Al-Qur'an dan Hadits

50 Hadits tentang Puasa, Ramadhan dan Syawal

Table of Contents

(31) Tuntunan Berdoa Ketika Diberi Hidangan Makan Orang Lain

HADITS ABDULLOH BIN BUSR radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ، قَالَ: نَزَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي، قَالَ: فَقَرَّبْنَا إِلَيْهِ طَعَامًا وَوَطْبَةً، فَأَكَلَ مِنْهَا، ثُمَّ أُتِيَ بِتَمْرٍ فَكَانَ يَأْكُلُهُ وَيُلْقِي النَّوَى بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ، وَيَجْمَعُ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى – قَالَ شُعْبَةُ: هُوَ ظَنِّي وَهُوَ فِيهِ إِنْ شَاءَ اللهُ إِلْقَاءُ النَّوَى بَيْنَ الْإِصْبَعَيْنِ – ثُمَّ أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَهُ، ثُمَّ نَاوَلَهُ الَّذِي عَنْ يَمِينِهِ، قَالَ: فَقَالَ أَبِي: وَأَخَذَ بِلِجَامِ دَابَّتِهِ، ادْعُ اللهَ لَنَا، فَقَالَ: «اللهُمَّ، بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ»

Dari Abdulloh bin Busr, dia berkata: Rasulullah ﷺ pernah bertamu di rumah bapakku, lalu kami hidangkan makanan dan wathbah (sejenis makanan yang terbuat dari campuran kurma, keju, dan mentega) kepada beliau, dan beliaupun memakannya.

Kemudian dihidangkan kurma, lalu beliau memakannya dan membuang biji korma dengan kedua jarinya, seraya menggabungkan antara jari telunjuk dan jari tengah. -Syu’bah berkata: ‘Itulah menurut perkiraanku Insya Allah, yaitu beliau membuang bijinya di antara kedua jarinya.’-

Kemudian dihidangkan air minum, beliau pun meminumnya, lalu memberikan minuman tersebut kepada orang yang ada di sebelah kanannya.”

Abdullah bin Busr berkata: Bapakku berkata seraya memegangi kendali hewan tunggangan beliau: “Do’akanlah kepada Alloh untuk kebaikan kami!”. Maka beliau berdoa:

“Allohumma baarik lahum fii maa rozaqtahum, waghfir lahum, warhamhum”.

Ya Alloh! Berilah keberkahan kepada mereka terhadap apa yang telah Engkau rizqikan kepada mereka, ampunilah mereka, dan kasihilah mereka”.

📖 HR. Muslim, no. 2042/146; Tirmidzi, no. 3576; Abu Dawud, no. 3729; Ahmad, no. 17675, 17683, 17684, 17695; Ibnu Hibban, no. 5297, 5298, 5299. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani, juga oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth di dalam Takhrijul Musnad.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Terkadang Nabi ﷺ bertamu di rumah sahabat dan memakan makanan yang dihidangkan kepada beliau.
  2. Memberikan giliran makanan atau minuman ke arah kanan.
  3. Para sahabat melakukan tawassul (menggunakan perantara) dengan meminta didoakan oleh  Nabi ﷺ ketika beliau masih hidup. Adapun setelah beliau wafat, maka para sahabat tidak melakukannya kepada beliau.
  4. Boleh meminta doa kepada orang sholih yang masih hidup, dan ini termasuk tawassul (menggunakan perantara) di dalam berdoa yang dibolehkan.
  5. Keagungan akhlaq Rasulullah ﷺ kepada sahabat. Sehingga beliau mendoakan kebaikan untuk mereka.
  6. Tuntunan doa ketika diberi hidangan makanan oleh orang lain.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(32) Di Antara Pembatal Puasa: Makan Atau Minum Dengan Sengaja

HADITS ABU HUROIROH radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ»

Dari Abu Huroiroh radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa lupa bahwa dia sedang berpuasa, lalu dia makan atau minum, maka hendakah dia menyempurnakan puasanya, sesungguhnya Allah yang telah memberinya makan dan minum.”

