ų§ ŁŁŽŲ£ŁŁˆŁ’Ł„ŁŽŁ…ŁŁƒŁŽ ŁŠŁŲØŲÆŁŁ‘Ł„Ł Ų§Ł„Ł„Ł‘Ł‡Ł Ų³ŁŽŁŠŁŲ¦ŁŽŲ§ŲŖŁŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†ŁŽŲŖ ŁˆŁŽŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‘Ł‡Ł ŲŗŁŽŁŁŁˆŲ±Ų§ Ų±ŁŽŲ­ŁŁŠŁ…Ł‹Ų§ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ† ŲŖŁŽŲ§ŲØŁŽ ŁˆŁŽŲ¹ŁŽŁ…ŁŁ„ŁŽ ŲµŁŽŁ„ŁŲ­Ł‹Ų§ ŁŁŽŲ„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł ŁŠŁŽŲŖŁˆŲØŁ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ اللّهِ Ł…ŁŽŲŖŁŽŲ§ŲØŁ‹Ų§

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat, (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan barangsiapa bertaubat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-FurqĆ¢n [25]: 68-71)

Ayat tersebut juga dijadikan dalil atas diringankannya beban berat yang membelenggu umat ini dan belenggu yang pernah menimpa umat-umat terdahulu. Jika kepada mereka saja disyariatkan penerimaan
taubat bagi orang yang melakukan pembunuhan secara disengaja, maka kita lebih pantas dan lebih berhak mendapatkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi lagi Maha Mengetahui.


Apa Tanggapan antum mengenai artikel ini?

Artikel ini berisi 12 hadits mengenai Taubat dalam Bab-2 Kitab Riyadhus Shalihin – Imam An-Nawawi Rahimahullah.

User Rating: Be the first one !
Previous page 1 2 3 4Next page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button