Al-Qur'an dan Hadits

50 Hadits tentang Puasa, Ramadhan dan Syawal

Table of Contents

(41) Perintah Mencari Lailatul Qodr 

HADITS ‘AISYAH radhiyallaahu ‘anha,

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَقُولُ: «تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, dia mengatakan, “Kebiasaan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, dan beliau bersabda:

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”

📖 HR. Bukhari no. 2020; Tirmidzi, no. 792; dan Muslim no. 1169, tanpa kalimat “melakukan i’tikaf”.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Kebiasaan Rosululloh ﷺ melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan di masjid Nabawi untuk mencari keutamaan lailatul qadar.
  2. Perintah Nabi ﷺ kepada sahabat untuk mencari keutamaan lailatul qodr, menunjukkan adanya lailatul qodr setiap bulan Romadhon.
  3. Lailatul qodr adalah malam kemuliaan, keutamaannya lebih baik daripada seribu bulan, dan terjadi pada salah satu malam dari sepuluh akhir malam di bulan Romadhon.
  4. Kesesatan orang atau kelompok yang mengingkari adanya keutamaan lailatul qodr setiap bulan Romadhon. Sebab jika demikian, maka perintah Nabi untuk mencari keutamaannya adalah sia-sia, dan ini mustahil.
  5. Alloh subhaanahu wa ta’aalaa memilih dan memberi keutamaan pada sebagian waktu yang tidak Dia berikan pada waktu-waktu yang lain. Seperti bulan Romadhon, hari jum’at, lailatul qodr, dan lainnya.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(42) Doa Yang Dituntunkan Nabi Ketika Lailatul Qodr

HADITS ‘AISYAH radhiyallaahu ‘anha,

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: «قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, dia berkata: “Wahai Rasululllah, beritahukan kepadaku, jika aku mengetahui yang mana malam lailatul qadr, apa yang aku katakan pada malam itu?” Beliau bersabda: “Katakanlah:

“Alloohumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anniiy”.

(Ya Alloh, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai sifat maaf, maka maafkan-lah aku).

📖 HR. Ibnu Majah, no: 3850; Ahmad, no. 25384, 25495, 25497, 25505, 25741; Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, no. 3426, 3427. Tirimidzi, no. 3513. Dishohihkan oleh syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shohihah, no. 3337.

HADITS ‘AISYAH radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: «لَوْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَكَانَ أَكْثَرَ دُعَائِي فِيهَا أَنْ أَسْأَلَ اللهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ»

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, dia berkata: “Jika aku mengetahui yang mana malam lailatul qadr, sungguh mayoritas doaku padanya, aku memohon maaf dan keselamatan kepada  Alloh”.

📖 HR. Nasai di dalam As-Sunan Al-Kubro, no. 10648. Lihat juga Ash-Shohihah, no. 3337.

CATATAN:

Tambahan “Kariim” setelah “’Awuffun” tidak ada riwayatnya.

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Di dalam Sunan Tirmidzi setelah kata “’Awuffun” tertulis “Kariim”! Ini tidak ada asalnya di dalam semua sumber yang telah terdahulu, juga tidak ada di selainnya dari (ulama) yang menukilkan darinya. Nampaknya itu disisipkan oleh sebagian penulis kitab atau percetakan. Karena itu tidak ada di dalam Sunan Tirmidzi cetakan Hindiyah dengan syarah Tuhfatul Ahwadzi karya Al-Mubarokfuuri, 4/264. Juga tidak ada di tempat lainnya”. (Ash-Shohihah, 7/1021, keterangan hadits no. 3337).

💡 FAWAID HADITS:

  1. Bertanya kepada ahli ilmu di dalam masalah agama yang belum jelas.
  2. Sumber ilmu agama adalah kitab Al-Qur’an dan hadits Nabi ﷺ.
  3. Doa yang paling baik adalah doa-doa yang diajarkan oleh Alloh subhaanahu wa ta’aalaa di dalam Al-Qur’an atau oleh Nabi ﷺ di dalam hadits-hadits yang shohih.
  4. Keutamaan mengulang-ulang doa di atas di malam-malam bulan Romadhon, tertutama malam-malam ganjil dari sepuluh yang akhir.
  5. Doa di atas diucapkan sendiri-sendiri dengan pelan, dengan tanpa tambahan kata-kata yang tidak dituntunkan. Bukan diucapkan dengan keras, apalagi dengan berjama’ah.
  6. Keutamaan lailatul qadr telah terkenal di kalangan para sahabat, dan diakui oleh Nabi ﷺ. Maka bagaimana sebagian orang yang mengakui Islam mengingkari adanya lailatul qadr?
  7. Keutamaan ‘Aisyah Radhiyallahu’anha, beliau bersemangat mencari ilmu dan mengamalkannya.
  8. Beriman kepada nama Alloh Al-‘Afuw (Maha Memaaf) dan sifat-Nya al-‘afwu (memaafkan).
  9. Beriman kepada sifat Alloh mahabbah (mencintai), dan bahwa Alloh mencintai sifat maaf.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(43) Nabi Dilupakan Waktu Lailatul Qodr

HADITS ‘UBADAH BIN ASH-SHOMIT radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ القَدْرِ فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنَ المُسْلِمِينَ فَقَالَ: «خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ، وَالسَّابِعَةِ، وَالخَامِسَةِ»

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit, dia berkata: “Nabi ﷺ keluar untuk memberitahukan kepada kami tentang lailatul qodr, namun ada dua  orang dari kalangan kaum muslimin bertengkar. Maka beliau bersabda:

“Aku keluar untuk memberitahukan kepada kamu tentang lailatul qodr, namun Si Fulan dan Si Fulan bertengkar, maka kemudian (ilmu itu) dihilangkan. Semoga itu merupakan kebaikan bagi kamu. Carilah lailatul qodr pada sembilan atau tujuh atau lima (hari-hari sisa akhir Romadhon)”.

📖 HR. Bukhori, no. 49, 2023, 6049; Ahmad, no. 22672; Ibnu Khuzaimah, no. 2198; Ibnu Hibban, no. 3679. Dishohihkan Syaikh Al-Albani.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Nabi ﷺ menginginkan kebaikan bagi umatnya. Karena itu beliau ingin memberitahukan waktu lailatul qodr yang beliau terima dari Allah subhaanahu wa ta’aalaa.
  2. Kemaksiatan menyebabkan bencana. Bertengkarnya dua  orang dari kalangan kaum muslimin, menyebabkan dihilangkannya ilmu tentang waktu lailatul qodr.
  3. Di dalam semua musibah pasti ada hikmah.
  4. Ketidak-tahuan manusia terhadap beberapa perkara bisa menjadi kebaikan baginya. Seperti waktu lailatul qodr, waktu kematian, kepastian diterima amal, dsb. Yaitu dengan memperbanyak amal sholih di setiap waktu.
  5. Perintah mencari lailatul qodr pada sembilan atau tujuh atau lima dari hari-hari sisa akhir Romadhon.
  6. Nikmat Alloh dengan adanya lailatul qodr, dan bantahan kepada orang yang tidak mempercayainya.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(44) Kewajiban Zakat Fithri

HADITS IBNU UMAR radhiyallaahu ‘anhuma,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: «فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ  وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ»

Dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma, dia berkata:

“Rasulullah ﷺ telah mewajibkan zakat fithri sebanyak satu shoo’ kurma atau satu shaa’ gandum. Kewajiban itu dikenakan kepada budak, orang merdeka, lelaki, wanita, anak kecil, dan orang tua dari kalangan umat Islam. Dan beliau memerintahkan agar zakat itu ditunaikan sebelum keluarnya manusia menuju shalat (‘ied)”.

📖 HR. Bukhari, no. 1503; Abu Dawud, no. 1612; Ibnu Hibban, no. 3303.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Kewajiban mengeluarkan zakat fithri di akhir Romadhon.
  2. Zakat fithri dikeluarkan dengan wujud makanan pokok di suatu daerah, bukan dengan uang.
  3. Ukuran zakat fithri sebanyak satu shoo’, sekitar 2,5 kg.
  4. Kewajiban zakat fithri dikenakan kepada budak, orang merdeka, lelaki, wanita, anak kecil, dan orang tua dari kalangan umat Islam, dengan syarat mampu.
  5. Waktu terbaik mengeluarkan zakat fithri sebelum keluarnya manusia menuju shalat ‘ied fithri. Boleh juga sehari atau dua hari sebelumnya, sebagaimana disebutkan di dalam hadits lain.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(45) Hikmah Zakat Fithri

HADITS IBNU ABBAS radhiyallaahu ‘anhuma,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ»

Dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, dia berkata: “Rasulullah ﷺ telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘ied) maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (‘ied) maka itu adalah satu shadaqah dari shadaqoh-shadaqoh”.