📖 HR. Al-Bukhari, no.  6669; Muslim, no. 1155; lafazh menurut imam Muslim.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Makan atau minum dengan sengaja membatalkan puasa.
  2. Termasuk perkara-perkara yang dihukumi pengganti makan dan minum, seperti: infus, permen karet, rokok, dll, juga membatalkan puasa.
  3. Makan atau minum karena lupa tidak membatalkan puasa.
  4. Alloh subhaanahu wa ta’aalaa memaafkan kesalahan umat Nabi ﷺ yang dilakukan karena keliru (tidak sengaja), lupa (tidak ingat), atau dipaksa (tidak sukarela).
  5. Rohmat Alloh yang luas bagi hamba-hamba-Nya.
  6. Segala peristiwa terjadi dengan takdir Alloh, termasuk seseorang yang berpuasa lalu makan atau minum karena lupa.
  7. Semua perbuatan Alloh pasti mengandung hikmah, baik kita mengerti atau tidak.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(33) Di Antara Pembatal Puasa: Menggauli Istri

HADITS ABU HUROIROH radhiyallaahu ‘anhu,

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكْتُ. قَالَ: «مَا لَكَ؟» قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟» قَالَ: لاَ، قَالَ: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ»، قَالَ: لاَ،

فَقَالَ: «فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا». قَالَ: لاَ، قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ – وَالعَرَقُ المِكْتَلُ – قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ؟» فَقَالَ: أَنَا، قَالَ: «خُذْهَا، فَتَصَدَّقْ بِهِ» فَقَالَ الرَّجُلُ: أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَوَاللهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا -يُرِيدُ الحَرَّتَيْنِ- أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: «أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ»

Abu Huroiroh radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Ketika kami sedang duduk di dekat Nabi ﷺ, tiba-tiba seorang laki-laki datang kepada beliau ﷺ, lalu dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku celaka.” Beliau ﷺ berkata, “Apa yang terjadi padamu?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku telah menggauli istriku, padahal aku sedang puasa.”

Maka Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Dia menjawab, “Tidak”.

Lalu beliau ﷺ bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab, “Tidak”.

Lalu beliau ﷺ bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan 60 orang miskin?” Dia menjawab, “Tidak”.

Nabi ﷺ lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi ﷺ. Kemudian beliau ﷺ berkata, “Di mana orang yang bertanya tadi?” Dia menjawab, “Ya, aku.”

Kemudian beliau ﷺ mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Maka dia mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ”

Nabi ﷺ lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau ﷺ berkata, “Berikan makanan itu kepada keluargamu!.”

📖 HR. Bukhari, no. 1936; Muslim, no. 1111.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Bertanya kepada Ahli ilmu dalam masalah agama yang belum diketahui.
  2. Menggauli istri dengan sengaja membatalkan puasa.
  3. Melanggar larangan agama Islam atau meninggalkan perintah-nya merupakan kebinasaan.
  4. Orang yang batal puasanya dengan sebab menggauli istri wajib membayar kaffaroh (penebus dosa) dan wajib qodho’.
  5. Kaffaroh dosa tersebut adalah dengan memerdekakan seorang budak, jika tidak mampu maka dengan  berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka dengan  memberi makan 60 orang miskin.
  6. Kasih sayang Alloh kepada hambaNya dan kemudahan agama Islam. Sebab kewajiban gugur dari orang yang tidak mampu melaksanakannya.
  7. Boleh tertawa dengan sebab sesuatu yang lucu. Namun tidak boleh banyak tertawa, sebab itu akan mematikan hati.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(34) Di Antara Pembatal Puasa: Muntah Dengan Sengaja

HADITS ABU HUROIROH radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ، وَهُوَ صَائِمٌ، فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَإِنْ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ»

Dari Abu Huroiroh, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa terpaksa muntah, sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada kewajiban qodho’ baginya. Namun barangsiapa sengaja muntah, maka wajib baginya qodho’.”

