Riyadhus Shalihin Bab-2: Taubat

š | Hadits #16: Rahmat Allah ļ·» Meliputi segala Sesuatu
ٔ٦- ŁŲ¹Ł Ų£ŲØŁ Ł ŁŁŲ³Ł Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁ ŁŁŁŁŲ³Ł Ų§ŁŲ£ŁŲ“ŁŲ¹ŁŲ±ŁŁŁŁ Ų Ų±Ų¶ŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų Ų¹Ł Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŲ³ŁŁŁŁŁ ŁŲ§Ł: Ā« Ų„ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ ŁŲØŁŲ³ŁŲ·Ł ŁŲÆŁŁ ŲØŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŲØ Ł ŁŲ³ŁŲ”Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ§Ų±Ł ŁŁŁŲØŁŲ³ŁŲ·Ł ŁŁŲÆŁŁ ŲØŲ§ŁŁŁŁŁŁŲ§Ų±Ł ŁŁŁŲŖŁŁŲØŁ Ł ŁŲ³ŁŁŲ”Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŲŲŖŁŁŁ ŲŖŁŲ·ŁŁŁŲ¹Ł Ų§ŁŲ“ŁŁŁ ŁŲ³Ł Ł ŁŁ Ł ŲŗŁŲ±ŁŲØŁŁŲ§ Ā» Ų±ŁŲ§Ł Ł Ų³ŁŁ
16. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asyāari radhiallahu āanhu, dari Nabi shalallahu āalaihi wasallam, sabdanya: Sesungguhnya Allah Taāala itu membeberkan tanganNya ā yakni kerahmatanNya -di waktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu siang dan juga membeberkan tanganNya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu malam. Demikian ini terus menerus sampai terbitnya matahari dari arah barat ā yakni di saat hampir tibanya hari kiamat, karena setelah ini terjadi, tidak diterima lagi taubatnya seseorang.ā (Riwayat Muslim)
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (no. 2759).
š| Kandungan Hadits
- Penetapan sifat memiliki tangan (ŁŁŲÆŁ) bagi Allah ļ·». Dia mempunyai dua tangan yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya, dan hanya Dia semata yang mengetahui sifat dan bentuknya. Oleh karena itu, kita harus mengimaninya dan tidak perlu menanyakan bagaimana sifatnya. Demikianlah sebagaimana mazhab para ulama Salafush Shalih Adapun orang yang berpendapat bahwa “tangan” di situ merupakan kinayah (kiasan) dari “kekuasaan dan keutamaan”, maka sungguh dia telah menyalahi akal dan nash (al-Qur’an dan as-Sunnah).
- Rahmat Allah ļ·» meliputi segala sesuatu.
- Di antara syarat diterimanya taubat adalah dilakukan pada waktu yang masih memungkinkan, yaitu sebelum matahari terbit dari barat, dan fenomena ini termasuk salah satu tanda Kiamat besar.
*****
š | Hadits #17: Taubat diterima sebelum sebelum matahari terbit dari barat
ٔ٧- ŁŲ¹ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ Ł
ŁŁŲ³Ł Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³Ł Ų§ŁŲ£ŁŲ“ŁŲ¹ŁŲ±ŁŁ Ų±ŁŲ¶ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ļ·ŗ ŁŁŲ§ŁŁ : Ā« Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲŖŁŲ¹ŁŲ§ŁŁŁ ŁŁŲØŁŲ³ŁŲ·Ł ŁŁŲÆŁŁŁ ŲØŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁŁŲØŁ Ł
ŁŲ³ŁŁŲ”Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ§Ų±Ł Ų ŁŁŁŁŲØŁŲ³ŁŲ·Ł ŁŁŲÆŁŁŁ ŲØŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŲ§Ų±Ł ŁŁŁŲŖŁŁŲØŁ Ł
ŁŲ³ŁŁŲ”Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŲŁŲŖŁŁŁ ŲŖŁŲ·ŁŁŁŲ¹Ł Ų§ŁŲ“ŁŁŁ
ŁŲ³Ł Ł
ŁŁŁ Ł
ŁŲŗŁŲ±ŁŲØŁŁŁŲ§ Ā» Ų±ŁŁŁŲ§ŁŁ Ł
Ų³ŁŁ
.
17. Dari Abu Hurairah radhiallahu āanhu, ia berkata; Rasulullah ļ·ŗ pernah bersabda: “Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, maka Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim)
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (no. 2703).
š| Kosa Kata Hadits
- ŲŖŁŲ§ŲØŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ : Allah menerima taubatnya.
š| Kandungan Hadits
Allah menerima taubat para hamba-Nya dan memaafkan semua dosa (yang pernah diperbuat olehnya), jika taubat itu dilaksanakan sebelum batas waktu yang ditentukan, di antaranya yaitu sebelum matahari terbit dari barat. Firman-Nya:
ŁŁŁŁŁ
Ł ŁŁŲ£ŁŲŖŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŲ¶Ł Ų§Ł°ŁŁ°ŲŖŁ Ų±ŁŲØŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŲ¹Ł ŁŁŁŁŲ³ŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁ
ŁŲ§ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁ
Ł ŲŖŁŁŁŁŁ Ų§Ł°Ł
ŁŁŁŲŖŁ Ł
ŁŁŁ ŁŁŲØŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŲØŁŲŖŁ ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ
ŁŲ§ŁŁŁŁŲ§ Ų®ŁŁŁŲ±ŁŲ§Ū
” ⦠Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu ā¦. “ (QS. Al-An’Ć¢m:158)
Yaitu saat matahari sudah terbit dari arah barat. Jika manusia melihat matahari terbit dari barat, saat itulah mereka akan beriman secara keseluruhan. Namun hari itu iman seseorang tidak lagi bermanfaat. Demikian sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu āanhu dari riwayat al-Bukhari (VIII/297-Fathul BĆ¢ri).
*****
š | Hadits #18: Taubat Harus Dilakukan Sesegera Mungkin
ٔ٨- ŁŲ¹ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲŁŁ
ŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŁ
ŁŲ±Ł ŲØŁŁŁ Ų§ŁŲ®ŁŲ·ŁŁŲ§ŲØŁ Ų±ŁŲ¶ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁ
ŁŲ§ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ļ·ŗ ŁŁŲ§ŁŁ : Ā« Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŲ²ŁŁ ŁŁŲ¬ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲØŁŁŁ ŲŖŁŁŁŲØŁŲ©Ł Ų§ŁŲ¹ŁŲØŁŲÆŁ Ł
ŁŲ§ ŁŁŁ
Ł ŁŁŲŗŁŲ±ŁŲŗŁŲ±Ł Ā» Ų±ŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŲŖŲ±Ł
Ų°Ł ŁŁŁŁŲ§ŁŁ : ŲŁŲÆŁŁŁŲ«Ł ŲŁŲ³ŁŁŁ
18. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin al-Khathab radhiallahu āanhu, dari Nabi ļ·ŗ, (bahwa) beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat setiap hamba sebelum nyawanya sampai di kerongkongan (dalam kondisi sekarat).”