📖 HR. Abu Dawud, no. 1609; Ibnu Majah, no. 1827. Dihasankan oleh syaikh Al-Albani.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Kewajiban zakat fithri dengan sebab fithri (berbuka) dari puasa Ramadhan.
  2. Di antara hikmahnya adalah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji.
  3. Di antara hikmahnya adalah sebagai makanan bagi orang-orang miskin.
  4. Dengan hadits ini sebagian ulama berpendapat bahwa yang berhak menerima zakat fithri hanya  orang-orang fakir miskin. Sehingga panitia tidak boleh menjualnya untuk pembangunan masjid, atau lainnya.
  5. Waktu menunaikannya sebelum shalat ‘ied. Jika  seseorang menunaikannya setelah shalat ‘ied maka itu adalah shadaqah biasa.
  6. Islam adalah agama yang mengajarkan hak Alloh, seperti puasa Romadhon, dan mengajarkan hak manusia, seperti menunaikan zakat fithri.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(46) Waktu Membayar Zakat Fithri

HADITS TSA’LABAH BIN SHU’AIR AL-‘UDZRIY radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ ثَعْلَبَةَ بْنِ الصُّعَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَامَ خَطِيبًا، فَأَمَرَ بِصَدَقَةِ الْفِطْرِ صَاعَ تَمْرٍ أَوْ صَاعَ شَعِيرٍ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ أَوْ عَنْ كُلِّ رَأْسٍ عَنِ الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ وَالْحُرِّ وَالْعَبْدِ

Dari Abdullah bin Tsa’labah bin Ash-Shu’air, dari ayahnya, bahwa  “Rasulullah ﷺ berdiri berkhutbah, beliau memerintahkan  shodaqoh fithri satu sho’ tamr (kurma kering), atau satu sho’ sya’ir (gandum jenis biasa), dari setiap satu orang atau setiap kepala, dari  anak kecil, orang tua, orang merdeka, dan budak”.

📖 HR. Abu Dawud, no. 1620; Ibnu Khuzaimah, no. 2410. Ini lafzah  Ibnu Khuzaimah. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani; dan dihasankan oleh Syaikh Al-A’zhomiy.

ATSAR (RIWAYAT) IBNU UMAR radhiyallaahu ‘anhuma,

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

Ibnu Umar biasa memberikan zakat fithri kepada orang-orang yang menerimanya (mengurusinya), mereka biasa memberikan sehari atau dua hari sebelum fithri.

📖 HR. Bukhari, no. 1511; Abu Dawud, no. 1610; Ibnu Khuzaimah, no. 2421; Ibnu Hibban, no. 3299.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Pentingnya pemberitahuan kewajiban agama sebelum melaksanakannya.
  2. Waktu wajib menunaikan zakat fithri adalah di saat matahari tenggelam di akhir hari Ramadhan. Namun boleh memajukannya sehari atau dua hari sebelumnya.
  3. Kewajiban zakat fithri atas merdeka, budak, anak kecil, dan orang tua. Budak dibayari majikannya, sedangkan anak kecil dibayari orang tuanya.
  4. Ukuran  zakat fithri adalah 1 sho’ (sekitar 2,5 kg) makanan pokok di suatu daerah.
  5. Kesalahan pendapat yang membolehkan membayar zakat fithri dengan uang.
  6. Kesalahan pendapat yang membolehkan memajukan pembayaran semenjak awal Romadhon, atau bahkan sebelum Romadhon.
  7. Beragama adalah dengan dalil (petunjuk) dari Alloh di dalam Al-Qur’an atau dari Nabi di dalam hadits yang shohih. Bukan semata-mata pendapat ulama yang tidak berdasarkan dalil, atau bahkan bertentangan dengan dalil. Perkataan ulama dijadikan penjelasan agama, bukan dijadikan agama.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(47) Perintah Sholat ‘Ied Di Lapangan, Jika Memungkinkan

HADITS UMMU ‘ATHIYAH radhiyallaahu ‘anha,

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ، وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلاَّهُنَّ. قَالَتِ امْرَأَةٌ يَا رَسُولَ اللهِ، إِحْدَانَا لَيْسَ لَهَا جِلْبَابٌ . قَالَ «لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا»

Dari Ummu ‘Athiyah radhiyallaahu ‘anha, dia berkata, “Kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita yang sedang haid dan wanita yang sedang dipingit pada dua hari raya, sehingga mereka bisa menyaksikan jama’ah kaum Muslimin dan do’a mereka. Namun wanita-wanita haid menjauhkan diri dari tempat shalat mereka.”