📖 HR. Abu Dawud, no. 2380; Tirmidzi, no. 720; Ibnu Majah, no. 1676; Ahmad, no. 10463; Ibnu Hibban, no. 3518; Al-Hakim, no. 1557. Dishohihkan oleh imam Al-Hakim dan syaikh Al Albani.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Orang yang terpaksa muntah, puasanya tidak batal, sehingga tidak ada kewajiban qodho’ baginya.
  2. Orang yang sengaja muntah, puasanya batal, sehingga wajib baginya qodho’.
  3. Kandungan hadits ini diamalkan oleh sebagian ulama, seperti imam Sufyan Ats-Tsauri, Syafi’I, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rohawaih.(Lihat: Sunan Tirmidzi, no. 720)
  4. Agama Islam membedakan hukum terhadap orang yang melakukan sesuatu dengan sengaja, dengan yang tidak sengaja.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(35) Di Antara Pembatal Puasa: Kedatangan Haidh Bagi Wanita

HADITS ABU SA’ID radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ، فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا»

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu dia berkata: Nabi ﷺ bersabda: “Bukankah kalau wanita itu mengalami haidh, dia tidak shalat dan juga tidak berpuasa? Itulah kekurangan agama wanita.”([1])

HADITS ‘AISYAH radhiyallaahu ‘anhuma,

عَنْ مُعَاذَةَ، قَالَتْ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ؟ فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ.

قَالَتْ: “كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ، فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ”

Dari Mu’adzah, aku bertanya kepada Aisyah, aku berkata, “Mengapa wanita haidh mengqodho’ puasa namun mengqodho’ sholat?”  Namun Aisyah bertanya, “Apakah kamu dari golongan Haruriyyah (Khowarij)?”. Aku menjawab: “Aku bukan Haruriyyah, tetapi aku bertanya?”.

Beliau berkata: “Dahulu   kami mengalami haid (pada masa Rasulullah ﷺ),  lalu kami diperintahkan mengqodho’ puasa, namun kami tidak diperintahkan mengqodho’ sholat.”([2])

HADITS ‘AISYAH radhiyallaahu ‘anhuma,

عَنْ الأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: “كُنَّا نَحِيضُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ نَطْهُرُ، فَيَأْمُرُنَا بِقَضَاءِ الصِّيَامِ، وَلَا يَأْمُرُنَا بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ.

Dari Al-Aswad, dari Aisyah, beliau berkata: “Dahulu   kami mengalami haid (pada masa Rasulullah ﷺ) kemudian kami suci,  lalu beliau memerintahkan kami mengqodho’ puasa, namun beliau tidak memerintahkan kami mengqodho’ sholat.”

Imam Tirmidzi berkata: “Hadits ini diamalkan oleh Ahli ilmu, kami tidak mengetahui perselisihan di antara mereka, bahwa wanita haidh mengqodho’ puasa, namun tidak mengqodho’ sholat.”([3])

💡 FAWAID HADITS:

  1. Bertanya kepada ahli ilmu di dalam masalah agama yang belum jelas.
  2. Wanita yang sedang haidh tidak boleh mengerjakan sholat dan puasa. Namun boleh berdzikir, juga boleh membaca Al-Qur’an menurut pendapat yang kuat.
  3. Wanita haidh yang tidak mengerjakan sholat, tidak wajib mengqodho’ sholat ketika sudah suci.
  4. Wanita haidh yang tidak mengerjakan puasa, wajib mengqodho’ puasa ketika sudah suci.
  5. Agama laki-laki lebih sempurna daripada wanita. Sebab wanita yang sedang haidh tidak boleh mengerjakan sholat dan puasa.
  6. Beragama adalah dengan dalil, bukan dengan akal atau perasaan semata.
  7. Pemahaman yang benar di dalam agama adalah pemahaman para sahabat, yang mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  8. Pemahaman golongan Haruriyyah (Khowarij) termasuk menyimpang. Mereka dikenal ghuluw (melewati batas) di dalam beragama. Seperti: mengkafirkan pelaku dosa besar, mewajibkan qodho sholat bagi wanita hadih, dan lainnya.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.

_____________________

Footnotes:

  • ([1]) HR. Bukhori, no. 1951
  • ([2])  HR. Muslim, no. 335/69; Ahmad, no. 25951. Dishohihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth di dalam Takhrijul Musnad
  • ([3])  HR. Tirmidzi, no. 787. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani

(36) Memperbanyak Sedekah Dan Membaca Al-Qur’an

HADITS IBNU ABBAS radhiyallaahu ‘anhuma,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, dia berkata: “Nabi ﷺ adalah orang yang paling pemurah dengan kebaikan. Dan beliau paling pemurah di saat bulan Romadhon, ketika Jibril menemui beliau. Jibril biasa menemui beliau setiap malam pada bulan Romadhon sampai selesai.