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, lantas dia menyatakan: “Hadits ini (derajatnya) hasan.”
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini shahih dengan beberapa syahid (riwayat penguat)-nya. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (no. 3537), Ibnu Majah (no. 4252), Ahmad (no. 6160, 6408), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 1306), Ibnu Hibban (no. 2449), dan Imam al-Hakim (IV/257). Diriwayatkan pula melalui jalan Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban dari ayahnya, dari Mak-hul, dari Jubair bin Nufair, dari Abdullah bin Umar uƄl. Dan dalam riwayat Imam Ibnu Majah tercantum nama Abdullah bin Amr (bukan Abdullah bin Umar bin al-Khathab), akan tetapi ini merupakan wahm (kesalahan).
Saya berkomentar: “Rijal (para perawi) hadits ini tsiqah (tepercaya) selain Abdurrahman bin Tsabit. Sebab dia suka berbuat kekeliruan walau berstatus shaduq (perawi yang jujur), sehingga haditsnya dinilai hasan.
Hadits ini juga mempunyai syawahid (riwayat-riwayat penguat atau yang mendukung riwayat di atas) dari Abu Dzar dan Basyir bin Ka’ab. Oleh sebab itulah, Imam an-Nawawi menshahihkannya di dalam kitab Syarh ShahĆ®h Muslim (XVII/25).”
š| Kosa Kata Hadits
- Ł ŁŲ§ŁŁŁ Ł ŁŁŲŗŁŲ±ŁŲŗŁŲ±Ł : Sebelum nyawanya sampai di kerongkongan. Yakni pada saat atau sewaktu naza’ (sakaratul maut). Perumpamaan hal ini seperti air yang dimasukkan ke mulut orang yang sakit parah, maka dia mengembalikan air itu ke pangkal kerongkongan karena tidak sanggup menelannya.
š| Kandungan Hadits
- Taubat tidak akan diterima apabila ia dilakukan ketika nyawa sudah sampai di kerongkongan atau pada saat naza’. Allah berfirman:
Ų„ŁŁŁŁŁ ŁŲ§ ٱŁŲŖŁŁŁŁŲØŁŲ©Ł Ų¹ŁŁŁŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁŁŁŁ ٱŁŲ³ŁŁŁŁŲ”Ł ŲØŁŲ¬ŁŁŁŁ°ŁŁŲ©Ł Ų«ŁŁ ŁŁ ŁŁŲŖŁŁŲØŁŁŁŁ Ł ŁŁ ŁŁŲ±ŁŁŲØŁ ŁŁŲ£ŁŁŪŁŁŁ°ŁŲ¦ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŲØŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł Ū ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ ŁŲ§ ŲŁŁŁŁŁ ŁŲ§
“Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertaubat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. An-NisĆ¢’ [4]: 17)
Dan setiap orang yang bertaubat sebelum kematian menjemput, maka berarti ia telah bertaubat dalam waktu yang dekat atau segera bertaubat. Kemudian, Allah berfirman:
ŁŁŁŁŁŁŲ³ŁŲŖŁ ٱŁŲŖŁŁŁŁŲØŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁŁŁŁ ٱŁŲ³ŁŁŁŁŁŁŁŁŲ§ŲŖŁ ŲŁŲŖŁŁŁŁ°Ł Ų„ŁŲ°ŁŲ§ ŲŁŲ¶ŁŲ±Ł Ų£ŁŲŁŲÆŁŁŁŁ Ł Ł±ŁŁŁ ŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų„ŁŁŁŁŁ ŲŖŁŲØŁŲŖŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁ°ŁŁ ŁŁŁŁŲ§ Ł±ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŲ§Ų±Ł Ū Ų£ŁŁŪŁŁŁ°ŁŲ¦ŁŁŁ Ų£ŁŲ¹ŁŲŖŁŲÆŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŲ°ŁŲ§ŲØŁŲ§ Ų£ŁŁŁŁŁ ŁŲ§
“Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan: ‘Saya benar-benar bertaubat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima taubat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih.” (QS. An-NisĆ¢’ [4]: 18)
Karena, yang dimaksud dengan “yang jauh” adalah kematian. Malik bin ar-Raib al menangisi diri sendiri seraya menyatakan:
ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŲŖŁŲØŁŲ¹ŁŲÆŁ ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲÆŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ * ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŲØŁŲ¹ŁŲÆŁ Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ł ŁŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ§
mereka berseru: Jangan menjauh (jangan mati), namun mereka berusaha membunuhku
di manakah tempat yang jauh itu, selain tempatku (kematian)
Oleh karena itu, Allah tabaraka wa ta’ ala tidak menerima taubat Fir’aun, yaitu ketika dia beriman saat ditenggelamkan ke dalam laut:
ŁŁŲ¬ŁŁŁ°ŁŁŲ²ŁŁŁŲ§ ŲØŁŲØŁŁŁŁŁ Ų„ŁŲ³ŁŲ±ŁŁ°ŁŲ”ŁŁŁŁ Ł±ŁŁŲØŁŲŁŲ±Ł ŁŁŲ£ŁŲŖŁŲØŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ±ŁŲ¹ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŲÆŁŁŁŪ„ ŲØŁŲŗŁŁŁŪŲ§ ŁŁŲ¹ŁŲÆŁŁŁŲ§ Ū ŲŁŲŖŁŁŁŁ°Ł Ų„ŁŲ°ŁŲ§Ł Ų£ŁŲÆŁŲ±ŁŁŁŁŁ Ł±ŁŁŲŗŁŲ±ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų”ŁŲ§Ł ŁŁŲŖŁ Ų£ŁŁŁŁŁŁŪ„ ŁŁŲ§Ł Ų„ŁŁŁŁŁ°ŁŁ Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ł±ŁŁŁŲ°ŁŁŁ Ų”ŁŲ§Ł ŁŁŁŲŖŁ ŲØŁŁŁŪ¦ ŲØŁŁŁŁŁŲ§Ū Ų„ŁŲ³ŁŲ±ŁŁ°ŁŲ”ŁŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŁŁŲ§Ū Ł ŁŁŁ Ł±ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁŁŁ ŁŁŁŁ Ų”ŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŁŁ°ŁŁ ŁŁŁŁŲÆŁ Ų¹ŁŲµŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲØŁŁŁ ŁŁŁŁŁŲŖŁ Ł ŁŁŁ Ł±ŁŁŁ ŁŁŁŲ³ŁŲÆŁŁŁŁ .ŁŁŁ±ŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁ ŲØŁŲØŁŲÆŁŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŁ Ų®ŁŁŁŁŁŁŁ Ų”ŁŲ§ŁŁŲ©ŁŪ Ū ŁŁŲ„ŁŁŁŁ ŁŁŲ«ŁŁŲ±ŁŪŲ§ Ł ŁŁŁŁ Ł±ŁŁŁŁŲ§Ų³Ł Ų¹ŁŁŁ Ų”ŁŲ§ŁŁŁŁ°ŲŖŁŁŁŲ§ ŁŁŲŗŁŁŁ°ŁŁŁŁŁŁŁ
“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata: ‘Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri).’ Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”(QS Yunus [10]: 90-92).