Seorang wanita bertanya, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Beliau ﷺ menjawab: “Hendaklah temannya meminjamkan jilbab miliknya.”

📖 HR. Al-Bukhari, no. 351 dan Muslim, no. 890.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Sholat ‘ied tempatnya di lapangan, kecuali tidak memungkinkan dengan sebab hujan atau lainnya.
  2. Perintah Nabi ﷺ untuk mengeluarkan wanita-wanita yang sedang haid dan wanita yang sedang dipingit pada dua hari raya menuju lapangan. Dari hadits ini sebagian ulama berpendapat sholat ‘ied hukumnya wajib setiap tahun, sebab Nabi memerintahkan agar para wanita tersebut dikeluarkan, padahal mereka biasanya berada di dalam rumah.
  3. Wanita-wanita yang sedang haid tidak boleh sholat, sehingga mereka menjauhkan diri dari tempat shalat.
  4. Di antara hikmah keluarnya kaum muslimin menuju lapangan untuk sholat ‘ied adalah menyaksikan jama’ah kaum Muslimin dan mendapatkan do’a mereka.
  5. Kewajiban wanita dewasa mengenakan khimar (penutup kepala) dan jilbab (kain besar yang menutupi badan mereka dari atas), sebagaimana Alloh sebutkan di dalam Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 31 dan surat Al-Ahzab 59.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(48) Keutamaan Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal

HADITS ABU AYYUB AL-ANSHORI radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ»

Dari Abu Ayyub al-Anshari  radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dia mengiringinya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh”.

📖 HR. Muslim, no. 1164; Tirmidzi, no. 759; Abu Dawud, no. 2433; Ibnu Majah, no. 1716; Ahmad, no. 23533.

HADITS TSAUBAN radhiyallaahu ‘anhu:

عَنْ ثَوْبَانَ، مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ، مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا»

Dari Tsauban  radhiyallaahu ‘anhu, bekas budak Rosululloh ﷺ, dari Rosululloh ﷺ, beliau bersabda:

“Barangsiapa berpuasa (sunnah) enam hari (di bulan Syawwal), setelah ‘idul fithri, maka itu merupakan (puasa) setahun penuh. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka dia mendapatkan (pahala) sepuluh kali lipat amalnya”.

📖 HR. Ibnu Majah, no. 1715, dan ini lafazhnya; Ahmad, no. 22412; Ibnu Khuzaimah, no. 2115; Ibnu Hibban, no. 3635. Dishohihkan Syaikh Al-Albani.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Keutamaan puasa Romadhon yang wajib hukumnya.
  2. Keutamaan puasa 6 hari di bulan Syawal yang mustahab (sunnah) hukumnya.
  3. Larangan puasa di hari raya ‘idul fithri.
  4. Kemurahan Alloh subhaanahu wa ta’aalaa, karena memberikan balasan kebaikan berlipat ganda, satu kebaikan minimal dibalas sepuluh kali lipat.
  5. Puasa satu bulan Romadhon pahalanya sepuluh bulan, puasa 6 hari di bulan Syawal pahalanya dua bulan, sehingga seperti puasa setahun penuh.
  6. Istiqomah di dalam beribadah. Sesungguhnya kewajiban beribadah kepada Alloh bukan hanya di bulan Romadhon, namun sepanjang hayat masih dikandung badan.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(49) Istiqomah Di Dalam Beribadah

HADITS SUFYAN BIN ABDILLAH ATS-TSAQOFIY radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِيِّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ، قَالَ: «قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، فَاسْتَقِمْ»

Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqofiy, dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku di dalam Islam suatu perkataan, yang aku tidak akan bertanya tentangnya kepada seorangpun setelahmu”.