Beliau menyetorkan bacaan Al-Qur’an kepada Jibril. Maka ketika Jibril menemui beliau, beliau menjadi orang yang paling pemurah dengan kebaikan, (lebih cepat) dari pada angin yang berhembus”.

📖 HR. Bukhori, no. 6, 1902, 3220; Muslim, no. 2308; dll

💡 FAWAID HADITS:

  1. Nabi ﷺ memiliki akhlaq mulia, seperti jujur, amanah, pemurah, dan lainnya.
  2. Nabi ﷺ paling pemurah di saat bulan Romadhon.
  3. Jibril S biasa menemui Nabi ﷺ setiap malam pada bulan Romadhon untuk menyimak hafalan Al-Qur’an beliau.
  4. Memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbaikinya, dan menyetorkan hafalan kepada ahlinya di bulan Romadhon.
  5. Kesalahan sebagian kaum muslimin yang membaca Al-Qur’an di masjid dengan pengeras suara tiap malam bulan Romadhon, dengan bacaan yang tidak mengikuti hukum tajwid, bahkan sering banyak salahnya, dan tanpa malu didengarkan oleh banyak orang. Bahkan mungkin mengganggu sebagian orang yang butuh istirahat atau sedang sakit.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(37) Nabi ﷺ Mencontohkan Sholat Tarawih Di Masjid

HADITS ‘AISYAH radhiyallaahu ‘anha,

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي المَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ القَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: «قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ» وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

Dari ‘Aisyah, ummul mukminin radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh ﷺ pada suatu malam melakukan sholat di dalam masjid, kemudian orang-orang mengikuti sholat beliau.

Kemudian pada malam berikutnya beliau melakukan sholat, orang-orang bertambah banyak.

Kemudian orang-orang berkumpul pada malam ketiga atau keempat, tetapi Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam tidak keluar kepada mereka.

Ketika telah masuk pagi beliau berkata: “Aku telah melihat apa yang kamu lakukan, dan tidak ada yang menghalangiku keluar kepada kamu kecuali aku khawatir sholat (tarowih) itu diwajibkan atas kamu”.

Dan hal itu terjadi pada bulan Romadhon.

HR. Bukhori, no: 1129; Muslim, no:761; dll.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Nabi ﷺ yang pertama kali melaksanakan sholat tarowih di masjid, sehingga keliru orang yang menganggapnya bid’ah.
  2. Nabi ﷺ pernah melaksanakan sholat tarowih di masjid, dan tidak memerintahkannya, sehingga hukumnya sunnah.
  3. Semangat sahabat meneladani ibadah  Nabi ﷺ, memang mereka adalah generasi manusia terbaik.
  4. Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya. Beliau meninggalkan amalan yang beliau sukai, karena khawatir diwajibkan atas umat, sehingga memberatkan mereka.
  5. Di zaman kholifah Umar bin Al-Khoththob sholat tarowih di masjid diadakan lagi, dan beliau menyatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Ulama menjelaskan bahwa maksud bid’ah di sini adalah secara lughoh (bahasa Arab), bukan bid’ah secara istilah syari’at. Karena secara syari’at, semua bid’ah adalah kesesatan, tidak ada bid’ah hasanah. Padahal sholat tarowih di masjid adalah sunnah.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(38) Nabi ﷺ Terkadang Sholat Tarawih Di Akhir Romadhon

HADITS ABU DZARR radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا، حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنَ الشَّهْرِ، فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ، ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ، وَقَامَ بِنَا فِي الخَامِسَةِ، حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ، فَقُلْنَا لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ؟ فَقَالَ: «إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ»، ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثٌ مِنَ الشَّهْرِ، وَصَلَّى بِنَا فِي الثَّالِثَةِ، وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ، فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الفَلَاحَ، قُلْتُ لَهُ: وَمَا الفَلَاحُ، قَالَ: “السُّحُورُ.

Dari Abu Dzarr radhiyallaahu ‘anhu dia berkata: “Kami berpuasa bersama Rosululloh ﷺ dan beliau tidak sholat (tarawih) dengan kami.