2. Di antara syarat bertaubat adalah harus dilakukan sesegera mungkin, yakni sebelum berada dalam keadaan yang tidak memungkinkan lagi untuk bertahan hidup.
*****
š | Hadits #19: Anjuran Menuntut Ilmu, Keluasan Rahmat Allah dan Dia Menerima Taubat HambaNya
ٔ٩- ŁŁŲ¹ŁŁŁ Ų²ŁŲ±ŁŁ ŲØŁŁŁ ŲŁŲØŁŁŁŲ“Ł ŁŁŲ§ŁŁ: Ų£ŁŲŖŁŁŁŲŖŁ ŲµŁŁŁŁŁŲ§ŁŁ ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲ³ŁŁŲ§ŁŁ Ų±ŁŲ¶ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲ³ŁŲ£ŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ³ŁŲŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ®ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ: Ł ŁŲ§ Ų¬ŁŲ§Ų”Ł ŲØŁŁŁ ŁŁŲ§ Ų²ŁŲ±ŁŁŲ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ: Ų§ŁŲØŁŲŖŁŲŗŁŲ§Ų”Ł Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ ŁŲ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ: Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŲ¦ŁŁŁŲ©Ł ŲŖŁŲ¶ŁŲ¹Ł Ų£ŁŲ¬ŁŁŁŲŁŲŖŁŁŁŲ§ ŁŁŲ·ŁŲ§ŁŁŲØŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł Ų±ŁŲ¶ŁŲ§ ŲØŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲ·ŁŁŁŲØŁŲ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ: Ų„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲÆŁ ŲŁŁŁŁ ŁŁŁ ŲµŁŲÆŁŲ±ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ³ŁŲŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ®ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŲÆŁ Ų§ŁŁŲŗŁŲ§Ų¦ŁŲ·Ł ŁŁŲ§ŁŁŲØŁŁŁŁŁŲ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ Ų§Ł ŁŲ±ŁŲ£Ł Ł ŁŁŁ Ų£ŁŲµŁŲŁŲ§ŲØŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ ŁŲ ŁŁŲ¬ŁŲ¦ŁŲŖŁ Ų£ŁŲ³ŁŲ£ŁŁŁŁŁ: ŁŁŁŁ Ų³ŁŁ ŁŲ¹ŁŲŖŁŁŁ ŁŁŲ°ŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁ Ų°ŁŁŁŁŁ Ų“ŁŁŁŲ¦ŁŲ§Ų ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ¹ŁŁ Ł ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ£ŁŁ ŁŲ±ŁŁŁŲ§ Ų„ŁŲ°ŁŲ§ ŁŁŁŁŁŲ§ Ų³ŁŁŁŲ±ŁŲ§ Ų£ŁŁŁ Ł ŁŲ³ŁŲ§ŁŁŲ±ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲ²ŁŲ¹Ł Ų®ŁŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ§ Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«ŁŲ©Ł Ų£ŁŁŁŁŲ§Ł Ł ŁŁŁŁŁŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų„ŁŲ§ŁŁ Ł ŁŁŁ Ų¬ŁŁŁŲ§ŲØŁŲ©ŁŲ ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ ŲŗŁŲ§Ų¦ŁŲ·Ł ŁŁŲØŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ Ł. ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ: ŁŁŁŁ Ų³ŁŁ ŁŲ¹ŁŲŖŁŁŁ ŁŁŲ°Ł ŁŁŲ±Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ Ų“ŁŁŁŲ¦ŁŲ§Ų ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ¹ŁŁ Ł ŁŁŁŁŲ§ Ł ŁŲ¹Ł Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų³ŁŁŁŲ±ŁŲ ŁŁŲØŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲÆŁŁŁ Ų„ŁŲ°Ł ŁŁŲ§ŲÆŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŲ¹ŁŲ±ŁŲ§ŲØŁŁŁŁ ŲØŁŲµŁŁŁŲŖŁ ŁŁŁŁ Ų¬ŁŁŁŁŁŲ±ŁŁŁŁ: ŁŁŲ§ Ł ŁŲŁŁ ŁŁŲÆŁŲ ŁŁŲ£ŁŲ¬ŁŲ§ŲØŁŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲŁŁŁŲ§ Ł ŁŁŁ ŲµŁŁŁŲŖŁŁŁ: Ā« ŁŁŲ§Ų¤ŁŁ Ł Ā» ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŁŁ: ŁŁŁŁŲŁŁŁ Ų§ŲŗŁŲ¶ŁŲ¶Ł Ł ŁŁŁ ŲµŁŁŁŲŖŁŁŁ ŁŁŲ„ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŲÆŁ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ°ŁŲ§Ų ŁŁŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ŁŁŁŁ ŁŁŲ§ Ų£ŁŲŗŁŲ¶ŁŲ¶Ł: ŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŲ£ŁŲ¹ŁŲ±ŁŲ§ŲØŁŁŁŁ: Ų§ŁŁŁ ŁŲ±ŁŲ”Ł ŁŁŲŁŲØŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲŁŁŁ ŲØŁŁŁŁ ŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ł: Ā« Ų§ŁŁŁ ŁŲ±ŁŲ”Ł Ł ŁŲ¹Ł Ł ŁŁŁ Ų£ŁŲŁŲØŁŁ ŁŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ§Ł ŁŲ©Ł Ā» ŁŁŁ ŁŲ§ Ų²ŁŲ§ŁŁ ŁŁŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ ŲŁŲŖŁŁŁ Ų°ŁŁŁŲ±Ł ŲØŁŲ§ŲØŁŲ§ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲŗŁŲ±ŁŲØŁ Ł ŁŲ³ŁŁŲ±ŁŲ©Ł Ų¹ŁŲ±ŁŲ¶ŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŲ±Ł Ų§ŁŲ±ŁŁŲ§ŁŁŲØŁ ŁŁŁ Ų¹ŁŲ±ŁŲ¶ŁŁŁ Ų£ŁŲ±ŁŲØŁŲ¹ŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ Ų³ŁŲØŁŲ¹ŁŁŁŁ Ų¹ŁŲ§Ł ŁŲ§. ŁŁŲ§ŁŁ Ų³ŁŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŲŁŲÆŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŁŁŲ§Ų©Ł: ŁŁŲØŁŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŲ§Ł Ł Ų®ŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲŖŁŲ¹ŁŲ§ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ł Ų®ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŁŁ ŁŲ§ŁŁŲ§ŲŖŁ ŁŁŲ§ŁŁŲ£ŁŲ±ŁŲ¶Ł Ł ŁŁŁŲŖŁŁŲŁŲ§ ŁŁŁŲŖŁŁŁŁŲØŁŲ©Ł ŁŁŲ§ ŁŁŲŗŁŁŁŁŁ ŲŁŲŖŁŁŁ ŲŖŁŲ·ŁŁŁŲ¹Ł Ų§ŁŲ“ŁŁŁ ŁŲ³Ł Ł ŁŁŁŁŁ Ā» Ų±ŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŁŲ±ŁŁ ŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŲŗŁŁŁŲ±ŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ: ŲŁŲÆŁŁŁŲ«Ł ŲŁŲ³ŁŁŁ ŲµŁŲŁŁŁŲŁ.