Beliau menjawab: “Katakan: ‘Aku beriman kepada Allah!’, kemudian istiqamah-lah.”

📖 HR. Muslim, no. 38; Ahmad, no. 15416; Ibnu Hibban, no. 942. Dishohihkan Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth.

Di dalam riwayat lain disebutkan:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِيِّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ، قَالَ: «قُلْ رَبِّيَ اللهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ، فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ، ثُمَّ قَالَ: «هَذَا»

Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqofiy, dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, beritakan kepadaku suatu perkara yang aku akan jadikan pegangan”.

Beliau bersabda: “Katakan: ‘Robbku adalah Allah!’, kemudian beristiqamahlah.”

Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang paling anda takutkan padaku? Beliau memegangi lidah beliau, lalu menjawab: “Ini.”

📖 HR. Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972 Ahmad, no. 15417, 15418, 15419, 19431; Ibnu Hibban, no. 5698, 5699, 5700, 5702. Dishohihkan Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth.

CATATAN:

Hadits ini tidak berkaitan dengan puasa Romadhon, namun tentang kewajiban beribadah dengan istiqomah. Ini untuk mengingatkan kita semua, tentang kewajiban beribadah kepada Alloh di setiap zaman, bukan hanya di bulan Romadhon.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Keutamaan bertanya dan meminta nasehat kepada Ahli ilmu.
  2. Kewajiban beriman kepada Alloh dan mentauhidkan-Nya, baik di dalam rububiyah-Nya (keesaan Alloh di dalam perbuatan-Nya), uluhiyah-Nya (keesaan Alloh di dalam hak-Nya untuk diibadahi), dan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
  3. Kewajiban istiqomah di dalam beribadah.
  4. Imam Ibnu Rojab Al-Hambali V (wafat th 795 H) berkata: “Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang juga demikian. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama”.(Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, juz: 1, hlm: 510, karya Imam Ibnu Rojab, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrohim Bajis; penerbit Ar-Risalah; cet: 5; th: 1414 H/ 1994 M)
  5. Hikmah Rosululloh ﷺ di dalam memberikan nasehat kepada sahabatnya. Yaitu nasehat yang sesuai dengan keadaannya.
  6. Kewajiban menjaga lisan dari keburukan agar mendapatkan keselamatan.
  7. Sebagian orang bersemangat beribadah di bulan Romadhon, namun meninggalkannya setelah itu. Ini adalah sikap yang tidak istiqomah di dalam beribadah.
  8. Kewajiban beribadah sampai datang kematian.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


(50) Amalan Ditentukan Di Akhir Hayat

HADITS SAHL BIN SA’D radhiyallaahu ‘anhu,

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ: أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَعْظَمِ المُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنِ المُسْلِمِينَ، فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا»

فَاتَّبَعَهُ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ، وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الحَالِ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَلَى المُشْرِكِينَ، حَتَّى جُرِحَ، فَاسْتَعْجَلَ المَوْتَ، فَجَعَلَ ذُبَابَةَ سَيْفِهِ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْرِعًا، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ: «وَمَا ذَاكَ؟» قَالَ: قُلْتَ لِفُلاَنٍ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَيْهِ» وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِنَا غَنَاءً عَنِ المُسْلِمِينَ، فَعَرَفْتُ أَنَّهُ لاَ يَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ، فَلَمَّا جُرِحَ اسْتَعْجَلَ المَوْتَ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: «إِنَّ العَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ»

Dari Sahl bin Sa’d: bahwa ada seorang laki-laki yang termasuk paling besar jasanya untuk kaum muslimin di dalam peperangan yang dia ikuti bersama Nabi ﷺ. Kemudian Nabi ﷺ memperhatikan orang itu dan bersabda:

“Barangsiapa ingin melihat lelaki penghuni neraka, silahkan lihat orang ini”.

Maka ada seorang laki-laki yang mengikutinya, dan rupanya lelaki tersebut merupakan orang yang paling ganas terhadap orang-orang musyrik. Akhirnya lelaki tersebut terluka, lalu dia ingin segera mati. Maka dia letakkan ujung pedangnya di antara dua dadanya sehingga tembus di antara kedua bahunya.