Sehingga sisa tujuh hari dari bulan Romadhon (yakni malam ke 23-pen),  beliau sholat (tarawih) dengan kami, sehingga berlalu sepertiga malam.

Kemudian beliau tidak sholat (tarowih) dengan kami pada sisa enam hari dari bulan Romadhon (yakni malam ke 24-pen).

Beliau sholat (tarowih) lagi dengan kami pada sisa lima hari dari bulan Romadhon (yakni malam ke 25-pen), sehingga berlalu separuh malam.

Maka kami berkata kepada beliau, “Wahai Rosululloh, seandainya anda menambahkan (sholat) kepada kami pada sisa malam kita ini!”. Maka beliau bersabda,

“Sesungguhnya barangsiapa melakukan qiyam (Romadhon) bersama imam hingga selesai, ditulis baginya (pahala) sholat  satu malam”.

Kemudian beliau tidak sholat (tarowih) dengan kami, sehingga sisa tiga hari dari bulan Romadhon.

Beliau sholat (tarowih) lagi dengan kami pada sisa tiga hari dari bulan Romadhon (yakni malam ke 27-pen), beliau memanggil keluarganya dan istri-istrinya.

Beliau sholat (tarowih) lagi dengan kami sehingga kami khawatir (kehilangan) falaah”.

Aku (Jubair bin Nufair) bertanya kepadanya, “Apa falaah itu?” Dia (Abu Dzarr) menjawab, “Makan sahur”.

📖 HR. Tirmidzi, no: 807; Abu Dawud, no: 1375; An-Nasai, no: 1605; Ibnu Majah, no: 1327; dll. Dishohihkan oleh syaikh Al-Albani.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Nabi ﷺ tidak rutin melaksanakan sholat tarowih di masjid setiap malam. Hal itu karena khawatir memberatkan umat, wallohu a’lam.
  2. Nabi ﷺ memilih melaksanakan sholat tarowih di masjid pada malam ke 23, 25, dan 27 di bulan Romadhon. Hal itu karena mencari keutamaan lailatul qodr, wallohu a’lam.
  3. Kesabaran dan semangat sahabat mengikuti ibadah  Nabi ﷺ, memang mereka adalah generasi manusia terbaik.
  4. Sholat tarowih Nabi ﷺ lama dan bagus. Tidak secepat kilat dan tidak ada bacaan-bacaan di antara tarowih sebagaimana banyak dilakukan sebagian orang.
  5. Kebiasaan Nabi dan para sahabat mengakhirkan sahuur.
  6. Para sahabat menyebut sahur dengan falah, ini menunjukkan adanya perkembangan di dalam bahasa. Maka kita harus memahami istilah-istilah bahasa di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagaimana difahami di zaman Nabi dan sahabatnya.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(39) Menambah Ketaatan Di Akhir Bulan Romadhon

HADITS ‘AISYAH radhiyallaahu ‘anha,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ»

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, dia mengatakan, “Kebiasaan Nabi ﷺ apabila sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) telah masuk, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”

📖 HR. Bukhari no. 2024; Muslim no. 1174; lafazh menurut imam Bukhori.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Makna “mengencangkan sarungnya” adalah bersungguh-sungguh dan menambah ketaatan melebihi kebiasaan, atau maknanya tidak menggauli istri, atau mencakup kedua makna itu. (Lihat: Fathul Bari, 4/269). Oleh karena itu di antara kebiasaan Nabi di sepuluh akhir Romadhon adalah i’tikaf di masjid Nabawi.
  2. Makna “menghidupkan malamnya” adalah tidak tidur dan mengisi waktu malam dengan ketaatan.(Lihat: Fathul Bari, 4/269) Seperti doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, atau sholat malam.
  3. Disunnahkan untuk menyertakan keluarga di dalam ibadah, terutama di waktu-waktu mulia.
  4. Disunnahkan memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan, meneladani kebiasaan Nabi ﷺ. Dan di antara hikmahnya adalah mencari keutamaan lailatul qodr dan menutup bulan Romadhon dengan kebaikan.
  5. Kuda pacu akan mempercepat larinya ketika akan sampai di garis finis. Maka janganlah kita kalah cerdas dengan kuda pacu. Sehingga kita perlu berpacu memperbanyak ibadah ketika Romadhon akan finis.
  6. Kesalahan sebagian kaum muslimin yang menyibukkan diri dengan urusan dunia di akhir Ramadhan, seperti kegiatan pasar malam, sibuk berbelanja, dan semacamnya.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(40) Nabi Biasa I’tikaf Di Sepuluh Akhir Romadhon

HADITS IBNU UMAR radhiyallaahu ‘anhuma,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ»

Dari Abdulloh bin Umar Radhiyallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah ﷺ biasa i’tikaf pada 10 akhir bulan Romadhon”.