19. Dari Zirr bin Hubaisy radhiallahu āanhu, ia bercerita; Aku mendatangi Shafwan bin Assal radhiallahu āanhu untuk menanyakan perihal mengusap khuff. Dan tatkala melihatku, dia bertanya: “Untuk apa kamu kemari, wahai Zirr?” Aku menjawab: “Untuk menuntut ilmu.” Maka dia berkata: “Sesungguhnya Malaikat-Malaikat meletakkan sayap mereka bagi penuntut ilmu, karena ridha dengan apa yang dicarinya.” Aku lantas bertanya: “Sesungguhnya masih terdapat kejanggalan dalam hatiku perihal mengusap khuff setelah buang air besar maupun buang air kecil. Karena engkau salah seorang Sahabat Nabi ļ·ŗ, maka aku datang untuk bertanya kepadamu: ‘Pernahkah engkau mendengar beliau menyebutkan sesuatu mengenainya?’” Lalu dia menjawab: “Ya. Beliau pernah memerintahkan kepada kami ketika dalam perjalanan-dalam keadaan musafir-agar tidak melepaskan khuff kami selama tiga hari tiga malam kecuali karena janabah (kondisi junub); tetapi jika hanya karena buang air besar, buang air kecil, atau tidur maka khuff itu tidak perlu dilepas.”
Aku bertanya lagi: “Pernahkah engkau mendengar beliau menyebutkan sesuatu mengenai kecintaan?” Kemudian dia (Shafwan bin Assal) pun menjawabnya: “Ya. Kami pernah bersama Rasulullah di dalam suatu
perjalanan. Ketika kami sedang bersama beliau, tiba-tiba seorang Badui berseru kepada beliau dengan suara yang amat lantang lagi keras: ‘Hai Muhammad!’ Maka Rasulullah menjawab dengan suara sekeras suaranya: ‘Silakan!’ Lalu kukatakan kepada orang Badui itu: ‘Celaka kamu! Rendahkanlah suaramu, karena kamu sedang bersama Nabi ļ·ŗ. Kamu dilarang melakukan demikian.’ Orang Badui itu lantas berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan merendahkan suaraku.’
Lebih lanjut, orang Badui itu bertanya: ‘(Bagaimana dengan) seseorang yang mencintai suatu kaum, namun dia belum pernah dapat beramal sesempurna amalan mereka?’ Nabi pun bersabda: ‘Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya pada hari Kiamat.’ Setelah itu, beliau terus menceritakan (berbagai hal) kepada kami. Hingga beliau menyebutkan salah satu pintu yang berada di sebelah barat, dan lalu dijelaskan kepada kami bahwa jarak lebar pintu itu dapat ditempuh -atau seorang pengendara bisa menempuh jarak lebar pintu tersebut- selama empat puluh atau tujuh puluh tahun.”
Sufyan, salah seorang perawi hadits ini, mengatakan: “(Pintu itu berada) di arah Syam. Allah ta’Ć¢la menciptakannya bersamaan dengan hari Dia menciptakan langit dan bumi dalam kondisi terbuka untuk menerima taubat, dan (taubat) tidak akan ditutup hingga matahari terbit dari arah pintu itu.”
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan perawi lainnya. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini shahih karena akumulasi beberapa jalur periwayatannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (no. 3535, 3536), Ibnu Majah (no. 4070), Imam Ahmad (IV/239-240, 241), Imam ath-Thayalisi (2767-Minhatul Ma’bĆ»d), al-Humaidi di dalam Musnad-nya (no. 881), Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (no. 793, 795), Imam Ibnu Hibban (186-al-Mawarid), al-Thabrani dalam al-KabĆ®r (7352, 7353, 7359-7365, 7388), Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (VII/308), Ibnu Khuzaimah (no. 193), Imam al-Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah (no. 1315) dan Ma’Ć¢limat TanzĆ®l, (XI/144), Ibnu Jarir ath-Thabari dalam JĆ¢mi’ul BayĆ¢n (VIII/72), al-Baihaqi (I/276), dan Ibnu Adi dalam al-KĆ¢mil (V/1806). Semuanya diriwayatkan melalui jalur Ashim bin Abin Najud, dari Zirr bin Hubaisy, dari Shafwan bin Assal.
Sanad riwayat tersebut adalah hasan. Rijal (perawi-perawi)-nya tsiqah, kecuali Ashim. Meskipun Ashim seorang ‘alim (ahli) dalam ilmu al-Qur’an, namun hadits yang diriwayatkannya hanya sampai kepada
derajat hasan. Namun riwayat Ashim diperkuat oleh riwayat Zubaid al-Yami yang terdapat dalam kitab Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari (VIII/72).
Zubaid yang dimaksud adalah Ibnul Harits al-Yami, perawi yang tsiqah, mantap hafalannya, dan ‘abid (seorang ahli ibadah). Oleh karena itulah, hadits derajat tersebut menjadi shahih. Segala puji dan sanjungan hanya milik Allah atas Islam dan as-Sunnah.”
š| Kosa Kata Hadits
- Ł ŁŲ§Ų¬Ų§Ų”Ł ŲØŁŁŁ : Untuk apa kamu kemari. Maksudnya ialah apakah yang mendorong kamu (Zirr bin Hubaisy) datang menemui aku (yakni Shafwan bin Assal).
- Ų„ŲØŁŲŖŁŲŗŁŲ§Ų”Ł Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł : Untuk menuntut ilmu.
- ŲŖŁŲ¶ŁŲ¹Ł Ų£ŁŲ¬ŁŁŁŲŁŲŖŁŁŁŲ§ : Malaikat-Malaikat meletakkan sayap mereka. Setiap Malaikat itu menahan sayapnya untuk tidak terbang. Mereka akan tetap diam dan tenang sebagai penghormatan bagi penuntut ilmu, dan karena mereka menyukai apa yang dilakukannya.