Laki-laki yang mengikutinya itu bersegera menemui Nabi ﷺ lalu berkata: “Saya bersaksi bahwa engkau utusan Allah”. Maka beliau bertanya: “Ada apa?”.  Laki-laki itu menjawab: “Engkau telah berkata terhadap Fulan, ‘Siapa ingin melihat laki-laki penghuni neraka, silahkan lihat orang ini’,  padahal orang itu termasuk paling besar jasanya untuk kaum muslimin. Maka aku tahu bahwa dia tidak akan mati di atasnya (kebaikan). Ketika dia terluka, ingin segera mati, lalu bunuh diri.”

Maka di waktu itu  Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang melakukan amalan penghuni neraka, padahal dia termasuk penghuni surga. Dan ada seorang hamba yang melakukan amalan penghuni surga, padahal dia termasuk penghuni neraka. Sesungguhnya amalan itu ditentukan dengan penutupnya.” (HR. Bukhori, no. 6607)

Di dalam riwayat lain disebutkan:

«إِنَّ العَبْدَ لَيَعْمَلُ، فِيمَا يَرَى النَّاسُ، عَمَلَ أَهْلِ الجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ، عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا»

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang melakukan amalan penghuni surga, menurut penglihatan manusia, padahal dia  termasuk penghuni neraka. Dan ada seorang hamba yang melakukan amalan penghuni neraka, menurut penglihatan manusia, padahal dia  termasuk penghuni surga. Sesungguhnya amalan itu ditentukan dengan penutupnya”.(HR. Bukhori, no. 6493)

CATATAN:

Hadits ini tidak berkaitan dengan puasa Romadhon, namun untuk mengingatkan kita semua bahwa amalan itu ditentukan di akhir kehidupan. Maka janganlah kita berhenti beribadah dengan selesainya bulan Romadhon.

💡 FAWAID HADITS:

  1. Terkadang Alloh subhaanahu wa ta’aalaa membela agama-Nya dengan seorang yang fasiq atau kafir.
  2. Mu’jizat Nabi ﷺ. Karena beliau menyampaikan berita ghoib yang beliau dapatkan dari wahyu Alloh, lalu terbukti kebenarannya.
  3. Tidak semua perang itu keburukan. Perang fii sabilillah untuk meninggikan agama Alloh adalah kemuliaan.
  4. Seorang mukmin meyakini berita yang disampaikan oleh Nabi ﷺ, walaupun terkadang susah diterima oleh akal atau perasaan.
  5. Larangan bunuh diri, sebab ancamannya adalah neraka.
  6. Kesesatan anggapan bom bunuh diri sebagai istisyhad (mencari mati syahid).
  7. Amal sholih akan diterima jika dilakukan dengan ikhlas. Baik itu jihad, mengajarkan agama, menulis ilmu, mengumandangkan adzan, menjadi imam sholat, membangun masjid, dan lainnya.
  8. Jangan menilai manusia hanya secara lahiriyahnya. Tidak semua orang yang mati di medan perang menjadi syahid. Sebab kita tidak tahu akhir hidupnya dan  isi hatinya.
  9. Janganlah seseorang terpedaya dengan amalan kebaikannya, bisa jadi akan berubah di akhir hayatnya. Hendaklah dia banyak berdoa memohon keteguhan di atas ketaatan.
  10. Janganlah seseorang putus asa dengan amalan keburukannya, hendaklah dia bertaubat sebelum datang kematiannya.
  11. Sesungguhnya amalan itu ditentukan dengan penutupnya. Maka janganlah berhenti beramal sholih setelah selesai bulan Romadhon, namun tetap istiqomah sampai ajal menjelang. Wallohul Musta’an.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’aalaa selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran dan istiqomah sampai akhir hayat, menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.


✍️ al-Ustadz Muslim al-Atsari, 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱. (www.attabiin.com)

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Penilaian Antum terhadap artikel ini?

Artikel berikut adalah Hadits-hadits Tentang Ramadhan, Puasa dan Syawal yang dikumpulkan dan ditulis oleh al-Ustadz Muslim al-Atsari hafidzahullah. Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen. Semoga bermanfaat.

User Rating: 4.15 ( 1 votes)
Previous page 1 2 3 4 5

Related Articles

One Comment

  1. Jazaakumullahukhoiron kepada penulis dan admin yang telah memudahkan kami mendapatkan informasi hadits-hadits tentang puasa ini. Sangat bermanfaat. Baarokallohufiikum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button