📖 HR. Bukhori, no. 2025; Muslim, no. 1171.

HADITS HUDZAIFAH radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: قَالَ حُذَيْفَةُ لِعَبْدِ اللهِ: عُكُوفٌ بَيْنَ دَارِكَ وَدَارِ أَبِي مُوسَى لَا تُغَيِّرُ، وَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ» قَالَ عَبْدُ اللهِ: لَعَلَّكَ نَسِيتَ وَحَفِظُوا، وَأَخْطَأْتَ وَأَصَابُوا

Dari Abu Wail, dia berkata: Hudzaifah berkata kepada Abdulloh (bin Mas’ud), “Ada i’tikaf di antara rumahmu dengan rumah Abu Musa, engkau tidak merubahnya (melarangnya)? Padahal engkau telah mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

“Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid-masjid yang tiga: Masjidil Harom, Masjid Nabi ﷺ, dan Masjid Baitil Maqdis”.

Abdulloh menjawab, “Kemungkinan engkau lupa, sedang mereka ingat, dan (kemungkinan) engkau salah, sedang mereka benar”.

📖 HR. Ath-Thohawi, di dalam Syarah Musykilil Atsar, no. 2771; Al-Isma’ili di dalam Mu’jamul Asaamiy, no. 336; dan Al-Baihaqi di dalam As-Sunan Al-Kubro, no. 8574. Dishohihkan Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shohihah, no. 2786.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Kebiasaan Rasulullah ﷺ i’tikaf masjid Nabawi pada 10 akhir bulan Romadhon. Yaitu berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah kepada Alloh subhaanahu wa ta’aalaa.
  2. Ulama berbeda pendapat tentang tempat i’tikaf, sebagian berpendapat boleh di sembarang masjid, sebagian berpendapat di masjid jami’, dan sebagian berpendapat hanya di tiga masjid saja. Yaitu masjidil Harom di Makkah, masjid Nabawi di Madinah, atau masjidil Aqso di Palestina, sebagaimana hadits di atas.
  3. Di antara sahabat yang berpendapat, tempat I’tikaf hanya di tiga masjid adalah  Hudzaifah bin Al-Yaman. Di antara tabi’in adalah Sai’d bin Musayyib. Di antara ulama zaman ini adalah Syaikh Al-Albani di dalam kitab beliau, Ash-Shohihah, no. 2786, Syaikh Ali Al-Halabiy, di dalam kitab beliau Al-Inshof fii Ahkamil I’tikaf, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobiy, rohimahumulloh, di dalam takhrij beliau tentang hadits i’tikaf, dan lainnya.
  4. Telah terjadi perbedaan pendapat di dalam masalah ini semenjak zaman sahabat sampai zaman sekarang. Bagi yang memiliki kemampuan bisa mentarjih pendapat yang paling kuat berdasarkan ilmu, dengan  tetap berlapang  berlapang dada dengan perbedaan ini. Dan perbedaan ini tidak boleh menyebabkan kebencian, permusuhan dan perpecahan. Wallohul Musta’an.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


Penilaian Antum terhadap artikel ini?

Artikel berikut adalah Hadits-hadits Tentang Ramadhan, Puasa dan Syawal yang dikumpulkan dan ditulis oleh al-Ustadz Muslim al-Atsari hafidzahullah. Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen. Semoga bermanfaat.

User Rating: 4.15 ( 1 votes)
Previous page 1 2 3 4 5Next page

Related Articles

One Comment

  1. Jazaakumullahukhoiron kepada penulis dan admin yang telah memudahkan kami mendapatkan informasi hadits-hadits tentang puasa ini. Sangat bermanfaat. Baarokallohufiikum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button