- ŲŁŁŁŁ ŁŁ ŲµŁŲÆŲ±ŁŁ : Ada keraguan dalam hatiku. Yaitu bergejolak dan muncul keraguan di dalam diriku mengenai suatu hal.
- Ų§ŁŁŲŗŁŲ§Ų¦ŁŲ·Ł : Buang air besar. Arti asalnya adalah tempat yang rendah di permukaan tanah. Namun, kata ini juga digunakan untuk sesuatu yang keluar dari dubur manusia.
- Ų³ŁŁŁŲ±Ł : Ketika dalam perjalanan. Kata ini adalah jamak dari kata jl, yang berarti musafir atau yang sedang bepergian.
- Ų®ŁŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ§ : Khuff kami. Kata: Ų®ŁŁŁŲ§ŁŁ ini adalah jamak dari kata Ų®ŁŁ (khuff) yaitu sesuatu yang dipakai manusia sebagai alas kaki, seperti sandal.
- Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŲ§ŲØŁŲ©Ł : Janabah. Menurut bahasa, janabah berarti jauh. Sedangkan menurut istilah syariat, janabah berarti sesuatu yang mengharuskan seseorang mandi baik dikarenakan hubungan badan, keluar mani, maupun mimpi basah. Disebut demikian karena dalam kondisi junub itu seseorang menjadi jauh dari ibadah yang biasa dikerjakannya.
- ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ ŲŗŁŲ§Ų¦ŁŲ·Ł : Tetapi jika hanya karena buang air besar. Artinya Nabi menyuruh kami (para Sahabat), jika sedang dalam perjalanan, melepaskan khuff ketika mandi junub selama masa yang ditentukan (tiga hari tiga malam). Akan tetapi, kami tidak perlu melepaskannya ketika buang air besar atau buang air kecil atau tidur.
- Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ : Kecintaan.
- Ų£ŁŲŗŁŲ±ŁŲØŁŁŁ : Seorang Badui.
- Ų¬ŁŁŁŁŁŲ±ŁŁŁŁ : Dengan suara lantang lagi keras.
- ŁŁŲŁŁŁŲ§ Ł ŁŁŁ ŲµŁŁŁŲŖŁŁŁ : Dengan suara yang sekeras suaranya.
- ŁŁŲ§Ų¤Ł Ł : Silakan.
- ŁŁŁŁŲŁŁŁ : Celakalah kamu! Termasuk kata kecaman (yakni karena dorongan kasih sayang, kasihan, dan prihatin) terhadap para pelaku keburukan yang sepatutnya tidak dia lakukan.
- Ų£ŁŲŗŁŲ¶ŁŲ¶Ł Ł ŁŁŁ ŲµŁŁŁŲŖŁŁŁ : Rendahkanlah suaramu.
- ŁŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲŁŁŁ ŲØŁŁŁŁ Ł : Dia belum pernah dapat beramal sesempurna amalan mereka. Yakni mereka belum berbuat seperti amal kaum itu dari segi kesempurnaan.
š| Kandungan Hadits
- Anjuran untuk menuntut ilmu.
- Perintah kepada mukallaf agar bertanya kepada orang berilmu (ulama) terkait masalah agama yang belum dipahaminya, sebagaimana yang ditegaskan dalam firman Allah :
.. ŁŁŲŖŲ“ŁŁŁŁŲ§Ł Ų£ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ°ŁŁŁŁŲ±Ł Ų„ŁŁ ŁŁŲŖŁŁŲŖŁŁ Ł ŁŁŲ§ ŲŖŁŲ¹ŁŁŁŁ ŁŁŁŁ
” ⦠maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 43; Al-AnbiyĆ¢’ [21]: 7).
Penuntut ilmu harus menanyakan kepada seorang yang berilmu dalil dari jawaban pertanyaannya baik berupa nash (al-Qur’an dan as-Sunnah), istidlal (sisi argumentasi dari suatu nash), ataupun ijtihad (pendapat pribadinya). Orang yang berilmu pun tidak boleh merasa keberatan terhadap pertanyaan tersebut, sebab penyertaan dalil dalam fatwa merupakan tanda kejujuran dan tanda keikhlasan. Selain itu, hal ini sesuai dengan firman Allah:
ā¦ ŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŲŖŁŁŲ§Ł ŲØŁŲ±ŁŁŁŁŁŁŁ Ł Ų„ŁŁ ŁŁŁŲŖŁŁ Ł ŲµŁŲÆŁŁŁŁŁ
.. Katakanlah: ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.'” (QS. Al-Baqarah [2]: 111)
- Diperbolehkan mengusap khuff. Masa berlakunya adalah tiga hari tiga malam bagi musafir, sedangkan sehari semalam bagi orang yang mukim (tidak sedang dalam perjalanan). Pada dasarnya, kaus kaki dan sepatu berhukum sama dengan khuff. Hukum-hukum perihal mengusap khuff ini sangat jelas tercantum dalam kitab-kitab fiqih. Syaikh Jamaluddin al-Qasimi Rahimahullah mengkhususkan pembahasan tersebut dalam risalah tersendiri. Risalahnya itu dikomentari oleh Syaikh Ahmad Syakir Rahimahullah, kemudian hadits-haditsnya di-tahqiq dan di-takhrij oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani Rahimahullah.
- Mengusap kedua khuff sudah mewakili pembasuhan kedua kaki dalam wudhu yang disebabkan oleh buang air besar, buang air kecil, dan tidur. Adapun ketika mandi dari hadats besar yang disebabkan janabah, haidh, atau nifas, seseorang diharuskan melepas khuff-nya dan membasuh kedua kakinya secara langsung.
- Anjuran menjaga adab pada waktu bersama para ulama (orang yang berilmu), dan merendahkan suara ketika berada dalam majelis atau tempat mereka mengajarkan ilmu agama.
- Disunnahkan mengajari orang yang jahil (bodoh) terhadap adab islami, sekaligus mengajarkan bagaimana cara bertingkah laku yang baik dan sopan.
- Berteman dengan orang-orang baik dan mencintai mereka. Sebab, seseorang akan bersama orang-orang yang dicintainya kelak (yang pada hari Kiamat). Seseorang juga tergantung pada agama teman akrabnya. Oleh karena itu, perhatikanlah pribadi teman Anda. Hal ini penting karena cinta mampu menarik seseorang ke jalan orang yang dicintai dan menyeret dirinya untuk selalu menurut. Maka, ada ungkapan Arab populer: Ų§ŁŲµŁŁŲŁŲØ Ų³ŁŲ§ŲŁŲØ (Teman ibarat penarik).
- Keluasan rahmat Allah , dan Dia menerima taubat hamba-Nya.
- Perintah untuk segera bertaubat, berintrospeksi, dan kembali kepada Allah sebelum tiba hari ketika penyesalan tidak berarti lagi.
*****
š | Hadits #20: Taubatnya Pembunuh 100 Orang
٢٠- ŁŁŲ¹ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁŁ Ų³ŁŲ¹ŁŁŁŲÆŁ Ų³ŁŲ¹ŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ł ŁŲ§ŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ų³ŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŲ®ŁŲÆŁŲ±ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ¶ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ: Ų£ŁŁŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ§ŁŁ: Ā« ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŁŁŁ Ł Ų±ŁŲ¬ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁ ŲŖŁŲ³ŁŲ¹ŁŲ©Ł ŁŁŲŖŁŲ³ŁŲ¹ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŲ§Ų ŁŁŲ³ŁŲ£ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų£ŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł Ų£ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ£ŁŲ±ŁŲ¶ŁŲ ŁŁŲÆŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ§ŁŁŲØŁŲ ŁŁŲ£ŁŲŖŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŁŁ: Ų„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁ ŲŖŁŲ³ŁŲ¹ŁŲ©Ł ŁŁŲŖŁŲ³ŁŲ¹ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŲ§Ų ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ ŲŖŁŁŲØŁŲ©ŁŲ ŁŁŁŁŁŁ: ŁŲ§ŁŲ ŁŁŁŁŲŖŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ł ŁŲ§Ų¦ŁŲ©ŁŲ Ų«ŁŁ ŁŁ Ų³ŁŲ£ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų£ŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł Ų£ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ£ŁŲ±ŁŲ¶ŁŲ ŁŁŲÆŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ¬ŁŁŁ Ų¹ŁŲ§ŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŲ§ŁŁ: Ų„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁ Ł ŁŲ§Ų¦ŁŲ©Ł ŁŁŁŁŲ³Ł ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ ŲŖŁŁŁŲØŁŲ©ŁŲ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŲ ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲŖŁŁŁŁŲØŁŲ©ŁŲ Ų§ŁŁŁŲ·ŁŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲ±ŁŲ¶Ł ŁŁŲ°ŁŲ§ ŁŁŁŁŲ°ŁŲ§Ų ŁŁŲ„ŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŲ§ Ų£ŁŁŁŲ§Ų³ŁŲ§ ŁŁŲ¹ŁŲØŁŲÆŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŁŁŲ§Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁ Ł ŁŲ¹ŁŁŁŁ ŁŲ ŁŁŁŲ§Ł ŲŖŁŲ±ŁŲ¬ŁŲ¹Ł Ų„ŁŁŁŁ Ų£ŁŲ±ŁŲ¶ŁŁŁ ŁŁŲ„ŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų£ŁŲ±ŁŲ¶Ł Ų³ŁŁŁŲ”ŁŲ ŁŁŲ§ŁŁŲ·ŁŁŁŁŁ ŲŁŲŖŁŁŁ Ų„ŁŲ°ŁŲ§ ŁŁŲµŁŁŁ Ų§ŁŲ·ŁŁŲ±ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲŖŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§Ų®ŁŲŖŁŲµŁŁ ŁŲŖŁ ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ§ŁŲ¦ŁŁŁŲ©Ł Ų§ŁŲ±ŁŁŲŁŁ ŁŲ©Ł ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŲ¦ŁŁŁŲ©Ł Ų§ŁŁŲ¹ŁŲ°ŁŲ§ŲØŁ. ŁŁŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ł ŁŁŲ§ŁŲ¦ŁŁŁŲ©Ł Ų§ŁŲ±ŁŁŲŁŁ ŁŲ©Ł: Ų¬ŁŲ§Ų”Ł ŲŖŁŲ§Ų¦ŁŲØŁŲ§Ų Ł ŁŁŁŲØŁŁŁŲ§ ŲØŁŁŁŁŁŲØŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲŖŁŲ¹ŁŲ§ŁŁŁŲ ŁŁŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ł ŁŁŲ§ŁŲ¦ŁŁŁŲ©Ł Ų§ŁŁŲ¹ŁŲ°ŁŲ§ŲØŁ: Ų„ŁŁŁŁŁ ŁŁŁ Ł ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁ Ų®ŁŁŁŲ±ŁŲ§ ŁŁŲ·ŁŁŲ ŁŁŲ£ŁŲŖŁŲ§ŁŁŁ Ł Ł ŁŁŁŁŁ ŁŁŁ ŲµŁŁŁŲ±ŁŲ©Ł Ų¢ŲÆŁŁ ŁŁŁŁ ŁŁŲ¬ŁŲ¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł Ų£ŁŁ ŲŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŁŲ³ŁŁŲ§ Ł ŁŲ§ ŲØŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ£ŁŲ±ŁŲ¶ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ„ŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŲŖŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŲÆŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ ŁŁŁŁŲ§Ų³ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ¬ŁŲÆŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲÆŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ£ŁŲ±ŁŲ¶Ł Ų§ŁŁŁŲŖŁŁ Ų£Ų±ŁŲ§ŲÆŁŲ ŁŁŁŁŲØŁŲ¶ŁŲŖŁŁŁ Ł ŁŁŲ§ŁŲ¦ŁŁŁŲ©Ł Ų§ŁŲ±ŁŁŲŁŁ ŁŲ©Ł Ā» Ł ŁŲŖŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ.ŁŁŁŁŁ Ų±ŁŁŁŲ§ŁŁŲ©Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲµŁŁŲŁŁŁŲŁ: Ā« ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų„ŁŁŁŁ ŁŁŲ±ŁŁŁŲ©Ł Ų§ŁŲµŁŁŲ§ŁŁŲŁŲ©Ł Ų£ŁŁŁŲ±ŁŲØŁ ŲØŁŲ“ŁŲØŁŲ±ŁŲ ŁŁŲ¬ŁŲ¹ŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ā» ŁŁŁŁŁ Ų±ŁŁŁŲ§ŁŁŲ©Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲµŁŁŲŁŁŁŲŁ: Ā« ŁŁŲ£ŁŁŁŲŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲŖŁŲ¹ŁŲ§ŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲØŁŲ§Ų¹ŁŲÆŁŁŁŲ ŁŁŲ„ŁŁŁŁ ŁŁŲ°ŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŁŲ±ŁŁŲØŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŲ§ Ł ŁŲ§ ŲØŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŲ§Ų ŁŁŁŁŲ¬ŲÆŁŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁŁ ŁŁŲ°ŁŁŁ Ų£ŁŁŁŲ±ŁŲØŁ ŲØŁŲ“ŁŲØŁŲ±Ł ŁŁŲŗŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁŁ Ā» ŁŁŁŁŁ Ų±ŁŁŁŲ§ŁŁŲ©Ł: Ā« ŁŁŁŁŲ£ŁŁ ŲØŁŲµŁŲÆŁŲ±ŁŁŁ ŁŁŲŁŁŁŁŲ§ Ā».
Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiallahu āanhu; Bahwa Nabi Allah ļ·ŗ bersabda: “Dahulu, di antara umat sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Kemudian dia mencari orang yang paling berilmu di muka bumi ini, maka dia ditunjukkan kepada seorang pendeta (ahli ibadah). Lalu dia segera mendatanginya dan bertanya: ‘Sesungguhnya seseorang telah membunuh 99 orang, masihkah dia mempunyai kesempatan untuk bertaubat?’ ‘Tidak,’ jawab si pendeta. Mendengar jawaban demikian, dia pun membunuh pendeta tersebut sehingga genaplah orang yang dibunuhnya menjadi seratus.
Setelah itu, laki-laki tadi mencari lagi orang yang paling berilmu di muka bumi, hingga akhirnya dia ditunjukkan kepada seorang ‘alim (ulama). Lalu dia bertanya: ‘Sesungguhnya seseorang telah membunuh seratus orang, masihkah dia mempunyai kesempatan untuk bertaubat?’ Orang ‘alim itu menjawab: ‘Ya, masih. Siapakah yang akan dapat menghalangi dirinya untuk bertaubat? Berangkatlah ke tempat (negeri) ini dan itu, sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah ta’Ć¢la. Lantas beribadahlah bersama mereka, dan janganlah kembali lagi ke negerimu, sebab ia merupakan negeri yang buruk.’
Maka laki-laki itu pun berangkat (menuju ke negeri tersebut); hingga ketika berada di tengah perjalanan, dia menemui ajalnya. Kemudian, Malaikat rahmat dan Malaikat adzab berselisih pendapat mengenai (roh)nya. Malaikat rahmat menyatakan: ‘Dia datang dalam keadaan bertaubat, dan dengan hatinya dia pun bertolak menuju Allah ta’Ć¢la.’
Sedangkan Malaikat adzab menegaskan: ‘Sesungguhnya dia belum pernah berbuat kebaikan, sama sekali.’ Kemudian mereka didatangi Malaikat dalam wujud manusia, lantas mereka menjadikannya sebagai penengah di antara mereka.
Malaikat itu berkata: ‘Ukurlah jarak antara dua negeri (yang ditinggalkan dan yang dituju laki-laki) itu; dan ke negeri manakah dia lebih dekat, itulah yang menjadi bagian dari (penentu takdir)nya.’ Maka mereka melakukan pengukuran hingga mendapatkan hasilnya (bahwa dia) lebih dekat dengan negeri yang ditujunya. Karena itulah, dia (rohnya) diambil oleh Malaikat rahmat.” (Mutta ‘faq ‘alaih)
Dalam suatu riwayat dalam kitab ash-ShahĆ®h-ShahĆ®h al-Bukhari- disebutkan: “Ternyata dia lebih dekat sejengkal ke kampung yang baik itu, sehingga dia pun dianggap sebagai salah seorang penduduknya.”
Dalam riwayat lainnya, yang juga terdapat pada kitab ash-ShahĆ®h, disebutkan: “Maka Allah ta’Ć¢la memerintahkan kepada daerah (yang buruk) ini agar menjauh dan kepada daerah (yang baik) ini agar mendekat, kemudian Malaikat tadi berkata: ‘Ukurlah jarak antara kedua daerah itu.’ Ternyata mereka mendapatkan hasilnya (bahwa dia) lebih dekat satu jengkal dengan daerah yang baik itu, sehingga dia diberi ampunan.”
Di dalam riwayat lainnya disebutkan: “Maka dia berupaya sekuat tenaga berjalan dengan (bertumpu pada) dadanya untuk bisa mendekat kepada daerah yang baik.”
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (VI/512) dan Muslim (no. 2766).
š| Kosa Kata Hadits
- Ų±ŁŲ§ŁŁŲØŁ : Seorang pendeta. Yakni ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Hal itu menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi setelah pengangkatan Isa ‘alaihissalam sebab kependetaan sebenarnya dibuat oleh para pengikut Nabi Allah tersebut, sebagaimana ditegaskan dalam surah Al-HadĆ®d.
- Ł ŁŁŁ ŁŁŲŁŁŁŁŁ : Siapakah yang dapat menghalangi? Maksudnya, siapakah yang mampu menjadi penghalang dan pemisah.
- ŁŁŲµŁŁŁ Ų§ŁŲ·ŁŁŲ±ŁŁŁŁŁ : Ketika berada di tengah perjalanan. Yaitu saat telah sampai setengah dari jarak tempuh perjalanannya.
- Ų£ŁŲÆŁŁŁ : Lebih dekat.
- ŁŁŁŁŲ£ŁŁ ŲØŁŲµŁŲÆŁŲ±ŁŁŁ : Maka dia berupaya sekuat tenaga berjalan dengan (bertumpu pada) dadanya. Maksudnya, laki-laki itu tetap bergerak dengan sekuat tenaga dan susah payah, meskipun beban Sakaratul Maut menimpanya.
š| Kandungan Hadits
- Hikmah Nabi ļ·ŗ dalam memberikan bimbingan dan/atau nasihat melalui perumpamaan. Hal ini disebabkan jiwa manusia cenderung meniru sesuatu yang semisal dengannya, yakni untuk mengeluarkan kotorannya.
- Diperbolehkan membicarakan perihal Bani Israil, karena di tengah-tengah mereka seringkali terjadi berbagai keajaiban. Tetapi jika ada Ahlul Kitab yang memberitahukan sesuatu kepada kita, maka kita tidak boleh membenarkan dan tidak pula mendustakannya.
- Di dalam jiwa manusia terdapat kebaikan mendasar (sesuai fitrah), sedangkan keburukan dan kejahatan adalah sesuatu yang dimasukkan ke dalamnya. Keberadaan diri seseorang untuk mengingatkannya mengindikasikan bahwa pada dirinya ada kesiapan untuk istiqamah menuju jalan petunjuk.
- Ilmu dengan sedikit ibadah lebih utama daripada banyak ibadah yang dilakukan dengan kebodohan (tanpa ilmu). Sebab pelaku ibadah yang bodoh mungkin saja keliru ketika hendak berbuat baik, sehingga dia pun binasa dan membinasakan, serta menjadi sesat dan menyesatkan. Dalam hal itu terdapat penjelasan bahwa seseorang yang menyerukan petunjuk kepada orang lain, atau mengajak mereka kepada Islam dan kebenaran, hendaklah mencari ilmu syariat terlebih dahulu; karena jika tidak demikian, niscaya mudharat yang dihasilkan akan lebih besar daripada manfaatnya.
- Kebodohan merupakan musuh diri sendiri. Jadi, dalam kisah di atas, minimnya pengetahuan si pendeta menjadi bumerang bagi dirinya. Seharusnya dia berhati-hati terhadap orang yang berani membunuh, apalagi pembunuhan sudah menjadi kebiasaannya, sehingga tidak mengarahkannya kepada hal yang bertolak belakang dengan apa-apa yang menjadi tujuan pembunuh tersebut. Di samping itu, hendaknya dia menggunakan kata-kata sindiran atau kiasan (dalam menjawab pertanyaannya), serta bersikap lemah lembut terhadapnya.
- Orang yang berilmu berjalan dengan cahaya kebenaran dan ilmu pengetahuan. Dengan begitu dia mampu memberi arahan kepada petunjuk, sampai akhirnya memperoleh manfaat bagi diri sendiri
sekaligus bermanfaat bagi orang lain. - Hendaknya orang yang berilmu dan orang yang berdakwah di jalan Allah menyampaikan kabar gembira dan tidak membuat orang-orang lari (dari Islam); serta tidak menjadikan orang-orang berputus asa dari rahmat Allah , padahal rahmat-Nya itu sungguh meliputi segala sesuatu.
- Pintu taubat senantiasa terbuka bagi segala dosa dan kesalahan, baik besar maupun kecil. Maka taubat yang dilakukan seseorang dengan sungguh-sungguh akan diterima di sisi Allah , meskipun dosanya begitu besar dan banyak. Tentu saja, selama dia tidak menyekutukan diri-Nya dengan sesuatu apa pun.
- Para Malaikat yang ditugaskan untuk mengurus anak cucu Adam (umat manusia) memiliki ijtihad yang berbeda-beda mengenai hak mereka terkait pada golongan manakah manusia itu dikelompokkan, kepada orang yang taat atau orang yang durhaka. Sungguh, mereka terus berselisih mengenai hal itu hingga Allah memutuskan hukum di antara mereka.
- Pengetahuan tentang kemampuan Malaikat untuk berubah wujud atau menjelma menjadi manusia (dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla).
- Disyariatkan pindah dari daerah yang menjadi tempat bermaksiat kepada Allah u ke daerah yang tidak menjadi tempat bermaksiat, atau minimal pindah ke daerah yang penduduknya tidak banyak berbuat maksiat.
- Orang yang bertaubat harus meninggalkan kebiasaannya dalam bermaksiat, mengubahnya secara keseluruhan, serta menyibukkan diri dengan hal-hal positif lainnya.
- Berteman dan bergaul dengan orang-orang yang berilmu, bertakwa, dan berbuat kebaikan dapat membantu seseorang dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah ü, juga dapat mematahkan godaan syaitan.
- Kemampuan menahan beban dan kesulitan dalam upaya bergabung dengan orang-orang shalih merupakan bukti yang menunjukkan kesungguhan bertaubat kepada Allah Ta’ala.
- Siapa saja yang berhijrah kepada Allah maka pahalanya berada di sisi-Nya, dan Dia tidak akan mengabaikan sedikit pun amalnya.
- Diperbolehkan bagi kita mengangkat seseorang (penengah) untuk memutuskan perkara yang diperselisihkan. Hal ini sebagaimana Allah mengutus Malaikat berwujud manusia untuk menengahi dua Malaikat yang berselisih.
- Jika terdapat dalil-dalil dan hal-hal yang bertentangan, dan berbagai keterangan yang bertolak belakang dalam pandangan hakim, maka hendaklah dia mengikutsertakan bukti-bukti lain sebagai penguat.
- Keutamaan orang shalih atas Malaikat; mengingat bahwa Allah menjadikan Malaikat dalam bentuk manusia untuk memberikan keputusan dalam hadits ini, yaitu guna memberikan ketetapan di antara Malaikat-Malaikat yang berselisih pendapat.
Catatan Penting
Para ulama berbeda pendapat mengenai sah atau tidaknya taubat orang yang melakukan pembunuhan dengan sengaja, dan pendapat yang benar adalah sah. Hadits Abu Sa’id di atas sebagai bukti penegasnya. Meskipun hukum yang terkandung dalam hadits tersebut merupakan syariat bagi umat sebelum kita, kalau masih terdapat silang pendapat dalam menggunakan syariat mereka sebagai dalil (argumentasi), dan meski kita tidak berdalil dengannya, semua itu bukanlah hal yang paling diperselisihkan. Sebab, yang jadi perbedaan pendapat ialah jika syariat mereka tidak mendapat legitimasi dan pembenaran dalam syariat kita.
Namun jika syariat mereka itu telah ditetapkan dan disepakati dalam syariat kita, maka tanpa diragukan lagi hal itu dinilai termasuk syariat bagi kita.
Masalah dalam hadits di atas telah disepakati oleh syariat kita, yaitu sebagaimana termaktub dalam Al-Quran. Maksudnya ialah firman Allah berikut ini:
ŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŲÆŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł ŁŲ¹Ł Ų§ŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁŁŲ§ Ų”ŁŲ§Ų®ŁŲ±Ł ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ³Ł Ų§ŁŁŁŲŖŁŁ ŲŁŲ±ŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁŲ§ŲØŁŲ§ŁŁŁŲŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ²ŁŁŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁ ŁŁŁŁŲ¹ŁŁŁ Ų°ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲ«ŁŲ§Ł ŁŲ§ ŁŁŲ¶ŁŲ¹ŁŁŁ ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ¹ŁŲ°ŁŲ§ŲØŁ ŁŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŲ©Ł ŁŁŁŁŲ®ŁŁŁŲÆŁ ŁŁŁŁŁŲ Ł ŁŁŁŲ§ŁŁŲ§ (٦) Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ł ŁŁ ŲŖŁŲ§ŲØŁ ŁŁŲ”ŁŲ§Ł ŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŁŁŲ§ ŲµŁŁŁŲŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲØŲÆŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁ Ų³ŁŁŁŲ¦ŁŲ§ŲŖŁŁŁŁ Ł ŲŁŲ³ŁŁŁŲŖ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁ ŲŗŁŁŁŁŲ±Ų§ Ų±ŁŲŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŁ ŁŁ ŲŖŁŲ§ŲØŁ ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁ ŲµŁŁŁŲŁŲ§ ŁŁŲ„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲØŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁ Ł ŁŲŖŁŲ§ŲØŁŲ§
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat, (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan barangsiapa bertaubat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-FurqĆ¢n [25]: 68-71)
Ayat tersebut juga dijadikan dalil atas diringankannya beban berat yang membelenggu umat ini dan belenggu yang pernah menimpa umat-umat terdahulu. Jika kepada mereka saja disyariatkan penerimaan
taubat bagi orang yang melakukan pembunuhan secara disengaja, maka kita lebih pantas dan lebih berhak mendapatkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi lagi Maha Mengetahui.
Apa Tanggapan antum mengenai artikel ini?
Artikel ini berisi 12 hadits mengenai Taubat dalam Bab-2 Kitab Riyadhus Shalihin ā Imam An-Nawawi Rahimahullah.